Kode Pengaturan Template
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konsep, Teknik, Prosedur, Pemeranan Seni Teater Modern

Maksud Konsep, Teknik dan Prosedur Dalam Pemeranan Seni Teater Modern

Berikut ini adalah pembehasan tentang: Identifikasi konsep teknik dan prosedur pemeranan seni teater sesuai kaidah seni teater modern, Melakukan latihan teknik dan prosedur pemeranan seni teater sesuai kaidah seni teater modern Menerapkan teknik pemeranan seni teater sesuai kaidah seni teater modern, Mendeskripsikan karakter tokoh pemeranan seni teater sesuai kaidah seni teater modern.
  • Apakah Anda pernah melihat pementasan teater modern?
  • Apakah Anda pernah melihat bentuk pentasnya?
  • Apa perbedaan Seni Teater Modern, dengan teater yang Anda kenal?
  • Bagaimana pendapatmu setelah melihat gambar berikut ini?

Konsep, Teknik, Prosedur, Pemeranan Seni Teater Modern
Pemeranan Seni Teater Modern

A. Pemeranan Seni Teater Modern 

Teori Pemeranan

Teori tentang pemeranan atau akting telah banyak ditulis. Tetapi secara keseluruhan, pada intinya akting adalah peri pelakuan yang dilakukan oleh seseorang (aktor) untuk meyakinkan orang lain, agar orang lain itu yakin pada apa yang dilakukannya.

Jadi, jelaslah bahwa akting bukanlah peri pelakuan biasa yang secara wajar dilakukan oleh setiap orang dalam peri pelakuan sehari-hari. Akting adalah peri pelakuan yang secara sadar dilakukan oleh seseorang (pemeran) untuk bisa meyakinkan orang lain.

Di dalam kehidupan sehari-hari, apa yang dilakukan oleh seorang penipu terhadap korbannya dengan cara yang meyakinkan, sehingga korbannya tertipu, pada hakikatnya, itu juga akting. Tetapi akting semacam itu tidak disukai.

Sedangkan akting di dalam sebuah kegiatan kesenian tidak hanya dituntut untuk bisa meyakinkan orang saja, tetapi orang yang diyakinkan itu menyukainya. Di sinilah letak peranan akting di dalam kesenian. Seorang pelukis bekerja dengan kanvas, cat dan kuas.

Seorang pematung bekerja dengan kayu, batu, gips dan besi. Seorang sastrawan bekerja dengan pena dan kertas. Sedangkan aktor melalui peragaan alat-alat tubuhnya, mencakup roh dan jiwa yang diekspresikan dalam tindak perbuatan dan peri perlakuan yang aktif.

Oleh karena itu, agar alat-alat tubuhnya mampu berekspresi dengan baik, maka aktor harus menjalani jenjang-jenjang pemahiran, pelenturan, pemekaan, dan penangkasan atas alat-alat akting tersebut. Jenjang-jenjang itu adalah latihan-latihan dasar yang merupakan tahap perdana sebelum latihan-latihan dengan naskah yang mengurai peran dengan berbagai sifat, tabiat karakter, perangai dan perilaku.

Macam-Macam Akting |Dalam Pemeranan Seni Teater Modern

Pada hakikatnya ada dua macam akting, yaitu akting presentasional dan akting representasional. Yang dimaksud dengan presentasional adalah akting di mana pemeran memadukan tubuh-roh-jiwa dari karakter yang ada di dalam naskah, ke dalam dirinya. Sehingga menghasilkan mutu akting yang wajar-indah-tepat.

Sebagaimana yang diacu oleh metode realisme Konstantin Stanislavski. Sedangkan akting representasional adalah lawan dari presentasional, yaitu bentuk sajian teater yang paling tua, dan bertahan hingga kini dalam sejumlah sajian teater tradisional yang menitik beratkan pada gerakan-gerakan lahiriah tanpa merinci detail gerakan-gerakan batin.

Di dalam pertunjukan teater, seorang pemeran tidak hanya dituntut untuk menjadi karakter peran yang dia mainkan, tetapi juga suaranya harus terdengar oleh seluruh penonton. Semua itu harus wajar dan meyakinkan. Karena itulah, seorang pemeran harus melatih suara dan tubuhnya, termasuk pikiran dan perasaannya.

