Kode Pengaturan Template
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Arti, Jenis, Bentuk, Teknik Pementasan Teater |Kreatifitas Serta Unsurnya

Pengertian, Jenis, Bentuk dan Teknik Pementasan Teater & Kreatifitas Serta Unsurnya

A. Pengertian Pementasan Teater Tradisional

Kata teater secara etimologis berasal dari bahasa Inggris “ Theatre” dan bahasa Yunani “ Theaomai” yang berarti dengan takjub melihat dan mendengar. Kemudian kata teater ini berubah menjadi “Theatron” yang mengandung pengertian.
a. Gedung Pertunjukan atau Pentas pada zaman Thucydides, 471-395 SM. dan zaman Plato, 428-424 SM.
b. Publik/ Auditorium atau tempat penonton pada zaman Herodotus, 490/480-424 SM.

1. Arti Teater Dalam Pengertian Umum Dan Sempit

Pengertian teater dapat dibagi dalam pengertian umum dan sempit. Teater dalam pengertian umum adalah suatu kegiatan manusia dalam menggunakan tubuh atau benda-benda yang dapat digerakan, di mana suara, musik dan tarian sebagai media utamanya untuk mengekspresikan cita, rasa dan karsa
seni.

2. Teater Dalam Pengertian Luas 

Teater dalam arti luas adalah segala tontonan yang dipertunjukan di depan orang banyak, misalnya :Wayang Wong, Pementasan Topeng, Wayang Golek, Wayang Kulit, Wayang, Ketoprak, Ludruk, Srandul, Randai, Longser, Akrobatik, Sepak Bola, dan berbagai pertunjukan musik atau Karawitan, Karnaval Seni, dst.. Sedangkan dalam arti sempit teater adalah Drama.

3. Istilah Drama dalam bahasa Yunani

Istilah Drama dalam bahasa Yunani “ Dran” atau “Draomai” yang berarti beraksi, berbuat, bertindak, berlaku. Dalam istilah yang umum, drama adalah salah satu bentuk teater yang memakai lakon dengan cara bercakap-cakap atau gerak-gerik di atas pentas yang ditunjang oleh beberapa unsur artistik pementasan. Inti atau dasar dari drama itu sendiri adalah konflik atau pertentangan, antara peran tokoh dengan dengan dirinya sendiri, dan peran tokoh dengan masyarakat atau lingkungan.

4. Apakah Drama adalah kisah hidup?

Drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang di ceritakan di atas pentas, disaksikan oleh orang banyak atau penonton dengan media: percakapan, gerak dan laku dengan tata pentas atau dekor (layar dst.) didasarkan pada naskah tertulis atau tidak tertulis dengan atau tanpa musik, nyanyian, dan atau tarian. Pementasan teater secara umum, merupakan proses komunikasi atau peristiwa interaksi antara pementasan teater dengan penontonya yang dibangun oleh suatu sistem pengelolaan, yakni manajemen seni pementasan.
Arti, Jenis, Bentuk, Teknik Pementasan Teater |Kreatifitas Serta Unsurnya
Daftar Terkait :
MATERI/PELAJARAN SENI BUDAYA KURIKULUM 2013 (K13) UNTUK SMA / MA / SMK / MAK  KELAS X 
  1. Pengertian, Manfaat, Tujuan dan Fungsi Pameran Karya Seni Rupa
  2. Arti, Jenis, Fungsi, dan Cara Menulis Kritik Karya Seni Rupa
  3. Pengertian, Teknik dan Prosedur Pertunjukan Musik
  4. Pengertian, Jenis, Langkah, dan Mengomunikasikan Kritik Musik
  5. Arti, Bentuk, Jenis dan Nilai Estetis Kritik Tari
  6. Pengertian, Unsur, Teknik, Kreativitas dan Merancang Pementasan Teater
  7. Tahap Pelaksanaan Merancang Pementasan Teater
  8. Arti, Jenis, Bentuk, Teknik Pementasan Teater |Kreatifitas Serta Unsurnya

B. Ragam Jenis Teater Tradisional

Indonesia sebagai negara yang kita cintai, dalam kekayaan seninya memiliki keragaman jenis dan bentuk dengan kekhasan dan keunikan tersendiri. Keragaman jenis dan bentuk, baik tari, musik dan teater tradisional tumbuh dan berkembang yang tidak lepas fungsi seninya. Salah satunya

pementasan teater tradisional, baik teater rakyat maupun teater istana memiliki fungsi sebagai
media upacara dan hiburan bagi masyarakat pendukungnya.

1. Apa Nama Lain Dari Teater tradisional?

Teater tradisional sering juga disebut dengan “Teater Daerah” merupakan suatu bentuk teater yang bersumber, berakar dan telah dirasakan fungsi seninya sebagai milik masyarakat pendukungnya. Pengolahannya didasarkan atas cita rasa masyarakat pendukungnya. Teater tradisional mempunyai ciri-ciri yang spesifik bersifat kedaerahan dan menggambarkan kebudayaan lingkungannya.

