Kode Pengaturan Template
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Latihan Pameranan Tubuh, Vokal, Memproduksi Monolog, Faktor Positif dan Negatif Serta Sumber Internal Acting |Drama

BAB 8 PEMERANAN

POKOK PEMBAHASAN :

1. Apa Pemeranan Menurut Ajaran Boleslasvky? 2. Maksud Pendidikan tubuh Dalam Pemeranan? 3. Apa Maksud Ingatan Emosi Dalam Pemeranan? 4. Maksud Laku dramatis Dalam Pemeranan? 5. Apa Itu Pembangunan watak Dalam Pemeranan? 6. Apa Masud Observasi atau pengamatan Dalam Pemeranan? 7. Apa itu Irama? 8. Seperti Apa Latihan Tubuh 9. Seperti Apa Latihan Vokal 10. Seperti Apa Latihan Memproduksi Monolog dan Dialog 11. Apa Faktor Positif dan Faktor Negatif Sumber Internal Acting

A. Ajaran Boleslasvky

Menurut Richard Boleslasvsky (Harymawan, 1993:27-41) memainkan peran aktor memerlukan beberapa hal.

1. Pendidikan tubuh

Seperti (a) Senam, tari, olahraga, naik gunung, yoga, menyanyi, menari, dll, (b) Ia juga memiliki pendidikan intelek dan kebudayaan seperti membaca karya-karya besar tokoh drama seperti Shakespeare, Moliere, Gothe, Rendra, Teguh Karya, Putu Wijaya, Arifin C. Noor. Mampu memahami sastra dunia dan sastra Indonesia, mampu memahami psikologi, sosiologi, dan perasaan manusia, (c) Ia juga memiliki pendidikan dan latihan sukma yaitu sukma yang dikehendaki tokoh sesuai dengan kemampuan pengarang. Aktor mampu memanfaatkan pancaindera, menumbuhkan ingatan, perasaan, dan ingatan visual untuk menghadirkan emosi.

2. Ingatan Emosi

Aktor harus mampu berlatih mengingat-ingat segala emosi yang terpendam dalam halaman-halaman sejarah hidup masa silam. Kadang ia besedih seperti Romeo yang ditinggal mati oleh Yuliet, bersedih seperti King Lear yang terlupakan dan dikianati, atau Petrus yang bersedih karena menyangkal bukan murid Yesus.

Untuk melatih ingatan emosi Boleslasvky memberi nasihat pandang dirimu dengan penuh kegembiraan. Kumpulkan semua yang kamu pernah alami, ingat, dan kenanglah. Dengan demikian anda akan dapat menangis berurai air mata di pangung, atau kecewa, atau bahagia, mengekspresikan emosi yang pernah ada sesuai dengan naskah.

Latihan Pameranan Tubuh, Vokal, Memproduksi Monolog, Faktor Positif dan Negatif
Latihan Pameranan Tubuh, Vokal, Memproduksi Monolog, Faktor Positif dan Negatif

3. Laku dramatis

Yaitu perbuatan yang bersifat ekspresif dan emosi. Aktor harus mampu mewujudkan apa yang disampaikan pengarang lewat dialog-dialognya. Disini, aktor dituntut produktif dan kreatif. Dalam laku dramartis dikenal Hukum Trisesa. Batang besarnya, idenya, pokok pentas datang dari sutradara. Dahan-dahannya, unsur-unsur ide, bagian ide pokok pikiran datang dari aktor. Daun-daunnya, merupakan kombinasi keduanya untuk menghadirkan kecemerlangan ide.

4. Pembangunan watak

Bagaimana menelaah struktur psikis peran. Bagaimana intelegensinya, pintar dan bodoh, bagaimana wataknya, angkuh kasar, tegas, ragu, pendiam, pemalu, pengecut. Bagaimana watak ke dalam. Misalnya, orang yang kasar sering punya sifat adil dan penyayang. Orang yang diam tetapi pendendam dan punya sifat kejam.

Aktor juga memberikan identifikasi, menyelidiki setiap detil kehidupan peran yang dimainkan. Untuk melakukan hal ini, aktor bisa melihat foto, sejarah, dan biografi yang dimainkan. Mencari hubungan emosi dengan peran. Naskah harus keluar dari emosi yang kita rasakan. Emosi diperlukan untuk memberikan kedalaman pada watak yang dimainkan sesuai naskah.