Melalui suara dan tubuhnyalah seorang pemeran berkomunikasi. Dengan suara dan tubuhnya, yang terdiri dari bagian-bagian, pemeran harus mampu bercerita. Ceritanya ini harus dapat meyakinkan penonton. Banyak yang dituntut dari segi suara dan tubuh. Sebanyak tuntutan yang ada dari segi kejiwaannya.

Bagi seorang pemeran teater, kondisi suara dan tubuh yang lentur menjadi syarat utama. Pemeran tidak perlu bersuara merdu bagai biduan dan berbadan bagai seorang binaragawan, atau ratu kecantikan. Tidak perlu baginya untuk bersuara alto atau sopran, atau berpotongan tubuh bagaikan seorang pesenam.

Suara boleh biasa-biasa saja dan tubuhnya boleh berbentuk bagaimana saja, sesuai kebutuhan watak yang diperankan. Pemeran bisa bersuara cempreng, bertubuh kurus tinggi, pendek gemuk, besar tegap atau sedang-sedang saja dan berbagai bentuk suara dan tubuh yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi dari dirinya dibutuhkan kesiapan yang mutlak. Sebaiknya suara dan tubuhnya siap pakai dalam kondisi seperti apa pun juga. Kelenturan suara dan tubuh, keluwesan gerak, kemampuan untuk berpartisipasi dengan seluruh tubuhnya, atau kesanggupan untuk bersikap tidak melawan, dan berbagai sikap serta perbuatan lainnya harus mampu dilahirkannya. Ini semua harus wajar, jelas dan tegas. Untuk itulah pemeran dituntut untuk senantiasa melatih suara dan tubuhnya.

1. Latihan Teknik Pemeranan

Salah satu usaha untuk itu ialah latihan olah suara dan latihan olah tubuh. Kemudian kita bertanya, dapatkah suara dan tubuh diolah? Kalau seorang aktor mau melihat pada suara dan tubuhnya sebagaimana seorang seniman keramik melihat tanah liat. Maka dapatlah ia mengolah suara dan tubuhnya. Sebagaimana si seniman keramik, menyiapkan adonan tanah liat yang diadukaduknya dan diremas-remas sebelum membentuk benda yang ingin dibuatnya. Demikian pula sikap pemeran terhadap suaranya dan tubuhnya.

Materi Terkait Seni dan Budaya K13 Kelas 11

Materi Terkait: Seni dan Budaya K13 SMA/MA/MAK/SMK Kelas 11
  1. Berapresiasi Seni Rupa, |Seni Musik, |Seni Tari, Dan Seni Teater
  2. Konsep, Unsur, Prinsip Seni Rupa 2 (Dua Dimensi) |Menganalisis, Bahan Dan Tekniknya
  3. Jenis, Tema, Fungsi, Karya Seni Rupa 3 (Tiga Dimensi) |Menganalisis Serta Nilai Estetis
  4. Arti, Tujuan Pencipta, Tahap Seni Rupa 2 (Dua Dimensi) Dengan Memodifikasi Objek
  5. Arti, Fungsi Seni Rupa 3 (Tiga Dimensi) dan |Memodifikasi Objek Serta Tugas Berkarya Tiga Dimensi
  6. Ekspresi, Rangkuman, Refeleksi Seni Rupa Serta Uji Kompetensi
  7. Aspek, Konseptual, Dalam Seni Rupa Murni |Unsur, Sifat, Eksperimen, Desain Seni Lukis
  8. Memahami, Unsur, Arti, Konsep Musik Barat |Menganalisis, Nada, Tempo dan Belajar Menulis Not
  9. Arti, Jenis, Sejarah, Pertunjukan Musik Barat |Perkembangan, Isntrumental dan Vocal
  10. Konsep, Teknik dan Prosedur Karya Tari Kreasi
  11. Contoh, Fungsi, Teknik, Bentuk, Gerak Tari Kreasi |Jenis, Nilai Estetis Serta Penerapannya
  12. Konsep, Teknik, Prosedur, Pemeranan Seni Teater Modern
  13. Sejarah,Penyusunan dan Interpretasi Naskah Lakon Teater Modern Indonesia serta Mendeskripsikannya

