etika pemerintahan di rusia - celotehpraja.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

etika pemerintahan di rusia


ETIKA PEMERINTAHAN DI RUSIA



Uni Soviet Socialist Republik Rusia merupakan negara yang pernah mendapat peringkat adi kuasa di samping Amerika Serikat pada abad kedua puluh yang lalu, itulah sebabnya mereka sampai sekarang menjadi negara yang meiliki hak veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Bekas negara-negara yang pernah berada dibawah federasi negara Uni ini adalah Armenia, Azerbajian, Belorusia, Estonia, Georgia, Kazakstan, Kyrgiztan, Latvia, Lithuania, Moldova, Tajikistan, Turkmenistan, Ukraina, Uzbekistan dan Rusia itu sendiri. Keinginan bergabung dari negara-negara bagian ini bukan karena kehendak sendiri tetapi paksaan yang memerlukan intimidasi serta penekanan. Itulah sebabnya persatuannya tidak terlalu kuta sehingga pada penghujung abad yang lalu kemudian negara besar ini bubar dan peluru kendali yang dimiliki negara-negara bagian menjadi lirikan Iran.

Walaupun wilayah negara besar ini membentang dari eropa ke Asia, tetapi sebenarnya mereka adalah negara-negara yang berpenduduk islam, bahkan Imam Bukhari yang terkenal sebagi antropolog yang menggali hadits shahih Nabi Muh. Saw. Berasal dari negara ini.

Rusia sendiri adalah bangsa Eropa yang sebenarnya adalah bangsa yang ini liberalis dan tidak cocok dengan ajaran komunis yang kaku, itulah sebabnya ketika Mikhail Gorbachev mengumumkan keterbukaan Glasnost dan restrukturisasinya Perestroika dalam rangka Demokratizatsiya, maka pertama yang mereka ikuti adalah pemilihan bintang film telanjang, dan bahkan tidak lama setelah itu keterbukaan ini kemudian membuat mereka runtuh oleh pembubarannya sendiri. Mereka sebenarnya lupa bahwa dalam diri manusia itu terdapat kecintaan pada diri sendiri yang mendalam, keinginan pemimpin pemerintahannya untuk mendahulukan kepentingan pribadi dari pada kepentinga golongan tersimpan bertahun-tahun, dari masing-masing pribadi ada semacam kebersamaan yang pada gilirannya akan muncul untuk meneriakkan angin kebebasan.

Sehingga antara pemuka-pemuka partai terdapat perbedaan yang menyolok dengan para buruh, jadi perbedaan kelas yang semula ingin di hapuskan, akhirnya terjadi juga anti klimaksnya. Ini bermula dari persoalan kebutuhan dasar manusia, sehinnga bagaimanapun membuat keseragaman (uniformitas) keinginan untuk mengikuti mode dan menganggap diri lebih baik terwujud juga.

Jadi pemimpin pemerintahannya, dengan dalih mewujudkan persatuan dan kesatuan terciptalah negara tirai besi ini di bawah komunisme masa lalu, namun kemudian sulit untuk menutupi kekakuan, karena usaha untuk mencapai tujuan negara yang dilakukan dengan segala cara, sebagai realisasinya tampak bagaimana para ilmuwan idealis tercampakkan, pers tertekan, hak asasi dinomorduakan, demokrasi yang dimodifikasi menjadi kekuatan dictator proletariat.

Lebih kurang tujuh puluh tahun lamanya mereka tunduk dalam keadaan seperti ini, memang mereka sempat jaya sebagaimana yan telah disampaikan di muka, seperti menyimpan duri dalam daging setiap republic menyimpan api dalam sekam.

Jadi ketika berada dibawah komunis tersebut, tingkat pemerintah daerah seperti Uni republic adalah negara bagian, Oblast (daerah otonom), okrug, rayon (district), desa (selsovet) seluruhnya mengikuti model Soviet tertinggi di tingkat nasional.

Kini mereka sedang membenahi perubahannya, yang ditandai dengan usaha modifikasi kekuatan komunisme, usaha penyatuan kembali setelah beberapa republiknya menyatakan kemerdekaanya. Mereka mencoba membentuk persatuan negara-negara mantan Uni Soviet ini dan diberi nama CIS (Commenwealth of Independent States) yang ketika perolehan pesta olahraga dunia olimpiade Barcelona beberapa tahun yang lalu memperoleh piala terbanyak.

Mengapa tidak ingin bersatu, adalah karena negara-negara yang berserakan ini dan Rusia sendiri masih tersimpan ribuan peluru kendali (rudal) pemusnah massal yang jarak tempuh tembaknya mampu memutari dunia. Dengan begitu perang dingin memang belum selesai.