Unsur Pembeda Naskah, Struktur Drama Dan Konflik Kehidupan |Teori Part 1 - celotehpraja.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Unsur Pembeda Naskah, Struktur Drama Dan Konflik Kehidupan |Teori Part 1

BAB (SATU) DRAMA SEBAGAI KARYA SASTRA (Buku Teori Drama Dan Pementasan Part 1)
Point Pembahasan:
A.
Seperti Apakah Struktur Drama Dan Konflik Kehidupan itu? B. Apa itu Struktur Drama? C. Apa yang membedakan (Unsur Pembeda) Naskah Drama, Fiksi Dan Puisi?D. Apa Dasar dari materi naskah drama? E. Maksud Penokohan dan Perwatakan Pada Drama? F. Maksud dan Arti Plot atau Kerangka Cerita Dalam Drama ? G. Maksud Dan Arti Setting atau Latar Cerita Dalam Drama? H. Maksuda dan Arti Dialog Pada Drama? I. Maksud Teks fiksi Dalam Drama? J. Maksud Teks puisi Dalam Drama? K. Maksud Diksi Dalam Drama? L. Apa Persamaan antara teks drama, fiksi, dan puisi Dalam Drama? I.Unsur Apa Yang Membedakan Naskah Drama_Teks Drama, Fiksi Dan puisi? Temukan semua jawaban-jawaban atas pertanyaan ini didalam pembahasan blog edukasiCeloteh Prajadibawah ini:

Drama sebagai salah satu genre sastra, memiliki kekhasan dibandingkan dengan genre lain yaitu puisi dan fiksi. Puisi dalam menyampaikan pesan melalui pemadatan makna dengan membatasi kata dan menyajikan kosakata pilihan yang imajimatif dan menghasilkan multimakna bagi pembacanya. Demikian pula fiksi baik yang pendek berupa cerita pendek dan yang cerita panjang berupa novel menyajikan narasi panjang untuk menggambarkan tokoh dan amanat yang akan disampaikannya.

Drama memiliki kekhasan dari sudut pemakaian bahasa dan penyampaian amanatnya. Pemaparan bahasa dalam karya sastra drama berupa pemakaian petunjuk lakuan yang menggambarkan suasana dan penggunaan dialog para tokoh. Dari segi isi pesan, penulis drama mengisahkan kehidupan manusia dengan berbagai persoalannya. Penggambaran kehidupan manusia cenderung diperindah dan diperluhur seperti dalam kisah klasik Jawa, misalnya Jaka Tingkir dan Jaka Tarub. Jaka Tingkir memiliki kesaktian untuk mengalahkan puluhan buaya, dan Joko Tarub dapat memperistri bidadari. Demikian pula cinta tidak mengenal kelas sosial seperti dalam drama Pronocitro dan Roro Mendut dan Sampek Engtay.

Unsur Pembeda Naskah Struktur Drama Dan Konflik Kehidupan
Unsur Pembeda Naskah, Struktur Drama Dan Konflik Kehidupan

Drama sebagai karya sastra secara struktural memiliki elemen tokoh, jalan cerita, latar, tema, dan amanat (Nurgiyantoro, 2005). Persoalan yang muncul dalam teks sastra drama berupa kejadian sehari-hari, atau reproduksi dari kisah-kisah yang sudah ada seperti mite, legenda, sage, untuk digali persoalannya dalam konfliks antartokoh dalam naskah.

Tema penulisan naskah drama biasanya diperoleh pengarang dari kesaksian hidup, penggambaran realitas hidup, bahkan persoalan politik, sosial, dan budaya yang dialami pengarangnya. Sebagai contoh, dramawan WS Rendra memotret persoalan kekuasaan dalam naskah Panambahan Reso. Iwan Simatupang memotret kehidupan kaum marjinal dalam RT Nol RW Nol, Petang di Taman, Arifin C. Noor dalam Kapai Kapai. Hal yang sama dilakukan oleh N. Riantiarno dalam naskah Opera Kecoa. Naskah-naskah satire tentang kehidupan rakyat dan penguasanya terpotret dalam Republik Bagong dan Opera Rumah Sakit jiwa. Potret pelacur kelas bawah dalam naskah Tumirah Sang Mucikari karya Seno Gumira Aji Darma. Pesan yang disampaikan penulis naskah drama terhadap kehidupan bertujuan untuk memberi informasi, “mendidik”, memberi hiburan, sekaligus mengkritik persoalan yang terjadi di masyarakat.