5. Observasi atau pengamatan

Seorang aktor adalah observatory kehidupan. Ia harus mampu memperhatikan cara orang mencangkul, mengajar di kelas, memimpin rapat perusahaan, cara meminum kopi, menghisap rokok, menikmati kicau burung dll. Manfaat obeservasi adalah untuk memantapkan gesture, mimik, ekspresi. Bagaimana seorang aktor usia 20 tahun memerankan kakek berumur 80 tahun misalnya.

Ia harus mampu berjalan agak melengkung karena pinggang kakek sudah sakit, jalannya tertatih, dan cara bicaranya terbata-bata, dst. Demikian pula, untuk memerankan ustadz, pendeta, ulama, dokter, polisi, jaksa, germo, pelacur, guru, gelandangan, polisi, tentara dan profesi lain ia harus melakukan observasi.

6. Irama

Irama adalah perubahan-perubahan yang teratur dan yang dapat diukur dari segala macam unsur yang tergantung dari sebuah hasil seni—dengan syarat bahwa semua perubahan secara berturut-turut merangsang perhatian penonton dan menuju ke tujuan akhir si seniman. Dengan kata lain irama, ibaratnya sebuah musik yang kadang nadanya tinggi dan kadangkala rendah. Demikian pula irama dalam pertunjukan teater agar pertunjukan tidak monoton.

Seringkali ada suara meledak dan tegang, namun ada juga suara yang lembut mesra. Ada adegan anarkis dan kekerasan namun juga ada adegan yang mengandung empati atau belarasa.

Keenam Ajaran Boleslasvky sering dalam latihan aktor disebut olah tubuh, olah rasa, olah jiwa. Semua itu merupakan,motor kreativitas dan imajinasi. Hasinya suara yang cernih, melodius, bervibrasi. Pendengaran yang tajam dan responsif. Gerak-gerak estetik, responsif, kreativitas dan imajinasi yang terlatih.

B. Latihan Tubuh

Berikut ini untuk kegiatan latihan dasar untuk kegiatan olah tubuh, melatih fisik berupa kekuatan dan kelenturan otot, suara berupa power, vibrasi, ritme, nada, pendengaran berupa sensitivitas mendengarkan berbagai bunyi, musik, dan lagu.

1. Untuk memalih kelenturan otot lakukan berbagai kegiatan (1) lari, (2) senam aerobik, sit up, scot jump, push up. Kegiatan itu bisa dilakukan bersama-sama. Setelah itu gerakkan kepala dengan berbagai variasi putaran atas- bawah, samping kiri-kanan, memutar bolak-balik. Kemudian Gerakkan kedua tangan dengan berbagai variasi kiri kanan tarik pendek-panjang, muka-belakang, belakang tubuh kiri kanan, masing-masing dua kali dan semua hitungan delapan kali tiga. Gerakan kekuatan pinggang memutar bolak balik, sampai gerakan kaki, dan pergelangan kaki.

2. Untuk melatih kekuatan tubuh, kelenturan, kesimbangan lakukan beberapa latihan.

a. latihan “khayang”, menekuk tubuh dari posisi berdiri dengan kedua tangan di atas. Perlahan-lahan tekuklah tubuh ke belakang pelan-pelan sampai kedua tangan menyentuh tanah tanpa jatuh. Lakukan secara berpasangan. Hal ini untuk membantu pasangan tidak jatuh.

b. Latihan keseimbangan. Berdiri. Satu kaki diangkat ke belakang dengan posisi lurus, tangan merentang seperti sayap pesawat terbang, tekuklah satu kaki yang menyanggga dan turunkan pelan-pelan, tidak boleh jatuh. Lakukan juga untuk kekuatan tumpu untuk satu kaki yang lain.

c. Latihan keseimbangan. Berdiri. Membungkuk. Satu tangan kanan menyentuh tanah, tangan yang lain memegang telinga kanan, lakukan gerakan memutar 8 kali, berdiri tegak dan berjalan lurus. Latihan ini cukup berat, dilakukan berpasangan dan yang satu menolong jika terlatih jatuh.

d. Latihan kekuatan dan keseimbangan lain seperti meloncat di deretan manusia yang membungkuk secara berselang-seling sampai 10 loncatan, latihan menarik tubuh secara berpasangan. Satu dengan yang lain memegang kedua tangan, kedua kaki bertumpu di tempat sama, menjatuhkan tubuh pelan-pelan secara simetris. Latihan spit atau mengangkangkan ke dua kaki simetris dengan tanah. Latihan mengangkat beban. Angkatlah tubuh yang lebih ringan dari teman latihan dengan posisi menggangkat, menggendong, dll.

