Perekonomian Terbuka, Aliran Barang/Jasa, Neraca Pembayaran dan Kebijakan Serta Keseimbangan Ekonomi_Makro - celotehpraja.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perekonomian Terbuka, Aliran Barang/Jasa, Neraca Pembayaran dan Kebijakan Serta Keseimbangan Ekonomi_Makro

CELOTEHPRAJA.COM_Ekonomi Makro, Laman ini adalah bagian ke Sembilan (9) dari (9) pembahasan terkait EKONOMI MAKRO. disini akan dibahas secara mendalam tentang berbagai konsep ekonomi yang berhubungan dengan interaksi ekonomi antarnegara. Selain itu. juga akan dibahas tentang bagaimana kondisi perekonomian suatu negara akan memengaruhi keputusan ekonomi negara lain serta bagaimana pengaruh dari kebijakan pemerintah terhadap interaksi ekonomi antarnegara. bagian ke Sembilan (9) ini, terdiri atas 3 Point Besar yaitu 1: Aliran Barang/Jasa dan Utang Antarnegara dan Nilai Tukar. 2: Keseimbangan Ekonomi Makro dalam Konsep Perekonomian Terbuka, dan 3: Neraca Pembayaran dan Kebijakan Pemerintah dalam Konsep Perekonomian Terbuka. Setelah Anda mempelajarinya ini kita diharapkan untuk dapat:

  • 1. menjelaskan konsep aliran barang dan modal berlangsung antarnegara;
  • 2. menjelaskan konsep nilai tukar;
  • 3. menghitung nilai tukar riil;
  • 4. menjelaskan konsep neraca pembayaran;
  • 5. menjelaskan berbagai kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi keseimbangan perekonomian antarnegara.

Tidak ada satupun perekonomian suatu negara yang terpisah dari perekonomian global. Contoh nyata ketika krisis ekonomi Amerika Serikat pada awal tahun 2008 sebagai akibat adanya kredit macet pada perumahan masyarakat menengah (sub-prime mortgage crisis), dunia pun ikut terguncang. Ketika Bank Sentral Amerika Serikat berencana menaikkan suku bunga, banyak negara yang terkena dampaknya. Padahal rencana kenaikan tersebut baru sebatas wacana dan belum direalisasikan. Terjadinya krisis di Amerika Serikat jelas berpengaruh terhadap kondisi perekonomian negara-negara lain di dunia, termasuk Indonesia.

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS melemah karena adanya ekspektasi masyarakat dan pelaku bisnis bahwa kenaikan suku bunga di AS akan menyebabkan banyak dana melayang ke AS. Diperkirakan terjadi capital flight. Dampaknya, biaya produksi dalam negeri naik untuk barang-barang yang menggunakan bahan baku impor. Contoh lainnya, krisis di Timur Tengah telah menyebabkan harga minyak dunia beberapa waktu lalu naik. Negara importir minyak mengalami masalah ekonomi karena adanya tekanan harga.

Pembahasan Pertama 1

Aliran Barang/Jasa dan Uang Antarnegara dan Nilai Tukar 

Pada Pembahasan Pertama 1 ini, ini kita akan bahas tentang aliran barang/jasa dan uang antarnegara serta nilai tukar.

A. ALIRAN BARANG/JASA DAN UANG ANTARNEGARA

1. Aliran Barang dan Modal Antarnegara

Perekonomian yang bersifat terbuka ditandai dengan adanya aliran barang dan modal antarnegara. Interaksi ekonomi antarnegara ini bisa terjadi melalui dua cara, yaitu membeli dan menjual barang dan jasa di pasar barang dunia, serta membeli dan menjual aset kapital seperti saham dan surat berharga atau obligasi dalam pasar finansial dunia. Dengan demikian, perekonomian terbuka akan berhubungan dengan kegiatan aliran barang dalam bentuk ekspor-impor dan aliran modal. Masing-masing konsep dari aliran ini akan dibahas pada subkegiatan ini.

Nilai ekspor neto yang bernilai positif memiliki arti bahwa kegiatan ekspor yang dilakukan suatu negara lebih besar daripada impornya. Dengan lebih besarnya kegiatan ekspor dibandingkan dengan kegiatan impor, negara yang bersangkutan berarti melakukan transaksi penjualan barang/jasa ke luar negeri dengan nilai yang lebih besar dibandingkan dengan transaksi pembelian barang/jasa dari negara lain yang dilakukan oleh negara tersebut. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah surplus perdagangan (trade surplus). Jika yang terjadi adalah kondisi sebaliknya, yaitu nilai ekspor neto yang bernilai negatif (nilai ekspornya lebih rendah dari nilai impornya), maka negara tersebut dikatakan mengalami kerugian perdagangan (trade deficit). Sedangkan jika suatu negara memiliki ekspor neto sama dengan nol. yang terjadi ketika nilai ekspor tepat sama dengan nilai impor, maka dikatakan negara tersebut mengalami keseimbangan perdagangan (balanced trade).

Banyak faktor yang memengaruhi ekspor, impor dan net ekspor dari suatu negara seperti berikut.

  • a. Selera konsumen akan barang dalam negeri dan barang yang berasal dari luar negeri.
  • b. Harga dari barang di dalam dan luar negeri.
  • c. Kurs pertukaran ketika seseorang dapat menggunakan mata uang dalam negeri untuk membeli mata uang luar negeri.
  • d. Pendapatan konsumen di dalam dan luar negeri.
  • e. Biaya transport antarnegara.
  • f. Kebijakan pemerintah tentang perdagangan internasional.

2. Aliran Sumber Daya Keuangan: Aliran Modal ke Luar (net capital outflow)

Aliran sumber daya keuangan dalam konsep perekonomian terbuka dapat diartikan sebagai aliran modal antarnegara. Untuk lebih memahami pengertian dasar aliran sumber daya keuangan ini, perhatikan contoh berikut.

