Kode Pengaturan Template
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Memahami Dan Menentukan Gaya Pertunjukan |Merealisasikan Konsep |PENYUTRADARAAN

BAB 9 PENYUTRADARAAN

POKOK PEMBAHASAN : 1. Cara Memahami Gaya Naskah Pertunjukan 2. Maksud dan Arti Gaya Realis 3. Arti Dan Maksud Gaya Surealis 4. Maksud Dan Arti Gaya absurd 5. Cara Menentukan Gaya Pertunjukan 6. Cara Mengolah Gaya Naskah Menjadi Gaya Pertunjukan? 7. Apa Itu Gaya pertunjukan realis? 8. Apa Itu Praktik 9. Carang Dan Langkah Merealisasikan Konsep 10. Cara Memahami Gaya

Menghadirkan teater ke atas panggung pertunjukan merupakan sebuah kerja sistemik. Seorang seniman teater akan menjalani alur, atau rangkaian proses kreatif yang panjang. Berangkat dari pengetahuan sampai pada kerja atau tataran kemanfaatan. Gagasan estetika yang ditawarkan di atas panggung oleh seniman teater bisa dipertanggungjawabkan dan keberhasilan akan mutu dari pertunjukan dapat terukur.

Fenomena kehadiran teater di ruang pertunjukan Indonesia sudah tidak asing. Di Indonesia dikenal adanya teater tradisional, teater modern, dan teater kontemporer. Beranjak dari hal tersebut, teater lahir sebagai bentuk karya atau hasil aktifitas pertunjukan lakon yang berangkat dari naskah ataupun tidak.

Memahami Dan Menentukan Gaya Pertunjukan |Merealisasikan Konsep |PENYUTRADARAAN
Memahami Dan Menentukan Gaya Pertunjukan |Merealisasikan Konsep |PENYUTRADARAAN

Naskah sebagai karya sastra menciptakan ruang apresiasi yang tidak terbatas.. Naskah bisa lahir hanya sebagai bentuk karya sastra yang dibaca sebagai teks sastra atau lahir sebagai sebuah konsep pertunjukan. Jika teater atau pertunjukan berangkat dari naskah maka seniman teater harus mampu mengenal naskah drama dengan lebih detail, baik dilihat dari konsep, gaya dan nilai estetis yang terkandung di dalamnya.

A. Memahami Gaya Naskah Pertunjukan

Tradisi teater berawal dari Yunani Kuno. Akan tetapi apabila kita menjumpainya dengan detail dalam sebuah buku A History of the Theatre(Via Soemanto, 2001:12) menunjukan bahwa naskah atau cerita yang diubah dalam festival drama berasal dari teks yang telah berusia 4000 SM di Mesir Kuno.

Pada tahun 496 SM di Yunani Kuno, lahir seorang pencipta naskah yang bergenre tragedi, nama penulis itu masih legendaris hingga saat ini. Dia bernama Sophokles. Dialah pengarang tragedi Yunani yang paling terkenal di dunia, sebab beberapa karyanya mampu menjadi pembaharu drama pada zamannya.

Dari 123 judul karyanya hanya ada 7 judul saja yang bisa diwariskan kepada dunia, yaitu Oidipus sang raja, Antigone, Ajax, Trachianiae, Electra, Philoctetes, Oidipus di Kolonus dan sebuah drama satir Ichneutae. Berikut salah satu cuplikan naskah drama tragedi karya Sophokles dengan judul; Oidipus de Kolonus yang diterjemahkan oleh WS Rendra

PADUAN SUARA

Tentu, Oidipus, tentu! Kamu berhak diberi restu. Kamu dan kedua puterimu. Dan kini Setelah dirimu bernilai ajimat Terlebih lagi kami menaruh hirmat Dan juga siap dengan nasehat.

OIDIPUS

Sekarang hangat kamu bicara. Nasehatmu ku pandang pula.

PADUAN SUARA

Hendaknya kamu memohon maaf Kerna telah lancang dan khilaf Menerjang masuk hutan keramat Meski tanpa maksud yang jahat.

OIDIPUS

Bagaimana hukumannya. Bagaimana upacaranya? Akan ku turut segala tata dan cara.

