Begini Sejarah Suku Buton Di Sulawesi Tenggara |Sistem, Kasta, Bahasa, Kepercayaan, Mata Uang dan Pencaharian - celotehpraja.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Begini Sejarah Suku Buton Di Sulawesi Tenggara |Sistem, Kasta, Bahasa, Kepercayaan, Mata Uang dan Pencaharian

Suku Buton adalah etnis yang tinggal daerah kekuasaan Kesultanan Buton dan Kesultanan Buton itu sendiri berada di kepulauan Bau-bau propinsi Sulawesi Tenggara.

Sejarah Singkat Suku Buton

Leluhur suku Buton adalah dari imigran yang tiba dari Johor kurang lebih era 15 dan membangun kerajaan Buton. Kerajaan itu bertahan sampai tahun 1960 di mana sultan paling akhir wafat. Sepeninggalan sultan paling akhir itu membuat adat kepulauan Buton tercerai berai.

Sistem Kasta Suku Buton

Dalam kerajaan Buton diaplikasikan juga sistem kasta, sistem ini diberlakukan pada sistem pemerintah dan ritual keagamaan saja. Berikut sistem kasta kerajaan Buton:

Kaomu atau Kaumu (golongan ningrat/bangsawan) turunan dari raja Wa Kakaa. Raja/Sultan diputuskan dari kelompok ini.

Walaka, (elit penguasa) yaitu turunan menurut garis bapak dari Founding Fathers Kerajaan buton (mia patamiana). Mereka menggenggam kedudukan utama di Kerajaan seperti mentri dan dewan. Mereka juga yang menunjuk siapa yang bakal jadi Raja/Sultan selanjutnya.

Papara atau disebutkan warga biasa yang tinggal di daerah kadie (dusun) dan masih merdeka. Mereka bisa diperhitungkan untuk menempati kedudukan tertentu di daerah kadie, tapi benar-benar tidak memiliki jalan ke kekuasaan di pusat.

Babatua (budak), orang yang hidupnya tergantung pada seseorang/mempunyai hutang. meraka bisa dijualbelikan atau jadi hadiah

Analalaki dan Limbo. Mereka ialah kelompok kaomu dan walaka yang di turunkan darajatnya kerana telah melakukan kekeliruan sosial dan bertindak tidak patut sesuai status sosialnya.

Bahasa Suku Buton

Warga Buton mempunyai bermacam bahasa yang. Sampai saat ini bisa dijumpai lebih dari tiga puluhan bahasa dengan beragam jenis aksen. Bentuk akulturasi dalam sektor bahasa, bisa disaksikan dari ada pemakaian bahasa Sansekerta yang bisa Anda temui sampai saat ini di mana bahasa Sansekerta membuat bertambah koleksi bahasa Buton.

Dalam perubahan sesudah itu bahasa Sansekerta di ganti dengan bahasa Arab bersamaan masuknya Tuntunan Islam di Kerajaan Buton pada era ke-15 M, jumlahnya pemakaian bahasa Arab pada kosakata bahasa Buton memperlihatkan tingginya dampak Islam dalam Kesultanan Buton. Selain itu bahasa Buton mempernyerap beberapa unsur bahasa melayu.

Kepercayaan Suku Buton

Saat sebelum masuknya pengaruh Hindu ke Buton oleh bangsa Majapahit pada era ke-13 dan Islam yang di bawah pada era 15, warga Buton mengenali dan mempunyai kepercayaan yakni penyembahan pada arwah leluhur (animisme dan dinamisme). Masuknya agama Hindu-Islam menggerakkan warga Buton mulai beragama Hindu-Islam meskipun tidak meninggalkan kepercayaan asli seperti penyembahan pada roh leluhur dan dewa-dewa alam.

Misalkan warga nelayan Wakatobi khususnya Tomia mengenali ada Dewa laut Wa Ode Maryam yang dipercayai bisa jaga mereka dalam melalui lautan Banda yang tenar dan terkenal garang. Selain itu warga Buton mengenal Dewa yang membuat perlindungan keberadaan Rimba bernama Wa Kinam**** (jangan disebutkan namanya/cuman disampaikan dengan berbisik)

Masuknya Islam di Buton pada era ke-15, yang di bawah oleh Ulama dari Patani sudah menempatkan beberapa dasar Pengetahuan Fikih ke Kesultanan dan warga Buton. Ilmu Fikih sebagai pengetahuan Islam yang mendalami hukum dan ketentuan yang mengontrol hak dan kewajiban umat pada Allah dan setiap orang hingga warga Buton bisa hidup sesuai aturan Islam. Dan Pada Era ke-16 M, lahir beberapa dasar Pengetahuan Qalam dan Tasawuf di Buton, yang di bawah oleh Sufi yang dari Aceh.

Mata Uang Suku Buton

Dulu suku Buton telah mempunyai mata uang. Mata uang kesultanan Buton itu disebutkan dengan Kampua. Uang ini bahannya dari kain tenun dan sebagai salah satu yang sempat tersebar di Indonesia. Menurut narasi rakyat, mata uang ini pertama kalinya dikenalkan oleh Bulawambona, yakni Ratu kerajaan Buton yang ke-2 , yang memerintah sekitaran era XIV.