2. Ciri-Ciri Utama Teater Tradisional

Ada 7 Ciri-ciri utama teater tradisional, antara lain sebagai berikut.
  1. Menggunakan bahasa daerah.
  2. Dilakukan secara improvisasi.
  3. Ada unsur nyanyian dan tarian.
  4. Diiringi tetabuhaan (musik daerah).
  5. Dagelan/ banyolan selalu mewarnai.
  6. Adanya keakraban antara pemain dan penonton.
  7. Suasana santai. 

3. Ragam Jenis Teater Tradisional Menurut Durachman (2009)

Ragam jenis teater tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia, menurut Durachman (2009) dapat dibedakan menjadi bagian, yakni; teater tradisional rakyat dan teater tradisional istana.

1. Teater Tradisional Rakyat

Teater tradisional rakyat hadir dari spontanitas kehidupan dalam masyarakat, dihayati oleh masyarakat dan berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Kehadiran teater tradisional rakyat umumnya karena dorongan kebutuhan masyarakat terhadap suatu hiburan, kemudian meningkat untuk kepentingan lain seperti; kebutuhan akan mengisi upacara dan ceremonial keadatan.

Ciri-Ciri Teater Tradisional Rakyat

Terkait ciri-ciri teater tradisional rakyat yang memiliki perbedaan dengan teater tradisional istana, Sumardjo, (2004) mengungkapkan sebagai berikut. Ciri-ciri umum teater rakyat adalah
  1. cerita tanpa naskah dan digarap berdasarkan peristiwa sejarah, dongeng, mitologi atau kehidupan sehari-hari, 
  2. penyajian dengan dialog, tarian dan nyanyian,
  3. unsur lawakan selalu muncul,
  4. nilai dari pelaku dramatik dilakukan secara spontan dan dalam satu adegan terdapat dua unsur emosi sekaligus, yakni tertawa dan menangis,
  5. pementasan mempergunakan tetabuhan atau musik tradisional,
  6. penonton mengikuti pementasan secara santai dan akrab, dan bahkan tidak terelakan adanya dialog langsung antara pelaku dan publiknya, 
  7. mempergunakan bahasa daerah,
  8. tempat pementasan terbuka dalam bentuk arena (dikelilingi penonton).

Ragam Jenis Teater Tradisional Rakyat

Adapun ragam jenis teater tradisional rakyat yang ada di wilayah Indonesia, diantaranya dapat dikemukan sebagai berikut.
  1. Riau : Makyong dan Mendu, dst.
  2. Sumatra Barat : Randai dan Bakaba, dst.
  3. Kalimantan : Mamanda dan Tatayungan, Hudo, dst.
  4. Bali : Topeng Arja, Topeng Cupak, Topeng Prembon, dst.
  5. Sulawesi : Sinrilli, dst.
  6. Jawa Barat : Longser, Pantun Sunda, Topeng Cirebon, Topeng Banjet, Banjet, Topeng Cisalak, Uyeg, Manorek, dst.
  7. DKI Jakarta : Lenong, Topeng Betawi,dst.
  8. Banten : Ubrug, dst.
  9. JawaTengah : Srandul, Ketoprak, dst.
  10. Jawa Timur : Ludruk, Ketoprak, Topeng Malangan, Kentrungan, Topeng,Wayang Gambuh, Gambuh, dst.

2. Teater Tradisional Istana

Teater tradisional istana adalah suatu suatu jenis teater tradisional dalam perkembangan seni yang telah mencapai tingkat tinggi baik teknis maupun coraknya. Kemapanan dari jenis teater istana ini sebagai akibat dari adanya pembinaan yang terus menerus dari kalangan atas, seperti; raja, bangsawan atau tingkat sosial lainnya. Oleh karena itu jenis teater istana kebanyakan lahir dilingkungan istana (pusat kerajaan). Untuk jenis teater tradisional istana dapat dikemukan sebagai berikut, misalnya :
Wayang Golek, Wayang Kulit, Wayang Cepak (Jawa Barat); Wayang Kulit dan
Wayang Orang (Jawa Tengah dan Jawa Timur).
Cara pementasan teater istana memiliki aturan yang ketat dan tidak sebebas teater rakyat. Teater istana harus menuruti aturan-aturan etis (tata kesopanan) dan estetis (nilai keindahan) yang telah digariskan berdasarkan aturan yang baku. Terkait dengan pementasan teater tradisional istana
Sumardjo, (2004) mengungkapkan sebagai berikut.

