Melihat Sejarah SUKU DONGGO NTB, Bahasa, Rumah Adat, Kesenian, Religi, Pakaian Adat, Senjata Tradisional, Mata pencaharian Dan Kebudayaannya - celotehpraja.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melihat Sejarah SUKU DONGGO NTB, Bahasa, Rumah Adat, Kesenian, Religi, Pakaian Adat, Senjata Tradisional, Mata pencaharian Dan Kebudayaannya

SUKU DONGGO Nusa Tenggara Barat

Menjawab rasa penasaran sobat seputar "SUKU". Mungkin sebagian dari anda ingin bertanya tentang seperti apakah Sejarah Suku Donggo? Bahasa Apa yang digunakan di Suku Donggo? Bagaimana Sistem Kepercayaan Pada Suku Donggo? Seperti Apa Rumah Adat Suku Donggo? Apa Mata Pencaharian Suku Donggo? Bagaimana Kebudayaan yang ada di Suku Donggo? Karena itu artikel ini ada untuk membahas menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, silahkan ikuti ceritanya dibawah ini.

Suku Donggo atau Dou Donggo adalah suku yang mendiami kecamatan Donggo kabupaten Bima provinsi Nusa Tenggara Barat. Mereka termaksud penduduk pertama yang menghuni daerah Bima. Menurut peneliti bahwa suku Donggo ini memiliki bahasa dan adat istiadat yang berbeda dengan suku Bima (Dou Mbojo) namun memiliki kesamaan dengan masyarakat daerah di Lombok bagian utara.

Penjelasan Tentang Sejarah, Bahasa, Rumah Adat, Kesenian,Religi, Pakaian Adat, Senjata Tradisional, Mata pencaharian Dan Kebudayaan SUKU DONGGO Nusa Tenggara Barat
Penjelasan Tentang Sejarah, Bahasa, Rumah Adat, Kesenian,Religi, Pakaian Adat, Senjata Tradisional, Mata pencaharian Dan Kebudayaan SUKU DONGGO Nusa Tenggara Barat

Sejarah Suku Donggo NTB

Kata "donggo" atau "dou donggo" berarti "orang gunung". Suku Donggo terbagi dari 2 kelompok, yang dapat dibedakan berdasarkan daerahnya, yaitu Donggo Ipa dan Donggo Ela. Daerah Donggo Ipa terletak di sebelah timur teluk Bima, sedangkan suku Donggo Ela terletak di sebelah barat teluk Bima. Perkampungan mereka terletak di pinggir jalan atau sungai.

Bahasa Suku Donggo NTB

Suku Donggo menggunakan bahasa Bima Donggo dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Bima Donggo memiliki 2 kasta bahasa, yang disebut sebagai bahasa halus dan bahasa kasar.

Rumah Adat Suku Donggo NTB

rumah adat suku donggo

Suku Donggo memiliki rumah adat tradisional disebut Uma Leme yang bentuknya berbeda dengan masyarakat lain di Bima. Tinggi rumah ini mencapai 7 meter dengan ukuran sekitar 3×4 meter. Atap yang digunakan adalah alang-alang dan menggunakan dinding kayu sangga (kayu yang diyakini bisa menolak bala dan bencana). Rumah ini disebut juga rumah Ncuhi atau Uma Ncuhi. Di rumah ini disimpan barang-barang sesembakan dan alat-alat kesenian.

Kesenian Suku Donggo NTB

Masyarakat Donggo memiliki beberapa seni budaya dan upacara adat, diantaranya adalah

1. Upacara Kasaro (acara untuk orang meninggal)
2. Upacara Sapisari (penguburan)
3. Doa Rasa (doa kampung) yang diadakan 5 tahun sekali
6. Tari Kalero dan pesta Raju (anjing hutan).

