Ekonomi_Makro |Pendapatan Nasional, PDB Nominal & Riil Serta Indikator Pengukur Kinerja Ekonomi Suatu Negara - celotehpraja.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ekonomi_Makro |Pendapatan Nasional, PDB Nominal & Riil Serta Indikator Pengukur Kinerja Ekonomi Suatu Negara

Pendapatan Nasional, PDB Nominal Dan Riil - Indikator Pengukur Kinerja Ekonomi Suatu Negara

Pada awal tahun 2017, media massa sering memberitakan tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I sebesar 5,01%, lebih tinggi dibanding kuartal I 2016 yang hanya sebesar 4,92%. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal I 2017 mencapai 3.227,2 triliun rupiah. Pertumbuhan sektoral tertinggi dialami oleh sektor jasa informasi dan komunikasi yang mencapai 9,10 persen. Hal yang menjadi pertanyaan menarik adalah: ukuran apakah yang sebenarnya digunakan untuk menggambarkan nilai perekonomian suatu negara sehingga akhirnya dapat mengeluarkan angka-angka perhitungan seperti di atas?

Dalam konsep ekonomi makro dikenal istilah PDB, yaitu indikator ekonomi yang mengukur total pendapatan dan total pengeluaran yang terjadi dalam suatu perekonomian pada periode waktu tertentu. Perubahan nilai PDB suatu negara merupakan sinyal terjadinya perubahan nilai ekonomi yang terbentuk di negara tersebut. Misalnya, yang terjadi di Indonesia pada tahun 2017; ketika itu, angka PDB Indonesia mengalami peningkatan dari Rp2.262,6 triliun pada kuartal 1 2016 (atas dasar harga konstan 2010) menjadi Rp2.472,8 triliun pada tahun 2017 (atas dasar harga konstan 2010). Jika merujuk kepada pengertian sederhana PDB di atas, peningkatan PDB tahun 2006-2007 tentu akan menunjukkan terjadinya perbaikan dalam kondisi ekonomi Indonesia karena adanya peningkatan pendapatan Indonesia selama kurun waktu tersebut.

Dalam Modul 2 ini akan dibahas tentang Pendapatan Nasional. Yaitu tentang apa itu pendapatan nasional? Komponen apa yang ada dalam pendapatan nasional? Bagaimana cara menghitung nilai tambah? Bagaimana menghitung pendapatan nasional secara nominal dan riil. Untuk memudahkan kita menjawab pertanyaan di atas, maka pembahasan dibagi dalam tiga kegiatan belajar, yaitu: (1) Pengukuran Produk Domestik Bruto, (2) PDB Nominal dan PDB Riil, dan (3) Indikator Lain Pengukur Kinerja Ekonomi Suatu Negara. Dalam tiap kegiatan belajar dilengkapi dengan uraian materi. konsep, rumus, contoh, tabel, latihan, rangkuman, dan tes formatif untuk menguji kemampuan Anda terhadap kompetensi yang telah disajikan.

Setelah mempelajari modul ini, secara khusus Anda dapat:

  1. 1. menjelaskan definisi produk domestik bruto (PDB);
  2. 2. menjelaskan komponen-komponen PDB;
  3. 3. menghitung nilai tambah;
  4. 4. menghitung PDB;
  5. 5. menjelaskan PDB nominal;
  6. 6. menjelaskan PDB riil;
  7. 7. membedakan antara PDB nominal dan PDB riil;
  8. 8. menunjukkan indikator pengukuran kinerja perekonomian selain PDB.

Pengukuran Produk Domestik Bruto

Dalam Kegiatan Belajar 1, ini kita akan membahas tentang produk domestik bruto, definisi PDB, cara menghitung PDB, perbedaan PDB nominal dengan riil.

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perekonomian adalah Produk Domestik Bruto (PDB). Secara sederhana, PDB adalah:

Produk = yang dijumlahkan adalah produksi barang dan jasa Domestik = batasnya adalah wilayah suatu negara, termasuk orang dan perusahaan asing

Bruto = yang dihitung termasuk penyusutan barang-barang modal

Namun secara formal, yang dimaksud dengan Produk Domestik Bruto (PDB) adalah nilai pasar dari seluruh barang/jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode waktu tertentu. Pengertian ini memang mudah untuk dimengerti, namun di dalam setiap frase kata dari pengertian tersebut sebenarnya memiliki makna yang perlu ditelusuri lebih dalam.

Frase “PDB adalah nilai pasar ...” menunjukkan bahwa pengukuran PDB dilakukan dengan menggunakan nilai uang dari suatu barang dan jasa akhir, bukan menggunakan jumlah barang. Dalam perekonomian terdapat berbagai macam barang/jasa, dan untuk menjumlahkan seluruh barang dan jasa tidak dapat dilakukan dengan menjumlahkan kuantitas yang tersedia. Alhasil, Pengukuran dalam bentuk nilai uang ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pembandingan antar barang yang tidak seimbang, bagaikan antara apel dan jeruk, sehingga penyamaan satuan merupakan hal yang dibutuhkan.