Ciri-ciri umum teater istana

Ciri-ciri umum teater istana adalah

  1. adanya sumber cerita atau naskah baku dan digarap bersumber cerita ramayana, mahabarata, cerita panji,
  2. penyajian dengan dialog, tarian dan nyanyian,
  3. nilai dari pelaku dramatik dilakukan secara baku,
  4. pementasan mempergunakan tetabuhan atau musik yang lebih lengkap dan rumit,
  5. penonton mengikuti pementasan secara hidmat dan berjarak, 
  6. mempergunakan bahasa baku sangsekerta, kawi,
  7. tempat pementasan bersifat khusus (dalam istana, pendopo) dengan penonton keluarga istana dan tamu kehormatan).

Berdasarkan perbedaan ciri-ciri pokok seni dan hubungan seni yang mendasari pementasannya dapat disimpulkan bahwa teater tradisional keberadaan seninya tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pendukungnya, baik masyarakat suku pedalaman, masyarakat pedesaan, perkampungan (pertanian huma dan pesawahan) dan masyarakat istana atau pendopo atau istana.

Nilai Seni Dalam Pementasan Teater

Dalam pementasan teater selalu menghadirkan nilai seni. Nilai seni dalam pementasan teater adalah makna, yang disampaikan melalui media atau sarana dalam bentuk simbol seni. Nilai di dalam simbol seni dapat dibagi menjadi nilai bentuk dan nilai isi, nilai moral. Nilai estetis adalah nilai bentuk, bersifat subjektif. Adapun nilai isi, nilai pesan bersifat objektif.

Nilai estetis bersifat subjektif. Artinya, sangat tergantung kepada orang yang menilainya. Oleh karena itu nilai estetis yang ditampilkan sang kreator atau pelaku seni sangatlah berbeda tergantung ukuran nilai estetis dari sundut pandang mana mereka ketika menikmati atau mengapresiasi pementasan
teater.

Berbicara nilai estetis atau nilai keindahan yang dipancarkan pementasan seni oleh para pelakunya, termasuk pementasan teater dapat dianalisis melalui unsur dan struktur pembentuk seninya. Hal ini terjadi, disebabkan oleh sifat seni pementasan teater hadir karena ciri-ciri pembentuk seninya. Semua pementasan teater, baik tradisional maupun non tradisional yang ada karena dilakukan secara langsung dengan kasat mata, terbatas oleh ruang dan waktu di atas pentas, dilakukan atas kerjasama dan kerja bersama antar beberapa awak pentas dalam mewujudkan pementasan teater.

Untuk menilai pementasan teater tradisional, apakah indah atau tidak terhadap pementasan teater sangat tergantung pada jenis, bentuk dan fungsi seninya.Contohnya, seni tradisional istana memiliki idiom atau pakem atau pola yang tetap dan baku yang mengikat secara khas. Justru kekhasan atau keunikan bentuk seninya melalui; pola, struktur dan unsur-unsur pementasan teater yang terkandung di dalamnya menjadi daya tarik tersendiri dalam memaknai nilai estetik seninya.

Dengan nilai keindahan yang terpancar dari teater tradisional istana melalui olahan unsur-unsur pementasannya kearah nilai estetika tinggi yang dipandang untuk prestisius kebesaran raja. Oleh karena itu, tidak heran apabila teater tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat istana cenderung rumit dan terkesan glamour menakjubkan karena dikerjakan oleh para ahli dibidang seni. Dengan ciri atau tanda yang ada sebagai identitas teater istana adalah unsur-unsur pembentuk seninya berkembang ke arah estetika tinggi dan bersifat adiluhung.

Pementasan teater dengan sifat yang sederhana, apa adanya, bersahaja, cenderung spontan dan bersifat bebas dalam pementasannya adalah menjadi ciri khas penanda nilai estetik dari teater tradisional rakyat.

Teater tradisional mempunyai fungsi seni bagi masyarakatnya. Fungsi yang dirasakan oleh masyarakat pendukungnya yang menyebabkan salah satu faktor mengapa teater tradisional ini tetap bertahan di tengah-tengah masyarakatnya.

Ciri-ciri dalam seni pementasan tradisional dalam kaitan fungsi Sedyawati (1983) mengatakan “ lima ciri dalam seni pementasan yang bersifat sacral maupun magis, memiliki fungsi sebagai
  1. pemanggil kekuatan gaib,
  2. penjemput roh-roh baik untuk mengusir roh jahat,
  3. peringatan pada nenek moyang dengan menirukan kegagahan maupun kesigapannya,
  4. pelengkap upacara sehubungan dengan saat tertentu perputaran waktu dan
  5. pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat hidup manusia.
Pementasan teater fungsi keseniannya, dapat dicontohkan melalui salah satu pementasan teater “Topeng Banjet” di Kabupaten Karawang. Teater tradisional rakyat ini, hingga kini oleh masyarakat pendukungnya masih difungsikan dalam kegiatan upacara terkait pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat hidup manusia; Nazar, khitanan, perkawinan, haulan,dst.