Mata Pencaharian Suku Buton

Perairan di pulau Buton dan Muna sanagat kaya ikan tuna juga ikan ekor kuning. Oleh karena itu mayoritas warga suku Buton hidup pada sektor perairan jadi pelaut dan nelayan. Tapi semenjak kesempatan untuk mendapat pendapatan yang cukup di wilayah terasa susah, banyak dari mereka yang selanjutnya pergi tinggalkan mata pencaharian di bidang perairan. Dan modern aktivitas pertanian jadi aktivitas khusus ekonomi pada suku ini. Mereka menanam padi kebun, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kapas, kelapa, sirih, nanas, pisang dan sebagainya juga beberapa macam sayur.

Warisan Sejarah Kebudayaan Suku Buton

Orang Buton populer juga dengan peradabannya yang tinggi dan sampai sekarang ini warisannya masih bisa dilihat di daerah-daerah Kesultanan Buton, salah satunya Benteng Keraton Buton yang disebut benteng paling besar di dunia, Istana Malige yang disebut rumah adat tradisionil Buton yang berdiri kuat dengan tinggi empat tingkat tanpa memakai sebatang paku, mata uang Kesultanan Buton yang namanya Kampua, dan masih banyak lagi.

Kehidupan Sosial Dan Adat Istiadat Suku Buton

Dalam jalinan kekeluargaan warga Suku Buton, seorang lelaki bekerja cari nafkah, sedang wanita mempersiapkan makan, mengerjakan tugas rumah tangga, membuat beberapa barang dari tanah liat, menenun dan simpan uang yang sudah dikumpulkan oleh para lelaki.

Dari dahulu, orang Buton juga mengutamakan pengajaran. Pengajaran yang bagus pada anak lelaki dan wanita membuat mereka mempunyai kesusasteraan yang maju. Tidak tertinggal juga dalam soal mendalami bahasa asing. Karenanya, sekarang ini mulai kelihatan beberapa hasil perkembangan di bagian sosial.

Perkawinan dalam kebudayaan Buton telah memiliki sifat monogami. Sesudah menikah, pasangan akan tinggal di dalam rumah keluarga wanita sampai si suami sanggup membangun rumah sendiri. Tanggup jawab membesarkan anak berada di pundak ayah dan ibu. Rumah rumah suku Wolio dibangun di atas sebidang tanah dengan memakai papan yang kuat, dengan sedikit jendela dan langit-langit yang dibuat dari papan yang kecil dan daun kelapa.

Sebagai tradisi dan kesadaran berkelompok, warga Suku Buton memilik kebiasaan yang dapat membuat lancar perkembangan individu warga. Soal ini kuat hubungannya dengan kehadiran adat sebagai tempat penyimpanan etika sosial kemasyarakatan.

Adat Suku Buton

Beberapa kearifan adat dari tradisi yang ada pada warga Buton ialah kangkilo. Sebagai modal sosial budaya warga Buton untuk merealisasikan kesesuaian dan keserasian hidup. Kearifan adat yang mencakup kesucian ritual dan kesucian rasa dan adab, kalau didapati dan dimengerti artinya secara baik akan membuat watak perilaku, bicara dan sikap positif warga Buton sesuai nilai norma dan kepribadian yang disarankan dalam adat itu.

7 Ritual Suku Buton

Disamping itu ada ritus atau ritual dan acara pesta Adat yang telah dilakukan warga Buton sampai saat ini yang diberitakan memiliki kandungan elemen Sinkritisme. Berikut ritus-ritual dan acara pesta adatnya:

  1. Goraana Oputa/Maludju Wolio yakni ritual warga Buton dalam menyongsong kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dikerjakan setiap larut malam tanggal 12 Rabiul awalnya
  2. Qunua, yakni ritual keagamaan yang dilakukan warga Buton pada 16 malam bulan Ramadhan.
  3. Tuturiangana Andaala yakni Ritual kesyukuran warga Buton yang ada di Pulau Makasar (liwuto) ke Allah SWT, atas keluasaan rezeki yang terbentang luas di bidang kelautan
  4. Mataa yakni ritual adat yang diadakan warga Buton etnik cia-cia di dusun Laporo yeng sebagai bentuk rasa sukur ke Allah SWT atas hasil panen yang didapat.
  5. Pekande-kandea yakni acara pesta sukuran warga Buton ke Allah SWT atas luapan anugrah yang diberi
  6. Karia yakni acara pesta adat warga Buton yang ada di Kaledupa untuk menyambut anak-anak yang bergeser menjadi dewasa. Acara pesta Rakyat ini disertai dengan tarian-tarian yang dilakukan oleh penopang adat, bersama orangtua, selanjutnya memanjatkan doa bersama anak-anak mereka yang mempunyai tujuan untuk membekali anak-anak mereka dengan nilai-nilai kepribadian dan religius.
  7. Posuo (pingit) yakni acara pesta adat warga Buton yang diperuntukkan pada kaum hawa yang masuk umur remaja sekalian mempersiapkan diri untuk berumah-tangga.

Sekian informasi ini terkait Sejarah Suku Buton Di Sulawesi Tenggara |Sistem, Kasta, Bahasa, Kepercayaan, Mata Uang dan Pencaharian semoga berguna dan bermanfaat