Jika misalkan Anda memiliki uang sebesar Rp200 juta, untuk apakah uang tersebut Anda gunakan? Apakah Anda menggunakan uang tersebut untuk membeli mobil Toyota Jepang, ataukah membeli saham dari perusahaan Toyota Corp? Jika uang tersebut digunakan untuk membeli mobil Toyota Jepang, maka berarti Anda telah melakukan transaksi yang menggambarkan aliran barang dalam perekonomian terbuka. Namun, jika uang tersebut digunakan untuk membeli saham dari Toyota Corp, berarti Anda telah terlibat dalam transaksi yang menggambarkan aliran modal antarnegara.

Aliran sumber daya keuangan ini tentu melibatkan aliran dana masuk dan aliran dana ke luar dari suatu negara. Aliran dana masuk dapat terjadi karena adanya pembelian aset dalam negeri oleh warga negara asing: sementara aliran dana ke luar terjadi karena adanya pembelian aset luar negeri oleh warga negara dalam negeri. Khusus menyoroti aliran dana ke luar; pada dasarnya, aliran dana ke luar dapat terjadi melalui dua bentuk transaksi modal, yaitu melalui kegiatan investasi langsung asing (foreign direct investment') dan melalui investasi portfolio asing. Misalnya, kegiatan Jepang melakukan penanaman modal di Indonesia untuk membuka pabrik otomotif dikategorikan sebagai kegiatan investasi langsung asing; sementara ketika yang dilakukan Jepang adalah membeli saham perusahaan dalam negeri, maka aktivitas ini dikategorikan sebagai kegiatan investasi portfolio asing. 

Dengan kata lain, investasi langsung asing merupakan aktivitas investasi ketika pihak asing secara aktif mengelola investasinya, sementara pada investasi portfolio asing, pengelolaan investasi oleh pihak asing dilakukan secara pasif.

Selisih dari aliran dana ke luar dan aliran dana masuk ini akan membentuk suatu konsep yang dikenal dengan istilah aliran modal ke luar neto (net capital outflow/dikenal juga dengan istilah investasi luar negeri bersih). Secara matematis, aliran modal ke luar ini dapat dituliskan sebagai:

Aliran modal ke luar neto = nilai pembelian aset luar negeri oleh warga negara dalam negeri - nilai pembelian aset dalam negeri oleh warga negara asing. 

Atau 

Aliran modal ke luar neto = aliran modal ke luar - aliran modal masuk (9.2) Aliran modal ke luar neto ini dapat bernilai positif, negatif, dan nol.

Jika aliran modal ke luar neto bernilai positif, berarti bahwa nilai pembelian aset luar negeri oleh warga dalam negeri lebih besar dibandingkan dengan nilai pembelian aset dalam negeri oleh warga asing. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebenarnya modal ke luar dari suatu negara (terjadi capital outflow). 

Sebaliknya, jika aliran modal ke luar neto bernilai negatif, berarti secara neto terjadi aliran modal masuk ke suatu negara (terjadi capital inflow) karena nilai pembelian aset dalam negeri oleh warga asing lebih besar dibandingkan dengan nilai pembelian aset luar negeri oleh warga dalam negeri.

Aliran modal ke luar neto ini dapat bernilai positif, negatif, dan nol. Jika aliran modal ke luar neto bernilai positif, berarti bahwa nilai pembelian aset luar negeri oleh warga dalam negeri lebih besar dibandingkan dengan nilai pembelian aset dalam negeri oleh warga asing. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebenarnya modal ke luar dari suatu negara (terjadi capital outflow'). Sebaliknya, jika aliran modal ke luar neto bernilai negatif, berarti secara neto terjadi aliran modal masuk ke suatu negara (terjadi capital inflow) karena nilai pembelian aset dalam negeri oleh warga asing lebih besar dibandingkan dengan nilai pembelian aset luar negeri oleh warga dalam negeri.

Terdapat beberapa variabel penting yang dapat memengaruhi aliran modal ke luar dari suatu negara, di antaranya adalah:

  • a. Tingkat suku bunga riil yang dibayarkan terhadap aset luar negeri.
  • b. Tingkat suku bunga riil yang dibayarkan terhadap aset dalam negeri.
  • c. Kondisi ekonomi dan risiko politik dari memegang aset luar negeri.
  • d. Kebijakan pemerintah yang memiliki pengaruh terhadap kepemilikan aset dalam negeri.

3. Persamaan antara Ekspor Neto dan Aliran Modal Neto

Kondisi keseimbangan antara ekspor neto (NX) dan aliran modal neto (NCO) terjadi ketika nilai ekspor neto sama dengan nilai aliran modal neto.

Persamaan (9.3) ini menunjukkan bahwa ketika terdapat suatu transaksi yang memengaruhi salah satu sisi dari persamaan, maka sisi lain dari persamaan juga akan terpengaruh. Misalnya, ketika Indonesia menjual produk rotannya ke Jerman seharga Rp 100 juta. Penjualan rotan ke Jerman merupakan ekspor Indonesia sehingga akan meningkatkan nilai ekspor neto Indonesia (sisi kiri persamaan).

Dengan terjadinya peningkatan ekspor neto ini. bagaimana pengaruhnya terhadap pemenuhan kondisi keseimbangan berdasarkan persamaan di atas? Pemenuhan kondisi keseimbangan yang terjadi akan sangat tergantung dari penggunaan uang Rp 100 juta yang diperoleh dari penjualan rotan. Jika uang Rp 100 juta ini digunakan untuk membeli saham perusahaan Jerman, maka akan terjadi aliran modal ke luar dari Indonesia. Kondisi ini tentu akan mendorong naiknya nilai aliran modal ke luar neto (NCO).