Keberadaan teater tradisional rakyat dalam sistem pementasannya, dikala sepi panggungan atas tanggapan penanggap seni, yakni di masa-masa musim peceklik, biasanya melakukan pementasan dengan cara pentas keliling atau mengamen ke daerah lain yang tengah musim panen.

C. Unsur Pementasan Teater Tradisional

Suatu pementasan seni, termasuk pementasan teater memiliki persyaratan. Persyaratan dimaksud sebagai unsur penting dalam terselenggaranya pementasan teater. Tanpa adanya persyaratan tersebut, pementasan seni atau peristiwa seni tidak akan terwujud. Unsur penting tersebut meliputi unsur; panitia pementasan, materi pementasan, penonton dan tempat pementasan.

1. Unsur Panitia Pementasan

Panitia adalah sekelompok orang-orang yang membentuk suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, organisasi yang dibentuk dengan sistem organisasi panitia. Sistem organisasi panitia dalam pementasan seni, termasuk pementasan teater sangat cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran organisasi pementasan. Karena pembentukan organisasi dengan sistem panitia memiliki kemudahan, yakni mudah dibentuk dan mudah pula untuk dibubarkan tanpa adanya ikatan kerja yang rumit.

Organisasi dalam sistem panitia ini, menempatkan pimpinannya bersifat kolegial atau dewan, artinya terdiri dari beberapa orang. Segala keputusan diambil dan dipertanggungjawabkan secara bersama-sama dengan waktu pementasan bersifat praktis. Artinya panitia dapat dengan cepat dibentuk dan
dibubarkan setelah kegiatan berakhir.

Panitia pementasan memiliki dua wilayah kerja penting, yakni adanya: panitia artistik atau pelaku atau kreator seni dibawah pimpinan seorang Sutradara (art director) dan panitia non artistik atau penggiat seni dipimpin oleh seorang Pimpinan Produksi yang dipilih dan diangkat atas musyawarah
kelas atau teman dalam kelompok yang dibentuk.

Kehadiran panitia dalam pementasan teater tradisional, karena sifat seninya sebagai hasil kolektif masyarakat pendukungnya yang merakyat, sederhana, apa adanya, bersahaja, akrab tanpa jarak penonton dst. (teater rakyat) dan sifat seni yang mengejar estetika yang tinggi dan adiluhung yang
nampak pada teater istana.

Dengan cara pandang pengelolaaan dan hadirnya beberapa orang sebagai panitia artistik dan non artistik menempatkan menjadi ciri pembeda antara teater rakyat dan teater istana.

2. Unsur Materi Pementasan Teater

Syarat kedua sebagai unsur penting di dalam pementasan adalah wujud, benda, materi atau bentuk ungkap pementasan seni yang mengandung nilai– nilai kehidupan, diciptakan oleh seniman, kreator atau anda sendiri secara sadar melalui medium seni tertentu di atas pentas.

Materi pementasan yang dimaksud adalah wujud karya teater yang dibangun melalui proses kreatif seniman atau komunal masyarakat melalui tahapan dengan menggunakan medium tertentu bersifat kolektif (bekerja bersama) dengan tanggungjawab secara bersama (kolaborasi) dan memiliki fungsi tertentu pula bagi penontonnya atau masyarakat.

Fungsi seni yang dimasud, apakah untuk hiburan semata atau memiliki fungsi lain terkait kegiatan adat dan upacara. Unsur penting berikutnya di dalam pementasan teater adalah hadirnya penonton.

3. Unsur Penonton

Penonton merupakan syarat ketiga dalam sebuah pementasan teater. Penonton adalah orang-orang atau sekelompok manusia yang sengaja datang untuk menyaksikan tontonan. Penonton dapat juga dikatakan sebagai apresiator, penikmat, penilai, terhadap materi seni (seni teater) yang dipentaskan.

Oleh karena itu, kehadiran penonton dalam suatu pementasan adalah bersifat mutlak. Tanpa penonton, pementasan teater adalah kesia-siaan atau kegiatan mubazir. Karena pementasan teater membutuhkan suatu penilaian, masukan, penghargaan atau kritikan dari orang lain dalam rangka
menciptakan peristiwa seni yang lebih baik dan bermutu.