Frase “... dari seluruh...” menunjukkan bahwa PDB memasukkan semua produk yang diproduksi oleh perekonomian dan yang dijual di pasar secara legal, tidak hanya berupa barang, namun juga jasa. Selain itu, ada beberapa produk yang tidak masuk ke dalam perhitungan PDB, yaitu barang/jasa yang diproduksi secara ilegal, di antaranya adalah obat-obatan terlarang (narkoba) dan makanan yang diproduksi oleh rumah tangga dan kemudian dikonsumsi langsung oleh rumah tangga tersebut. Kedua hal ini tidak masuk dalam perhitungan PDB karena tidak pernah masuk ke dalam pasar sehingga tidak memiliki nilai pasar.

Frase “...barang/jasa...” menunjukkan bahwa PDB dihitung dengan memasukkan barang nyata (seperti mobil dan tas) dan barang tidak nyata (seperti pendidikan yang diberikan guru dan pelayanan kesehatan oleh dokter). Barang yang tidak nyata ini dikenal juga dengan sebutan Jasa.

Frase “...akhir...” menunjukkan bahwa barang/jasa yang dimasukkan dalam perhitungan PDB adalah barang/jasa jadi (yaitu yang dapat langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia), bukan produk yang setengah jadi yang masih memerlukan pengolahan lebih lanjut sebelum dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, ataupun produk mentah yang belum diolah sama sekali. Misalnya terhadap meja belajar; yang dimasukkan dalam perhitungan PDB adalah nilai pasar dari meja belajar, sementara nilai pasar dari kayu gergajian yang dibeli oleh tukang untuk menghasilkan meja tidak dimasukkan dalam perhitungan. Mengapa kayu gergajian tidak dimasukkan dalam perhitungan PDB, padahal kayu ini memiliki nilai pasar dan diperdagangkan secara legal di pasar? Hal ini ditujukan untuk menghindari persoalan double counting ‘perhitungan ganda’ dari suatu produk. Nilai kayu sebenarnya telah diperhitungkan dalam menentukan nilai pasar dari meja, sehingga ketika nilai kayu juga dimasukkan dalam perhitungan PDB, maka nilai kayu ini akan tercatat dua kali.

Frase “...dihasilkan..” merujuk pada kondisi bahwa PDB memperhitungkan barang/jasa yang dihasilkan pada masa sekarang. Misalnya, penjualan sepeda motor baru oleh Yamaha akan diperhitungkan dalam PDB, namun jika yang melakukan penjualan adalah kalian, maka tidak dimasukkan dalam perhitungan PDB karena sepeda motor yang kalian jual bukanlah barang/jasa yang dihasilkan pada masa sekarang.

Frase “...oleh suatu negara dalam periode waktu tertentu” menunjukkan bahwa barang/jasa yang diperhitungkan dalam PDB adalah barang/jasa yang dihasilkan oleh daerah-daerah yang berada dalam kawasan suatu negara, dan pengukuran dilakukan dalam kurun waktu tertentu, misalnya dalam kurun waktu satu tahun dan tiga bulan.

A. SEPERTI APA PERHITUNGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO?

Dalam melakukan perhitungan terhadap PDB, terdapat tiga pendekatan yang dapat digunakan, yaitu pendekatan pengeluaran, pendekatan pendapatan, dan pendekatan nilai tambah. Melalui pendekatan pendapatan, PDB dapat dipandang sebagai total pengeluaran yang dilakukan dalam perekonomian untuk memperoleh barang/jasa, sementara melalui pendekatan pendapatan, PDB dapat dipandang sebagai total pendapatan yang diperoleh setiap individu yang terdapat dalam perekonomian. Kedua pendekatan perhitungan PDB ini akan menghasilkan nilai yang sama mengingat setiap uang yang dikeluarkan oleh si pembeli merupakan pendapatan bagi si penjual, seperti yang diilustrasikan pada gambar berikut.

Gambar 2.1 Pengukuran PDB sebagai Pendekatan Pendapatan dan Pendekatan Pengeluaran

Pada Gambar 2.1 di atas terlihat bahwa aliran sebelah luar merupakan aliran uang, sementara aliran sebelah dalam merupakan aliran barang/jasa dan aliran tenaga kerja. Rumah tangga sebagai penyedia tenaga kerja menjual jasa tenaga kerjanya kepada perusahaan (aliran 2) sehingga perusahaan menjadi mampu untuk menghasilkan barang/jasa yang nantinya akan dibeli oleh rumah tangga (aliran 3). Pembelian barang/jasa ini oleh rumah tangga akan menimbulkan aliran uang dari rumah tangga ke perusahaan (aliran 4). Aliran uang ini merupakan pengeluaran bagi rumah tangga (atau pendapatan bagi perusahaan). Pengeluaran rumah tangga ini (yang merupakan pendapatan bagi perusahaan) ini nantinya akan digunakan oleh perusahaan untuk membayar upah pekerjanya.

Berdasarkan gambaran ini, terlihat bahwa setiap transaksi yang memengaruhi pengeluaran akan ikut memengaruhi pendapatan, dan setiap transaksi yang memengaruhi pendapatan pasti akan memengaruhi pengeluaran, sehingga tidak salah untuk mengatakan bahwa pengeluaran yang terjadi akan sama dengan pendapatan yang diterima.

1. Perhitungan PDB dengan Pendekatan Pengeluaran

GDP atau PDB memiliki empat komponen dalam perhitungan dengan pendekatan pengeluaran, yaitu pengeluaran konsumsi (C), pengeluaran investasi (I), pengeluaran pemerintah (G), dan ekspor bersih (NX). Karena PDB dapat diartikan sebagai total pengeluaran dalam perekonomian, maka perhitungan PDB dapat dilakukan mengikuti rumus:

PDB = C + I + G + NX

atau dengan kata lain, PDB merupakan penjumlahan dari konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan net ekspor.