Penjualan rotan yang pada awalnya meningkatkan ekspor neto Indonesia akhirnya akan diikuti pula dengan peningkatan aliran modal ke luar (NCO) karena dilakukannya pembelian aset luar negeri dengan menggunakan uang hasil ekspor rotan.

Seandainya uang Rp 100 juta hasil penjualan rotan digunakan untuk membeli mobil buatan Jerman, kondisi yang terjadi adalah terdorongnya peningkatan nilai impor Indonesia, yang akhirnya berujung pada peneiptaan trade balance (keseimbangan perdagangan), yaitu kondisi ketika nilai ekspor sama dengan nilai impor. Dengan terjadinya keseimbangan perdagangan ini. nilai aliran modal neto pun tidak mengalami perubahan.

Berdasarkan ilustrasi sederhana tentang konsep keseimbangan ekspor neto dan aliran modal neto di atas, dapat disimpulkan bahwa:

  • a. Ketika perekonomian pengalami surplus perdagangan (NX > 0), berarti perekonomian tersebut melakukan lebih banyak penjualan terhadap barang/jasanya ke luar negeri. Ketika uang yang diperoleh dari hasil ekspor ini digunakan untuk membeli aset luar negeri, maka AMN juga akan meningkat (NCO > 0).
  • b. Ketika perekonomian mengalami defisit perdagangan (NX < 0), berarti perekonomian melakukan aktivitas membeli barang/jasa luar negeri lebih banyak dibandingkan aktivitas menjualnya ke luar negeri. Agar perdagangan dapat tetap berjalan, maka diperlukan penjualan aset asing agar tersedia dana untuk membiayai defisit perdagangan, dan AMN pun menjadi menurun (NCO < 0).

4. Tabungan, Investasi, dan Hubungannya dengan Aliran Internasional

Coba ingat kembali konsep investasi dan tabungan telah dipelajari sebelumnya dalam Modul 3, terutama pada subkegiatan "Keterkaitan antara Investasi dan Tabungan dalam Sistem Pendapatan Nasional". Asumsi yang digunakan dalam pembahasan tersebut adalah perekonomian diasumsikan tidak melakukan interaksi dengan negara lain sehingga variabel ekspor neto tidak dimasukkan ke dalam persamaan produk domestik bruto. Namun, pada bagian ini, konsep investasi dan tabungan akan dibahas dengan melepaskan asumsi yang digunakan pada Modul 3.

Jika perekonomian melakukan interaksi dengan luar negeri, maka persamaan produk domestik bruto akan dibangun oleh konsumsi (C), investasi (I), pengeluaran pemerintah (G), dan ekspor neto (NX).

Dengan kata lain, total pengeluaran terhadap barang/jasa di suatu negara merupakan penjumlahan dari pengeluaran konsumsi, pengeluaran investasi, pengeluaran pemerintah, dan pengeluaran untuk ekspor neto.

Yang dimaksud dengan tabungan nasional adalah total pendapatan yang masih tersisa setelah digunakan untuk keperluan konsumsi dan pengeluaran pemerintah. Secara matematis tabungan nasional (S) ditulis sebagai S = Y - C - G. jika persamaan (9.4) disusun ulang dengan menempatkan persamaan tabungan nasional di sisi kiri persamaan, maka akan diperoleh bentuk persamaan sebagai berikut:

Berdasarkan persamaan di atas terlihat bahwa tabungan nasional harus sama dengan investasi dalam negeri (I) ditambah dengan aliran modal ke luar neto (NCO). Dengan kata lain, uang tabungan warga negara Indonesia bisa digunakan untuk tujuan akumulasi modal dalam negeri, atau dapat digunakan untuk membiayai pembelian modal/aset luar negeri.

Jika dalam perekonomian tertutup tabungan hanya dapat digunakan untuk investasi, namun dalam perekonomian terbuka, tabungan tidak hanya dapat digunakan untuk investasi, namun juga dapat digunakan untuk keperluan transaksi dengan luar negeri, yaitu transaksi ekspor-impor dan transaksi aset lintas negara.

B. NILAI TUKAR

Untuk melakukan transaksi lintas negara tentu memerlukan mata uang sebagai alat tukarnya. Karena negara-negara di dunia umumnya memiliki mata uang yang berbeda-beda, bagaimana caranya agar interaksi perdagangan barang dan transaksi modal lintas negara dapat terwujud?

Tentu saja untuk mewujudkan transaksi ekonomi antarnegara diperlukan kesetaraan nilai mata uang yang berbeda-beda tersebut, dan penyetaraan ini diakomodir oleh konsep ekonomi yang bernama nilai tukar.

Secara sederhana, nilai tukar ini menunjukkan harga atau nilai mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain. Nilai tukar ini juga dapat didefinisikan sebagai jumlah uang domestik yang dibutuhkan, yaitu banyaknya rupiah yang dibutuhkan untuk memperoleh satu unit mata uang asing. Misalnya, kurs yang menunjukkan bahwa Singapore Dolar/SGD 1.00 = Rp6.000, berarti untuk mendapatkan SGD 1.00 diperlukan Rp6.000. Jadi dengan konsep ini, meskipun mata uang masing-masing negara di dunia berbeda-beda, transaksi ekonomi lintas negara tetap dapat lakukan karena adanya penyetaraan nilai mata uang-mata uang melalui konsep nilai tukar.

1. Jenis-jenis Nilai Tukar

Nilai tukar dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu: (a) nilai tukar nominal dan (b) nilai tukar riil. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda pelajari sajian berikut ini.

a. Nilai tukar nominal

Yang dimaksud dengan nilai tukar nominal adalah tingkat ketika mata uang suatu negara dapat dipertukarkan dengan mata uang negara lainnya. Jika Anda ingin jalan-jalan ke Amerika Serikat, Anda tentu memerlukan mata uang Dolar Amerika agar dapat membeli produk-produk khas Amerika, jika nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika adalah sebesar Rpl3.000/US$. maka untuk membawa US$1000 ke Amerika. Anda perlu menukarkan uang sebanyak Rp 13.000.000. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika sebesar Rpl3.000/US$ inilah yang dimaksud sebagai nilai tukar nominal, yang berarti bahwa untuk mendapatkan mata uang US$1, diperlukan uang sebesar Rpl3.000. sehingga jika Anda menginginkan uang dolar sebanyak US$1(X)O, berarti Anda harus menyediakan uang sebanyak Rp 13.000.000.

