(Ekonomi_Makro) |Penawaran Agregat dan Konsep Pertumbuhan_Ekonomi - celotehpraja.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

(Ekonomi_Makro) |Penawaran Agregat dan Konsep Pertumbuhan_Ekonomi

Penawaran Agregat dan Konsep Pertumbuhan_Ekonomi

Celotehpraja.com -Ekonomi Makro-Penawaran Agregat dan Konsep Pertumbuhan Ekonomi. Laman ini adalah Pembahasan ke Tujuh (7) dari sembilan (9) pembahasan tentang Ekonomi Makro. Pada dasarnya akan memfokuskan pembahasan terkait dengan Penawaran Agregat, dan Konsep Dasar Pertumbuhan Ekonomi. Namun, karena pembentukan keseimbangan ekonomi makro juga melibatkan konsep permintaan agregat, maka disini juga akan mengombinasikan konsep penawaran agregat dan permintaan agregat untuk mewujudkan kondisi keseimbangan ekonomi.

Pembahasan terkait produksi output suatu perekonomian berkaitan erat dengan konsep penawaran agregat, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai keseluruhan output yang ditawarkan dalam suatu perekonomian. Memahami dasar-dasar teori terkait penawaran agregat ini, dengan dikombinasikan dengan pemahaman yang telah diberikan tentang konsep permintaan agregat, akan membantu kita dalam memahami berbagai persoalan ekonomi yang terjadi di suatu negara yang akhirnya memiliki konsekuensi pada berubahnya output produksi perekonomian negara tersebut, bahkan akhirnya memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

Adapun manfaat dari mempelajari pembahasan ini, menambah dan memperluas cakrawala pembaca tentang penawaran agregat, konsep dasar pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan ekonomi.

Setelah ini, secara khusus diharapkan Anda dapat:

  • 1. membedakan antara kurva penawaran agregat jangka pendek dan jangka panjang;
  • 2. menjelaskan determinan perubahan penawaran agregat;
  • 3. menunjukkan pergeseran kurva penawaran agregat;
  • 4. menunjukkan keseimbangan makroekonomi, AD - AS;
  • 5. menjelaskan konsep dasar pertumbuhan ekonomi;
  • 6. menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi.

Pembahasan Pertama (1)

Kurva Penawaran Agregat dan Determinan Penawaran Agregat

Dalam pembahasan ini kita akan membahas tentang apa itu penawaran agregat? Mengapa kita harus mempelajari penawaran agregat dalam jangka panjang dan jangka pendek? Bagaimana bentuk kurva penawaran agregat? Apa yang memengaruhi penawaran agregat? Bagaimana bentuk pergeseran kurva penawaran agregat?

Apa yang dimaksud dengan kurva penawaran agregat? Kurva penawaran agregat (Aggregate Supply, AS) menunjukkan keseluruhan barang/jasa yang dihasilkan dan ditawarkan aktivitas produksi pada tingkat harga tertentu. Penawaran agregat ditentukan oleh tingkat harga, kapasitas produksi, dan tingkat biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Dalam hubungannya dengan output potensial, penawaran agregat ditentukan oleh banyaknya input produktif yaitu tenaga kerja dan barang modal, serta efisiensi dari kombinasi input-input tersebut. Output potensial adalah besarnya tingkat output yang diproduksi pada kondisi ketika seluruh input dipergunakan secara maksimal dan tidak ada yang tersisa (input tersebut). Ini menunjukkan potensi maksimum dari tiap-tiap perekonomian.

Bentuk kurva penawaran agregat berbeda pada jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, kurva penawaran memiliki kemiringan yang positif; sementara dalam jangka panjang, kurva penawaran agregat ini berbentuk vertikal. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda perhatikan Gambar 7.1 berikut ini. Sumbu vertikal menunjukkan tingkat harga dan sumbu horizontal menunjukkan jumlah output yang ditawarkan. Tampak pada gambar, kurva penawaran agregat jangka panjang berbentuk vertikal yang disimbolkan oleh LRAS, dan kurva penawaran agregat jangka pendek disimbolkan dengan SRAS.

Gambar 7.1 Kurva Penawaran Agregat

Hal yang perlu diingat dalam membentuk kurva penawaran (termasuk juga kurva permintaan) ialah adanya asumsi cateris paribus, yaitu hanya faktor harga yang diizinkan mengalami perubahan, sementara faktor lain diasumsikan tetap. Dalam teori ekonomi, istilah ceteris paribus digunakan untuk menjelaskan bahwa faktor lainnya diasumsikan tetap tidak berubah. Dengan asumsi ini. perbedaan bentuk kurva penawaran agregat jangka pendek dan jangka panjang mengindikasikan bahwa pengaruh tingkat harga terhadap produksi output perekonomian berbeda antara jangka pendek dan jangka panjang. Sementara faktor lain yang memengaruhi penawaran agregat selain harga diasumsikan konstan.

Pembahasan kita lanjutkan pada kurva penawaran jangka panjang (LRAS) dan kurva penawaran jangka pendek (SRAS), beserta pergeserannya. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda baca pemaparan di berikut ini.

A. KURVA PENAWARAN AGREGAT JANGKA PANJANG (LRAS)

Dalam jangka panjang, produksi barang/jasa dalam suatu perekonomian (atau PDB riil suatu negara) akan tergantung dari ketersediaan tenaga kerja, sumber daya modal, sumber daya alam, dan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan barang/jasa. Karena tingkat harga tidak memengaruhi kemampuan perekonomian untuk menghasilkan barang/jasa dalam jangka panjang, maka kurva penawaran agregat dalam jangka panjang akan berbentuk vertikal. Bentuk kurva penawaran yang vertikal ini menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, berapa pun tingkat harga, perekonomian akan menghasilkan tingkat output yang sama. Misalkan pada tingkat harga P1 jumlah output yang diproduksi sebesar Q*, kemudian harga turun menjadi P2 jumlah output yang diproduksi tetap pada Q*. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda perhatikan Gambar 7.2 di bawah ini!

Gambar 7.2 Kurva Penawaran Agregat Jangka Panjang

Tingkat output yang diproduksi dalam jangka panjang ini disebut juga sebagai output potensial atau tingkat output ilmiah karena tingkat output ini merupakan tingkat output yang dihasilkan ketika pengangguran berada pada tingkat alaminya.

Pergeseran Kurva Penawaran Jangka Panjang

Bisakah jumlah output potensial ini mengalami perubahan? Sebenarnya tingkat output potensial ini dapat berubah ketika terdapat faktor-faktor dalam perekonomian, yang ditandai dengan terjadinya pergeseran kurva. Di antara faktor-faktor tersebut adalah (a) perubahan jumlah tenaga kerja, (b) perubahan modal, (c) perubahan sumber daya alam, dan (d) perubahan teknologi. Kesemua faktor-faktor ini adalah faktor non harga.

1. Perubahan Jumlah Tenaga Kerja

Bayangkan ketika di Indonesia mengalami peningkatan jumlah penawaran tenaga kerja sebagai respons dari dikeluarkannya kebijakan kenaikan tingkat upah minimum. Tingkat upah yang lebih tinggi tersebut juga dapat menarik masuknya migran dari luar negeri ke Indonesia. Hal apa yang akan terjadi terhadap tingkat output total Indonesia? Karena pekerja mengalami peningkatan, jumlah output yang dapat diproduksi pun akan mengalami peningkatan. Alhasil, kurva penawaran pun akan mengalami pergeseran ke kanan yang menandakan terjadinya peningkatan jumlah penawaran output dalam perekonomian, perhatikan Gambar 7.3.

2. Perubahan Modal

Modal dapat digolongkan atas dua jenis, yaitu: 1) modal fisik seperti mesin dan pabrik, serta 2) modal manusia, yaitu sumber daya manusia yang berkualitas seperti pekerja yang memiliki gelar sarjana. Terjadinya peningkatan stok modal dalam perekonomian, baik berupa modal fisik maupun berupa modal manusia, tentu akan mampu meningkatkan produktivitas perekonomian sehingga output perekonomian pun akan terdorong untuk meningkat. Peningkatan ini ditandai oleh pergeseran kurva penawaran ke kanan, perhatikan Gambar 7.3.