PADUAN SUARA

Pertama tanganmu harus dibasuh, disucikan Lalu ambillah piala kristal berkilauan Dari telaga mata air kehidupan Yang terletak di tengah hutan.

OIDIPUS

Theseus, putera Aegeus, yang lembut budi, hanya Dewata yang bersifat abadi. Manusia itu fana. Nasibnya berubah, ada pasang surutnya. Persahabatan, percintaan, kemakmuran dan kejayaan semua membawa perubahan-perubahannya. Saat ini antara Athena dan Thebes, tak ada apa-apa. Tapi nanti, sekali waktu nankti, tombak dan tombak akan saling berlaga, kerna selisih kata-kata yang tak ada artinya.

Setelah membaca naskah drama tersebut, tentunya akan ada beberapa ciri yang nampak apabila dilihat dari segi bahasa maka naskah tragedi memiliki bahasa yang puitis, atau diindah-indahkan. Bahasa yang digunakan tidak menciptakan efektifitas maksud, dan tujuan. Hal tersebut digunakan untuk mencapai fungsi puitik dari bahasa. Itulah sebabnya Aristoteles berpendapat bahwa dalam pertunjukan tragedi bertujuan untuk mencapai katarsis atau penyucian diri. Unsur puitik digunakan untuk membius perasaan penonton dengan bahasayang indah sehingga mampu menimbulkan rasa kagum.

Hal lain yang bisa diamati adalah adanya dialog antara paduan suara atau koor dengan aktor yang memerankan tokoh. Dialog ini dihadirkan agar terhapusnya jarak waktu dan ruang antara penonton dengan pertunjukan.

Selain itu cerita tragedi selalu berakhir dengan kesedihan. Puncak dari kesedihan inilah yang dikejar oleh drama tragedi sehingga penonton mampu melakukan permenungan di akhir cerita. Tokoh dalah drama tragedi biasanya dihadirkan sosok yang sempurna, gagah dan mempunyai postur tubuh yang menawan akan tetapi ada satu cacat (dipandang dari segi nilai normatif) dalam jiwa atau hasratnya yang menyebabkan penderitaan di akhir cerita.

Misalnya dalam naskah Oidipus di atas, seorang oidipus diceritakan sebagai pemuda yang menawan dan bisa dicintai wanita cantik sebayanya. Namun dalam hatinya ada sebuah perasaan yang bertentang dengan nilai-nilai moralitas yaitu dia mencintai ibunya. Karena cintanya itulah dia harus merasa menderita dan hidupnya semacam dilanda kesedihan.

Ada beberapa gaya naskah lainnya dalam teater modern yaitu:

1. Gaya Realis

Gaya naskah realis adalah naskah yang menggunakan cara pandang bertolak peristiwa keseharian, atau peristiwa di dunia nyata. Tentunya tokoh, waktu, ruang atau latar dan juga permasalahan yang terjadi bertolak dari peristiwa keseharian atau kenyataan.

Misalnya naskah drama karya Putu Wijaya yang berjudul Bila Malam Bertambah Malam yang bertolak dari kenyataan yang terjadi di Bali.

DI RUANG DEPAN ADA KURSI GOYANG DAN KURSI TAMU. GUSTI BIANG NGOMEL TERUS. GUSTI BIANG

Si tua itu tak pernah kelihatan kalau sedang dibutuhkan. Pasti ia sudah berbaring di kandangnya menembang seperti orang kasmaran pura-pura tidak mendengar, padahal aku sudah berteriak, sampai leherku patah. Wayaaaaan..... Wayaaaaan tuaaaa...!

WAYAN Nuna sugere GUSTI BIANG, kedengarannya seperti ada yang berteriak? GUSTI BIANG Leherku sampai putus memanggilmu, telingamu masih kamu pakai tidak?

WAYAN Tentu saja Gusti Biang, itu sebabnya tiyang datang.

Bila mengamati naskah tersebut maka bisa terlihat bahwa tokoh yang ada dalam cerita itu adalah tokoh-tokoh yang ada dalam kehidupan nyata dan mempunyai ciri khas tradisi dan budaya dimana dia hidup di dunia nyata. Dalam konteks naskah ini tokoh tersebut berasal dari Bali. Selain dilihat dari segi tokoh ciri naskah realis juga dilihat dari dialog yang digunakan. Dialog yang digunakan adalah dialog sewajarnya sesuai dengan keseharian tokoh itu berdialog apabila berada di dunia nyata.