Nilai tukar nominal ini dapat diungkapkan dalam 2 cara, yaitu dalam satuan mata uang domestik per mata uang asing, misalnya dalam bentuk Rupiah/US$ (Rpl3.000/US$); dan dalam satuan mata uang asing per mata uang domestik, misalnya dalam bentuk USS/Rupiah (0.000083 US$/Rp). Namun dalam buku ini, satuan nilai tukar yang digunakan adalah satuan mata uang asing per mata uang domestik.

Dalam konsep nilai tukar, dikenal adanya konsep apresiasi dan depresiasi nilai tukar. Jika perubahan nilai tukar membuat rupiah dapat ditukarkan dengan lebih banyak mata uang asing, maka perubahan nilai tukar ini dikenal dengan istilah apresiasi rupiah/penguatan rupiah, misalnya adalah ketika terjadi perubahan nilai tukar dari US$0.1/Rp menjadi US$0.2/Rp. Perubahan nilai tukar ini disebut apresiasi rupiah karena pada awalnya Rpl hanya dapat ditukarkan dengan US$0.1, namun sekarang Rpl dapat ditukarkan dengan US$2. Dari kondisi ini terlihat bahwa terjadi peningkatan daya tukar dari rupiah. Sebaliknya, jika perubahan nilai tukar membuat rupiah dapat ditukarkan dengan lebih sedikit mata uang asing, maka kondisi ini disebut sebagai depresiasi rupiah/inclemahnya rupiah. Misalnya adalah ketika nilai tukar mengalami perubahan dari US$ 0.01/Rp (Agustus 2012) menjadi US$ 0.009/Rp (Desember 2012). Mengapa perubahan ini disebut depresiasi? Karena kemampuan rupiah membeli mata uang lain menurun; jika pada awalnya Rpl dapat ditukarkan dengan US$ 0.01, sekarang uang Rpl hanya dapat ditukarkan dengan US$ 0.009.

Hal yang perlu diingat dalam konsep ini adalah bahwa apresiasi suatu mata uang berarti depresiasi bagi mata uang asing pasangannya dan depresiasi suatu mata uang berarti apresiasi bagi mata uang asing pasangannya. Misalnya, apresiasi nilai tukar rupiah dari US$ 0.1/Rp menjadi US$0.2/Rp rupiah merupakan depresiasi bagi mata uang dolar Amerika. Sebaliknya, depresiasi nilai tukar rupiah (misalnya dari US$ 0.01/Rp menjadi US$ 0.009/Rp) merupakan kondisi depresiasi bagi dolar Amerika.

b. Nilai tukar riil

Nilai tukar riil merupakan tingkat nilai tukar ketika seseorang dapat mempertukarkan barang/jasa dari suatu negara dengan barang/jasa dari negara lain. Jika misalnya untuk memperoleh 1 ton rotan Malaysia dua kali lebih mahal jika dibandingkan dengan 1 ton rotan Indonesia, maka dapat dikatakan bahwa nilai tukar riil adalah setengah ton rotan Malaysia/ ton rotan Indonesia.

Nilai tukar riil tentu berbeda dengan nilai tukar nominal karena nilai tukar nominal menggunakan satuan mata uang, sementara nilai tukar riil menggunakan satuan barang. Namun, antara nilai tukar riil dan nominal sebenarnya memiliki hubungan satu sama lain. Misalnya, harga 1 ton rotan Indonesia adalah Rp 10.000.000, dan harga 1 ton rotan Malaysia adalah RM 5715, berapakah nilai tukar riilnya? Untuk mengetahui nilai tukar riilnya, tentu satuan mata uang dari 1 ton rotan ini perlu disamakan agar nilai/harga dari rotan dapat dibandingkan. Jika nilai tukar nominal rupiah terhadap ringgit Malaysia adalah Rp 3500/RM, setara dengan RM0.00028/Rp. maka harga dari 1 ton rotan Indonesia akan ekuivalen dengan nilai RM 2857.14 (=RM O.(0,00028/Rp x Rp 10.000.000). Dengan nilai ini dapat diketahui bahwa nilai rotan Malaysia dua kali lebih mahal dari nilai rotan Indonesia (RM 5715untuk harga rotan di Malaysia, dan RM2857.14 di Indonesia).Perhitungan nilai tukar riil dapat pula dilakukan dengan menggunakanformula matematis berikut:

Berdasarkan rumusan di atas terlihat bahwa nilai tukar riil tergantungpada nilai tukar nominal dan harga barang/jasa yang terjadi di dua negarayang diukur dalam mata uang dalam negeri.Untuk apakah kita mempelajari nilai tukar riil? Jika Anda ingin membelirotan di Malaysia, tentu Anda perlu membandingkan harganya dengan hargadi Indonesia dan melihat di mana harga rotan yang lebih murah. 

Untukmengetahui rotan mana yang lebih murah. Anda tentu harus mengetahui nilaitukar riil rotan antara Indonesia dan Malaysia bukan? Begitu juga ketikaAnda ingin membeli jam tangan Rolex di Singapura. Karena jam tangan inijuga tersedia di Indonesia, maka sebelum memutuskan untuk membeli diSingapura. 

Anda tentu perlu membandingkan harga relatifnya dengan diIndonesia. Konsep nilai tukar riil tentu diperlukan untuk mengetahuibesarnya harga relatif jam tangan Rolex di Indonesia dan di Singapura.