3. Perubahan Sumber Daya Alam

Terjadinya perubahan ketersediaan bahan alam yang menjadi input produksi seperti mineral tambang, atau pun terjadinya perubahan iklim/cuaca merupakan hal-hal yang tergolong ke dalam faktor ketiga ini. Ketika ketersediaan sumber daya alam yang menjadi input produksi mengalami peningkatan karena ditemukannya ladang tambang yang baru, maka kurva penawaran agregat akan mengalami pergeseran ke kanan sehingga output perekonomian pun akan mengalami peningkatan. Sementara itu, ketika yang terjadi adalah terjadinya iklim/cuaca yang lebih bersahabat untuk proses produksi, terutama produksi di bidang pertanian, produksi pertanian tentu akan mengalami peningkatan yang ditandai oleh terjadinya peningkatan kurva penawaran ke kanan. Jika kondisi sebaliknya yang terjadi, yaitu ketika ketersediaan sumber daya alam mengalami penurunan dan kondisi cuaca jangka panjang menjadi tidak bersahabat untuk produksi pertanian, output perekonomian tentu akan mengalami penurunan yang ditandai oleh bergesernya kurva penawaran ke kiri, perhatikan Gambar 7.3.

4. Perubahan Teknologi

Peningkatan kemajuan teknologi suatu negara juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan peningkatan output potensial suatu negara. Misalnya, adanya pengembangan teknologi komputer untuk kepentingan produksi telah membuat proses produksi menjadi lebih efisien sehingga memungkinkan perusahaan-perusahaan dalam perekonomian untuk menghasilkan barang/jasa lebih banyak.

Arah pergeseran kurva dapat diamati pada Gambar 7.3 berikut. Bila terjadinya peningkatan output agregat akibat perubahan keempat faktor di atas, akan ditandai oleh terjadinya pergeseran kurva penawaran agregat ke kanan (ditandai oleh (1)). Sementara jika yang terjadi adalah dorongan terhadap penurunan output potensial, maka kurva penawaran agregat akan bergeser ke kiri (ditandai oleh (2)).

Gambar 7.3 Pergeseran Kurva Penawaran Agregat Jangka Panjang

Keterangan: (1) menandakan bahwa output potensial mengalami peningkatan yang ditandai oleh pergeseran kurva penawaran agregat jangka panjang ke kanan, sementara (2) menunjukkan terjadinya penurunan output potensial.

B. KURVA PENAWARAN AGREGAT JANGKA PENDEK (SRAS)

Dalam jangka pendek, tingkat harga akan memengaruhi tingkat output perekonomian. Terjadinya peningkatan harga dalam perekonomian akan mendorong terjadinya peningkatan output barang/jasa yang diproduksi, sehingga dalam jangka pendek bentuk kurva penawaran agregat akan memiliki kemiringan positif yang bergerak dari kiri bawah ke kanan atas. Peningkatan output jangka pendek tentu akan berkontribusi terhadap peningkatan keseimbangan output potensial dalam jangka panjang. Namun karena peningkatan output ini berhadapan dengan ketersediaan sumber daya yang terbatas, maka akhirnya produksi yang terjadi hanyalah hingga tingkat output optimal dalam jangka panjang.

Terdapat tiga teori yang menjelaskan tentang kurva penawaran agregat jangka pendek yang memiliki kemiringan yang positif, yaitu: (1) teori kekakuan upah, (2) teori kekakuan harga, dan (3) teori kesalahpahaman (misperception theory).

1. Teori Kekakuan Upah

Teori ini mengungkapkan bahwa kemampuan penyesuaian upah nominal terhadap perubahan perekonomian berlangsung lambat, atau dengan kata lain, tingkat upah bersifat "kaku” dalam jangka pendek. Kekakuan upah inilah yang membentuk hubungan positif antara tingkat harga dan produksi output dalam jangka pendek. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?

Pada saat perusahaan melakukan penerimaan karyawan baru, perusahaan telah menentukan tingkat gaji yang akan diterima karyawan dalam beberapa waktu ke depan (misalnya dalam satu tahun ke depan), sesuai dengan jangka waktu yang terdapat dalam kontrak. Penetapan tingkat upah ini dilakukan sesuai dengan pertimbangan perkiraan tingkat harga produk dalam beberapa waktu ke depan. 

Alhasil, jika dalam kenyataannya tingkat harga produk yang terealisasi lebih rendah dari tingkat harga yang diperkirakan, produksi pun menjadi kurang menguntungkan dibandingkan perkiraan sebelumnya. Karena tidak memungkinkan bagi perusahaan untuk menurunkan tingkat upah karyawannya dalam menghadapi kondisi penurunan keuntungan akibat terjadinya penurunan harga, maka yang dapat dilakukan perusahaan adalah mengurangi jumlah karyawan sehingga akhirnya jumlah output pun akan mengalami penurunan.

Hal sebaliknya juga terjadi ketika tingkat harga yang terealisasi mengalami peningkatan. Karena meningkatnya keuntungan perusahaan akibat tingginya tingkat harga, perusahaan tentu akan mampu untuk menarik pekerja tambahan. Konsekuensinya, output pun akan mengalami peningkatan.

Berdasarkan gambaran sederhana di atas terkait teori kekakuan upah, terlihat bahwa ketika tingkat harga meningkat, output akan meningkat karena perusahaan akan menarik pekerja tambahan. Namun, ketika tingkat harga menurun, output akan ikut menurun karena perusahaan akan mengurangi jumlah pegawainya.

2. Teori Kekakuan Harga

Pendekatan lain yang dapat digunakan untuk menjelaskan pengaruh harga terhadap jumlah penawaran jangka pendek adalah teori kekakuan harga. Jika dalam teori kekakuan upah dikatakan bahwa upah bersifat kaku dalam jangka pendek, maka dalam teori ini, penyesuaian tingkat hargalah yang dikatakan bersifat kaku terhadap perubahan perekonomian. Kekakuan harga ini terjadi karena adanya biaya menu untuk melakukan perubahan harga, yaitu biaya untuk menentukan harga baru, yang dapat berupa biaya untuk mencetak katalog baru, biaya pengiriman katalog kepada konsumen dan penyalur, serta biaya iklan dari harga yang baru. Keberadaan biaya-biaya ini membuat penyesuaian harga tidak dapat dilakukan dengan segera. Lalu, bagaimana teori kekakuan harga ini menjelaskan tentang bentuk kurva penawaran agregat jangka pendek yang memiliki kemiringan positif?

Karena perusahaan telah terlanjur mengumumkan tingkat harga produknya, maka perusahaan ini menjadi tidak mampu melakukan penyesuaian harga ketika terjadi gejolak perekonomian secara tiba-tiba. Misalkan, jika terjadi peningkatan jumlah uang beredar secara tiba-tiba, tingkat harga tentu akan terdorong (mengikuti konsep dalam persamaan kuantitas). Beberapa perusahaan mungkin bisa menaikkan harga produknya, namun terdapat perusahaan lain yang tidak mau terbebani oleh biaya menu tambahan. Akibatnya, perusahaan ini akan memiliki harga produk yang lebih rendah dibandingkan tingkat harga yang berlaku. Kondisi ini tentu akan mendorong peningkatan permintaan terhadap produk perusahaan yang tidak melakukan penyesuaian harga sehingga perusahaan ini pun akhirnya terdorong untuk meningkatkan jumlah pekerjanya dan meningkatkan produksinya.

Sebaliknya, jika yang terjadi adalah penurunan tingkat harga, kekakuan harga produk suatu perusahaan akan memaksa perusahaan tersebut untuk memberlakukan harga produk yang telah ditetapkan sebelumnya sesuai dengan perkiraan yang sudah dilakukan. Dengan kondisi ini, harga produk perusahaan menjadi lebih mahal dari yang seharusnya, sehingga penurunan permintaan merupakan konsekuensi yang akan terjadi. Terjadinya penurunan permintaan ini (yang berarti terjadinya penurunan penjualan) mendorong perusahaan untuk mengurangi produksinya dan mengurangi jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan.