Permasalahan yang dihadirkan pun adalah masalah keseharian, jika kita mengamati cuplikan dialog di atas maka kita akan melihat sebuah peristiwa bahwa “Gusti Biang” sedang marah dengan ‘Wayan” karena tidak mendengar panggilan “Gusti Biang”.

Secara keseluruhan naskah Putu Wijaya “Malam Bertambah Malam” ini menceritakan permasalahan tentang hukum adat istiadat yang berhubungan tentang kasta. Bahwa di Bali tidak diperkenankan adanya pernikahan dengan beda kasta. Hal tersebut akhirnya dihadirkan dalam sebuah karya sastra drama oleh Putu Wijaya sehingga hukum-hukum adat yang ada dalam dunia nyata pun menjadi hukum-hukum yang membatasi ideologi tokoh dalam menentukan nasib ceritanya.

2. Gaya Surealis

Surealis adalah sebuah aliran seni yang bertolak dari aspek bawah sadar dan jika ditampilkan citraannya (baik tokoh, setting, waktu) bersifat nonrasional atau di luar kenyataan. Berikut ini cuplikan naskah dengan gaya surealis “Dhemit” karya Heru Kesawa Murti.

Pohon preh menjulang ke angkasa. Pada suatu ketika, di sebuah alam lain, di alam para demit. Datang berbondong-bondong, demit, wilwo, egrang, genderuwo dan kuntilanak, ke tempat tinggal jin pohon preh mereka hendak melapor tentang digusurnya mereka itu dan jagad demit yang tengah dirusak oleh manusia.

Sampai mereka di tempat tinggal pohon preh, mereka langsung saling mengungkapkan kemarahan, kegelisahan dan kecemasan mereka.

25. Wilwo (Memandang mereka dengan gusar dan mangkel) katanya kalian ini dhemit priyayi, lha kok urakan? Mau ketemu pimpinan dhemit itu harus yang sopan. Ada buku tamu, ya diisi. Ada satpam, ya lapor dulu.

26. Genderuwo (Menanggapinya juga dengan mangkel) apa kamu bilang? He, kenapa omonganmu jadi seperti itu? Kita ini baru mengalami musibah. Teman-teman kita banyak yang menderita. Ini keadaan darurat, kamu kok masih sempat-sempatnya bicara birokratis seperti itu. Apa kamu ini memang sudah kangslupan manusia?

26. Wilwo Lho, edan ki! Bicaramu tiba-tiba kok kekiri-kirian?

27. Genderuwo Apa kamu bilang? Kekiri-kirian? Ketahuilah, kekiri-kirian, kekanan kananan itu adalah istilah manusia dari dunia kasar. Kita kaum dhemit tidak mengenal istilah macam itu. Sebab dhemit adalah universal!

28. Egrang (Sambil memainkan tangan genderuwo) kita ini baru desak, lu tau. Lu gak usah banyak bacot. Ayo, langsung aja kita dobrak rumah jin pohon preh!

29. Genderuwo, Egrang, Wilwo (serentak bersama-sama mengerahkan sekuatnya) aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa uuuuuuuuuuuuu............! aaaaaaaaaaaa aauuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhh...........! Mereka mendobrak tempat tinggal jin pohon preh itu dengan sekuat-kuatnya. Lalu tiba-tiba, jin pohon preh, pemiliknya, muncul, menghadap mereka.

30. Jin Pohon Preh (menghadapi para dhemit dengan seksama) siapa yang mengganggu kenyamanan istirahat saya? Siapa yang usik kebahagiaan saya?

Jika mengamati cuplikan naskah Dhemit di atas bisa dianalisis bahwa naskah drama bergaya surealis bukanlah naskah yang menghadirkan detail kenyataan atau keseharian ke atas panggung. Naskah surealis terkadang menggunakan waktu yang tidak jelas dan tokoh-tokoh yang hadir bisa dari hasil fantasi dari pengarang. Hukum-hukum kenyataan tidak dipakai dalam hukum-hukum surealis, oleh sebab itu terkadang ceritanya tidak rasional atau tidak logis.