Dalam konsep ekonomi makro, nilai tukar riil sebenarnya dinyatakandalam satuan barang/jasa secara agregat, bukan dalam satuan barang/jasatertentu seperti yang telah kita lakukan di atas. 

Untuk tujuan itu, makavariabel harga yang dipergunakan dalam perhitungan nilai tukar riil padarumus (9.7) diganti dengan indeks harga, baik untuk harga dalam negerimaupun untuk harga luar negeri, sehingga akhirnya akan diperoleh rumusperhitungan nilai tukar dalam konsep ekonomi makro:

Berdasarkan rumusan di atas terlihat bahwa nilai tukar riil tergantung pada nilai tukar nominal dan harga barang/jasa yang terjadi di dua negara yang diukur dalam mata uang dalam negeri.

Untuk apakah kita mempelajari nilai tukar riil? Jika Anda ingin membeli rotan di Malaysia, tentu Anda perlu membandingkan harganya dengan harga di Indonesia dan melihat di mana harga rotan yang lebih murah. Untuk mengetahui rotan mana yang lebih murah. 

Anda tentu harus mengetahui nilai tukar riil rotan antara Indonesia dan Malaysia bukan? Begitu juga ketika Anda ingin membeli jam tangan Rolex di Singapura. Karena jam tangan ini juga tersedia di Indonesia, maka sebelum memutuskan untuk membeli di Singapura. Anda tentu perlu membandingkan harga relatifnya dengan di Indonesia. Konsep nilai tukar riil tentu diperlukan untuk mengetahui besarnya harga relatif jam tangan Rolex di Indonesia dan di Singapura.

Dalam konsep ekonomi makro, nilai tukar riil sebenarnya dinyatakan dalam satuan barang/jasa secara agregat, bukan dalam satuan barang/jasa tertentu seperti yang telah kita lakukan di atas. Untuk tujuan itu, maka variabel harga yang dipergunakan dalam perhitungan nilai tukar riil pada rumus (9.7) diganti dengan indeks harga, baik untuk harga dalam negeri maupun untuk harga luar negeri, sehingga akhirnya akan diperoleh rumus perhitungan nilai tukar dalam konsep ekonomi makro:

Di mana P adalah indeks harga dalam negeri. P* adalah indeks harga luar negeri (P*), dan e adalah nilai tukar nominal dalam satuan mata uang asing per mata uang domestik.

Nilai tukar riil ini mengukur tingkat harga sekelompok barang/jasa yang dihasilkan di luar negeri secara relatif terhadap barang/jasa yang dihasilkan di dalam negeri.

Pergerakan nilai tukar riil ini (berupa depresiasi/apresiasi) merupakan determinan utama bagi sebuah negara dalam melakukan ekspor dan impor. Depresiasi nilai tukar riil rupiah (terjadinya penurunan nilai tukar riil), yang berarti bahwa harga barang domestik (Indonesia) menjadi lebih murah relatif terhadap harga barang luar negeri1, akan menjadi pendorong konsumen, baik konsumen dalam negeri maupun luar negeri untuk mengonsumsi barang buatan dalam negeri dan mengonsumsi lebih sedikit barang hasil produksi luar negeri. 

Dengan kondisi ini, ekspor pun akan terdorong untuk meningkat dan impor pun akan menurun. Hasilnya, ekspor neto Indonesia akan mengalami peningkatan. Sebaliknya, jika yang terjadi adalah apresiasi nilai tukar riil, maka ekspor neto akan cenderung mengalami penurunan karena harga barang domestik menjadi relatif lebih mahal dari barang luar negeri. 

Dengan relatif lebih mahalnya harga barang domestik, maka konsumen baik konsumen domestik maupun konsumen luar negeri akan lebih cenderung untuk mengonsumsi barang buatan luar negeri. Hasilnya, impor akan meningkat, dan ekspor akan menurun, sehingga berkontribusi terhadap penurunan ekspor neto.

2. Faktor Penentu Nilai Tukar Nominal

Tingkat nilai tukar nominal suatu negara dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya adalah:

a. Berdasarkan permintaan dan penawaran mata uang asing dalam pasar hehas

Penduduk suatu negara meminta mata uang asing supaya penduduk negara tersebut dapat membeli barang atau jasa dari negara lain. Misalnya Dolar Singapura, banyak masyarakat Indonesia yang gemar berbelanja di Singapura, karena itu mereka meminta mata uang negara tersebut.

1) Permintaan Mata Uang Asing

Kurs valuta asing merupakan salah faktor dalam menentukan apakah harga barang-barang di negara lain lebih murah atau lebih mahal daripada harga barang yang diproduksi di dalam negeri. Misalkan, ketika nilai mata uang dolar Singapura tinggi, yaitu SGD 1.00 = Rp6.000. maka harga barang di Amerika Serikat relatif mahal. Apabila penduduk Indonesia ingin membeli barang di Singapura yang seharga SGD 1.00. maka diperlukan Rp6.000. Sebaliknya, jika nilai mata uang dolar Singapura rendah, misalkan SGD 1.00 = Rp3.000, maka harga barang- barang di Singapura relatif lebih murah. Harga barang-barang Singapura yang makin murah akan menaikkan permintaan penduduk Indonesia terhadap barang-barang Singapura. Sebagai akibatnya, permintaan penduduk Indonesia terhadap mata uang Singapura juga bertambah.

2) Penawaran Mata Uang Asing

Penduduk Singapura akan menukarkan dolarnya dengan rupiah karena mereka ingin memperoleh barang-barang dari Indonesia. Suatu barang yang berharga Rpb.OOO adalah sama dengan SGD 1 jika kurs pertukaran adalah Rp6.000 setiap dolar Singapura, dan akan menjadi SGD 2 apabila kurs pertukaran adalah Rp3.000 setiap dolar Singapura. Dapat disimpulkan bahwa harga dolar Singapura yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya permintaan terhadap barang-barang Indonesia, sehingga penawaran dolar Singapura juga akan meningkat.