Dari penjelasan di atas terlihat adanya hubungan positif antara tingkat harga dan kuantitas output perekonomian; ketika tingkat harga dalam perekonomian mengalami penurunan, jumlah output perekonomian dalam jangka pun akan mengalami penurunan; sebaliknya, ketika tingkat harga mengalami peningkatan, jumlah output perekonomian akan mengalami peningkatan. Kondisi inilah yang digambarkan dalam bentuk kurva penawaran agregat jangka pendek yang memiliki kemiringan positif.

3. Teori KesalahPahaman (Misperception Theory)

Menurut teori ini, perubahan harga yang terjadi dalam suatu perekonomian terkadang menimbulkan kesalahpahaman perusahaan terkait apa yang sebenarnya terjadi dalam perekonomian. Misalnya, ketika dalam perekonomian terjadi peningkatan tingkat harga, pada awalnya perusahaan akan memandang hal ini sebagai peningkatan harga relatif barangnya terhadap barang lain, walaupun sebenarnya peningkatan harga terjadi hampir di semua produk. Karena perusahaan menganggap harga produknya tinggi, insentif perusahaan untuk memproduksi barang ini pun menjadi meningkat sehingga peningkatan produksi pun merupakan respons, perusahaan yang akan terjadi menghadapi kondisi peningkatan tingkat harga.

Sebaliknya ketika terjadi penurunan tingkat harga dalam perekonomian, perusahaan memandang hal ini sebagai penurunan harga relatif barangnya dibandingkan dengan barang lain (walaupun sebenarnya penurunan harga ini terjadi di sejumlah barang/jasa). Karena harga produknya lebih rendah.

insentif perusahaan untuk berproduksi akan menurun dan akhirnya berakibat pada penurunan output perekonomian.

Pergeseran Kurva Penawaran Agregat Jangka Pendek

Di samping perubahan tingkat harga, sebenarnya terdapat faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi perubahan tingkat produksi suatu perekonomian dalam jangka pendek, di antaranya adalah perubahan tenaga kerja, modal, sumber daya alam, teknologi, dan perkiraan tingkat harga. Jika faktor nonharga ini mengalami perubahan, maka akan terefleksi pada kurva dalam bentuk pergeseran kurva. Perhatikan penjelasan dalam Tabel 7.1 berikut.

Tabel 7.1 Faktor Yang Memengaruhi Pergeseran Kurva Penawaran Agregat Jangka Pendek

Penjelasan mengenai faktor perubahan tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan perubahan teknologi sebelumnya telah dibahas pada bagian kurva penawaran agregat jangka panjang. Keempat faktor ini tidak hanya mendorong pergeseran kurva penawaran jangka panjang, juga ikut mendorong pergeseran kurva penawaran agregat jangka pendek. Sementara untuk faktor kelima, yaitu ekspektasi tingkat harga, faktor ini hanya akan memengaruhi kurva penawaran agregat dalam jangka pendek. Ketika tingkat harga diperkirakan akan mengalami penurunan, maka kurva penawaran jangka pendek akan bergeser ke kanan, sementara ketika tingkat harga diperkirakan akan mengalami peningkatan, maka kurva penawaran agregat jangka pendek akan mengalami pergeseran ke kiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Penjelasan tentang pengaruh ekspektasi tingkat harga terhadap pergeseran kurva penawaran jangka pendek sebenarnya tidak terlepas dari teori kekakuan harga, teori kekakuan upah, dan teori mispersepsi/ kesalahpahaman. Ketiga teori ini mengungkapkan bahwa ekspektasi tingkat hargalah yang pada awalnya akan memengaruhi keputusan produksi perusahaan.

Misalnya, pada teori kekakuan upah, jika perusahaan berekspektasi bahwa tingkat harga di masa mendatang akan tinggi, maka perusahaan akan mempekerjakan pekerja dengan kontrak upah yang tinggi. Tingginya biaya tenaga kerja ini akan meningkatkan biaya produksi yang akhirnya mendorong perusahaan untuk berproduksi dalam jumlah yang lebih sedikit. 

Namun, jika ekspektasi harga ini berubah dari ekspektasi awal, misalnya berupa penetapan ekspektasi harga yang lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya, beban biaya perusahaan tentu akan makin meningkat karena upah yang harus dibayarkan kepada karyawannya naik. Alhasil, jumlah produksi perusahaan pun akan mengalami penurunan, dan kurva penawaran agregat jangka pendek pun bergeser ke kiri. 

Sebaliknya, jika ekspektasi harga mengalami penurunan, beban biaya perusahaan tentu juga akan mengalami penurunan karena upah karyawannya dapat dibayarkan dengan tingkat yang lebih rendah sehingga output produksi akan terdorong naik, yang ditandai dengan bergesernya kurva penawaran jangka pendek ke kanan.

Untuk lebih jelasnya silakan Anda perhatikan Gambar 7.4 berikut ini!

Gambar 7.4 Pergeseran Kurva Penawaran Agregat Jangka Pendek

Keterangan: (1) menandakan bahwa penawaran agregat jangka pendek mengalami peningkatan yang ditandai oleh pergeseran kurva penawaran agregat jangka pendek ke kanan, sementara (2) menunjukkan terjadinya penurunan penawaran agregat jangka pendek.

C. KESEIMBANGAN MAKROEKONOMI

Keseimbangan makro ekonomi ditentukan oleh interaksi penawaran agregat (AS) dan permintaan agregat (AD). Interaksi dari AS yang utamanya didorong oleh output potensial/PDB potensial dan AD yang didorong oleh total pembelanjaan dan faktor-faktor penentu, menghasilkan output yang akan bisa analisis, yaitu: 1) Tingkat PDB riil, 2) Banyaknya jenis pekerjaan dan rata-rata tenaga kerja, 3) Harga, dan 4) Rata-rata inflasi.

Dari Gambar 7.5 kita dapat diterangkan bagaimana keseimbangan ekonomi jangka pendek ditentukan. Terlihat bahwa kurva AD yang menggambarkan keseluruhan entitas ekonomi, yaitu konsumen, pengusaha, warga negara asing, dan pemerintah yang akan membeli pada tingkat harga agregat yang berbeda, dan kurva AS yang menggambarkan hubungan antara harga yang dipatok pengusaha dan banyaknya hasil produksi yang akan mereka hasilkan dan jual, berpotongan di titik E. 

Titik E ini mempunyai arti bahwa permintaan agregat adalah sama dengan penawaran agregat pada pendapatan nasional riil sebanyak YE dan pada tingkat harga Pe. Titik E menggambarkan keseimbangan yang akan dicapai dalam perekonomian karena perusahaan-perusahaan tidak akan menambah atau mengurangi output yang diproduksi dan kegiatan ekonomi telah mencapai keadaan yang stabil.

Gambar 7.5 Keseimbangan Makroekonomi Jangka Pendek

Untuk membuktikan bahwa titik E adalah titik keseimbangan yang menentukan tingkat harga, pendapatan nasional dan kesempatan kerja, maka perlu diperhatikan keadaan yang akan berlaku jika tingkat harga lebih tinggi atau lebih rendah daripada Pc.

Jika tingkat harga berada di atas tingkat harga keseimbangan Pc- yaitu Po, maka penawaran agregat Yi lebih besar dari permintaan agregat adalah Yj sehingga terjadi kondisi kelebihan penawaran sebanyak AB. Untuk menjamin semua barang yang diproduksi perekonomian dapat terjual, tingkat harga tentu harus diturunkan agar peningkatan permintaan dapat terwujud. 

Penurunan tingkat harga ini akan terus berlangsung hingga jumlah produksi output perekonomian sama dengan jumlah output yang diminta oleh perekonomian. Alhasil, titik E merupakan titik keseimbangan yang akan terwujud karena di titik ini. jumlah penawaran perekonomian akan sama dengan jumlah permintaan.

Sebaliknya, jika tingkat harga berada di bawah tingkat harga keseimbangan Pe, yaitu P1. permintaan agregat berada pada Y2 dan penawaran agregat hanya sebesar Y. Karena permintaan agregat lebih besar dibandingkan penawaran agregat, maka terjadi kelebihan permintaan sebanyak CD. 