Karena persamaan di atas merupakan terjemahan matematis dari definisi PDB dengan pendekatan pengeluaran, maka persamaan ini disebut juga dengan persamaan identitas, yaitu persamaan identitas pendapatan nasional.

a. Pengeluaran konsumsi

Komponen yang termasuk ke dalam variabel konsumsi adalah barang dan jasa yang dibeli oleh rumah tangga, yang dapat berupa barang tahan lama, barang tidak tahan lama, dan jasa. Yang dimaksud dengan barang tahan lama adalah barang yang dapat bertahan dalam jangka waktu lama, seperti mobil dan televisi; dan barang yang tidak tahan lama merupakan barang yang bertahan dalam jangka pendek seperti makanan dan pakaian.

b. Investasi

Yang dimaksud dengan investasi adalah kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan perekonomian dalam menghasilkan output di masa depan, yang dapat berupa peningkatan stok fisik dari modal, maupun stok non fisik. Dengan konsep ini, tindakan membeli saham/obligasi merupakan tindakan yang tidak dikategorikan ke dalam investasi. Tindakan yang dapat dikategorikan sebagai investasi di antaranya adalah membangun rumah, membeli mesin, penambahan persediaan produk perusahaan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tindakan membangun nimah, membeli mesin, penambahan persediaan produk perusahaan dikategorikan sebagai tindakan untuk meningkatkan stok fisik dari modal, sementara tindakan peningkatan kualitas SDM merupakan tindakan meningkatkan stok non-fisik dari modal.

c. Pengeluaran pemerintah

Yang termasuk ke dalam kategori pengeluaran pemerintah adalah tindakan pemerintah dalam membeli barang/jasa seperti pembelian peralatan militer dan pembangunan jalan. Namun, tindakan pemerintah yang memberikan transfer kepada individu, seperti tindakan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM, tidak dikategorikan sebagai pengeluaran pemerintah karena tindakan pemerintah ini tidak menyebabkan perubahan kemampuan perekonomian dalam memproduksi barang/jasa.

d. Ekspor bersih

Komponen net ekspor ini merupakan komponen dalam PDB yang menghitung transaksi perdagangan suatu negara dengan negara lainnya. Net ekspor ini dapat menggambarkan besarnya permintaan luar negeri terhadap barang yang dihasilkan oleh suatu negara. Nilai net ekspor ini dihitung dengan mengurangkan antara nilai ekspor dengan nilai impor suatu negara. Negara dengan nilai net ekspor yang positif berarti bahwa negara tersebut memiliki nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan dengan nilai impornya. Sebaliknya jika negara tersebut memiliki net ekspor yang negatif, berarti nilai impor negara tersebut lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspornya.

2. Perhitungan PDB dengan Pendekatan Pendapatan

Pengukuran PDB dengan pendekatan pendapatan dilakukan dengan menjumlahkan seluruh komponen pendapatan yang terdapat dalam perekonomian. Namun sebelum membahas komponen PDB dengan pendekatan pendapatan ini, akan dikupas terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pendapatan.

Pendapatan pada dasarnya adalah balas jasa terhadap rnpwz/faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi. Dalam perekonomian, terdapat empat kelompok besar faktor produksi, yaitu tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan keahlian/kewirausahaan. Masing-masing faktor produksi ini akan memperoleh balas jasa masing-masing berupa upah, bunga atas modal, sewa, dan laba usaha.

Tabel 2.1 Faktor Produksi dan Balas Jasa yang Diterima

Karena PDB merupakan penjumlahan dari seluruh komponen pendapatan yang terdapat dalam perekonomian, maka perhitungan PDB dengan pendekatan pendapatan dapat dilakukan dengan mengikuti formula:

Dimana w adalah upah, r adalah bunga modal, S adalah sewa, dan π adalah laba usaha.

3. Perhitungan PDB dengan Pendekatan Nilai Tambah/Pendekatan Produksi

Sebenarnya selain dengan pendekatan pendapatan dan pendekatan pengeluaran, terdapat satu metode lagi yang dapat digunakan untuk mengukur nilai PDB suatu perekonomian, yaitu dengan pendekatan nilai tambah/pendekatan produksi.

Contoh perhitungan sederhana dari PDB dengan pendekatan produksi ini dapat diamati dari tabel struktur input industri mebel berikut.

Tabel 2.2 Contoh Perhitungan PDB dengan Pendekatan Produksi

Nilai tambah dari kayu gelondongan sama dengan nilai pasarnya karena kayu gelondongan ini merupakan input primer, yaitu input yang diperoleh langsung dari alam dan belum diolah lebih lanjut.

Untuk memproduksi mebel, diperlukan proses pengolahan input dari kayu gelondongan menjadi kayu gergajian, kemudian dari kayu gergajian ini diolah menjadi kerangka mebel, dan dari kerangka mebel diolah menjadi mebel. Biaya produksi untuk menghasilkan masing-masing produk ini pada dasarnya merupakan bagian dari biaya produksi dari produk lain hasil pengolahan lanjutannya. Misalnya biaya produksi untuk menghasilkan kerangka mebel telah mencakup biaya produksi kayu gergaji, dan biaya produksi produk mebel telah mencakup biaya produksi pabrik kayu gergaji dan biaya produksi kerangka mebel.