Perubahan permintaan dan penawaran suatu valuta menyebabkan perubahan nilai tukar sebenarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain.

a) Perubahan dalam cita rasa masyarakat

Corak konsumsi masyarakat terdapat barang-barang yang diproduksi baik itu di dalam negeri ataupun di luar negeri sangat dipengaruhi

oleh cita rasa masyarakat itu sendiri. Kualitas barang produksi dalam negeri yang makin baik akan menyebabkan keinginan untuk membeli barang dari luar negeri berkurang, demikian juga sebaliknya. Perubahan-perubahan tersebut akan memengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing.

b) Perubahan harga barang ekspor dan impor

Barang-barang yang diproduksi di dalam negeri yang dapat dijual dengan harga yang relatif murah dapat meningkatkan ekspor, bila harganya naik maka ekspornya akan berkurang.

Jika harga barang impor menurun, maka jumlah barang yang diimpor akan mengalami peningkatan, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, perubahan harga-harga barang ekspor dan impor akan menyebabkan perubahan pada permintaan dan penawaran terhadap mata uang negara tersebut.

c) Kenaikan harga umum (inflasi)

Inflasi yang berlaku pada umumnya cenderung untuk menurunkan nilai suatu valuta asing. Kecenderungan ini disebabkan karena efek inflasi berikut: (a) Inflasi menyebabkan harga-harga di dalam negeri lebih mahal daripada harga-harga di luar negeri, dan oleh karena itu inflasi berkecenderungan menambah impor, (b) Inflasi menjadikan harga-harga barang ekspor lebih mahal, oleh sebab itu inflasi berkecenderungan mengurangi ekspor. Keadaan (a) menyebabkan permintaan terhadap valuta asing bertambah, sedangkan keadaan (b) menyebabkan permintaan terhadap valuta asing berkurang.

d) Perubahan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi

Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang rendah akan menyebabkan modal dalam negeri mengalir ke luar negeri. Sedangkan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang tinggi akan membuat modal luar negeri mengalir ke dalam negara tersebut. Jika lebih banyak modal yang mengalir ke suatu negara, maka permintaan terhadap mata uang negara tersebut akan bertambah, sehingga nilai mata uangnya akan meningkat.

e) Pertumbuhan ekonomi

Nilai mata uang dapat diakibatkan oleh kemajuan ekonomi yang dipengaruhi oleh corak pertumbuhan ekonomi yang berlaku. Apabila kemajuan ekonomi diakibatkan oleh perkembangan ekspor, maka permintaan terhadap mata uang negara tersebut bertambah lebih cepat daripada penawarannya, dan oleh sebab itu nilai mata uang negara tersebut naik. Akan tetapi, bila kemajuan tersebut menyebabkan impor berkembang lebih cepat daripada ekspor, penawaran terhadap mata uang negara tersebut lebih cepat daripada permintaannya sehingga nilai mata uang negara tersebut akan merosot.

b. Adanya campur tangan pemerintah

Campur tangan pemerintah dalam menentukan kurs valuta asing mempunyai tujuan untuk memastikan kurs yang ada tidak akan menimbulkan efek yang buruk terhadap perekonomian. Kurs yang ditetapkan oleh pemerintah berbeda dengan kurs yang ditentukan oleh pasar bebas. Perbedaan tersebut tergantung kepada kebijakan dan keputusan pemerintah mengenai kurs yang paling sesuai untuk tujuan-tujuan pemerintah dalam menstabilkan dan mengembangkan perekonomian.

Apabila harga suatu mata uang domestik (harga rupiah) ditetapkan oleh pemerintah pada tingkat yang lebih rendah dari yang ditentukan oleh pasar bebas, maka mata uang domestik tersebut dinamakan: mata uang yang dinilai terlalu rendah (undervalued currency). Sebaliknya, jika harga mata uang domestik ditetapkan pemerintah pada kurs yang lebih tinggi dari yang ditentukan oleh pasar bebas, maka mata uang tersebut dinamakan: mata uang yang dinilai terlalu tinggi (overvalued currency).

Kesimpulan Tentang Istitah Perekonomian Terbuka dalam Ekonomi Makro

Terbukanya suatu perekonomian akan kegiatan ekonomi antar negara saling bersinggungan satu sama lain. Interdependensi akan makin kuat karena faktor yang memengaruhi kondisi perekonomian dalam negeri juga akan berasal dari luar negeri. Interaksi antar negara terangkum dalam kegiatan ekspor-impor. Ekspor didefinisikan sebagai kegiatan menjual barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri ke luar negeri. Sedangkan impor didefinisikan sebagai kegiatan membeli barang dan jasa yang diproduksi negara lain oleh pihak dalam negeri. Jika ekspor > impor berarti sudah terjadi surplus perdagangan. Sedang¬kan apabila ekspor < impor berarti telah terjadi defisit perdagangan.

Aliran sumber daya keuangan dalam konsep perekonomian terbuka dapat diartikan sebagai aliran modal antar negara. Aliran sumber daya keuangan melibatkan aliran dana masuk dan aliran dana ke luar dari suatu negara. Aliran dana masuk dapat terjadi karena adanya pembelian aset dalam negeri oleh warga negara asing; sementara aliran dana ke luar terjadi karena adanya pembelian aset luar negeri oleh warga negara dalam negeri. Selisih dari aliran dana ke luar dan aliran dana masuk ini akan membentuk suatu konsep yang dikenal dengan istilah aliran modal ke luar neto (net capital outflow/dikenal juga dengan istilah investasi luar negeri bersih).