Karena jumlah produksi output terbatas sementara permintaan terhadap output tersebut besar, maka tingkat harga akan terdorong untuk naik. Peningkatan tingkat harga ini akan terus berlangsung hingga tingkat harga mencapai Pe. Pada saat ini. jumlah penawaran sama dengan jumlah permintaan.

Pembahasan di atas mengacu pada keseimbangan perekonomian jangka pendek. Kemudian bagaimana dengan keseimbangan perekonomian jangka panjang, dan di mana kah titik keseimbangan terbentuk? Untuk lebih jelasnya, silakan Anda baca pemaparan di berikut ini.

Output dan tingkat harga jangka panjang ditentukan dari perpotongan antara kurva permintaan dan kurva penawaran jangka panjang, seperti yang digambarkan pada titik E pada Gambar 7.6. Pada keseimbangan jangka panjang ini, output berada di tingkat potensialnya.

Karena perekonomian selalu berada dalam jangka pendek, maka kurva penawaran jangka pendek juga akan melewati titik ini. menandakan bahwa ekspektasi terhadap tingkat harga perusahaan yang menjadi pertimbangan pembentukan kurva penawaran agregat jangka pendek merujuk pada tingkat harga keseimbangan jangka panjang. 

Terbentuknya titik keseimbangan di titik E (perpotongan kurva permintaan agregat dan kurva penawaran agregat jangka pendek dan jangka panjang) menandakan bahwa keseimbangan berada dalam jangka panjang. Ekspektasi tingkat harga akan sama dengan tingkat harga yang akan terwujud sehingga perpotongan kurva permintaan agregat dan kurva penawaran jangka pendek akan sama dengan perpotongan kurva permintaan dan kurva penawaran jangka panjang. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda perhatikan Gambar 7.6 berikut ini.

Gambar 7.6 Keseimbangan Makro Ekonomi Jangka Panjang Efek Pergeseran Kurva Permintaan dan Penawaran Agregat

1. Pergeseran Kurva Permintaan Agregat

Titik keseimbangan E sebenarnya dapat mengalami perubahan jika muncul kondisi yang mendorong terjadinya pergeseran kurva permintaan dan penawaran agregat. Misalnya, ketika terjadi penurunan pengeluaran dalam perekonomian yang disebabkan oleh berkurangnya pengeluaran konsumsi, pengeluaran investasi, pengeluaran pemerintah, serta pengeluaran untuk membeli barang luar negeri, akan memindahkan kurva permintaan dari AD» menjadi AD1. sehingga kondisi keseimbangan pun bergeser dari E0 ke E1. Di titik E1. tingkat harga turun menjadi P1 dan pendapatan nasional riil berkurang menjadi Y1.

Namun, analisis terkait permintaan agregat dan penawaran agregat tidak bisa berhenti hingga di sini. Analisis perubahan keseimbangan yang terjadi harus diupayakan memiliki hubungan dengan kondisi yang akan terjadi di jangka panjang.

Gambar 7.7 Pergeseran Kurva Permintaan Agregat

Bagaimana keseimbangan jangka pendek bisa bergerak menuju keseimbangan jangka panjang? Jika diamati, titik keseimbangan E, yang baru terbentuk berada di bawah output optimal dengan tingkat harga yang lebih rendah dari tingkat harga yang diekspektasikan. Karena tingkat harga yang terealisasi lebih rendah dari yang diekspektasikan sebelumnya, pembentukan ekspektasi harga pada waktu selanjutnya juga akan mengalami penyesuaian mengikuti rendahnya tingkat harga yang terealisasi. Alhasil, ekspektasi harga pun akan mengalami penurunan. 

Penurunan ekspektasi harga ini akan diikuti oleh penurunan tingkat upah pekerja, tingkat harga, dan persepsi (sesuai dengan teori kekakuan upah, teori kekakuan harga, dan teori kesalahpahaman), yang akhirnya akan mendorong peningkatan produksi output dalam perekonomian. Peningkatan produksi ini ditandai dengan terjadinya pergeseran kurva penawaran agregat jangka pendek ke arah kanan, yaitu dari SRAS0 ke SRAS1. 

Pergeseran kurva penawaran agregat jangka pendek ini. dengan berpotongan dengan kurva permintaan agregat AD1. akan membentuk titik keseimbangan baru di E2. Di titik keseimbangan ini terlihat bahwa tingkat output akan kembali ke tingkat output optimumnya (tingkat output jangka panjang) sebesar Qo.

Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa pada dasarnya, dalam mengamati pergeseran titik keseimbangan ekonomi terkait keseimbangan penawaran agregat dan permintaan agregat, terdapat empat hal yang perlu diamati secara berurutan, yaitu 1) mengamati kurva mana yang akan terpengaruh oleh suatu kejadian, 2) ke mana arah pergerakan kurva tersebut. 3) bagaimana kondisi titik keseimbangan yang baru jika dibandingkan dengan kondisi keseimbangan sebelumnya, serta 4) menemukan kondisi yang menghubungkan antara keseimbangan jangka pendek dan keseimbangan jangka panjang. Penjelasan ini akan diberikan dengan lebih jelas dalam Tabel 7.2 berikut:

Tabel 7.2 Tahap Perubahan Keseimbangan Jangka Panjang

Tabel 7.2 di atas merupakan penyajian ringkas dari empat tahap yang diperlukan dalam mengamati terjadinya perubahan keseimbangan permintaan dan penawaran agregat dalam perekonomian.

2. Pergeseran Kurva Penawaran Agregat

Pada Gambar 7.8, ditunjukkan perubahan keseimbangan dalam kegiatan ekonomi sebagai efek dari perubahan AS. Pada awalnya keseimbangan berada pada titik E0 yang menggambarkan pendapatan nasional riil Y0 dan tingkat harga P0. Jika dimisalkan harga barang-barang impor dan bahan- bahan mentah mengalami peningkatan, maka peningkatan ini akan berefek pada pergeseran kurva dari AS0 menjadi AS1 dan titik keseimbangan baru yang dicapai berada pada titik E1. Artinya, pendapatan nasional riil turun menjadi Y1 dan tingkat harga naik menjadi P1. Kondisi naiknya tingkat harga (inflasi) yang diiringi dengan penurunan output perekonomian (stagnasi) ini dikenal juga dengan nama stagflasi.

Kondisi keseimbangan yang menimbulkan stagflasi ini akan ikut memengaruhi penentuan tingkat upah pekerja. Karena tingkat harga yang terjadi menjadi lebih tinggi, perusahaan akan merespon dengan meningkatkan ekspektasinya terhadap harga di masa mendatang. Konsekuensinya, upah pekerja pun ditetapkan lebih tinggi dari upah yang berlaku sekarang. Karena upah yang lebih tinggi ini mendorong peningkatan biaya produksi, perusahaan akan terdorong untuk mengurangi output-nya. Kondisi ini mendorong pergeseran kurva penawaran agregat jangka pendek untuk makin bergeser ke kiri sehingga akan makin memperparah stagflasi yang terjadi (keseimbangan bisa mencapai titik E3). Pertanyaan menarik terkait hal ini adalah, apakah stagflasi ini berlangsung terus-menerus sehingga keseimbangan perekonomian jangka panjang tidak dapat tercapai?

Untuk diingat, terjadinya peningkatan upah akan meningkatkan peluang pekerja untuk menjadi pengangguran. Bagaimanapun, upah merupakan biaya bagi perusahaan, dan peningkatan tingkat upah akan memiliki konsekuensi terhadap peningkatan biaya yang harus ditanggung perusahaan. Untuk menyiasati peningkatan upah ini. perusahaan memiliki dua pilihan, yaitu menurunkan tingkat upah pekerja, dan mengurangi pegawai. Pilihan pertama tidak dapat dilakukan oleh perusahaan karena tingkat upah telah ditetapkan dalam sebelumnya dengan pegawai. Alternatifnya, untuk mengurangi beban biaya, perusahaan akan mengurangi jumlah pekerja di perusahaannya.