Akan tetapi ketidakrasionalan dalam gaya surealis bertujuan untuk menggeledah atau mempertanyakan kembali hal-hal yang rasional atau kemapanan yang ada dalam dunia nyata. Sehingga kehadiran sosok atau tokoh dalam naskah surealis terkadang merupakan simbol dari tokoh yang ada dalam kenyataan. Ataupun kehadiran tokoh dalam naskah surealis, semisal dalam naskah Dhemit di atas merupakan bentuk dari sosok-sosok yang ingin protes terhadap perilaku manusia.

11. Pembahasan Terkait Dengan Materi Yang Sedang Anda Baca Saat Ini Tentang DRAMA TEORI DAN PRAKTIK PEMENTASAN 

1. Unsur Pembeda Naskah, Struktur Drama Dan Konflik Kehidupan

3. Gaya absurd

Absurd sering dipahami dengan sesuatu hal yang tidak jelas. Naskah bergaya absurd ini sempat berkembang setelah Perang Dunia II dengan salah satu tokoh yang terkenal adalah Eugene Ionesco. Naskah Eugene Ionesco dikatakan sebagai naskah absurd karena cerita atau peristiwa yang ada dalam naskah tersebut mencoba mempertanyakan dan membongkar tentang perihal eksistensialisme. Keberadaan manusia dalam kehidupan ini.

Dalam The Chaise, dia menciptakan tokoh berumur 2 abad dengan permasalahan tentang hidupnya yang hampa dan membosankan. Dua pasang kekasih yang lelah secara jiwa untuk hidup kembali. Hingga tokoh itu merasa dunia ini hampa dan sia-sia, disitulah waktu dimana absurditas itu lahir. Di saat seseorang mulai bertanya tentang kehampaan hidup, tujuan hidup dan keberadaannya dalam kehidupan.

Tidak hanya Eugene Ionesco adapula penulis naskah dengan gaya absurd yaitu Samuel Becket, semisal dengan naskahnya “Menunggu Godot”.

Estragon Menurutku sebaiknya aku berdiri (dia berdiri dengan kesakitan) ow! Didi!

Vladimir Aku tidak tahu harus berpikir apalagi

Estragon Kakiku! (dia duduk, mencoba melepas sepatu bootnya) bantu aku!

Vladimir Tertidurkah aku, saat yang lain menderita? Tidurkah aku sekarang? Besok ketika aku bangun, atau mengira aku bangun, apakah yang sebaiknya aku katakan hari ini? Bahwa bersama Estragon temanku, di tempat ini, sampai malam tiba, aku menunggu Godot? Bahwa Pozzo lewat, dengan bawaannya, dan bercakap-cakap dengan kami? Mungkin saja. Tapi dari itu semua, kebenaran apa yang mungkin terkandung di dalamnya? (Estragon, setelah sia-sia mencoba berjuang melepas sepatunya, mulai tertidur lagi. Vladimir menatapnya) dia tidak akan tahu apa-apa. Dia akan menceritakan padaku tentang pukulan-ukulan yang dia terima dan aku akan memberinya sebuah wortel (pause),mengangkangi kubur dan kelahiran yang sulit. Di kedalaman lubang secara berkepanjangan, penggali kubur meletakkan peralatannya. Kita punya banyak waktu untuk menjadi tua. Udara penuh dengan tangisan-tangisan kita (dia mendengarkan) tetapi kebiasaan dalah pembunuh besar (dia melihat Estragon kembali) padaku jugalah orang lain memandang, padaku juga orang lain berkata. Dia sedang tidur. Dia tidak tahu apa-apa, biarkan dia melanjutkan tidur (pause) aku tak dapat melanjutkan (pause) apa yang telah aku katakan? (dia berjalan mondar-mandir dengan cemas, akhirnya berhenti di ujung kiri panggung, merenung. Masuk seorang bocah dari kanan panggung. Dia berhenti. Hening)

Anak Nyonya… (Vladimir berpaling) Nyonya Albee…

Vladimir Ah, kau datang lagi (pause) kau tidak mengenaliku?