Menonton adalah sikap menerima, menghargai dan sekaligus mengkritisi pesan estetis dan pesan moral (nilai-nilai kehidupan) yang disampaikan melalui pementasan. Penilaian terhadap pementasan seni untuk setiap penonton sangatlah berbeda dan bersifat relative. Oleh karena itu, berpijak pada keragaman latarbelakang penonton dan pengalaman seni, penonton dalam hubungan pementasan teater dapat dibedakan dalam tiga golongan, yaitu:
  1. Penonton awam adalah penonton sebagai penikmat seni dengan kecenderungan kurang atau tidak dibekali dengan pengetahuan dan pengalaman seni. Dalam hal ini, penonton yang demikian adalah penonton yang membutuhkan hiburan. Artinya, tontonan berfungsi sebagai hiburan semata.
  2. Penonton tanggap adalah penonton yang memiliki sikap responsif dengan kecenderungan memiliki wawasan dan pengalaman seni, tetapi tidak ditindaklanjuti untuk mengulas terhadap apa yang ditontonnya cukup untuk dipahami dan dinikmati sendiri. Penggolongan penonton tanggap, biasanya penonton yang hidup di tengah-tengah masyarakat pendukung seni tradisional dan terlibat didalamnya atau penonton lain, seperti pelajar atau mahasiswa seni pertunjukan tetapi belum berani melakukan ulasan kritis terhadap pementasan yang ditontonnya.
  3. Penonton kritis, adalah penonton dengan bekal keilmuan dan pengalaman seni kemudian melakukan ulasan atau menulis kritik pementasan dan dipublikasikan dalam forum ilmiah, diskusi sampai media cetak dan elektronik. Dalam hal ini, biasanya penonton dibekali dengan kemampuan jurnalistik seperti mahasiswa dan penonton umum yang sudah terbiasa dengan tulis menulis.

4. Unsur Tempat

Tempat sebagai unsur dalam pementasan teater menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan. Mengapa demikian? Tempat pementasan sebagai tempat berlangsungnya pementasan dapat dilakukan di dalam (Indoor) dan di luar gedung pementasan (Outdoor). Jenis pentas sebagai tempat pementasan pada dasarnya dapat dibedakan antara lain sebagai berikut.
  1. Pentas arena, pentas yang dapat dilihat dari semua arah penonton, biasanya digunakan dalam pementasan teater tradisional rakyat. Pentas arena dapat dicontohkan dengan beberapa bentuk pentas, antara lain; di ruang pendopo, di lapangan terbuka, di alun-alun, di tegalan sawah, di pinggir jalan, di pasar, di halaman rumah, dst.
  2. Pentas proscenium, atau disebut panggung di dalam gedung, yakni penonton hanya dapat menikmati dari arah depan (adanya jarak penonton dan tontonan) biasanya pementasan teater modern.
  3. Pentas campuran merupakan bentuk-bentuk panggung perpaduan antara panggung arena dan panggung proscenium, misalnya; Panggung bentuk L, U, I, Segi enam, segi lima atau setengah lingkaran. Biasanya panggung semacam ini dipergunakan dalam kepentingan showbiz, catwork (modeling).

D. Teknik Pementasan Teater Tradisional

1. Arti Teknik dalam Pementasan Teater Tradisional

Teknik adalah cara, metode dan strategi untuk memudahkan kerja dalam sanggupan menyelesaikan suatu tugas. Terkait teknik dalam pementasan teater dapat dipahami sebagai suatu cara dan upaya anda bersama temanteman satu kelas atau kelompok yang dibentuk untuk terlibat dalam mempersiapkan pementasan teater yang akan dipentaskan.

Teater tradisional sebagai salah satu bentuk pementasan ditinjau dari media yang digunakannya, Sumardjo (2004) membaginya ke dalam; teater boneka dan teater manusia. Teater tradisional boneka, sebagai teater yang menggunakan alat atau media ungkapnya adalah boneka (muffet), seperti; wayang golek, wayang cepak, wayang kulit, topeng, tuping, ondel-ondel, dst.

Teater manusia adalah teater dalam pementasannya dominan menggunakan alat penyampai pesan ceritanya menggunakan manusia (pemeran) dengan totalitas tubuhnya (seni peran, menari, menyanyi, berceritra, mendongeng, dst.). Contohnya; wayang wong, seni bertutur, dst.

Pementasan teater tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengahtengah masyarakat Indonesia berdasarkan media yang digunakannya, yakni teater boneka dan teater manusia mengantarkan anda dalam memahami teknik pementasan teater.

2. Jenis Teknik pementasan teater tradisional

Teknik pementasan teater tradisional dapat dibedakan menjadi tiga jenis yakni teater tutur, teater boneka dan teater manusia. Ketiga jenis dalam teater tradisional ini memiliki kekhasan tersendiri, terutama dalam hal media ekspresi yang dominan digunakan.

Teater tutur merupakan teater tradisional dengan kekhasan penyampaian cerita atau lakon yang dibawakan dengan cara mendongeng atau bercerita sambil diiringi musik atau tidak diiringi musik,
misalnya; Seni Pantun dari Jawa Barat, Madihin dari Riau, Cepung dari NTB, Kentrung dari Jawa Timur, PmToh dari Aceh, dst. Apakah di daerahmu memiliki ragam pementasan teater tutur yang lain? Teater tradisional yang tergolong dalam teater boneka, biasanya media utamanya menggunakan boneka atau tiruan dari benda atau mahluk hidup yang dijadikan alat untuk menyampaikan cerita atau lakon. Biasanya tokoh yang menghidupkan lakon dengan media boneka disebut dengan dalang. Contohnya, wayang golek, wayang kulit, wayang cepak, ondel-ondel, hudok, dst. Apakah di daerahmu juga memiliki pementasan teater boneka yang belum disebutkan?