A. Drama dan Konflik Kehidupan

Persoalan Naskah Drama

Persoalan yang dihadapi dalam naskah drama adalah konfliks manusia berupa lakuan yang tercermin dalam dialog dan petunjuk lakukan. Materi konfliks dialami dari kehidupan yaitu hubungan antarmanusia, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan Tuhan. Kisah perjalanan manusia dan berbagai peristiwanya adalah materi konfliks drama sejak, lahir dan mati, kawin dan cerai, melakukan kejahatan dan hukuman, perang dan damai. Sedangkan temanya berupa keberanian dan kepengecutan, kesetiaan dan pengkhianatan, keserakahan dan murah hati. Emosinya berupa kemarahan, cinta, benci, ketakutan, dan kenikmatan (Harymawan, 1993:9).

Dasar dari materi naskah drama

Dasar dari materi naskah drama adalah konfliks kehidupan dengan kisah awal, konfliks, dan penyelesaian. Hukum drama menurut Ferdinand Brunetiere (Harymawan, 1993) berpokok pada “kisah protagonis” yang menginginkan sesuatu, dan “antagonis” yang menentang dipenuhinya keinginan itu.

Sebagai contoh: Engtay dalam lakon Sampek dan Engtay karya N. Riantiarno, Engtay adalah tokoh protagonis yang harus menghadapi sikap ayahnya yang keras agar tidak berhubungan dan menjalin cinta dengan Sampek karena perbedaan kelas sosial. Namun, Engtay tetap jatuh cinta dan dibawa sampai mati.

Contoh lain, Lakon RT NOL/RW NOL karya Iwan Simatupang, Kakek adalah tokoh protagonis yang menyadari masa lalunya dan rela untuk hidup di kolong jembatan. Sedangkan Ani dan Ina adalah pelacur muda yang bosan dengan kehidupan kolong jembatan yang makan makanan sisa yang dimasak oleh Pincang. Jika diskemakan drama sebagai karya sastra akan tampak dalam bagan dibawah ini.

Unsur Pembeda Naskah, Struktur Drama Dan Konflik Kehidupan

Berdasarkan bagan di atas penulis memotret konfliks yang ada di alam semesta, baik konfliks antarmanusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhannya. Kemudian penulis dengan pandangannya menulis naskah dan kemudian dinikmati oleh pembaca. Drama sebagai karya sastra dibaca oleh penikmatnya tanpa harus dipentaskan.

B. Struktur Drama

Menurut Waluyo (2001: 6-30) struktur drama terdiri dari

  1. penokohan dan perwatakan,
  2. plot atau kerangka cerita,
  3. dialog (percakapan),
  4. setting/landasan/tempat kejadian,
  5. tema/nada dasar cerita,
  6. amanat,
  7. petunjuk teknis, dan
  8. drama sebagai interpretasi kehidupan.

Jika dipilah dalam strutur fisik dan struktur batin, struktur fisik berupa tokoh, alur, latar, dialog, dan teks samping. Sedangkan sruktur batin adalah tema, dan amanat.

1. Penokohan dan Perwatakan

a. Klasifikasi Tokoh

Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Watak tokoh akan terlihat dalam dialog dan petunjuk lakuan atau petunjuk samping. Jenis dan warna dialog menunjukkan watak tokoh tersebut. Berdasarkan peran terhadap jalan cerita terdapat tokoh protagonis, antagonis, dan tritagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang mendukung cerita. Tokoh utama ini biasanya dibantu oleh tokoh-tokoh lain yang terlibat dalam cerita. Tokoh antagonis, adalah tokoh yang menentang cerita. Biasanya ada satu orang tokoh antagonis dan beberapa pembantunya yang menentang cerita. Tokoh Tritagonis yaitu tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonis maupun untuk tokoh antagonis.