Anak Tidak, nyonya

Vladimir Bukan kau yang datang kemarin?

Anak Bukan, nyonya

Vladimir Ini yang pertama buatmu?

Anak Ya, nyonya

Vladimir Kau membawa pesan dari Godot?

Anak Ya, Nyonya

Vladimir Dia tidak akan datang malam ini

Anak Tidak, nyonya

Vladimir Tapi dia akan datang besok

Anak Ya, nyonya

Vladimir Tanpa halangan

Anak Ya, nyonya (hening)

Vladimir Apakah kau bertemu dengan seseorang?

Anak Tidak, nyonya

Vladimir Dua orang….(dia bimbang)…wanita?

Anak Aku tidak melihat siapapun nyonya

Vladimir Apa pekerjaan Godot? (hening) kau mendengarkan?

Anak Ya, nyonya

Vladimir Ya, bagaimana?

Anak Dia tidak mengerjakan apapun, Nyonya (hening)

Vladimir Bagaimana kabar saudaramu?

Anak Dia sakit, nyonya

Vladimir Mungkin dia yang datang kemarin?

Anak Aku tidak tahu nyonya (hening)

Estragon Oh, ya. Ayo kita pergi jauh dari sini

Vladimir Tidak bisa

Estragon Kenapa tidak?

Vladimir Kita harus kembali lagi besok

Estragon Untuk apa?

Vladimir Untuk menunggu Godot

Estragon Ah! (hening) dia tidak datang?

Vladimir Tidak

Estragon Dan sekarang sudah terlambat

Vladimir Ya, sekarang sudah malam

Estragon Dan jika kita meninggalkannya? (pause) bagaimana jika kita meninggalkannya?

Vladimir Dia akan menghukum kita (hening. Dia melihat ke pohon) segalanya mati kecuali pohon itu

Estragon (melihat ke pohon) Apa itu?

Vladimir Itu pohon

Estragon Ya, tapi pohon jenis apa?

Vladimir Aku tidak tahu. Pohon kayu (Estragon menarik Vladimir menuju pohon. Mereka berdiri diam di depannya. Hening)

Estragon Kenapa kita tidak gantung diri?

Vladimir Dengan apa?

Estragon Kau bahkan tak punya seutas tali?

Vladimir Tidak

Estragon Kalau begitu kita tidak bisa melakukannya (hening)

Vladimir Bagaimana? Bisakah kita pergi sekarang? Estragon Ya, ayo kita pergi (mereka tidak bergerak)

Naskah karya Samuel Becket tersebut adalah naskah Absurd, jika dilihat dari segi tokoh yang hadir dalam cerita itu maka tokoh tersebut adalah tokoh yang ada dalam dunia nyata. Begitu pula gaya berbicara yang digunakan adalah gaya yang wajar.

Akan tetapi yang membedakan naskah gaya absurd dengan gaya naskah lainnya adalah dilihat dari muatan atau makna dari dialog tersebut. Makna atau muatan dari gaya absurd adalah mencoba mengungkapkan kehidupan yang seolah-olah tidak jelas. Jika dalam naskah tersebut diceritakan dua orang yang menunggu sesuatu yang “tidak jelas”. 

Tokoh itu belum pernah bertemu, belum pernah berkenalan akan tetapi mereka yakin bahwa “seseorang” yang ditunggu itu ada. Namun tidak datang-datang. Disinilah letak basurditas itu, menunggu hal yang tidak jelas siapa, darimana asalnya, apa tujuannya namun yakin bahwa sosok itu Ada dan akan datang.

PELATIHAN a. Silahkan membaca naskah drama berjudul: 1. “Petang di Taman” karya Iwan Simatupang, 2. “Perkawinan Perak” karya John Baudin 3. “Opera Para Binatang” karya N.Riantiarno Kemudian klasifikasi naskah tersebut berdasarkan gaya naskah yang telah dijelaskan dan kemukakan alasannya. Akan lebih baik jika pelatihan ini dilakukan secara berkelompok.