3. Fungsi Pementasan Teater Tradisional Dan Non Tradisional

Teater manusia yakni pementasan teater tradisional atau pun non tradisional dimana manusia sebagai media utama dalam melakukan aksi seni peran di atas pentas yang dijalin oleh sebuah lakon dengan beberapa unsur artistik pentas sebagai pendukungnya. Contohnya; Mamanda (Kalimantan Selatan), Randai (Sumatra Barat), Lenong (Betawi), Topeng Banjet, Longser, Topeng Cirebon, Uyeg dari Jawa Barat; Ludruk, Ketoprak, dari (Jawa Tengah dan Jawa Timurt) dan seterusnya. Apakah di daerahmu mengenal teater yang menggunakan media utamanya manusia yang belum disebutkan?

Dengan demikian, secara teknis pementasan teater tradisional yang yang tumbuh dan berkembang bersifat kedaerahan memiliki keragaman dan keunikan dalam pementasannya. Dengan keragaman jenis, bentuk dan teknik pementasan teater tradisional yang anda ketahui. Kita patut bersyukur dikaruniai kekayaan seni teater yang tidak dimiliki bangsa lain.

E. Kreativitas Pementasan Teater

Pementasan teater merupakan puncak dari sebuah proses latihan para pelaku seni dan proses kreativitas seni dari seorang sutradara. Melalui proses  seni inilah teater dapat terwujud sebagai pementasan seni yang perlu dikomunikasikan kepada penontonnya. Oleh karena itu, komunikasi seni menjadi penting dan tidak terpisahkan dengan proses yang dilakukan sebagai bagian dari evaluasi dan penghargaan yang pantas diberikan kepada seniman atau kreator sebagai pelakunya.

Pementasan teater merupakan hasil kreativitas para pendukung pentas, yakni pelaku seni (sutradara, pemeran, pemusik, penari dan para penata artistik) dan penggiat seni (pimpinan produksi dan panitia pementasan nonartistik).

1. Arti Kreativitas Pementasan Teater

Kreativitas merupakan kegiatan mencipta atau menghadirkan sesuatu yang baru. Kreativitas teater adalah suatu metode atau cara untuk mengoptimalkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam pembelajaran seni teater terhadap penguasaan dan pengolahan; tubuh, suara, sukma dan pikir yang dimiliki para siswa dengan totalitas, penuh kesadaran, dan tanggungjawab sesuai tugas yang diembannya.

Sehingga melalui pembelajaran pementasan seni teater diperoleh manfaat ganda, berupa: kebugaran, kecerdasan, kebersamaan, kedisiplinan dan terjadi peningkatan kualitas dalam melatih tanggungjawab melalui media pementasan teater.

Teater sebagai pementasan yang akan dijadikan materi pembelajaran merupakan kegiatan akhir atau puncak dari sebuah proses memahami teater tradisional menjadi objek utama dalam penciptaan peristiwa kesenian.

Tetapi peristiwa kesenian yang akan terjadi pada pementasannya, tidak luput dari upaya yang dilakukan para panitia non artistik di dalamnya. Dengan demikian, baik pelaku seni (artistik) maupun penggiat seni (non artistik) sama-sama berperan penting di dalam sebuah pementasan. Bahkan dengan berakhirnya pementasan teater, tidak otomatis berakhir pula kegiatan non materi seni (non
artistik).

Mengapa demikian? Karena panitia kesenian bersifat non materi seni yang ditanggungjawabi Pimpinan Produksi, tugas dan tanggungjawabnya berakhir dengan sebuah laporan kegiatan pementasan teater secara tertulis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pementasan teater sebagai bentuk kegiatan pembelajaran, baik di sekolah atau di luar sekolah dapat dilakukan dengan beberapan tahapan penting. Tahapan-tahapan tersebut, meliputi: prapementasan, pementasan dan pasca pementasan.

2. Tahap Prapementasan

Prapementasan adalah kegiatan akhir persiapan atau kegiatan awal
sebelum berlangsungnya pementasan dalam hitungan hari atau waktu
menjelang pementasan. Kegiatan prapementasan, meliputi persiapan
pementasan teater menjelang pementasan yang sesungguhnya berupa
serangkaian tindakan dari panitia non artistik dan artistik pentas guna
menyukseskan pementasan sesuai waktu yang telah direncanakan.