Berdasarkan peran dan fungsinya dalam lakon, terdapat tokoh sentral. Tokoh utama, dan tokoh pembantu. Tokoh sentral adalah tokoh yang paling menentukan gerak lakon, tokoh utama, tokoh penentang dan pendukung tokoh sentral. Tokoh pembantu, yaitu tokoh yang memegang peran pelengkap atau tambahan dalam rangkaian cerita. Sebagai contoh, kakek adalah tokoh sentral dalam naskah drama RT Nol/RW Nol, sedangkan tokoh utamanya adalah Ani dan Ina. Sedangkan tokoh pembantunya adalah Tompel, Babah Liem, dan Pincang. Klasifikasi tokoh dalam naskah ditandai oleh banyaknya dialog yang ditulis pengarang.

b. Karakter Tokoh

1. Ciri fisik

Karakter tokoh dapat dipetakan dalam keadaan fisik, psikis, dan sosial.Ciri-ciri fisik dapat dilihat dari bentuk tubuh, wajah, dan warna suara.Tubuh yang tinggi lebih wibawa dibandingkan dengan yang pendek. Wajah yang tampan lebih berwibawa daripada yang buruk rupa, demikian pula suara yang merdu lebih berwibawa daripada suara yang cemeng. Untuk mempelajari warna suara perhatikan suara tokoh-tokoh wayang purwa. Tokoh-tokoh pandawa bertekanan rendah, halus, merdu, dan berwibawa. Berbeda dengan tokoh-tokoh Kurawa yang bersuara kasar, bertekanan tinggi, emosional dan keras. Demikian pula nada bicara Sampek, Damarwulan, dan Pronocitro cenderung seperti Pandawa, merdu dan berwibawa.

2. Ciri Psikis

Ciri-ciri psikis berkaitan dengan watak, kegemaran, standar moral, temperamen, ambisi, cita-cita dan kompleks psikologis yang dialami tokoh. Pemilihan aktor biasanya berhubungan dengan ciri-ciri yang melekat pada tokoh. Misalnya, untuk aktor yang bertemperamen kasar, bersuara keras, lebih cocok untuk memerankan tokoh antagonis. Sedangkan mereka yang bertemperamen lembut, bersuara datar dan tegas, baik untuk memerankan tokoh protagonis.

3. Ciri Sosiologis

Berkaitan dengan keadaan sosiologis tokoh seperti status sosial dan jabatan, kelas sosial, ras, agama, dan ideologi. Keadaan sosiologis atau progresi seseorang sangat mempengaruhi perilaku. Profesi tertentu akan membuat tokoh melakukan hal berkait dengan profesinya. Aktor yang berlatar belakang dosen akan dapat memerankan tokoh pendidik dengan baik daripada tokoh dengan latar belakang tentara atau polisi. Ciri sosiologi berkait profesi yang disandang tokoh seperti jabatan dan pekerjaan.

2. Plot atau Kerangka Cerita

Menurut Gustaf Freytag (Harymawan, 1993), plot atau kerangka cerita terdiri dari

  1. exposition atau pengenalan awal cerita,
  2. complication atau pertikaian awal,
  3. conflict atau pertentangan menuju puncak,
  4. klimaks atau titik puncak peristiwa, dan
  5. resolution atau penyelesaian.

Pada tahap pengenalan diceritakan gambaran tokoh, latar, suasana dan problem yang dialami tokoh. Pada tahap komplikasi terjadi persinggungan antar tokoh atas masalah dan peristiwa yang dialami yang makin memanas. Ada tahap pertentangan atau konfliks terjadi pertentangan antar tokoh yang makin memuncak.

Pada tahap klimaks terjadi konfliks atau pertentangan puncak. Pada tahap terakhir, tahap penyelesaian. Penyelesaian suka maupun duka. Bila naskah berakhir dengan dukacita orang menamakan drama tragedi. Bila berakhir dengan suka orang menamakan drama komedi. Namun demikian, naskah yang baik biasanya penyelesaian masalah atau akhir cerita dibuat secara menggantung.

Dalam drama dikenal ada tiga jenis alur cerita. Alur linier yaitu peristiwa atau kejadian berurutan dari awal (eksposisi, komplikasi), tengah (konfliks dan klimaks) dan akhir (resolusi). Alur mundur atau flash back/sirculair, bila naskah diawali dengan akhir cerita atau penyelesaian, baru kemudian dirunut peristiwanya mengapa hal itu terjadi. Sedangkan alur episodik, ketika cerita berupa episode atau bagian-bagian peristiwa yang saling berhubungan. Jika diskemakan jenis alur atau jalan cerita tampak dalam bagan alur berikut ini.

a. Alur linier A → Z Jalan cerita berurutan dari A sampai Z

b. Alur mundur atau sircular

Unsur Pembeda Naskah, Struktur Drama Dan Konflik Kehidupan

Z = Akhir peristiwa A = Kejadian-kejadian

c. Alur episodic A → B B → C C → D D → E dst

Jalan cerita berdasarkan episode-episode peristiwa yang saling berhubungan antarepisode.