B. Menentukan Gaya Pertunjukan

Seorang Sutradara begitu serius mengamati naskah yang pertama kali dia terima untuk sebuah pertunjukan. Kira-kira apa yang sedang dipikirkan atau skema apa yang sedang dibentuk dalam imaji sutradara tersebut? 

Apakah dia langsung membayangkan gambaran detail panggung yang akan diciptakannya atau dia langsung membayangkan siapa aktor yang cocok untuk memainkan naskah tersebut? Seandainya sutradara langsung melakukan hal tersebut tanpa melewati tahapan sebelumnya maka telah terjadi lompatan yang terlalu jauh dari prosedur proses yang harus dilakukan.

Imaji adalah kesadaran (Becket, via Sumanto, 2001). Ketika seorang sutradara melakukan proses memunculkan imaji tentang gambaran sebuah pertunjukan maka hal tersebut dilakukan dengan sadar. Kesadaran itu akan melalui beberapa tahap hingga imaji yang muncul akan hadir dengan detail dan sesuai dengan konsep yang tepat.

Pertama kali adalah memahami naskah. Seorang sutradara harus mempunyai pengetahuan dasar tentang beberapa gaya naskah. Dalam teater modern kita akan menemui gaya naskah realis, surealis, dan absurd. 

Konsep untuk memahami gaya naskah sangatlah penting dimiliki oleh seorang sutradara sebelum lanjut ke proses selanjutnya. Hal tersebut merupakan tuntutan dasar sehingga sutradara mampu mengetahui hukum-hukum drama.

1. Mengolah Gaya Naskah Menjadi Gaya Pertunjukan

Ketika pertama kali seorang sutradara memegang naskah maka dia harus mampu menganalisis gaya naskah tersebut. Naskah itu merupakan naskah, tragedi, naskah realis, surealis atau naskah absurd. Setelah gaya naskah ditemukan, tema dari naskah ditemukan dan analisis struktur dalam serta analisis naskah secara eksternal telah dilakukan maka sutradara segera menentukan gaya pertunjukan seperti apakah yang akan digarap. Ada beberapa gaya pertunjukan dalam teater dan setiap gaya pertunjukan mempunyai hukumnya masing-masing. Teater klasik tragedi Yunani dengan teater Tradisional dari Timur tentunya mempunyai hukum yang berbeda-beda. Begitu pula dengan gaya realis, surealis maupun absurd juga memiliki hukum pertunjukan yang berbeda. Tidak semua naskah dengan gaya realis harus dipentaskan dengan gaya realis. Bisa juga naskah dengan gaya realis dipentaskan dengan gaya surealis atau gaya pertunjukan tradisional maupun tragedi.

Beberapa ciri gaya pertunjukan tragedi klasik, realis, surealis, dan absurd sebagai berikut.

a. Gaya pertunjukan realis

Gaya pertunjukan realis adalah gaya pertunjukan yang bertolak dari detail-detail dalam kehidupan nyata. Sehingga waktu, latar, set yang ada di atas panggung haruslah mampu menghadirkan waktu, latar, set sesuai dengan kenyataan yang akan ditampilkan. Itulah sebabnya dalam pertunjukan realis “seorang aktor harus mengabaikan kehadiran penonton” sebab ada dinding keempat (imajiner) yang dihadirkan dalam pertunjukan tersebut. 

Dinding keempat tersebut bertujuan untuk menyampaikan adanya “jarak waktu” antara waktu di atas panggung dengan waktu para penonton. Setting yang digunakan dalam pertunjukan realis harus mampu menceritakan dimana peristiwa itu terjadi, pada tahun berapa, pada kondisi budaya yang seperti apa, dan juga pada kondisi sosial yang seperti apa. 

Begitupula tata cahaya dalam panggung realis merupakan wakil dari cahaya yang ada dalam kehidupan nyata. Sehingga tidak diperkenankan memakai pencahayaan yang berwarna seandainya memang itu tidak terjadi dalam kenyataan. 