  1. Persiapan Materi Artistik Pementasan Teater Persiapan materi artistik pementasan teater merupakan persiapan akhir pementasan sebagai tindak lanjut dari kegiatan gladi kotor yang dilakukan pelaku seni pada tempat atau gedung pementasan yang akan dipakai tempat pementasan teater. Persiapan pementasan ini, berupa kegiatan orientasi pentas bagi para pelaku seni (pemeran, pemain musik, penari, para penata pentas dan crew pentas ), diantaranya melakukan: adaptasi pentas, pola adegan, blocking, keluar masuk pemain sesuai dengan fokus lampu dan pengecekan, chek ulang atau chek and recheck tentang segala hal yang berkaitan dengan artistik pementasan atau skenik pementasan, berupa;pengecekan para pemain, teknik keluar masuk setting pentas, pengecekan property, handprop, busana, setting gamelan atau alat musik, setting microphone, balancing sound system, pengecekan multimedia, dan seterusnya.
  2. Persiapan Materi Non Artistik Pementasan Persiapan materi non artistik pementasan adalah persiapan akhir panitia non materi seni berupa serangkaian kegiatan persiapan pementasan berupa pengecekan dan pengadaan sarana pendukung pementasan teater. Kegiatan pengecekan dan sarana penunjang kegiatan pementasan, antara lain meliputi; penyusunan acara, penugasan pembawa acara atau Master of Ceremony (MC), pengecekan pengisi acara sambutan, pengecekan pengisi acara pemberian penghargaan dan doorprise, koordinasi petugas gedung, koordinasi petugas keamanan, pengecekan penonton dan undangan yang akan hadir, pengadaan buku acara atau leaflet, pengadaan buku tamu, penugasan penjaga tamu, penugasan pendamping tamu, pengecekan konsumsi panitia dan petugas, pengecekan transportasi pemain, pengecekan dokumentasi, publikasi, kemitraan, dst.

3. Pementasan

Kegiatan pementasan teater, berupa pengkondisian dan pelaksanaan di lapangan dari masing-masing bidang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kerja panitia dengan azas saling percaya berdasarkan rencana pementasan yang telah ditetapkan.

Kegiatan pementasan teater adalah praktik langsung dalam melaksanakan pementasan,meliputi: pengendalian hal-hal yang tidak diharapkan dan optimalisasi kinerja panitia dari kegiatan persiapan pementasan sampai terlaksananya pementasan teater dengan baik dan lancar.

Pada pelaksanaan pementasan teater, perlu kamu ketahui baha bidang acara memiliki peran penting sebagai pengatur dan pengendali jalannya acara pementasan di luar kegiatan artistik atau materi seni teater.

4 Pascapementasan

Pascapementasan merupakan kegiatan akhir dari pelaksanaan pementasan teater yang kamu lakukan. Dimana semua peralatan dan kebutuhan pentas yang telah dipakai dalam pementasan harus kembali pada tempat atau pada pemiliknya secara tertib dan aman.

Dengan tidak lupa melakukan chek and rechek sesuai dengan daftar peralatan atau sarana prasarana yang dibawa dan dipinjam dari orang lain. Hal lain yang harus dibina adalah kerjasama dalam bentuk dokumentasi fisik kemitraan sebagai bukti kerjasama yang baik dan saling menguntungkan yakni adanya data dokumentasi promosi dan publikasi keitraan berupa; poster, spanduk, pamlet, t-shirt, booklet atau leaflet yang dipilih sesuai perjanjian agar kerjasama yang dibangun dapat terjalin dan
terbina dengan baik dan saling menguntungkan kedua belah pihak.

Tahapan pascapementasan pun dapat dijadikan sebagai wahana evaluasi kegiatan terhadap kualitas pementasan teater maupun laporan panitia nonartistik sebagai pengelola produksi pementasan teater sebagai acuan untuk melangkah dan bertindak lebih baik dari segala kelemahan dan keberhasilan
yang telah didapat oleh kamu.

Kegiatan laporan yang dilakukan Pimpinan Produksi harus bersifat tercatat, tertulis dan terbuka kepada penanggungjawab kegiatan dan semua pendukung acara, terutama menyangkut: laporan keuangan yang diperoleh dari sumber-sumber yang telah direncanakan dengan jumlah pengeluaran yang dipakai kegiatan pementasan. Sekaligus sebagai ajang penghargaan kepada seluruh pendukung acara berupa kesejahteraan atau honorarium dan produk sponsor, itu pun kalau ada dan memungkinkan.

Jika tidak ada, tetap laporan harus dibuat tertulis dan disampaikan kepada semua pendukung
pementasan dan pembimbing. Pada prinsipnya bahwa kreativitas dalam pementasan teater adalah berupa prosedur atau tahapan dalam proses implementasi seni peran dengan beberapa
unsur penting pementasan teater yang kamu ketahui dan pahami!

Untuk memperoleh hasil pementasan teater yang optimal bersumber teater tradisional, kamu harus melakukan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut.