3. Setting atau Latar Cerita

Setting atau tempat kejadian berkait juga dengan waktu dan suasana. Setting atau tempat berhubungan juga dengan suasana. Sebagai contoh, untuk naskah Bende Mataram karya Kotot Sukadi, setting atau tempatnya adalah Yogyakarta dan waktunya saat Perang Diponegoro 1925-1930, di desa, baik di istana, di rumah maupun di medan perang dengan para pelaku anak buah Pangeran Diponegoro.

Setting juga berkaitan dengan waktu, seperti pagi, siang, sore atau malam hari. Suasana siang di desa tentu berbeda dengan suasana siang di kota. Demikian pula setting berkaitan dengan ruang. Ruang keluarga modern akan berbeda dengan ruang keluarga miskin, demikian pula dengan isi perabotnya.

Penulis naskah ada yang menggambarkan setting secara detil namun juga dengan sederhana sehingga menimbulkan imajinasi pembaca. Dalam naskah Sidang Para Setan karya Joko Umbaran, misalnya, setting tempat bersidangnya para setan yang tidak mau seperti sifat manusia, digambarkan di tempat yang tinggi dengan lampu merah temaram. Jika penulis naskah belum menggambarkan setting secara detil, tugas sutradara adalah menentukan setting dalam rangka pementasan.

11. Pembahasan Terkait Dengan Materi Yang Sedang Anda Baca Saat Ini Tentang DRAMA TEORI DAN PRAKTIK PEMENTASAN 

1. Unsur Pembeda Naskah, Struktur Drama Dan Konflik Kehidupan

4. Dialog

Ciri khas naskah drama adalah pemakaian dialog. Penulis menggunakan ragam lisan untuk menuliskan dialog. Ragam lisan yang dimaksud adalah ragam lisan yang komunikatif dan bukan ragam tulis. Pemakaian ragam lisan sesuai dengan jiwa naskah drama yang nanti akan diangkat dalam bentuk pentas. Dengan demikian, nuansa–nuansa dialog yang kurang lengkap akan digenapi oleh action, musik, ekspresi wajah, dll. Jiwa sebuah naskah akan nampak jika dipentaskan.

Dialog juga mengandung kata-kata kunci yang menggambarkan ciri dan keinginan tokoh. Panjang dan pendeknya dialog dalam naskah tergantung dari apa yang akan disampaikan tokoh. Makin banyak ide yang disampaikan tentu akan membuat dialog semakin panjang. Demikian sebaliknya, makin sedikit ide yang disampaikan makin sedikit pula dialog yang disampaikan.

Berikut contoh dialog Hamid dan Rusman dalam lakon Pakaian dan Kepalsuan karya Averchenko yang disadur oleh Akhdiyat Kartamiharja.

DI DALAM RESTORAN SUDAH SEPI. HANYA RUSMAN DAN HAMID YANG MASIH DUDUK BERHADAPAN MENGHADAPI SEBUAH MEJA KECIL. HAMID MINUM KOPI DAN RUSMAN BEER. MEREKA MASIH MUDA + 25 TAHUN. BADAN HAMID BESAR DAN TEGAP SEPERTI ATLET. RUSMAN AGAK KURUS, TAPI KELIHATANNYA SEHAT DAN SEGAR. PAKAIAN MEREKA KURANG TERURUS, TERDIRI DARI KEMEJA DAN PANTALON YANG SUDAH KUMAL.

HAMID: Yah, kalau kita terlalu mengikat diri kepada apa yang pernah kita cita-citakan dulu dan yang kini ternyata meleset semata- mata, maka kita harus kecewa belaka. Apalagi kalau kita melihat keadaan di kalangan politik. Untuk dewasa ini dan bagaimana kotornya cara-cara pemimpin kita membuat pengaruh dan kekuasaan, maka bagi kita sebagai bekas pejuang yang kini masih menganggur…

RUSMAN: Tapi politik memang kotor.

HAMID: Itu sama sekali tidak benar. Politik tidak kotor. Malah sebaliknya politik adalah satu hal yang murni. Sloganmu ini terlalu mudah diucapkan orang, seolah suatu kebenaran.