Karena dalam harga sebuah barang sudah terdapat biaya bahan baku, maka nilai tambah suatu produk adalah harga produk yang dihasilkan dikurangi harga atau biaya bahan baku. Nilai tambah ini merupakan sumbangan perusahaan dalam produksi nasional. Misalnya harga kayu gergajian Rp 150,- per meter, harga bahan mentah berupa kayu gelondongan sebesar Rp 100,-, maka nilai tambah kayu gergajian tersebut adalah Rp50,-. Nilai tambah inilah yang dihitung dalam pendapatan nasional, karena itu pendapatan nasional adalah nilai jual dikurangi biaya bahan mentah.

Persoalan yang perlu dicermati dari perhitungan PDB dengan pendekatan nilai tambah ini adalah munculnya masalah perhitungan ganda (double counting).

Untuk memproduksi mebel, diperlukan proses pengolahan input dari kayu gelondongan menjadi kayu gergajian, kemudian dari kayu gergajian ini diolah menjadi kerangka mebel, dan menjadi mebel. Nilai ekonomi pengolahan dari kayu gelondongan menjadi kayu gergajian adalah sebesar 150 (= nilai dari kayu gelondongan (100) + dengan nilai tambah dari kayu gergajian (50)). 

Nilai ekonominya bukanlah 250 (= nilai pasar kayu gelondongan (100) + kayu gergajian (150)) karena jika nilai ekonomi kayu gergajian dihitung dengan konsep ini, maka akan terjadi perhitungan ganda. Mengapa ? Hal ini karena nilai pasar dari kayu gergajian yang bernilai 150 pada dasarnya telah memasukkan nilai pasar dari kayu gelondongan yang menjadi bahan dasar untuk menghasilkan kayu gergajian. Hal yang sama juga diterapkan untuk menghitung nilai ekonomi dari mebel, yaitu dengan menjumlahkan seluruh nilai tambah yang tercipta.

Penjumlahan total dari nilai tambah ini merupakan nilai dari pendapatan nasional. Bila diamati, nilai ini sama dengan nilai akhir dari mebel seperti yang tercantum dalam Tabel 2.2 kolom 2.

Jika diamati lebih dalam, perhitungan PDB dengan pendekatan nilai tambah ini pada dasarnya adalah perhitungan nilai ekonomi yang diciptakan oleh sektor-sektor ekonomi yang terdapat di suatu negara. Pada Tabel 2.2 di atas, input-input yang digunakan dalam proses produksi mebel di atas pada dasarnya dapat dikelompokkan atas tiga kelompok sektor ekonomi, yaitu sektor primer (kayu gelondongan), sektor industri (kayu gergajian dan kerangka mebel), dan sektor perdagangan (mebel). Jadi, secara tidak langsung perhitungan PDB dengan pendekatan nilai tambah ini merupakan perhitungan PDB yang dilakukan per sektor ekonomi. Di Indonesia, hasil perhitungan PDB dengan pendekatan nilai tambah ini disajikan menurut sembilan sektor ekonomi.

Tabel 2.3 Perhitungan Pendapatan Nasional per Sektoral

Kesimpulan Tentang Pengukuran-Produk-Domestik-Bruto

Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perekonomian. Secara formal, yang dimaksud dengan PDB adalah nilai pasar dari seluruh barang/jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode waktu tertentu. Frase “PDB adalah nilai pasar ...” menunjukkan bahwa pengukuran PDB dilakukan dengan menggunakan nilai uang dari suatu barang dan jasa akhir. Barang dan jasa yang memiliki nilai pasar adalah barang dan jasa yang masuk ke dalam pasar resmi. Oleh karena itu, barang dan jasa yang tidak masuk dalam pasar resmi, yaitu barang dan ilegal, tidak dihitung dalam PDB. Frase “... dari seluruh...” menunjukkan bahwa PDB memasukkan semua produk yang diproduksi oleh perekonomian dan yang dijual di pasar secara legal, tidak hanya berupa barang, namun juga jasa. Frase “...akhir...” menunjukkan bahwa barang/jasa yang dimasukkan dalam perhitungan PDB adalah barang/jasa jadi (yaitu yang dapat langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia).

Untuk menghitung PDB, ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu pendekatan pendapatan, pendekatan pengeluaran, dan dengan pendekatan nilai tambah/pendekatan produksi. Dengan pendekatan pendapatan, Produk Domestik Bruto (PDB) dihitung dengan menjumlahkan pengeluaran konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor neto. Pengukuran PDB dengan pendekatan pendapatan dilakukan dengan menjumlahkan seluruh komponen pendapatan (balas jasa untuk para pemilik faktor produksi) yang terdapat dalam perekonomian, yang terdiri dari pendapatan upah, bunga atas modal, sewa, dan laba usaha. Sementara dengan pendekatan nilai tambah, PDB dihitung dengan menjumlahkan nilai tambah dari tahap-tahap produksi untuk menghasilkan suatu produk.