5. Langkah-langkah kreativitas siswa pada Teknik Pementasan Teater

Melalui pementasan teater dapat dilakukan sebagai berikut:
  1. Melakukan pengamatan tempat pementasan yang akan digunakan.
  2. Menyiapkan dan menginventarisir kebutuhan handprop pementasan.
  3. Menyiapkan dan menginventarisir kebutuhan rias dan busana pemain sesuai peran.
  4. Memasang dan menata sett dan property panggung (multimedia).
  5. Memasang dan menata alat musik.
  6. Memasang dan balancing sound system.
  7. Memasang dan menata lampu.
  8. Melakukan orientasi (penyesuaian) tempat pementasan.
  9. Melakukan manajemen pentas (mengatur keluar masuk set pentasyang digunakan.
  10. Melakukan gladi bersih pementasan.
  11. Mementaskan seni teater bersumber teater tradisional (kolaborasi seni) karya siswa.
  12. Melakukan evaluasi pementasan teater karya siswa. 
Hal ini dapat dilakukan setelah pementasan dengan tujuan membangun kritik seni teater atau dapat dilakukan dalam situasi pembelajaran kelas dengan bentuk evaluasi laporan tertulis terkait pementasan yang dilakukan siswa.

G. Rangkuman Pementasan Teater

Teater merupakan pementasan seni sebagai hasil daya cipta, rasa dan karsa manusia yang diekspresikan melalui bahasa simbol dengan media utama adalah manusia.

Teater sebagai pementasan diciptakan dengan cita, rasa dan karsa manusia bersifat kolektif, keberadaannya tidak dapat lepas dari kehidupan manusia dengan lingkup sosial yang menyertainya. Gambaran ungkapan tentang kehidupan yang dialaminya (masyarakat) diwujudkan dalam bentuk seni dengan penyimbolannya.

Teater sebagai pementasan seni memiliki prinsip, diciptakan oleh manusia, berada dalam dunia fiksi bukan dunia nyata, mampu menghadirkan nilai-nilai estetis dan nilai-nilai spiritual.

Kreativitas sebagai kegiatan mencipta pementasan merupakan hal penting untuk dilakukan dalam memberikan pengalaman seni. Kegiatan mencipta seni akan berjalan dengan baik, manakala dilakukan melalui serangkaian tindakan dalam mempersiapkan materi seni teater, tempat pementasan teater dan penonton teater secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan pementasan teater yang komunikatif dan bermakna.

Pementasan merupakan proses komunikasi atau aktualisasi diri pembelajar atau pelaku dan penggiat seni dengan masyarakat atau penonton sebagai penikmatnya melalui peristiwa pementasan seni. Komunikasi di dalam pementasan teater (tradisional) adalah komunikasi melalui pementasan bersifat langsung dan sesaat.

Persyaratan penting di dalam pementasan teater terdiri dari: pelaku teater, penggiat teater, materi seni teater, tempat pementasan dan penonton. Pementasan teater akan terselenggara dengan baik manakala dilakukan dengan tahapan dan memberdayakan sumber–sumber yang ada melalui fungsi-fungsi manajemen dalam seni pementasan. Tahapan tersebut meliputi: prapementasan, pementasan, dan pasca pementasan teater.

Prapementasan teater merupakan serangkaian tindakan dari suatu perencanaan, pengorganisasian, dan penggerakan yang telah dilakukan pimpinan produksi, sutradara dan para pendukung pementasan dalam menyiapkan unsur-unsur artistik dan non artistik pementasan guna mencapai tujuan pementasan seni yang bermutu dan optimal.

H. Refleksi Pementasan Teater

Pementasan teater merupakan wahana belajar dalam menyampaikan kepekaan rasa seni, kejujuran, saling menghargai, kerjasama dan kerja bersama dalam meletakan sendi-sendi organisasi dan kepekaan sosial di tengah-tengah masyarakat sekolah dan lingkungan sekitar.

Dengan segala keragaman pementasan teater tradisional kita miliki dapat dimaknai dan disyukuri bahwa kita harus merasa bangga dan hendaknya menjunjung nilai-nilai kecintaan dan kebersamaan untuk menjaga kelestarian dan mengembangkannya sesuai nilai-nilai kehidupan bangsa kita.

Segenap daya dan kesempatan yang kita miliki merupakan Anugerah Tuhan, diterima dengan lapang dada dan dimanfaatkan sebesar-besarnya dalam kehidupan. Dengan tetap menjaga keharmonisan hidup antar sesama dan pencipta-Nya, saling menghormati, bekerja bersama, tolong menolong, bersikap simpati dan empati terhadap teman, guru dan warga lingkungan sekolah.

Posting Komentar untuk "Arti, Jenis, Bentuk, Teknik Pementasan Teater |Kreatifitas Serta Unsurnya"