a. Olah Suara

Suara pemeran teater menempuh jarak yang lebih jauh dibanding dengan suara pemeran di film atau di sinetron. Karena suara pemeran teater tidak hanya dituntut terdengar oleh lawan main saja, tetapi juga harus terdengar oleh seluruh penonton. Pertunjukan yang secara visual baik, kalau suara pemerannya tidak cukup terdengar, maka penonton tidak dapat menangkap jalan ceritanya. Pertunjukan yang secara visual buruk, kalau ucapan pemerannya cukup terdengar oleh penonton, maka penonton masih bisa menikmati jalan cerita dari pertunjukan tersebut. Ini menunjukkan bahwa, suara mempunyai peranan yang cukup penting. Agar tujuannya tercapai, pemeran teater harus melatih;
  1. Kejelasan ucapan. Agar setiap sukukata yang ia ucapkan cukup terdengar.
  2. Tekanan ucapan. Agar isi pikiran dan isi perasaan dari kalimat yang ia ucapkan bisa ditonjolkan.
  3. Kerasnya ucapan. Agar kalimat yang ia ucapkan cukup terdengar oleh seluruh penonton.

Melatih Kejelasan Ucapan

Melatih Kejelasan Ucapan
  1. Latihan berbisik: Dua orang berhadapan, membaca naskah dalam jarak dua atau tiga meter, dengan cara berbisik. 
  2. Latihan mengucapkan kata atau kalimat dengan variasi tempo, cepat dan lambat: “sengseng tengtes sresep brebeeet … maka para tukang sulap mengeluarkan kertas warna-warni dari mulut dowernya yang kebanyakan mengunyah popcorn, pizza, kentucky, humberger di rumah-rumah makan eropa-amerika dan membuat jamur dari air-liurnya pada kertas panjang yang menjulur bagai lidah sungai menuju jalan layang bebas hambatan, kemudian melilit bangunan-mangunan mewah di sekitar pondok indah cinere bumi serpong damai pantai indah kapuk pluit pulomas sunter hijau kelapa gading permai dan tugu monas …”

Melatih Tekanan Ucapan  |Tekanan ucapan ada tiga (3) macam yaitu:

1. Tekanan Ucapan Dinamik 

Tekanan Dinamik ialah keras-pelannya ucapan. Gunanya untuk menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan dari kalimat. Contohnya: “Hari minggu saya ke toko buku” (artinya, bukan hari senin atau hari selasa). “Hari minggu saya ke toko buku” (artinya, bukan adik saya atau kakak saya). “Hari minggu saya ke toko buku” (artinya bukan ke toko pakaian atau ke toko makanan).

2. Tekanan Ucapan Tempo 

Tekanan Tempo ialah cepat-lambatnya ucapan, gunanya sama dengan tekanan dinamik. Untuk menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan dari kalimat. Contohnya: “Ha-ri ming-gu saya ke toko buku” “Hari minggu sa-ya ke toko buku” “Hari minggu saya ke to-ko bu-ku”

3. Tekanan Ucapan Nada 

Tekanan nada merupakan lagu daripada ucapan, contohnya: “Wah, kamu pandai sekali!” “Gila, ternyata dia bisa menjawab pertanyaan yang sesulit itu!”

Melatih Kerasnya Ucapan 

Teknik ucapan pemeran teater lebih rumit dibanding dengan teknik ucapan bagi pemeran film atau sinetron. Ucapan pemeran teater tidak hanya dituntut jelas dan menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan saja, tetapi juga harus keras, karena ucapan pemeran di dalam pertunjukan menempuh jarak yang lebih jauh. Untuk itu kerasnya ucapan harus dilatih. Adapun cara melatihnya bisa dengan berbagai macam cara. Di antaranya:
  1. Mengucapkan kata atau kalimat tertentu dalam jarak 10 meter atau 20 meter. Dalam latihan ini, yang harus selalu dipertanyakan ialah:
    • Sudah jelaskah?
    • Sudahkah menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan?
    • Dan pertanyaan yang terpenting, sudah wajarkah?
  2. Latihan menggumam. Gumaman harus stabil dan konstan. Kemudian gunakan imajinasi dengan mengirim gumaman ke cakrawala. Bayangkan “gumaman” yang dikeluarkan lenyap di cakrawala.
Ketiga teknik ucapan di atas (kejelasan ucapan, tekanan ucapan, dan kerasnya ucapan), pada dasarnya adalah satu kesatuan yang utuh ketika pemeran sedang berbicara atau berdialog. Ketiganya saling mengisi dan melengkapi. Sebelum melatih ketiga teknik ucapan di atas, sebaiknya dilakukan pemanasan terlebih dahulu. Misalnya, dengan mengendurkan urat-urat pembentuk suara, urat-urat leher, dan membuat rileks seluruh anggota tubuh.