Pembahasan Ke Dua (2)

PDB Nominal dan PDB Rill

Sebelum ini kita telah membahas tentang pengukuran produk domestikbruto dari sisi pengeluaran dan pendapatan, kemudian pembahasan akandilanjutkan dengan PDB nominal dan PDB riil dan bagaimana caramengukurnya. Untuk lebih jelasnya silakan Anda baca sajian berikut ini.

A. APA ITU PDB NOMINAL DAN PDB RIIL?

Meningkatnya nilai PDB pada dasarnya menunjukkan dua hal, yaitu1) terjadinya peningkatan produksi barang/jasa, dan 2) meningkatnya hargabarang dan jasa yang diproduksi. Ekonom mencoba untuk memisahkan keduaefek dari peningkatan nilai PDB ini sehingga akhirnya memunculkan konsepyang dikenal sebagai PDB riil dan PDB nominal. Yang dimaksud dengan PDBriil merupakan produksi barang/jasa yang dihitung dengan menggunakan hargakonstan, sementara yang dimaksud dengan PDB nominal adalah produksibarang/jasa yang dihitung dengan menggunakan harga masa sekarang. Agarlebih memahami konsep PDB riil dan PDB nominal, perhatikan ilustrasiberikut. Misalkan Indonesia hanya memproduksi dua komoditas, yaitu padi dan jagung dengan data produksi sebagai berikut.

Tabel 2.4 Ilustrasi Pengukuran PDB Nominal dan PDB Riil

Berdasarkan data di atas, perhitungan PDB nominal dilakukan dengan menghitung nilai uang dari produksi barang/jasa dengan teknis perhitungan:

Berdasarkan ilustrasi perhitungan PDB nominal di atas, terlihat bahwa perhitungan nilai produksi barang/jasa dilakukan dengan menggunakan harga saat sekarang.

Bagaimana dengan nilai PDB riil Indonesia? Perhitungan PDB riil, seperti yang telah dikemukakan di atas, dilakukan dengan menggunakan harga konstan/harga tahun dasar. Jika dimisalkan tahun dasar dari perhitungan PDB riil adalah tahun 2014, maka perhitungan PDB riil akan dilakukan dengan menggunakan harga tahun 2010. Teknis perhitungan PDB riil Indonesia tahun 2014,2015,2016, dan 2017 adalah:

Berbeda dengan PDB nominal yang menggunakan harga sekarang, perhitungan PDB riil dilakukan dengan menggunakan harga tahun 2014 (tahun dasar) di setiap tahun perhitungan PDB.

Di antara PDB riil dan PDB nominal, indikator yang paling baik digunakan untuk mengamati kinerja perekonomian adalah PDB riil karena peningkatan nilai PDB riil ini mutlak hanya mencerminkan peningkatan output produksi suatu perekonomian. Sementara itu pada PDB nominal, peningkatan nilainya tidak serta merta disebabkan oleh terjadinya peningkatan output perekonomian, namun juga dapat disebabkan oleh terjadinya peningkatan harga. Misalkan, jika suatu perekonomian tidak mengalami peningkatan output produksi, PDB nominal dapat saja mengalami peningkatan seandainya terjadi kenaikan harga produk dari tahun ke tahun.

Kemudian apa yang dimaksud dengan PDB deflator? PDB deflator merupakan nilai yang mencerminkan harga barang dan jasa. Yang diukur dari perbandingan antara PDB nominal dan PDB riil. Deflator PDB dirumuskan sebagai:

Karena PDB nominal dan PDB riil pasti sama pada tahun dasar, PDB deflator pada tahun dasar selalu sama dengan 100. PDB deflator pada tahun yang berurutan mengukur perubahan PDB nominal dari tahun pokoknya yang tidak disebabkan oleh perubahan PDB riil. Deflator PDB mengukur tingkat harga-harga saat ini relatif terhadap tingkat harga-harga di tahun pokok.

B. SEPERTI APA PENERAPAN PERHITUNGAN PDB DI INDONESIA?

Di banyak negara dunia, termasuk Indonesia, perhitungan PDB umumnya hanya dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu perhitungan PDB dengan pendekatan pengeluaran dan dengan pendekatan nilai tambah. Pendekatan pendapatan tidak dilakukan karena adanya kesulitan dalam penghimpunan data. Kecenderungan yang ditunjukkan pelaku ekonomi adalah cenderung tidak jujur dalam mengungkapkan nominal pendapatannya, sehingga jika perhitungan PDB dilakukan dengan pendekatan ini, nilai yang diperoleh tidak akan mampu menggambarkan kinerja ekonomi yang sebenarnya.

Di Indonesia, perhitungan PDB dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) setiap tiga bulan sekali dimulai dengan kuartal I (periode Januari- Maret), kuartal II (periode April-Juni), kuartal III (periode Juli-September), dan kuartal IV (Oktober-Desember). Setiap akhir tahun, BPS melakukan perhitungan PDB tahunan dengan cara merekapitulasi data PDB kuartalan yang telah ada.

Publikasi dari perhitungan PDB oleh BPS ini tidak hanya dilakukan per wilayah nasional, namun juga dilakukan per provinsi dan per kabupaten/kota. Format publikasi ini akan memungkinkan analisis kinerja perekonomian untuk dilakukan tidak hanya di level negara, namun juga dapat dilakukan hingga level kabupaten/kota.