RUSMAN: TERTAWA

HAMID: Dengarlah dulu ! …

Selain dialog dalam naskah, terdapat penunjuk aktor yang disebut penunjuk lakuan atau petunjuk teknis. Disebut juga Stage Direction dan Kramagung (Tambayong, 1998)

5. Petunjuk

Lakuan/Petunjuk Teknis Petunjuk teknis atau teks samping berupa teks yang memberi informasi tentang tokoh, waktu, suasana pentas, musik/suara, keluar masuknya aktor, keras lemahnya dialog, dan perasaan tokoh. Teks samping ditulis berbeda dengan teks dialog, bisa berupa huruf besar semua atau huruf miring.

Petunjuk teknis memberikan petunjuk kapan aktor harus diam, bergerak, memberi jeda dialog. Petunjuk teknis mengenai karakter, usia, dan status sosial pemeran akan membantu sutradara menentukan watak secara menyeluruh. Singkatnya, melalui teks samping, diperoleh deskripsi keadaan tokoh dan suasana hati yang dialaminya.

Berikut adalah contoh teks samping naskah drama Ayahku Pulang.

RUANG TAMU SEDERHANA DENGAN BEBERAPA KALENDER PRODUK BARANG. FOTO KELUARGA DAN LUKISAN TUA. DI POJOK RUANG TAMU TERDAPAT MESIN JAHIT TUA DAN BEBERAPA BAHAN JAHITAN YANG BELUM SESESAI. BEBERAPA JAHITAN YANG SUDAH JADI MENGGANTUNG DI RAK PAKAIAN. KURSI ROTAN DAN MEJA YANG SUDAH TUA. PAGI MENJELANG SUBUH, SUARA TAKBIR MENYAMBUT SHOLAT IDUL FITRI BERSAHUT-SAHUTAN DARI SPEAKER MASJID. TAMPAK IBU MENYULAM JAHITAN DAN MENUNDUK.

C. Unsur pembeda Naskah Drama dan Fiksi Serta Puisi

Teks Drama berbeda dengan teks fiksi dan puisi. Unsur pembeda naskah drama terletak pada pemakaian petunjuk lakuan dan dialog. Selain itu, penggambaran watak tokoh dideskripsikan oleh tindakan dan motivasi tokoh ketika berdialog dengan tokoh lain. Bahasa teks drama cenderung lisan, seperti orang berbicara.

Teks fiksi Dalam Drama

Teks fiksi besifat naratif dalam mendeskripsikan tokoh, latar dan jalannya cerita. Pikiran dan tindakan tokoh digambarkan secara naratif. Dalam teks, penulis banyak memanfaatkan gaya bahasa dan menggunakan sudut padang akuan, diaan, dan mahatahu. Teks fiksi yang baik selalu menggoda pembaca untuk mengikuti paparan teks selanjutnya.

Teks puisi Dalam Drama

Teks puisi, lebih padat bentuknya dibandingkan dengan teks drama dan teks fiksi. Teks puisi menggunakan diksi atau pilihan kata yang bermakna padat, bahkan menimbulkan tafsir multimakna. Teks puisi menggunakan berbagai gayabahasa. Namun, gaya bahasa yang paling banyak digunakan dalam teks puisi adalah personifikasi, yaitu mengorangkan semua benda, metaforik dengan menganalogikan orang atau peristiwa dengan yang lain, dan paradoks. Bentuk puisi bisa dilihat dari diksi, gaya bahasa, pencitraan, persajakan dan tipografi.

Diksi Dalam Drama

Diksi adalah pilihan kata yang digunakan dalam puisi. Gaya bahasa adalah cara pengungkapan yang digunakan dalam puisi. Pencitraan adalah penggunaan citra visual, auditif, sentuhan, dan ragaan. Persajakan adalah keindahan bunyi dalam puisi. Tipografi adalah penataan baris baris puisi seperti yang diinginkan penulisnya.

Persamaan antara teks drama, fiksi, dan puisi Dalam Drama

Persamaan antara teks drama, fiksi, dan puisi sebagai karya sastra selalu berhubungan dengan tokoh, yang dalam puisi bisa disebut aku lirik. Drama dan Fiksi memiliki tokoh, jalan cerita, latar dan tema. Dalam fiksi ada sudut pandang penulis sebagai aku, dia, atau mahatahu.

Sekian tentang Unsur Pembeda Naskah Drama, Struktur Drama Dan Konflik Kehidupan Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan serta ilmu baru seputar dunia Drama