b. Olah Tubuh 

Bentuk tubuh kita, dan cara-cara kita berdiri, duduk dan jalan memperlihatkan kepribadian kita. Motivasi-motivasi kita untuk melakukan gerak lahir dari sumber-sumber fisikal (badaniah), emosional (perasaan), dan mental (pikiran), dan setiap tindakan (action) kita berasal dari satu, dua atau tiga macam desakan hati (impuls).

Banyak sekali interaksi atau pengaruh timbalbalik dan perubahan urutan yang tak habis-habisnya. Tubuh kita kedinginan dan bergetar, kita merasakan dingin dan sengsara, maka kita berkata “dingin”. Pengalaman badaniah kita memberi petunjuk bagi perasaan dan pikiran kita.

Kita diliputi kegembiraan, maka kita melompat, menari dan menyanyi. Aliran perasaan yang meluap meledak ke dalam bentuk aktivitas badaniah. Seorang pemeran tidak akan bergerak demi gerak itu sendiri dan tidak membuat gerak indah demi keindahan.

Bila dari diri pemeran diminta agar menari, maka ia akan melakukannya sebagai karakter peran tertentu, pada waktu, tempat dan situasi tertentu. Latihan olah tubuh bagi seorang pemeran adalah suatu proses pemerdekaan.

Tulang punggung dapat menyampaikan pada para penonton berbagai kondisi yang kita alami, apakah lagi tegang atau tenang, letih atau segar, panas atau dingin, tua atau muda, dan ia juga membantu keberlangsungan perubahan sikap tubuh dan bunyi suara kita. Secara anatomis bagian-bagian tulang punggung terdiri dari:
  1. a. 7 buah ruas tulang tengkuk,
  2. b. 12 buah ruas tulang belakang,
  3. c. 5 buah ruas tulang pinggang,
  4. d. 5 buah ruas tulang kelangkang bersatu dan 4 ruas tulang ekor.
Atau rinciannya sebagai berikut.
  1. a. Leher.
  2. b. Bagian bahu dan dada tulang punggung.
  3. c. Tulang punggung bagian tengah.
  4. d. Bagian akar, dasar atau ekor tulang punggung.
Konsep, Teknik, Prosedur, Pemeranan Seni Teater Modern
Latihan Olah Tubuh (Menjatuhkan kepala ke belakang)

Latihan kepala dan leher 

  1. Jatuhkan kepala ke depan dengan seluruh bobotnya dan ayunkan dari sisi ke sisi. 
  2. Jatuhkan kepala ke kanan, ayunkan ke arah kiri melalui bagian depan, ayunkan ke arah kanan melalui punggung. 
  3. Lakukan latihan yang sama untuk “bahu”. 
  4. Untuk tangan dan kaki, gunakan variasi rentangan.

Latihan tubuh bagian atas 

Berdiri dengan kedua kaki sedikit direnggangkan dengan jarak antara 60 sentimeter. Tekukkan lutut sedikit saja. Benamkan seluruh tubuh bagian atas ke depan di antara kedua kaki. Biarkan tubuh bagian atas bergantung seperti ini dan berjuntai-juntai beberapa saat. Tegakkan kembali seluruh tubuh melalui kerakan tuas demi ruas, sehingga kepalalah yang paling akhir mencapai ketinggiannya dan seluruh tulang punggung melurus. Dengan cara yang sama, coba membongkokkan tubuh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang.

Latihan pinggul, lutut dan kaki 

  1. Berdiri tegak dan rapatkan kaki. Turunkan badan dengan menekuk lutut dan kembali tegak. 
  2. Berdiri tegak dengan satu kaki, kaki yang lain julurkan ke depan. Turunkan badan dengan menekuk lutut dan kembali tegak. Ganti dengan kaki yang lain. 
  3. Putar lutut ke kiri dan ke kanan. Buat berbagai variasi dengan konsentrasi pada lutut.