Data yang disajikan dalam Tabel 2.3 dan Tabel 2.4 di bawah ini merupakan publikasi PDB Indonesia pada tahun 2008 kuartal 1 dan II yang dihitung dengan menggunakan pendekatan pengeluaran dan pendekatan nilai tambah. Dengan pendekatan pengeluaran, komponen pengeluaran dikelompokkan atas lima kelompok, yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor bersih. Sementara itu dengan pendekatan nilai tambah, perekonomian dikelompokkan atas sembilan sektor, seperti yang dapat diamati pada Tabel 2.4.

Tabel 2.5 PDB Indonesia Berdasarkan Pendekatan Pengeluaran (dalam ribuan rupiah)

C. KELEMAHAN PDB SEBAGAI PENGUKUR KINERJA PEREKOMIAN

Pada dasarnya, PDB memang mengukur total pendapatan dan pengeluaran yang terjadi dalam suatu perekonomian, dan dalam bentuk PDB per kapita. PDB menunjukkan pendapatan dan pengeluaran rata-rata setiap individu yang terdapat dalam perekonomian. Makin besar pendapatan seseorang tentu akan mendorong orang tersebut untuk memperbesar pengeluarannya, dan makin besar pula kesejahteraan ekonomi yang dirasakan oleh orang tersebut. Namun, dalam kenyataannya ditemukan fakta bahwa tingginya PDB per kapita suatu negara tidak menjamin tingginya kualitas pendidikan dan kesehatan yang dinikmati oleh penduduknya. Bahkan tingginya PDB cenderung identik dengan berkurangnya kualitas kesehatan masyarakat karena tingginya tingkat polusi yang terjadi. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Paling tidak terdapat enam hal yang tidak dimasukkan dalam konsep perhitungan PDB, yaitu:

1. Tidak memperhitungkan kerusakan lingkungan yang terjadi

Ketika pemerintah melonggarkan regulasi terhadap pencemaran lingkungan oleh industri, industri akan terdorong untuk meningkatkan produksinya karena berkurangnya struktur biaya yang harus dikeluarkan oleh industri, terutama biaya untuk pengolahan limbah. Dampaknya, PDB akan mengalami peningkatan karena produksi naik, namun di sisi lain kualitas hidup masyarakat akan menurun akibat peningkatan pencemaran yang terjadi.

2. Tidak memperhitungkan kegiatan jual beli yang dilakukan tanpa melalui pasar

Seorang dokter yang memeriksa pasien di rumah sakit akan diperhitungkan dalam PDB. Namun kegiatan dokter ini tidak akan diperhitungkan dalam PDB jika dokter ini memeriksa istrinya yang sedang sakit di rumah. Kedua tindakan dokter ini, baik di rumah sakit maupun di rumah, sama-sama meningkatkan kualitas hidup masyarakat, namun hanya tindakan dokter di rumah sakit yang diperhitungkan sebagai PDB.

3. Tidak memperhitungkan pendapatan warga negara Indonesia di luar negeri

Kelemahan lain dari PDB ini adalah tidak memperhitungkannya pendapatan WNI yang terdapat di luar negeri dalam perhitungan PDB. Coba ingat kembali pengertian PDB yang menyatakan bahwa PDB adalah nilai pasar dari seluruh barang/jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode waktu tertentu. Dari pengertian ini jelas terlihat bahwa pendapatan penduduk Indonesia yang mencari nafkah di luar negeri memang tidak diperhitungkan dalam PDB, pendapatan TKI Indonesia misalnya, merupakan pendapatan yang tidak diperhitungkan dalam PDB.

4. Menghitung pendapatan warga negara asing yang bekerja di Indonesia

Kerancuan dari PDB adalah memperhitungkan pendapatan warga negara asing yang bekerja di dalam negeri sehingga gambaran kinerja perekonomian yang diberikan oleh PDB tidak mutlak menggambarkan kondisi ekonomi warga Indonesia, namun juga warga asing yang terdapat di Indonesia.

5. Tidak memperhitungkan kualitas kesehatan dan pendidikan

Terkait dengan kesehatan dan pendidikan, PDB hanya memperhitungkan kedua hal ini secara materialnya saja, dan tidak memperhatikan kualitas yang tercipta.

6. Tidak memperhitungkan adanya transfer payment yang dilakukan pemerintah.

Yang dimaksud dengan transfer payment adalah sejumlah uang yang diberikan kepada seseorang tanpa adanya aktivitas produksi yang dilakukan orang tersebut. Contoh transfer payment ini adalah uang pensiun dan subsidi yang diberikan pemerintah, lotre, bunga atas hutang negara, hadiah, warisan, sumbangan bencana alam dan pembayaran barang-barang yang dibuat pada tahun sebelumnya.

Kesimpulan Tentang PDB-Nominal-dan-PDB-Rill

Peningkatan PDB menunjukkan dua hal. 1) terjadinya peningkatan produksi barang/jasa, dan 2) meningkatnya harga barang dan jasa yang diproduksi. PDB riil merupakan produksi barang/jasa yang dihitung dengan menggunakan harga konstan, sementara yang dimaksud dengan PDB nominal adalah produksi barang/jasa yang dihitung dengan menggunakan harga masa sekarang. 