Untuk melakukan transaksi lintas negara tentu diperlukan mata uang sebagai alat tukarnya. Mata uang yang berbeda-beda antar negara membutuhkan penyetaraan. Oleh karena itu. muncul konsep nilai tukar. Nilai tukar ini menunjukkan harga atau nilai mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain.

Pembahasan Ke Dua 2

Keseimbangan Ekonomi Makro dalam Konsep Perekonomian Terbuka

Dalam pembahasan ke 2 ini kita akan membahas tentang Keseimbangan Ekonomi Makro dalam Konsep Perekonomian Terbuka, ditinjau dari konsep determinan dari keseimbangan perdagangan (trade balance) dan nilai tukar akan dibahas secara mendalam dengan menggunakan analisis permintaan dan penawaran. Untuk membahas hal ini, kita akan melibatkan dua jenis pasar dalam analisis, yaitu 1) pasar dana pinjaman (market for loanable fund) dan 2) pasar valuta asing. Pasar dana pinjaman merupakan pasar yang mengoordinasikan antara tabungan, investasi, dan aliran modal ke luar negeri (net capital outflow-NCO). Sementara itu, pasar valuta asing merupakan pasar yang mengoordinasikan pihak-pihak yang ingin menukarkan mata uang domestik yang dimilikinya dengan mata uang negara lain.

A. PASAR DANA PINJAMAN (MARKET FOR LOANABLE FUND)

Dalam analisis pasar dana pinjaman, asumsi yang digunakan adalah bahwa sistem keuangan hanya terdiri atas satu pasar yang disebut sebagai pasar dana pinjaman; seluruh pihak yang memiliki tabungan akan menempatkan dananya di pasar ini, dan seluruh pihak yang membutuhkan pinjaman dana akan meminjam dana ke pasar ini pula. Di pasar ini hanya terdapat satu tingkat suku bunga yang tidak hanya merefleksikan tingkat return yang diperoleh dari kegiatan menabung yang dilakukan, namun juga merefleksikan biaya yang dibutuhkan dari kegiatan peminjaman dana yang dilakukan di pasar ini.

Persamaan (9.6) yang telah disajikan pada Pembahasan Pertama (1) dapat digunakan untuk memperdalam pemahaman tentang pasar dana pinjaman ini.

S = I + NCO

Dimana S merupakan tabungan nasional, I merupakan investasi domestik, dan NCO merupakan aliran modal ke luar neto. Persamaan ini berarti bahwa tabungan domestik dapat digunakan untuk tujuan akumulasi modal dalam negeri (I), atau dapat digunakan untuk membiayai pembelian modal/aset luar negeri (NCO). NCO dapat bernilai positif atau negatif. Jika NCO suatu negara bernilai positif (NCO > 0), negara tersebut berarti mengalami aliran modal ke luar secara neto; sementara jika NCO bernilai negatif (NCO < 0), maka negara tersebut berarti mengalami aliran modal masuk secara neto.

Jumlah dana pinjaman yang diminta dan ditawarkan dalam suatu perekonomian akan tergantung dari tingkat suku bunga riil negara tersebut. Sisi penawaran yang diperankan oleh tabungan nasional (S) memiliki hubungan positif dengan tingkat suku bunga riil; makin tinggi tingkat suku bunga riil akan mendorong meningkatnya keinginan orang untuk menabungkan uangnya sehingga akhirnya akan meningkatkan tabungan nasional. 

Sementara sisi permintaan dari dana pinjaman yang diperankan oleh investasi (I) dan NCO memiliki hubungan negatif dengan peningkatan suku bunga riil; untuk variabel investasi, hal ini terjadi karena meningkatnya nilai tukar riil akan meningkatkan biaya dalam peminjaman modal sehingga kegiatan investasi pun akan melemah; sementara untuk variabel NCO, pengaruh negatif peningkatan tingkat suku bunga riil terjadi karena dalam melakukan penanaman modal lintas negara, investor akan memperhatikan tingkat suku bunga riil relatif antara suatu negara dan negara lain (misalnya antara Indonesia dan Malaysia). 

Dengan terjadinya kenaikan tingkat suku bunga riil di Indonesia, maka investasi di Indonesia akan menjadi relatif lebih menarik dibandingkan dengan investasi di Malaysia sehingga investor akan terdorong untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Alhasil, nilai NCO pun menurun karena adanya aliran modal masuk ke dalam negeri.

Berdasarkan analisis di atas, maka penawaran dana pinjaman dapat digambarkan dalam bentuk kurva dengan kemiringan positif, sementara permintaan dana pinjaman dapat digambarkan dalam bentuk kurva dengan kemiringan negatif, seperti yang tergambar pada Gambar 9.1 di bawah ini.

Gambar 9.1 Kurva Permintaan dan Penawaran Dana Pinjaman

Pembentukan titik keseimbangan antara permintaan dan penawaran dana pinjaman dilakukan oleh pergerakan tingkat suku bunga riil. Jika tingkat suku bunga riil berada di bawah tingkat suku bunga keseimbangan, maka permintaan dana pinjaman akan jauh lebih besar dibandingkan dengan penawaran dana pinjaman. Sedikitnya penawaran dana di saat permintaannya besar akan mendorong peningkatan tingkat suku bunga; dengan terjadinya peningkatan suku bunga, perbedaan antara jumlah uang yang diminta dan ditawarkan akan makin mengecil, dan akhirnya tercapai kondisi keseimbangan di saat suku bunga mencapai tingkat suku bunga r. 

Sebaliknya, jika suku bunga riil berada di atas tingkat suku bunga keseimbangan, jumlah penawaran dana lebih besar dari jumlah permintaan dana karena orang menjadi terdorong untuk meningkatkan tabungannya. Kondisi yang tercipta adalah terjadinya kelebihan penawaran dari dana pinjaman/e.vces.v supply. Lebih sedikitnya jumlah permintaan dana dibandingkan dengan jumlah penawarannya menjadi pendorong turunnya tingkat suku bunga agar jumlah permintaan dana menjadi meningkat. 