Seluruh batang tubuh

  1. Berdiri dan angkat tangan kita ke atas setinggi-tingginya, regangkan diri bagaikan sedang menguap keras merasuki seluruh tubuh. Ketika kita mengendurkan regangan tubuh berdesahlah dan lemaskan diri sehingga secara lemah lunglai mendarat di lantai. Jangan mendadak, tetapi biarkanlah bobot tubuh kita sedikit demi sedikit luruh ke bawah/ke lantai.
  2. Pantulkan diri dan goyangkan lengan-lengan, tangan-tangan, lutut, kaki dan telapak kaki ketika berada di udara. Keluarkan teriakan singkat ketika kita memantul.

Berjalan

  1. Mengakukan tulang punggung dan rasakan betapa langkah yang satu terpisah dari langkah lainnya.
  2. Mendorong leher ke depan.
  3. Mengangkat dagu.
  4. Menunduk/menjatuhkan kepala ke depan.
  5. Mengangkat bahu tinggi-tinggi.
  6. Menarik bahu ke belakang.
  7. Menjatuhkan atau membungkukkan bahu ke depan.
  8. Sambil menggerak-gerakkan tangan pada siku-sikunya.
  9. Memantul-mantulkan diri dari kaki ke kaki.
  10. Dengan membengkokkan telapak kaki ke atas dan bertumpu pada tumit-tumit kaki.
  11. Mencondongkan seluruh tubuh ke belakang dan perhatikan betapa ini meninggalkan berat bobot tubuh di belakang ketika kita melangkah maju.

Berlari

Berlari dan tarik napas. Hembuskan napas ke depan sambil mengeluarkan suara “haaaa” sepanjang kemampuan napas yang dikeluarkan. Kemudian, berbalik ke tempat ketika berhenti, lalu tarik napas dan ulangi gerak lari yang sama. Gerakan dan suara akan membentuk ungkapan atau ucapan yang selaras. Tarik napas dalam-dalam, ketika mengeluarkan napas larilah mundur sambil membungkukkan tubuh bagian atas ke depan.

Melompat

  1. Berlari menuju ke suatu lompatan. Rasakan betapa sifat memantulnya berat tubuh mengangkat kita.
  2. Ayunkan kedua kaki sebebas-bebasnya dan lompatlah lebih tinggi lagi.
Seluruh rangkaian latihan olah tubuh ini dilakukan dengan menggunakan imajinasi (pikir dan rasa), dan bisa diberi variasi dengan membunyikan musik instrumentalia.

2. Improvisasi |Dalam Pemeranan Seni Teater Modern

Improvisasi adalah penciptaan spontan atau pertunjukan yang dilakukan tanpa persiapan/ dirancang terlebih dahulu. Adegan-adegan berlangsung tanpa direncanakan sebelumnya. Latihan improvisasi ini penting bagi pemeran untuk melatih daya inisiatif, daya inovatif, dan daya kreatif. atau setidak-tidaknya dapat membantu menghilangkan rasa malu dan keraguan terhadap diri pemeran. Dengan melaksanakan latihan-latihan improvisasi, pemeran nantinya juga dapat mengatasi berbagai persoalan yang terjadi saat pertunjukan berlangsung. Misalnya, ketika pemeran atau lawan main lupa dialog, pemeran dapat mengatasinya, sehingga penonton tidak tahu, bahwa telah terjadi kesalahan. Latihan improvisasi ada bermacam-macam. Ada improvisasi perorangan, ada improvisasi dengan pasangan, ada improvisasi dengan rangka cerita, dengan benda-benda/ perabotan, dan lain-lain.

a. Improvisasi solo

Di dalam latihan improvisasi pemeran tidak mempunyai naskah, dan tidak ada yang menyutradarai. Pemeran benar-benar sendiri. Tidak ada persiapan. Improvisasi sendiri ini disebut improvisasi solo: “Bayangkan, Pemeran sedang berada di sebuah pemberhentian bus, sendirian, di tengah hujan lebat, angin bertiup kencang.” Informasi ini tidak lengkap.