11. Pembahasan Terkait Dengan Materi Yang Sedang Anda Baca Saat Ini Tentang DRAMA TEORI DAN PRAKTIK PEMENTASAN 

1. Unsur Pembeda Naskah, Struktur Drama Dan Konflik Kehidupan

C. Latihan Vokal

Berikut adalah latihan vokal, suara dan musik.

1. Latihan mengucapkan vokal /a, I, u, e, o/. Duduk bersila. Tangan di atas paha. Tarik nafas panjang. Tahan. Ucapkan vokal /a/ perlahan lahan sampai nafas habis. Lakukan juga untuk vokal yang lain. Latihan letupan vokal. Tarik nafas panjang. Tahan. Terikakan vokal /a/ dengan keras sampai nafas habis. Lakukan untuk vokal yang lain.

Latihan vibrasi. Tarik nafas panjang. Tahan, ucapkan vokal /a/ dengan notasi nada rendah ke nada tinggi, dengan vibrasi komando ketinggihan posisi tangan. Posisi tangan tinggi berarti keras, posisi bawah berarti rendah rendah, posisi tengah berarti tidak tinggi atau rendah, dst.

Lakukan untuk vokal lain. Ucapkan bunyi-bunyi getar seperti /r/ kara, riak, rumbai, rasa merdeka dengan membuat kata atau kalimat. Ucapkan bunyi sengau seperti (ng/ seperti kucing, ngiau, ngeong, mungkin, dengan membuat kata.

Anda juga bisa berlatih menirukan bunyi binatang, air, guruh, desau angin, dsb. Ciptakan juga bunyi-bunyi yang bisa memberi kesan magis, tegang, mesra, dan kekacauan. Misal: miauw, miauw, mia, mio, mia, mio, dst.

2. Latihan memperkaya variasi vokal dan produksi kata, dan kalimat. Pilih kata indah misalnya daun. Buat kalimat indah menggunakan daun. Lakukan untuk kata-kata yang lain. Misalnya, air, air mata, batu, batu tumpu, batu penjuru, batu mulia, batu karang, dan batu sandungan, pasir, angin, pantai. Buatlah kata-kata yang bersajak.

Jika ada kurang kreatif menciptakan kata-kata indah anda bisa menyanyikan atau menirukan lirik lagu cinta, balada,puisi, dan sebagainya. Latihan menyanyi merupakan bagian dari pengembangan lebih lanjut dari latihan vibrasi vokal. Untuk melatih nada tinggi bisa menyanyikan “Dunia Panggung Sandiwara” Ahmad Albar dari God Bless.

Untuk menciptakan kesan romantik bisa menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals “Doa Pengobral Doa”, “Buku Ini Aku Pinjam” “Sarjana Muda dan “Hatta”, Ebiet G Ade “Camelia”, “Berita Kepada Kawan” dan Andra and the Backbone “Sempurna”. Untuk memahami arti perjuangan dan pantang menyerah terhadap kehidupan bisa menyanyikan lagu D. Masiv, dll

3. Untuk melatih nada dan irama, Anda juga bisa bernyanyi. Untuk pemula, pilih lagu-lagu yang anda suka dan betul-betul anda menghayati lagu itu. Anda bisa memilih lagu daerah, lagu Indonesia, maupun lagu barat.

D. Latihan Memproduksi Monolog dan Dialog

Monolog adalah berbicara sendiri, bercerita sendiri, tentang suatu peristiwa atau keadaan yang dialami tokoh. Seorang aktor sebaiknya mampu memproduksi monolog yang indah, menggunakan gaya bahasa (figurative language) yang indah, dan lancar dalam berbicara terhadap hal atau persoalan yang sedang terjadi. Untuk latihan monolog dilakukan dengan berbicara secara iamajinatif atas peristiwa yang dialami.