Indikator yang paling baik digunakan untuk mengamati kinerja perekonomian adalah PDB riil karena peningkatan nilai PDB riil ini mutlak hanya mencerminkan peningkatan output produksi suatu perekonomian. Sayangnya, terdapat enam hal yang tidak dimasukkan dalam konsep perhitungan PDB, enam hal ini bisa dibilang merupakan kelemahan PDB. Benang merah dari keenam hal ini adalah karena PDB tidak menghitung kegiatan yang tidak memiliki harga pasar atau tidak dilakukan di pasar resmi.

Indikator Lain Pengukur Kinerja Ekonomi Suatu Negara

Sebelum ini kita telah membahas tentang produk domestik bruto nominaldan PDB riil dan penghitungan PDB deflator, kemudian pembahasan akandilanjutkan indikator lain yang digunakan untuk mengukur kinerja ekonomisuatu negara. Untuk lebih jelasnya silakan Anda baca sajian berikut ini.Mengamati kelemahan yang dimiliki oleh PDB, digunakanlah berbagaiindikator untuk mengakomodasi berbagai kelemahan PDB tersebut. Di antaraindikator perhitungan kinerja ekonomi yang berkembang adalah ProdukNasional Bruto (PNB), Pendapatan Nasional Neto (PNN), PendapatanNasional, Pendapatan Persolan, dan Pendapatan Disposable.

A. APA INDIKATOR PENGHITUNGAN KINERJA?

Indikator yang digunakan untuk menghitung kinerja suatu negara adaempat, yaitu Produk Nasional Bruto (PNB), Pendapatan Nasional Neto (PNN),Pendapatan Nasional, Pendapatan Persoalan dan Pendapatan Disposibel.Untuk lebih jelasnya Anda baca modul ini lebih lanjut.

1. Produk Nasional Bruto

Produk Nasional Bruto (PNB) merupakan produksi barang/jasa akhir yangdihasilkan oleh warga suatu negara di mana pun dia berada dalam periodetertentu. Termasuk di dalamnya nilai konsumsi, investasi, pembelian barangdan jasa oleh pemerintah serta ekspor neto. Perhitungan PNB hanya padabarang dan jasa yang dihasilkan oleh warga dalam negeri dan milik wargadalam negeri, sedangkan yang dihasilkan oleh warga negara asing dan milikwarga negara asing tidak termasuk di dalamnya.

Definisi dari PNB adalah:

Produk = yang dijumlahkan adalah produksi barang dan jasa.

Nasional = batasnya adalah kewarganegaraan.

Bruto = yang dihitung termasuk penyusutan barang-barang modal.

PNB nominal dapat dikonversikan ke dalam PNB riil dengan menggunakan indeks harga. Jadi, jika PNB riil mengukur kuantitas total dari output, maka PNB nominal mengukur nilai rupiah dari output. Rasio dari PNB nominal ke PNB riil adalah harga dari PNB yang disebut dengan deflator PNB.

2. Produk Nasional Neto (PNN)

Produk Nasional Neto (PNN), yaitu total pendapatan penduduk suatu negara (PNB) dikurangi dengan kerugian yang diakibatkan oleh depresiasi. Yang dimaksud dengan depresiasi adalah usang dan rusaknya persediaan perlengkapan dan bangunan dalam perekonomian.

PNB riil = PNB - depresiasi

3. Pendapatan Nasional

Pendapatan Nasional (National Income); untuk memperoleh gambaran tentang total penerimaan yang diperoleh oleh faktor produksi dalam negeri, maka dikembangkan variabel Pendapatan Nasional (PN). Seperti yang diketahui, penerimaan yang diperoleh faktor produksi sebenarnya tidak hanya berupa upah, bunga atas modal, sewa, dan laba usaha yang merupakan imbalan atas faktor produksi yang dimilikinya, namun juga dapat berupa subsidi yang diberikan pemerintah.

Contoh nyata yang baru-baru ini diberikan pemerintah adalah dana BLT (bantuan langsung tunai) yang merupakan dana kompensasi kenaikan harga BBM bagi keluarga miskin. Dana ini, meskipun tidak diperoleh dari aktivitas penawaran faktor produksi yang dilakukan rumah tangga, namun menjadi sumber penerimaan rumah tangga. Perbedaannya dengan PNN adalah bahwa pendapatan nasional tidak menghitung pajak usaha tidak langsung dan menghitung subsidi usaha. Selain itu ketidakcocokan statistika juga membedakan antara PNN dengan pendapatan nasional.

PN = PNB - pajak tak langsung + subsidi - depresiasi

4. Pendapatan Perseorangan

Pendapatan perseorangan didefinisikan sebagai pendapatan yang diterima rumah tangga dan usaha yang bukan perusahaan. Pendapatan perorangan tidak mengikutsertakan pendapatan tertahan (retained earnings), yaitu pendapatan yang diperoleh perusahaan, namun, tidak dibagikan pada para pemiliknya, pendapatan perorangan mengurangi pajak pendapatan perusahaan dan kontribusi terhadap tunjangan sosial. Selain itu, pendapatan perorangan menghitung pendapatan bunga yang diterima rumah tangga yang berasal dari kepemilikan atas utang negara.

5. Pendapatan Perorangan

Pendapatan perorangan yang dapat dibelanjakan (disposable personal income) adalah pendapatan yang tersisa dalam rumah tangga dan usaha bukan perusahaan setelah semua kewajiban pada pemerintah dibayar. Pendapatan ini adalah alat ukur untuk mengamati berapa banyak nominal uang yang sebenarnya dimiliki oleh individu dalam perekonomian yang dapat digunakan untuk membeli barang/jasa yang dibutuhkannya, dengan konsep perhitungan yang dapat diamati pada bagan di atas.