Tidak dikatakan karakter yang harus diperankan, waktunya jam berapa?, tempat pemberhentian busnya di tempat yang rawan atau yang aman? Apakah pemeran ketakutan, kebingungan atau patah semangat? Apakah pemeran akan menggumamkan doa? Dan berbagai informasi lainnya. Ya, di dalam improvisasi, informasi yang diberikan memang minim. Daya khayal atau imajinasi pemeranlah yang akan mengisi kekurangan itu.

b. Improvisasi dengan pasangan

Mainkan adegan, “Dua orang pelajar yang berbeda sekolah, bertemu di sebuah taman”.

c. Improvisasi dengan perabotan

Mainkan adegan, “Seorang pelajar merapikan kamarnya yang berantakan”.

3. Karakter Tokoh |Dalam Pemeranan Seni Teater Modern

Karakter tokoh ialah manusia atau watak dalam cerita yang berbentuk naratif atau drama yang diberi sifat-sifat tertentu termasuk perangai dan pemikiran yang dikenal melalui percakapannya, yaitu dialog dan apa yang mereka lakukan dalam bentuk aksi.

Berdasarkan perangai dan nilai moral suatu watak yang lahir melalui percakapan dan aksi itu membentuk sebagian dari motivasi watak. Suatu watak pada dasarnya mungkin tidak berubah atau tidak bertukar dari segi rupa dan sifat-sifat bawaan dan juga pemikiran, dari awal hingga ke akhir cerita.

Watak juga mungkin menempuh atau mengalami perubahan yang radikal atau cepat atau sebaliknya melalui perkembangan secara sedikit demi sedikit, atau sebagai akibat dari krisis yang meruncing. Apakah watak itu berubah atau tidak, kita memerlukan kepastian pada suatu watak, dia tidak boleh berlaku dengan cara yang tidak sesuai dengan dengan tabiat yang ditentukan.

Karakter tokoh adalah tokoh hidup bukan tokoh mati yang hanya merupakan boneka di tangan pengarang. Tokoh hidup dalam lakon adalah watak, pribadi yang memiliki ciri-ciri yang khas, punya perangai dan tabiat yang tertentu, yang karakteristik. Tokoh yang hidup di dalam lakon adalah tokoh yang memiliki 3 dimensi, yaitu:
  1. Dimensi physiologis, ialah ciri-ciri badani.
  2. Dimensi sosiologis, ialah ciri-ciri kehidupan masyarakat.
  3. Dimensi psychologis, ialah ciri-ciri kejiwaannya.
Tiap dimensi itu terdiri dari beberapa unsur-unsur penting.

a. Ciri-ciri badani (physiologis)

  1. 1. Usia (tingkat kedewasaan).
  2. 2. Jenis kelamin.
  3. 3. Keadaan tubuhnya.
  4. 4. Ciri-ciri tubuh, wajah.

b. Latar belakang kemasyarakatan (sosiologis)

  1. 1. Status sosial.
  2. 2. Pekerjaan, jabatan, peranan dalam masyarakat.
  3. 3. Pendidikan.
  4. 4. Kehidupan pribadi maupun keluarga.
  5. 5. Agama, kepercayaan, pandangan hidup, ideologi.
  6. 6. Aktivitas sosial (dalam organisasi), kegemaran (hobi).
  7. 7. Kewarganegaraan, keturunan, suku, bangsa.

c. Latar belakang kejiwaan (psychologi)

  1. 1. Ukuran-ukuran moral untuk mengatakan yang baik dan yang tidak baik, mentalitas.
  2. 2. Temperamen, keinginan-keinginan pribadi, perasaan-perasaan pribadi, serta sikap dan kelakuan.
  3. 3. Kecerdasan, keahlian, kecakapan khusus dalam bidang tertentu.

Apabila kita mengabaikan salah satu dari ketiga ciri-ciri tersebut, baik yang berupa watak, pribadi maupun lingkungan serta keadaan tubuhnya, maka sudah pasti bahwa tokoh ini akan menjadi tokoh yang timpang, yang cenderung menjadi tokoh yang mati.

Hanya dengan memberi isi pada tokoh-tokoh itu dan melengkapinya dengan ketiga unsur-unsur ketiga dimensi itu, maka dapat dijamin bahwa tokoh-tokoh yang kita tampilkan adalah tokoh-tokoh yang hidup. Misalnya, tokoh yang paling penting dalam lakon kita adalah seorang dokter. Maka tentulah harus dijelaskan siapa dan bagaimana dokter kita itu.