Sistem Kepercayaan Suku Donggo NTB

Sebagian besar suku Donggo memeluk agama Islam dan sebagian kecil memeluk agama Kristen. Dahulu sebelum orang Donggo memeluk agama Islam dan Kristen, mereka menganut agama kepercayaan terhadap dewa-dewa, yang mengandung unsur Hindu-Budha. Mereka menjunjung tinggi Lewa (dewa) yaitu kekuatan gaib yang ada di alam. Dewa yang tertinggi dan ditakuti adalah Lewa Langi (Dewa Langit) yang tinggal di matahari. Mereka juga percaya roh-roh di sekitar mereka yang dalam bahasa Donggo disebut Rawi. Dalam keyakinan mereka, ada roh yang suka mengganggu dan roh yang suka menolong, misalnya Rawi Ndoe (angin dari roh nenek moyang atau pelindung).

Wilayah Suku Donggo NTB

Sebagian masyarakat Donggo menempati wilayah kecamatan Donggo, yang dikenal dengan nama Dou Donggo Sebagian lain mendiami kecamatan Wawo Tengah (pegunungan) seperti Teta, Tarlawi, Kuta, Sambori dan Kalodu Dou Donggo Ele. Pada awalnya, sebenarnya penduduk asli ini tidak semuanya mendiami wilayah pegunungan. Salah satu alasan mengapa mereka umumnya mendiami wilayah pegunungan adalah karena terdesak oleh pendatang-pendatang baru yang menyebarkan budaya dan agama yang baru pula.

Untuk mempertahankan kepercayaan leluhur maka mereka mendiami wilayah pegunungan. Kepercayaan asli nenek moyang mereka adalah kepercayaan terhadap Marafu (animisme). Kepercayaan terhadap Marafu inilah yang telah mempengaruhi segala pola kehidupan masyarakat, sehingga sangat sukar untuk ditinggalkan meskipun mereka telah menganut agama baru.

Dua Pakaian Adat Suku Donggo NTB

1. Pakaian adat wanita Suku Donggo NTB


pakaian adat wanita suku donggo

Pakaian adat suku Donggo didominasi dengan warna hitam dan telah mereka pakai sejak zaman nenek moyang dahulu, yang digunakan pada upacara adat dan ritual masyarakat Donggo. Pakaian adat untuk perempuan dewasa menggunakan Kababu, yang terbuat dari benang katun yang disebut baju pendek (baju Poro). Di bagian bawah memakai Deko (sejenis celana panjang sampai di bawah lutut). Mereka menggunakan kalung dan manik manik giwang sebagai perhiasannya. Sedangkan untuk perempuan remaja tetap memakai Kababu yang membedakan adalah cara memakai perhiasan yang terlihat agak unik yaitu dengan dililitkan dan dibiarkan terjuntai dari leher ke dada.

2. Pakaian Adat Laki-laki Suku Donggo NTB

Laki-laki suku Donggo mengenakan baju Mbolo Wo’o (baju leher bundar berwarna hitam). Di bagian bawah mengenakan sarung yang disebut Tembe Me’e Donggo, yang terbuat dari benang kapas berwarna hitam dan bergaris-garis putih. Lalu dipinggang dipasang Salongo (sejenis ikat pinggang berwarna merah atau kuning yang berfungsi sebagai tempat untuk menyematkan pisau atau keris atau parang). Untuk alas kaki atau sandal mereka menggunakan Sadopa yang terbuat dari kulit binatang.

Senjata Tradisional Suku Donggo NTB

Senjata tradisional masyarakat Donggo adalah Pisau Mone (pisau kecil) yang behulu panjang dengan bentuk agak panjang.

Mata pencaharian Suku Donggo NTB

Masyrakat Donggo pada umumnya hidup pada bidang pertanian, seperti menanam padi di sawah dan menanam berbagai tanaman di ladang dan di kebun. Namun mereka juga memelihara hewan ternak, seperti kuda dan sapi dan berburu di hutan. Suku donggo juga terkenal karena ahli dalam meramu. Sebelum mengenal teknik pertanian, mereka biasanya melakukan perladangan berpindah-pindah, dan karena itu tempat tinggal mereka pun selalu berpindah-pindah pula (nomaden)

Sekian Tentang Penjelasan Sejarah, Bahasa, Rumah Adat, Kesenian,Religi, Pakaian Adat, Senjata Tradisional, Mata pencaharian Dan Kebudayaan SUKU DONGGO Nusa Tenggara Barat. Semoga dapat berguna dan bermanfaat, terimakasih.