Adapun perhitungan masing-masing jenis pendapatan di atas adalah sebagai berikut:

Pada tabel berikut disajikan contoh perhitungan berbagai indikator kinerja ekonomi Indonesia pada tahun 2015.

Tabel 2.7 Penghitungan Pendapatan Nasional Indonesia, 2015

B. CATATAN SEJARAH PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL DI INDONESIA

Pada awal abad XX pemerintah Hindia Belanda membentuk sebuah komisi yang diketuai oleh Steinmetr untuk mengetahui perkiraan belanja dan pendapatan penduduk pribumi di Jawa dan Madura. Hal tersebut dilakukan karena mereka khawatir akan tingkat kemakmuran penduduk pribumi yang cenderung menurun. Data yang diperoleh digunakan untuk mengetahui apa penyebab menurunnya tingkat kemakmuran penduduk pribumi dan bagaimana jalan keluarnya.

Perhitungan pendapatan nasional dilakukan lagi pada tahun 1924 oleh J.W. Meier Ranneft dan W. Huender karena pemerintah ingin mengetahui beban pajak atas penduduk pribumi. Sekali lagi, data yang diperoleh hanya terbatas di pulau Jawa dan Madura. Baru pada tahun 1928-1930 perhitungan pendapatan nasional yang dilakukan oleh F. De M. Van Ginkel dilakukan di luar pulau Jawa dan Madura. 

Di antaranya dilakukan di pantai Timur Sumatera, pantai Barat Sumatera, dan distrik Lampung. L. Goetzen melakukan perhitungan yang lebih lengkap, yang meliputi golongan penduduk dan daerahnya di seluruh wilayah Hindia Belanda pada tahun 1926-1932. Metode L. Goetzen digunakan oleh J. J. Polak yang melakukan perhitungan pada tahun 1921-1939. 

Metode yang digunakan adalah menghitung produksi berdasarkan lapangan usaha. Nilai pendapatan pribumi diperoleh dari nilai produksi dikurangi biaya bahan, sedangkan upah dan gaji tidak termasuk dalam perhitungan. Pendapatan warga asing diperoleh dari angka-angka pajak pendapatan.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1951-1952 dilakukan perhitungan pendapatan nasional oleh Dr. S. D. Neumark, seorang penasihat PBB untuk Indonesia. Kemudian, dilanjutkan oleh Muljatno pada tahun 1953-1954. Mulai tahun 1962 perhitungan pendapatan nasional dilakukan oleh BPS yang dibantu oleh ahli statistik India yang bernama K.N.C. Pillai, penasihat teknis PBB. 

Ketika Indonesia ke luar dari PBB pada tahun 1965, K.N.C. Pillai ditarik kembali oleh PBB sehingga BPS harus bekerja sendiri. Hasil perhitungan BPS untuk tahun 1958-1962 diterbitkan pada tahun 1966. Setahun kemudian, terbitlah hasil perhitungan pendapatan nasional untuk tahun 1960-1964. 

Ketika Indonesia menjadi anggota PBB lagi, seorang penasihat teknis yang bernama C. Ross dibantukan di BPS. Setelah mengalami perbaikan dan penyesuaian yang mengikuti pedoman PBB, pada tahun 1970 BPS menerbitkan perhitungan pendapatan nasional untuk tahun 1960-1968.

Kesimpulan Tentang Indikator-Lain-Pengukur-Kinerja-Ekonomi-Suatu-Negara

Perhitungan masing-masing jenis pendapatan yang telah dijelaskan di atas sebagai berikut:

PDB = C + I + G + NX

Daftar Pembahasan Ekonomi Makro V.1 

Berikut ini adalah Daftar Link terkait pembahasan seputar materi ilmu Ekonomi Makro yang anda baca saat ini, silahkan anda buka link-link dibawah ini.
  1. Konsep Dasar Ilmu Ekonomi Sebagai Ilmu_Sosial (Belajar Ekonomi Makro V.1)
  2. Pendapatan Nasional, PDB Nominal & Riil Serta Indikator Pengukur Kinerja Ekonomi Suatu Negara
  3. Konsumsi, Tabungan, Investasi, Sistem Keuangan Serta Pasar Untuk Dana Pinjaman (Ekonomi Makro V.1)
  4. Permintaan Agregat dan Angka Pengganda_Bentuk Kurva dan Cara Menghitungnya (Pembahasan Ekonomi Makro V.1)
  5. Uang dan Peranannya dalam Perekonomian Serta Kebijakan Moneter (Materi Ekonomi Makro V.1)
  6. Peran Pemerintah Dalam Perekonomian dan Kebijakan Fiskal (Kegiatan Belajar Ekonomi Makro V.1)
  7. Penawaran Agregat dan Konsep Pertumbuhan_Ekonomi (Ekonomi Makro V.1)
  8. Stabilitas Harga, Pengangguran, Siklus Bisnis dan Inflasi (Materi Ilmu Ekonomi Makro V.1)
  9. Perekonomian Terbuka, Aliran Barang/Jasa, Neraca Pembayaran dan Kebijakan Serta Keseimbangan (Belajar Ekonomi_Makro V.1)