Apakah ia seorang dokter hewan, dokter spesialis, dokter umum; berapa usianya; pria atau wanita; sudah mempunyai keluarga atau belum; mempunyai anak atau tidak; bagaimana kehidupannya di dalam rumah tangga, kehidupan pribadinya, bagaimana kariernya, perasaan-perasaan apa yang selalu digumulinya, ukuran moral dan mentalitasnya bagaimana, ber-Tuhan-kah ia atau tidak; apa ideologinya, bagaimana sikap hidupnya, pandangan hidupnya; keadaan sosialnya bagaimana, seorang kaya atau miskin; tingkatnya dalam masyarakat, golongan elite atau menengah; temperamennya bagaimana, apakah ada ciri-ciri khusus pada wajah atau anggota tubuhnya, gemuk atau kurus, cantik atau gagah, atau berwajah buruk; kecerdasannya bagaimana.

Konsep, Teknik, Prosedur, Pemeranan Seni Teater Modern

Kalau kita menampilkan seorang politikus sebagai tokoh yang terpenting dalam lakon kita, maka tentulah harus dijelaskan siapakah dia itu; apakah dia seorang nasionalis, komunis; menjadi anggota partai mana dan menganut golongan politik mana; apakah ia seorang non-partisan; bagaimana kariernya sebagai politikus; apakah jabatannya dalam lembaga negara; bagaimana pula pahamnya, termasuk orang keras dan fanatik atau seorang yang mudah kompromi; seorang demokrat atau seorang yang mencari-cari keuntungan dalam saat-saat yang mujur; bagaimana ukuran moralnya, mentalitasnya, temperamennya, ambisinya, sifat-sifat pribadinya; pengalamanpengalamannya, pendidikannya, kecerdasannya, usia, jenis kelaminnya.

Marilah kita ambil sebagai contoh seorang tokoh yang terpenting dalam lakon “Api”, yakni R. Hendrapati. Perhatikan bagaimana pengarang dengan seksama mengisikan unsur-unsur ketiga dimensi itu ke dalam diri R. Hendrapati sehingga ia menjadi seorang tokoh yang hidup. Kita mengetahui tentang R. Hendrapati itu jelas sebagai berikut.
  1. Usianya 48 tahun. Keadaan tubuhnya kurus tinggi.
  2. Ia seorang apoteker. Pendidikannya di sekolah tinggi di Rotterdam, Nederland, meskipun tidak lulus. Kariernya; sebagai apoteker, pemilik rumah obat dan laboratorium “Hendrapati”. 
  3. Tingkat hidupnya dalam masyarakat termasuk orang kaya. Kehidupan pribadi dan kehidupannya dalam keluarga penuh dengan pertentangan-pertentangan. R. Hendrapati bukan kaum keturunan bangsawan, ia lahir dari keturunan orang biasa. Sudah punya istri, dan anaknya dua orang yang sudah dewasa.
  4. Watak dan ukuran-ukuran moralnya rendah. Sifatnya angkuh, kepala batu dan sombong. Perasaan rendah diri selalu terbawa-bawa dalam setiap tingkah-lakunya. Dia termasuk seorang yang berkepandaian tanggung, kecakapannya setengah-setengah, tetapi kemauannya sangat keras. Ia ingin menjadi seorang manusia yang termasyhur, terhormat di seluruh dunia. Tingkah lakunya mencerminkan budinya yang buruk. Sikapnya terhadap orang lain ingin menang sendiri, tak kenal belas kasihan. Pandangan hidupnya sangat mementingkan kebendaan, kekayaan yang akan ia kumpulkan untuk dirinya sendiri.
Dari contoh di atas maka kita tahu bahwa pengarang lakon berhasil menjadikan tokohnya seorang tokoh hidup karena dalam pribadinya telah diisikan sebagian besar dari unsur-unsur tiga pokok tadi.

Sekian artikel tentang Konsep Pemeranan Seni Teater Modern, Teknik Pemeranan Seni Teater Modern, Prosedur Pemeranan Seni Teater Modern, Pemeranan Seni Teater Modern. Semoga dapat berguna dan bermanfaat, terimakasih.

Posting Komentar untuk "Konsep, Teknik, Prosedur, Pemeranan Seni Teater Modern"