Karena kini jumlah pengangguran makin meningkat dan output makin menurun, dorongan peningkatan upah menjadi makin berkurang dalam perekonomian. Alhasil, upah mulai mengalami penurunan dan biaya produksi perusahaan pun dapat ditekan. Dengan adanya kondisi ini. perusahaan pun akan terinsentif untuk memproduksi output-nya lebih banyak (ditandai dengan mulai bergesernya kurva penawaran agregat ke kanan). Output total pun akhirnya mulai meningkat kembali, hingga akhirnya mencapai tingkat

Gambar 7.8 Efek Perubahan Permintaan Agregat

Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa terjadinya penurunan output perekonomian dalam jangka pendek dapat dikoreksi sendiri oleh sisi penawaran agregat sehingga dalam jangka panjang, tingkat output yang terjadi dapat kembali ke tingkat output optimalnya, yaitu Q0.

Untuk diingat, kondisi di atas digambarkan dengan asumsi bahwa kurva permintaan agregat tidak mengalami perubahan. Namun, dalam kenyataannya, pembuat kebijakan tidak akan tinggal diam dalam menghadapi kondisi stagflasi yang terjadi. Pemerintah sering menggunakan kemampuannya dalam memengaruhi kurva permintaan agregat, melalui berbagai kebijakan fiskal dan moneter, untuk mengembalikan perekonomian ke tingkat output optimalnya. Misalnya, pemerintah dapat mendorong peningkatan pengeluaran perekonomian dengan meningkatkan pengeluaran pemerintah yang akhirnya mendorong kurva permintaan agregat untuk bergeser ke kanan, dari AD0 ke AD1. Perekonomian pun akhirnya dapat kembali ke tingkat output optimumnya, meskipun dengan tingkat harga yang lebih tinggi dari tingkat harga semula. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda perhatikan Gambar 7.9.

Gambar 7.9 Efek Perubahan Penawaran Agregat

Kesimpulan Tentang Kurva_Penawaran_Agregat_dan_Determinan_Penawaran_Agregat

Kurva penawaran agregat (Aggregate Supply, AS) menunjukkan jumlah total barang/jasa yang dihasilkan dan dijual perusahaan pada tingkat harga tertentu. Kurva penawaran dibangun atas dasar asumsi cateris paribus, yaitu hanya faktor harga yang diizinkan mengalami perubahan, sementara faktor lain diasumsikan tetap. Asumsi inilah yang menyebabkan perbedaan bentuk kurva penawaran agregat jangka pendek dan jangka panjang.

Dalam jangka pendek, peningkatan harga dalam perekonomian akan mendorong terjadinya peningkatan output barang/jasa yang diproduksi, sehingga dalam jangka pendek bentuk kurva penawaran agregat akan memiliki kemiringan positif. Sedangkan tingkat harga tidak memengaruhi kemampuan perekonomian untuk menghasilkan barang/ jasa dalam jangka panjang, maka kurva penawaran agregat dalam jangka panjang akan berbentuk vertikal. Ada tiga teori yang menjelaskan tentang kurva penawaran agregat jangka pendek yang memiliki kemiringan yang positif, yaitu: 1) teori kekakuan upah. 2) teori kekakuan harga, dan 3) teori kesalahpahaman.

Pembahasan Ke Dua (2)

Istilah Pertumbuhan Ekonomi Dalam Ilmu (Ekonomi_Makro)

Untuk pertemuan ini. kita akan membahas tentang pertumbuhan ekonomi, faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi, dan cara penghitungan pertumbuhan ekonomi. Untuk lebih jelasnya silakan Anda baca paparan berikut ini.

Pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai: perkembangan kegiatan perekonomian yang menyebabkan bertambahnya barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat. Seorang ekonom peraih Nobel ekonomi tahun 1971 mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas suatu negara dalam rangka menyediakan berbagai barang ekonomi kepada para penduduknya dalam jangka panjang. 

Pertumbuhan ekonomi juga mencerminkan berapa tingkat perubahan output tahun ini terhadap output tahun lalu dan perubahan tersebut dibandingkan dengan output tahun lalu. Dari kedua definisi tersebut dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan analisis makro ekonomi dalam jangka panjang, ketika peningkatan kemampuan suatu negara dalam menghasilkan barang dan jasa terlihat dalam satu periode ke periode lainnya. 

Penyebab meningkatnya kemampuan ini adalah faktor produksi yang selalu bertambah baik secara jumlah maupun kualitas. Akan tetapi, peningkatan kemampuan ini biasanya tidak selalu dibarengi dengan pertambahan jumlah produksi barang dan jasa yang sama besarnya. 

Studi yang dilakukan World Bank pada tahun 1974 menunjukkan bahwa peningkatan PDB per kapita tidak menjamin peningkatan signifikan pada indikator pembangunan seperti nutrisi, kesehatan, dan pendidikan. Hal ini terjadi karena keuntungan yang diperoleh dari peningkatan PDB hanya ‘menetes' kepada sebagian kecil populasi saja.

A. FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN PERTUMBUHAN EKONOMI

Bagaimana output tahun ini dapat meningkat dibanding output tahun lalu? Terdapat beberapa faktor yang menentukan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara yaitu:

1. Tanah dan Kekayaan Alam

Kekayaan alam suatu negara meliputi luas tanah dan kesuburannya, iklim dan cuaca, jumlah dan jenis hasil hutan, hasil laut serta jumlah dan jenis bahan tambang yang ada. Adanya kekayaan alam membantu mempermudah usaha mengembangkan perekonomian suatu negara.

Gambar 7.10 Hutan yang telah Rusak

2. Jumlah dan Kualitas dari Penduduk dan Tenaga Kerja

Pertambahan jumlah penduduk yang disertai dengan peningkatan mutu dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pertambahan jumlah penduduk akan memperbesar jumlah tenaga kerja, sehingga memungkinkan untuk menambah jumlah produksi. Selain itu. dengan adanya pendidikan, latihan, dan keterampilan yang meningkat akan menambah produktivitas. Akibat lain dari perkembangan penduduk adalah makin luasnya pasar dari barang-barang yang dihasilkan sektor industri.

3. Barang-barang Modal dan Tingkat Teknologi

Bertambahnya barang-barang modal yang disertai dengan perkembangan tingkat teknologi mempunyai arti penting dalam mempertinggi keefisienan pertumbuhan ekonomi. Terdapat beberapa efek positif yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi, yaitu: a) Kemajuan teknologi mempertinggi efisiensi kegiatan produksi barang, karena dapat menurunkan biaya produksi dan meninggikan jumlah produksi, dan b) Kemajuan teknologi menimbulkan penemuan barang baru yang belum pernah diproduksi sebelumnya, sehingga dapat menambah barang dan jasa yang digunakan oleh masyarakat. Kemajuan teknologi dapat mempertinggi mutu barang yang diproduksi tanpa disertai peningkatan harga.

4. Sistem Sosial dan Sikap Masyarakat

Sistem sosial dan sikap masyarakat mempunyai peranan penting dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Perombakan dalam sistem sosial yang modern dengan menghapuskan sistem feodal merupakan langkah yang perlu dilakukan. Selain itu, perlu juga diciptakan perubahan dalam sikap masyarakat agar bersedia untuk bekerja keras dan mengembangkan kegiatan- kegiatan dalam rangka mengembangkan usaha untuk meningkatkan pendapatan dan keuntungan yang lebih banyak. Hal ini dapat dicapai dengan memperluas fasilitas pendidikan dan peningkatan taraf pendidikan bagi masyarakat.

B. PENGHITUNGAN TINGKAT PERTUMBUHAN

Tingkat pertumbuhan ekonomi dinyatakan sebagai persentase perubahan tahunan dari PDB riil. Untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi, digunakan formula:

Tingkat pertumbuhan PDB riil menyatakan seberapa cepat perekonomian berkembang secara keseluruhan. Pengukurannya dapat memberikan informasi tentang perubahan kekuatan perekonomian suatu negara dibandingkan negara lainnya. Namun, tidak memberikan informasi perubahan standar hidup. Standar hidup tergantung dari PDB riil per kapita yang didapatkan dengan membagi PDB riil dengan jumlah populasi. Jadi, kontribusi perubahan PDB riil terhadap perubahan standar hidup tergantung pada tingkat pertumbuhan PDB riil per kapita.