Aktor bisa bermonolog untuk mengagumi, air, udara, pohon, rumput, dan dedaunan. Aktor juga bisa bermonolog tentang peristiwa yang dialami, peristiwa yang ia saksikan, kejengkelan, marah, dan seterusnya. Untuk berlatih dialog, aktor dapat mencari pasangan main, berbicara tentang peristiwa aktual seperti persoalan politik ekonomi, sosial, budaya, dan kesejahteraan.

Agar dialog terus berlangsung dan makin seru, salah satu aktor dapat perperan sebagai antagonis yang selalu tidak setuju apa yang dikatakan protagonis. Aktor pun dapat berdialog para topik yang romantik, mengharukan, bahkan menyesakkan dana untuk mengucurkan air mata.

E. Latihan Pemeranan

Tujuan pemeranan adalah menjadi peran (to be a character) bukan (to be become). Dengan demikian, aktor di panggung sedang memerankan karakter tentang tokoh sesuai tuntutan naskah. Ia bisa menjadi bapak, ibu, anak, om, tante, tulang, opung doli, pak lik. Ia juga memerankan karakter profesi seperti guru, polisi, penjahat, germo, buruh, hakim, gelandangan, dan lainnya.

Hal yang diperhatikan salam askting adalah aspek Interpretasi, bagaimana aktor menafsirkan peran melalui pemahaman intens penulis naskah dan sutradara. Aspek Eksekusi: Bagaimana aktor memilih teknik acting, menyiapkan alat-alatnya (sumber Internal), berkreasi untuk menjadi peran, mempertihungkan aspek-aspek produksi (Sumber eksternal) seperti pengalaman budaya, tradisi, kepercayaan, kebiasaan, dsb untuk mendukung sumber internal dalam pemeranan.

Sumber eksteral acting berupa :

(1) naskah (Persoalan, seting, karakter, latar.

(2) Interpretasi Sutradara (Interpretasi aktor harus dalam dimensi interpretasi sutradara) dan

(3) Kondisi Produksi (faktor produksi, panggung, personel, dll).

Sumber internal acting antara lain

(1) tubuh yang sehat,

(2) suara dan pendengaran yang tajam dan responsif,

(3) pikiran dan inteligensi yang cerdas,

(4) Imaginasi (motornya acting, disamping perasaan dan kemauan),

(5) Perasaan (feeling api dari acting), dan

(6) Kemauan.

Ke enam sumber internal acting tersebut perlu terus diasah untuk meningkatkan kualitas keaktoran.

F. Faktor Positif dan Faktor Negatif Sumber Internal Acting

1. Faktor Tubuh

Latihan Pameranan Tubuh, Vokal, Memproduksi Monolog, Faktor Positif dan Negatif Serta Sumber Internal Acting |Drama
Faktor Tubuh

2. Faktor Suara dan Pendengaran

Latihan Pameranan Tubuh, Vokal, Memproduksi Monolog, Faktor Positif dan Negatif Serta Sumber Internal Acting |Drama
Faktor Suara dan Pendengaran

3. Faktor Pikiran dan Inteligensi

Latihan Pameranan Tubuh, Vokal, Memproduksi Monolog, Faktor Positif dan Negatif Serta Sumber Internal Acting |Drama
Faktor Pikiran dan Inteligensi

4. Faktor Imajinasi

Latihan Pameranan Tubuh, Vokal, Memproduksi Monolog, Faktor Positif dan Negatif Serta Sumber Internal Acting |Drama
Faktor Imajinasi

5. Faktor Perasaan

Latihan Pameranan Tubuh, Vokal, Memproduksi Monolog, Faktor Positif dan Negatif Serta Sumber Internal Acting |Drama
Faktor Perasaan

6. Faktor Kemauan

Latihan Pameranan Tubuh, Vokal, Memproduksi Monolog, Faktor Positif dan Negatif Serta Sumber Internal Acting |Drama
Faktor Kemauan
Terimakasih telah memahami dan membaca artikel tentang Latihan Pameranan Tubuh, Vokal, Memproduksi Monolog, Faktor Positif dan Negatif Serta Sumber Internal Acting |Drama. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan berguna untuk kita semua

Posting Komentar untuk "Latihan Pameranan Tubuh, Vokal, Memproduksi Monolog, Faktor Positif dan Negatif Serta Sumber Internal Acting |Drama"