Kostum serta make-up yang digunakan dalam pertunjukan realis juga bertolak dari kenyataan. Seorang yang bertanggungjawab dalam make-up dan kostum harus mengetahui berapa usia tokoh, bagaimana kehidupan sosial tokoh, bagaimana cuaca yang sedang berlangsung dalam cerita itu. Sehingga unsur-unsur riil dalam dunia nyata mampu dihadirkan di atas panggung.

b. Gaya pertunjukan surealis

Berbeda dengan gaya realis, dalam gaya pertunjukan surealis seorang sutradara tidak harus menghadirkan kenyataan ke atas panggung. Akan tetapi surealisme bisa jadi menjadi ekspresi dari kenyataan itu. Sehingga make-up dan kostum yang dipakai tidak menyerupai keseharian, tetapi justru bisa dihadirkan dengan gaya-gaya karikatural. 

Begitu pula dengan tata cahaya yang digunakan dalam pertunjukan surealis bisa lebih ekspresif. Misalnya ketika tokoh dalam keadaan marah bisa disorot dengan lampu berwarna merah, atauketika sedang suasana sedih bisa digunakan nuasa lampuyang redup. Pergerakan tokoh dalam pertunjukan surealis pun tidak membutuhkan motivasi akan tetapi pergerakan tokoh itu hadir sebagai bentuk dari ekspresi.

c. Gaya pertunjukan klasik

Gaya pertunjukan klasik seringkali dimainkan untuk menggarap naskah-naskah tragedi seperti Oidipus, Antigone ataupun Romeo dan Juliet. Gaya pemeranan yang digunakan adalah grand style dan dialog dilantunkan seperti layaknya orang berpuisi. Sebab tujuan dari pertunjukan ini adalah mengindah indahkan penampilan baik dari segi visual maupun audio.

d. Gaya pertunjukan Musikal

Gaya pertunjukan musikal adalah pertunjukan teater yang bertolak dari gaya-gaya musik. Kehadiran musik tidak hanya sebagai ilustrasi akan tetapi musik mempunyai peran yang cukup penting sebagai pencipta irama. Bahkan terkadang dialog-dialog dalam drama musikal disampaikan dengan irama musik atau dilagukan. Dalam drama musikal biasanya hadir beberapa kelompok koor yang menyanyikan beberapa dialog yang berhubungan dengan cerita. Koor tersebut terkadang juga berkomunikasi dengan pemain atau aktor sehingga koor tidak hanya berfungsi seperti “sinden” dalam pertunjukan tradisi akan tetapi juga sebagai pemain dalam cerita tersebut. Seorang aktor dalam drama musikal biasanya harus mempunyai kemampuan menyanyi, menari dan berdialog yang bagus.

2. Praktik

Praktik pengolahan gaya naskah menjadi gaya pertunjukan yang diinginkan bisa dilakukan dengan daftar tabel berikut. Setelah analisis terhadap naskah selesai dan sutradara telah mampu mengetahui gaya naskah tersebut maka langkah berikutnya adalah menentukan Gaya Pertunjukan yang seperti apakah yang akan digunakan. Perhatikan Tabel Konsep Pertunjukan Berikut.

Memahami Dan Menentukan Gaya Pertunjukan |Merealisasikan Konsep |PENYUTRADARAAN

3. PELATIHAN

Silakan menyusun tabel analisis gaya naskah dan kemudian tentukan gaya pertunjukan yang akan dipilih dalam kasus Naskah “Petang Di Taman” karya Iwan Simatupang.

Memahami Dan Menentukan Gaya Pertunjukan |Merealisasikan Konsep |PENYUTRADARAAN


C. Merealisasikan Konsep

Merealisasikan konsep penyutradaraan dengan mengimplemen tasikan analisis naskah dan gaya pertunjukan dalam bentuk pelatihan tahap demi tahap seperti menyusun jadwal pelatihan terstruktur sam pai latihan akhir dan pemensan. 

Berikut adalah Skedul atau jadwal latihan dalam merealisasikan konsep pementasan.

Memahami Dan Menentukan Gaya Pertunjukan |Merealisasikan Konsep |PENYUTRADARAAN

Terimakasi telah datang untuk memahami dan belajar tentang Menentukan Gaya Pertunjukan |Merealisasikan Konsep |PENYUTRADARAAN, Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat

Posting Komentar untuk "Memahami Dan Menentukan Gaya Pertunjukan |Merealisasikan Konsep |PENYUTRADARAAN"