Misalnya, ketika PDB riil sebesar Rp 110 triliun pada tahun 2006, populasi sebesar 200 juta orang. Maka PDB riil per kapita adalah RpllO triliun dibagi 200 juta yaitu sebesar Rp550 ribu. Jika pada tahun sebelumnya (2005) jumlah PDB riil sebesar Rp 100 triliun dengan populasi sebanyak 198 juta orang maka PDB riil per kapita pada tahun 2005 sebesar Rp505.000. Dari kedua PDB riil per kapita tersebut bisa didapatkan tingkat pertumbuhan PDB riil per kapitanya.

Contoh: Jika PDB riil Indonesia tahun 2006 sebesar RpllO triliun dan Rp 100 triliun pada tahun 2005 maka tingkat pertumbuhan ekonominya adalah:

Pertumbuhan tingkat PDB riil per kapita juga dapat dihitung dengan mengurangi tingkat pertumbuhan PDB riil dengan tingkat pertumbuhan populasi. Tingkat pertumbuhan PDB riil sebesar 10 persen sedangkan tingkat pertumbuhan populasi dari 198 juta menjadi 200 juta sebesar 1 persen. Tingkat pertumbuhan PDB riil per kapita didapatkan sebesar 9 persen.

PDB riil per kapita hanya tumbuh jika pertumbuhan PDB riil-nya melebihi pertumbuhan populasi. Jika pertumbuhan populasi melebihi pertumbuhan PDB riil maka PDB riil per kapita akan menurun.

C. SUMBER-SUMBER PERTUMBUHAN EKONOMI

Karena PDB riil tumbuh ketika terjadi pertumbuhan kuantitas faktor produksi, atau ketika terjadi kemajuan teknologi yang berdampak pada peningkatan produktivitas faktor produksi, maka pemahaman terhadap faktor-faktor penentu tingkat pertumbuhan dari faktor produksi dan tingkat pertumbuhan produktivitas merupakan hal yang perlu diperdalam terlebih dahulu agar dapat memahami sumber-sumber yang menentukan tingkat pertumbuhan PDB riil.

1. Kuantitas Faktor Produksi (Jumlah Jam Kerja (aggregate hours))

Jumlah jam kerja adalah waktu yang diperlukan seseorang untuk berproduksi selama satu tahun, yang dapat dihitung dengan mengalikan jumlah orang yang bekerja dengan rata-rata jam kerja tiap individu; dan jumlah orang yang bekerja akan sama dengan populasi usia kerja dikalikan dengan rasio pekerja terhadap populasi (employment-to-population ratio). Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa perubahan jumlah jam kerja dipengaruhi oleh hal berikut.

  • a. Pertumbuhan populasi usia kerja.
  • b. Perubahan rasio pekerja terhadap populasi.
  • c. Perubahan rata-rata jam kerja tiap pekerja.

2. Produktivitas Tenaga Kerja

Produktivitas tenaga kerja adalah kuantitas PDB riil yang diproduksi oleh seorang pekerja dalam tiap satu jam kerja. Didapatkan dengan membagi PDB riil dengan jumlah jam kerja. Contoh: PDB riil sebesar Rp 100 triliun dan jumlah jam kerja sebesar 20 miliar maka produktivitas tenaga kerjanya sebesar Rp5.000. Ketika produktivitas tenaga kerja meningkat. PDB riil per kapita meningkat dan berdampak pada peningkatan standar hidup. Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh 3 faktor berikut, 

  • a. Pertumbuhan modal fisik.
  • b. Pertumbuhan modal manusia.
  • c. Penguasaan teknologi.

Pertumbuhan modal fisik merupakan hasil dari akumulasi tabungan dan investasi. Ketika jumlah modal per tenaga kerja meningkat maka produktivitasnya juga meningkat. Misalnya, melalui pengadaan mesin, pabrik-pabrik baru, peralatan dan investasi untuk R&D. Investasi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas industri dalam sebuah negara. Namun, sebuah perspektif lain ditawarkan oleh Lucas yang mengatakan bahwa kemajuan teknologi dapat diperoleh melalui investasi sumber daya manusia. Menurutnya, produktivitas sebuah perekonomian ditentukan oleh besarnya investasi sumber daya manusia di negara tersebut. Program pendidikan, pelatihan kerja, kursus-kursus dapat meningkatkan keterampilan pekerja. Dengan tingkat sumber daya manusia yang baik dan modal fisik melimpah akan menghasilkan output yang lebih besar.

Teori pertumbuhan ekonomi telah menempatkan teknologi sebagai faktor endogen. Artinya, pertumbuhan teknologi ditentukan oleh faktor- faktor internal dalam sebuah perekonomian. Dalam pengertian yang paling sederhana, kemajuan teknologi terjadi karena ditemukannya cara baru atau perbaikan atas cara-cara lama dalam melakukan produksi. Romer menyebutnya dengan “ide” untuk melakukan "sesuatu”. Penjelasan di atas dapat dirangkum dalam bagan berikut:

Bagan 7.1 Sumber-sumber Pertumbuhan Ekonomi

D. TEORI-TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI

1. Teori Pertumbuhan Klasik

Menurut ahli ekonomi klasik terdapat empat faktor yang menentukan dalam pertumbuhan ekonomi yaitu, jumlah penduduk, jumlah stok barang, luas tanah, dan kekayaan alam yang dimiliki serta tingkat teknologi yang digunakan. Dari keempat faktor ini yang lebih diutamakan adalah faktor pertambahan penduduk. Menurut pandangan mereka hukum hasil tambahan yang makin berkurang akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi, yang artinya pertumbuhan ekonomi pertumbuhan ekonomi tidak akan berlangsung terus menerus. Awalnya, jika penduduk sedikit dan kekayaan alam relatif berlebihan, maka tingkat pengembalian modal dari investasi yang dibuat adalah tinggi. Sehingga pengusaha akan mendapatkan keuntungan yang besar pula untuk kemudian digunakan sebagai investasi yang baru.

Akan tetapi, keadaan ini tidak dapat berlangsung secara terus menerus. Apabila penduduk sudah terlalu banyak, pertambahannya akan menurunkan tingkat kegiatan ekonomi karena produktivitas tiap penduduk telah menjadi negatif. Sehingga kemakmuran masyarakat akan menurun kembali dan ekonomi akan mencapai tingkat yang sangat rendah.

Berdasar teori tersebut dikemukakan teori yang menjelaskan keterkaitan antara pendapatan per kapita dengan jumlah penduduk yang dinamakan Teori Penduduk Optimum. Teori ini menjelaskan bahwa jika terdapat kekurangan penduduk, produksi marjinal akan lebih tinggi, maka pertambahan penduduk akan menaikkan pendapatan per kapita. Akan tetapi, apabila penduduk sudah makin banyak, hukum hasil tambahan yang makin berkurang akan memengaruhi fungsi produksi, yaitu produksi marjinal akan mengalami penurunan. Oleh karenanya, pendapatan per kapita dan pendapatan nasional menjadi makin lambat pertumbuhannya.

2. Teori Schumpeter Tentang Pertumbuhan Ekonomi

Pada teori pertumbuhan Schumpeter, analisis dimulai dengan memisalkan bahwa perekonomian sedang dalam keadaan tidak berkembang. Tetapi, keadaan ini tidak berlangsung lama. Pada saat keadaan tersebut berlaku, segolongan pengusaha menyadari berbagai kemungkinan untuk mengadakan inovasi yang menguntungkan. 

Didorong keinginan untuk mendapat keuntungan, dilakukan penanaman modal. Investasi yang baru ini akan meninggikan tingkat kegiatan ekonomi negara, sehingga pendapatan masyarakat akan bertambah dan seterusnya konsumsi masyarakat akan bertambah tinggi. Kenaikan tersebut akan mendorong perusahaan lain untuk menghasilkan lebih banyak barang dan melakukan penanaman modal baru. Maka menurut Schumpeter, investasi dibagi dalam dua golongan, yaitu 

  • (i) penanaman modal otonomi yang ditimbulkan oleh kegiatan ekonomi yang timbul sebagai akibat kegiatan inovasi dan 
  • (ii) penanaman modal terpengaruh.

Menurut Schumpeter makin tinggi tingkat kemajuan suatu ekonomi makin terbatas kemungkinan untuk mengadakan inovasi, sehingga pertumbuhan ekonomi akan makin lambat. Pada akhirnya, tercapai keadaan stationary state. Akan tetapi, berbeda dengan teori pertumbuhan klasik, keadaan ini dicapai pada tingkat pertumbuhan yang tinggi.

Teori ini menekankan pentingnya peranan pengusaha, sebagai golongan yang akan terus-menerus membuat pembaharuan atau inovasi dalam kegiatan ekonomi. Inovasi ini meliputi: memperkenalkan barang-barang baru, mempertinggi efisiensi produksi barang, memperluas pasar, mengembangkan sumber bahan mentah baru dan mengadakan perubahan organisasi dalam rangka mempertinggi efisiensi kegiatan perusahaan.

3. Teori Harrod - Domar Tentang Pertumbuhan Ekonomi

Teori Harrod - Domar menerangkan syarat yang harus dipenuhi agar perekonomian dapat mencapai pertumbuhan yang teguh dalam jangka panjang. Dalam analisisnya digunakan pemisalan-pemisalan berikut (i) barang modal telah mencapai kapasitas penuh, (ii) tabungan adalah proporsional dengan pendapatan, (iii) rasio modal-produksi tetap nilainya, dan (iv) perekonomian terdiri atas dua sektor.

Dalam analisisnya, ditunjukkan bahwa untuk memacu pertumbuhan ekonomi, setiap perekonomian hendaknya menabung sebagian tertentu dari pendapatan nasionalnya untuk menggantikan atau menambah barang-barang modal yang sudah rusak karena diasumsikan ada hubungan langsung antara stok modal (K) dengan GNP total (Y). Hubungan antara stok modal dengan GNP total dikenal sebagai rasio modal output (k) sedangkan rasio tabungan nasional (s) merupakan bagian output nasional yang selalu ditabung. Jika jumlah investasi baru ditentukan oleh jumlah tabungan total (S) maka model pertumbuhan ekonomi dapat dirumuskan sebagai berikut:

Hubungan yang menyatakan bahwa tabungan (S) merupakan bagian tertentu (s) dari pendapatan nasional (Y) dapat dibuat persamaannya seperti berikut;

Berdasarkan persamaan tersebut diketahui bahwa pertumbuhan PDB berbanding lurus dengan tingkat tabungan dan berbanding terbalik dengan rasio modal-output. Dari persamaan (10) dapat dinyatakan bahwa agar sebuah perekonomian bisa tumbuh dengan pesat maka diperlukan tabungan dan investasi sebanyak mungkin dari bagian GNP-nya. Makin banyak bagian

GNP yang ditabung untuk kemudian diinvestasikan akan berdampak pada makin cepatnya laju pertumbuhan ekonomi.

Dapat disimpulkan bahwa analisis ini merupakan pelengkap analisis Keynesian, ketika analisis Keynesian memperhatikan persoalan ekonomi jangka pendek, sedangkan Harrod-Domar prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Melalui analisis ini dapat dilihat (i) dalam jangka panjang pertambahan pengeluaran agregat yang berkepanjangan perlu dicapai untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi, dan (ii) pertumbuhan ekonomi yang teguh hanya mungkin dicapai jika I + G + (X-M) terus menerus dengan tingkat yang baik.

4. Teori Pertumbuhan Ekonomi Neo-Klasik

Teori pertumbuhan neoklasik diawali dengan penyederhanaan asumsi yang menyatakan bahwa tidak ada pertumbuhan teknologi. Secara tidak langsung teori ini menyatakan bahwa perekonomian mencapai tingkat output dan modal jangka panjang pada kondisi steady-state, yaitu pada saat perubahan PDB dan modal per kapitanya nol, Δy = 0 dan Δk = 0. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda perhatikan Gambar 7.10 berikut ini.

Gambar 7.10 Fungsi Produksi per Kapita

Teori penumbuhan Neo-Klasik yang dikembangkan oleh Abramovitz dan Solow terdiri atas tiga tahap. Pertama, melihat bagaimana berbagai variabel ekonomi menentukan terjadinya kondisi steady-state. Kedua, mempelajari transisi dari kondisi perekonomian saat ini menjadi steady-state. Ketiga, menambahkan kemajuan teknologi ke dalam model

Gambar 7.10 menyatakan fungsi produksi dalam PDB per kapita terhadap rasio modal-tenaga kerja. Fungsi produksi per kapita ditulis sebagai berikut;

y = f(k)

Ketika modal meningkat, output meningkat (marginal product of capital positif), tetapi peningkatan output tersebut makin berkurang ketika tingkat modal makin tinggi. Tiap tambahan mesin akan meningkatkan produksi, namun tambahan tersebut makin berkurang jika dibandingkan dengan tambahan yang dihasilkan mesin sebelumnya. Jadi, tambahan produksi yang makin menurun adalah penjelasan kunci mengapa perekonomian berada pada kondisi steady-state bukannya tumbuh terus-menerus.

a. Steady state

Sebuah perekonomian berada dalam kondisi steady-state ketika pendapatan per kapita dan modalnya konstan. Nilai steady-state dari pendapatan dan modal per kapita ditunjukkan dengan y* dan k*, yaitu nilai ketika investasi diperlukan untuk menyediakan modal bagi tenaga kerja baru dan untuk memperbaharui mesin yang telah terdepresiasi yang jumlahnya sama dengan tabungan yang dihasilkan dalam perekonomian. Jika jumlah tabungan melebihi investasi yang dibutuhkan, maka modal per pekerja meningkat yang kemudian berdampak pada peningkatan output per tenaga kerja. Tetapi, jika jumlah tabungan lebih kecil dari investasi yang dibutuhkan maka kapital dan output per tenaga kerja akan menurun. Nilai steady-state y' dan k* adalah tingkat output dan modal ketika jumlah tabungan dan investasi yang dibutuhkan seimbang.

b. Investasi dan tabungan

Investasi dibutuhkan untuk mempertahankan tingkat modal per kapita tertentu, k, yang besarnya dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi dan tingkat penyusutan. Pertama, asumsikan bahwa pertumbuhan populasinya konstan n = ΔN/N. Oleh karena itu. perekonomian memerlukan investasi sebesar nk untuk menyediakan modal bagi angkatan kerja baru. Kedua, asumsikan bahwa penyusutan terjadi dengan besaran yang tetap, yaitu sebesar d persen dari stok modal. Misalnya, terjadi penyusutan sebesar 10 persen tiap tahunnya. Artinya, setiap tahun 10 persen dari stok modal harus diganti dan diperbaiki atau dibutuhkan sebanyak dk mesin baru. Jadi, investasi yang dibutuhkan untuk mempertahankan tingkat modal per kapita sebesar (n + d)k.

Hubungan antara tabungan dan pertumbuhan modal bisa didapatkan dengan mengasumsikan bahwa tidak ada sektor pemerintah, perdagangan luar negeri, dan aliran modal. Asumsikan juga bahwa besaran tabungan adalah konstan, yaitu sebesar s. sdari pendapatan. Sehingga tabungan per kapita sebesar sy. Pada saat pendapatan sama dengan produksi, dapat dinyatakan seperti ini; sy = sf(k).

Perubahan bersih modal per kapita, Δk, merupakan kelebihan tabungan yang digunakan untuk membiayai investasi.

Δk = sy-(n + d)k

Kondisi steady-state di definisikan oleh Δk = 0 dan terjadi pada nilai y* dan k’ tercapai, sy* = sf (k*) - (n + d)k *

Gambar 7.12 menjelaskan tentang proses penyesuaian perekonomian dari posisi rasio modal-tenaga kerja awal hingga mencapai kondisi steady state. Elemen penting dalam proses transisi ini adalah tingkat tabungan dan investasi dibandingkan dengan tingkat penyusutan dan pertumbuhan populasinya.

Kunci untuk memahami model pertumbuhan Neo-Klasik adalah ketika tabungan. sy, melebihi kebutuhan investasi maka modal per kapita akan meningkat dan selama itu pula perekonomian bergerak ke kanan. Coba Anda perhatikan lagi Gambar 7.12! Ketika perekonomian memiliki rasio modal- output sebesar k() dan tabungan sebesar A, melebihi kebutuhan investasi B, maka k akan bergeser ke kanan. Pergeseran ini akan terhenti pada titik C ketika rasio modal-tenaga kerjanya k*. Pada titik ini, besarnya tabungan sama dengan kebutuhan investasi sehingga rasio modal-tenaga kerja tidak meningkat dan tidak berkurang. Pada kondisi seperti inilah steady state tercapai.

Implikasi penting dari teori pertumbuhan Neo-Klasik adalah bahwa negara-negara dengan tingkat tabungan, pertumbuhan populasi, dan teknologi yang sama seharusnya mengalami konvergensi pendapatan, walaupun proses konvergensi tersebut lambat. Jadi, pada saat steady state, k dan y konstan. Dengan pendapatan per kapita konstan, pendapatan aggregate tumbuh pada tingkat populasi yang sama sebesar n. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan steady state tidak dipengaruhi oleh tingkat tabungan.

5. Teori Pertumbuhan Ekonomi "Endogen"

Pada tahun 1980, ketidakpuasan terhadap teori pertumbuhan endogen mengemuka. Teori ini memasukkan pengaruh teknologi terhadap pertumbuhan jangka panjang, tetapi tidak menjelaskan bagaimana pertumbuhan teknologi tersebut tercipta.

Gambar 7.12

Gambar 7.13 Pertumbuhan Endogen

Pada model Solow, steady-state terjadi pada titik C dimana jumlah tabungan sama dengan investasi yang dibutuhkan. Selama jumlah tabungan melebihi kebutuhan investasi maka perekonomian akan terus tumbuh karena adanya penambahan modal. Namun, diminishing marginal product of capital menyebabkan fungsi produksi dan kurva tabungan menjadi mendatar. Jika garis investasi yang dibutuhkan memiliki slope positif maka akan terjadi perpotongan antara garis investasi yang dibutuhkan dengan kurva tabungan.

Hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan gambar di bawahnya, model pertumbuhan endogen. Model ini mengasumsikan constant marginal product of capital untuk fungsi produksi. Fungsi produksi pada model pertumbuhan endogen berbentuk garis lurus. Selama kurva tabungan tidak lagi mendatar maka jumlah tabungan selalu lebih besar dari investasi yang dibutuhkan. Makin besar tingkat tabungan, makin besar pula gap antara tabungan dengan investasi yang dibutuhkan sehingga pertumbuhannya makin cepat.

Implikasi dari perubahan asumsi tersebut adalah jika perusahaan menambah mesin sebanyak dua kali lipat maka output yang dihasilkan sebanyak dua kali lipat.

Secara matematis, model pertumbuhan endogen dapat diilustrasikan sebagai berikut, dengan asumsi constant marginal product of capital dan kapital sebagai satu-satunya faktor produksi.

Tingkat pertumbuhan modal berbanding lurus dengan tingkat tabungan. Oleh karena itu. ketika output berbanding lurus dengan modal maka tingkat pertumbuhan output adalah

Berdasarkan persamaan di atas, menunjukkan bahwa makin tinggi tingkat tabungan maka makin tinggi tingkat pertumbuhan output.

6. Karakteristik Pertumbuhan Ekonomi Modern Menurut Kuznet

Pada penjelasan sebelumnya sudah diulas bahwa Kuznet memandang pertumbuhan ekonomi sebagai peningkatan kapasitas jangka panjang sebuah perekonomian dalam rangka menyediakan kebutuhan bagi penduduknya. Menurutnya, kenaikan kapasitas tersebut dipengaruhi oleh kemajuan- kemajuan teknologi, institusional, dan ideologis terhadap tuntutan keadaan.

Kuznet juga mengemukakan karakteristik atau ciri dari proses pertumbuhan ekonomi yang bisa ditemui pada hampir semua negara maju, di antaranya hal berikut.

  • a. Tingkat pertumbuhan output per kapita dan pertumbuhan penduduk yang tinggi.
  • b. Tingkat kenaikan produktivitas faktor total yang tinggi.
  • c. Tingkat transformasi struktural ekonomi yang tinggi, d. Tingkat transformasi sosial dan ideologi yang tinggi.
  • e. Adanya kecenderungan negara-negara yang mulai atau yang sudah maju perekonomiannya menjadikan negara lain sebagai daerah pemasaran dan sumber bahan baku yang baru.
  • f. Terbatasnya penyebaran pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai sepertiga bagian penduduk dunia.

Menurut Kuznet, pada tahap awal pertumbuhan, distribusi pendapatan akan cenderung memburuk, dan pada tahap lanjutan distribusi pendapatan akan membaik. Penjelasan dari hal ini terkait dengan perubahan struktural. Pada tahap awal, sesuai dengan model Lewis, terkonsentrasi pada sektor modern yang memiliki keterbatasan tenaga kerja, namun memilik upah dan produktivitas yang tinggi. Kurva Kuznet terbentuk dari kondisi yang steady dari sektor modern yang mengalami peningkatan pertumbuhan pada saat terjadi sebuah negara berkembang dari sektor tradisional menuju perekonomian modern. Ada kemungkinan bahwa tingkat pengembalian dari pendidikan awalnya mengalami peningkatan seiring meningkatnya permintaan tenaga kerja terampil yang kemudian menurun ketika penawaran tenaga kerja terdidik meningkat dan tenaga kerja tak terdidik menurun.

Kesimpulan Konsep Pertumbuhan_Ekonomi

Seberapa besar output yang dihasilkan dalam sebuah perekonomian tergantung dari faktor input dan teknologi yang dimilikinya tidak cukup sekedar akumulasi modal. Peningkatan teknologi tersebut akan meningkatkan output per tenaga kerjanya sehingga fungsi produksi secara agregat akan meningkat.

Dalam jangka panjang, perekonomian akan mengalami konvergensi menuju kondisi steady state. Kondisi steady state ini dipengaruhi secara positif oleh tingkat tabungan. Makin tinggi tingkat tabungan maka akan makin tinggi pula tingkat steady state. Selama transisinya menuju kondisi ini tingkat tabungan selalu lebih besar dibandingkan dengan investasi yang dibutuhkan sehingga pertumbuhan output-nya positif.

Pembangunan ekonomi mempunyai tiga sifat penting, yaitu; pertama, sebagai suatu proses yang berarti merupakan perubahan yang terjadi secara terus menerus. Kedua, merupakan usaha untuk menaikkan pendapatan per kapita dan yang ketiga, pendapatan per kapita tersebut harus berlangsung dalam jangka panjang.

Empat pendekatan yang mendominasi teori pembangunan klasik. Pertama, model pertumbuhan tahapan linier. Kedua, model perubahan struktural. Ketiga, pendekatan ketergantungan internasional dan keempat model kontrarevolusi Neo Klasik.

Daftar Pembahasan Ekonomi Makro V.1 

Berikut ini adalah Daftar Link terkait pembahasan seputar materi ilmu Ekonomi Makro yang anda baca saat ini, silahkan anda buka link-link dibawah ini.
  1. Konsep Dasar Ilmu Ekonomi Sebagai Ilmu_Sosial (Belajar Ekonomi Makro V.1)
  2. Pendapatan Nasional, PDB Nominal & Riil Serta Indikator Pengukur Kinerja Ekonomi Suatu Negara
  3. Konsumsi, Tabungan, Investasi, Sistem Keuangan Serta Pasar Untuk Dana Pinjaman (Ekonomi Makro V.1)
  4. Permintaan Agregat dan Angka Pengganda_Bentuk Kurva dan Cara Menghitungnya (Pembahasan Ekonomi Makro V.1)
  5. Uang dan Peranannya dalam Perekonomian Serta Kebijakan Moneter (Materi Ekonomi Makro V.1)
  6. Peran Pemerintah Dalam Perekonomian dan Kebijakan Fiskal (Kegiatan Belajar Ekonomi Makro V.1)
  7. Penawaran Agregat dan Konsep Pertumbuhan_Ekonomi (Ekonomi Makro V.1)
  8. Stabilitas Harga, Pengangguran, Siklus Bisnis dan Inflasi (Materi Ilmu Ekonomi Makro V.1)
  9. Perekonomian Terbuka, Aliran Barang/Jasa, Neraca Pembayaran dan Kebijakan Serta Keseimbangan (Belajar Ekonomi_Makro V.1)