Dengan turunnya suku bunga, jumlah permintaan akhirnya akan terdorong naik karena biaya investasi menjadi lebih murah, diiringi dengan penurunan jumlah penawaran hingga akhirnya tercapai kondisi keseimbangan di titik O, yaitu titik ketika jumlah permintaan sama dengan jumlah penawaran.

Pada kegiatan atau pembasan ini, konsep determinan dari keseimbangan perdagangan (trade balance) dan nilai tukar akan dibahas secara mendalam dengan menggunakan analisis permintaan dan penawaran. Untuk membahas hal ini, kita akan melibatkan dua jenis pasar dalam analisis, yaitu 1) pasar dana pinjaman (market for loanable fund), dan 2) pasar valuta asing. Pasar dana pinjaman merupakan pasar yang mengoordinasikan antara tabungan, investasi, dan aliran modal ke luar negeri (net capital outflow-NCO). Sementara itu, pasar valuta asing merupakan pasar yang mengoordinasikan pihak-pihak yang ingin menukarkan mata uang domestik yang dimilikinya dengan mata uang negara lain.

B. PASAR VALUTA ASING

Perekonomian terbuka akan selalu melibatkan aliran uang dan aliran modal lintas negara. Aliran barang, yang terangkum dalam aktivitas ekspor- impor, akan selalu memiliki nilai yang sama dengan aliran modal yang terangkum dalam aktivitas aliran modal keluar dan aliran modal masuk. Kedua jenis aliran dalam perekonomian terbuka ini akan selalu membentuk kondisi keseimbangan seperti yang tergambar pada persamaan (9.3).

NX = NCO (disajikan kembali persamaan  (9.3)

Persamaan ini menggambarkan dua sisi yang terdapat dalam pasar valuta asing; di satu sisi, ekspor neto menggambarkan jumlah mata uang domestik yang diminta untuk memenuhi kebutuhan ekspor neto dalam negeri; sementara di sisi lain, NCO menggambarkan jumlah mata uang domestik yang tersedia untuk membeli aset luar negeri. Ekspor neto yang berperan sebagai sisi permintaan dalam pasar valuta asing terjadi karena ketika suatu negara (misalnya Malaysia) ingin membeli produk Indonesia, maka negara tersebut harus menukarkan mata uang negaranya (yaitu Ringgit Malaysia) dengan Rupiah agar transaksi perdagangan dapat terjadi. 

Karena untuk memenuhi transaksi ekspor neto akan terjadi permintaan terhadap rupiah, maka ekspor neto dapat dikatakan sebagai sisi permintaan dalam pasar valuta asing. Hal sebaliknya berlaku bagi NCO. Misalnya ketika pemerintahan Indonesia ingin membeli saham yang diterbitkan oleh perusahaan Malaysia, maka pemerintah Indonesia tentu harus menukarkan mata uang rupiahnya ke dalam bentuk mata uang ringgit Malaysia agar transaksi penanaman modal dapat berlangsung di Malaysia. Karena rupiah ditukarkan dengan ringgit Malaysia, jumlah penawaran rupiah pun akan meningkat sehingga transaksi NCO dapat dikatakan sebagai sisi penawaran dalam pasar valuta asing.

Faktor utama yang menjadi determinan yang memengaruhi keseimbangan pasar valuta asing (keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran) adalah tingkat nilai tukar riil.

Gambar 9.2 Kurva Permintaan dan Penawaran

Kurva permintaan akan memiliki hubungan negatif dengan tingkat nilai tukar riil karena ketika terjadi penurunan nilai tukar riil (terjadi depresiasi), ekspor akan terdorong dan impor akan tertekan. Secara neto, ekspor neto akan meningkat. Kondisi ini terjadi karena dengan terdepresiasinya nilai tukar riil rupiah, harga barang luar negeri menjadi relatif lebih mahal dari harga dalam negeri. Dampak selanjutnya dari peningkatan ekspor neto ini adalah terjadinya penurunan permintaan terhadap mata uang negara lain karena mata uang yang dibutuhkan untuk memenuhi transaksi ekspor adalah mata uang rupiah.

Di sisi lain, kurva penawaran terlihat vertikal, yang berarti bahwa jumlah penawaran mata uang untuk NCO tidak tergantung dari perubahan nilai tukar riil. Seperti yang telah dibahas pada pokok bahasan ‘pasar dana pinjaman’. terlihat bahwa NCO adalah variabel ekonomi makro yang dipengaruhi oleh tingkat suku bunga riil, dan tidak dipengaruhi oleh nilai tukar riil.

Di pasar valuta asing, nilai tukar riil akan bergerak untuk melakukan penyesuaian agar kondisi keseimbangan di titik O dapat tercapai. Ketika nilai tukar riil berada di bawah nilai tukar riil keseimbangan (titik O), jumlah penawaran rupiah akan menjadi lebih rendah dibandingkan dengan jumlah permintaan rupiah. Kekurangan rupiah ini akan mendorong nilai rupiah untuk meningkat. Sebaliknya, ketika nilai tukar riil berada di atas nilai tukar keseimbangan, jumlah penawaran rupiah menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah permintaannya.

Kelebihan penawaran rupiah ini akan mendorong terjadinya penurunan nilai rupiah. Kondisi akhir yang tercipta adalah kondisi keseimbangan, yang mendorong nilai tukar untuk berada tingkat titik keseimbangan (e0).Kondisi Keseimbangan dalam Perekonomian Terbuka Bagaimanakah kedua pasar yang telah dibahas di atas—pasar dana pinjaman dan pasar valuta asing berhubungan satu sama lainnya? Hal inilah yang akan didalami pada bagian ini.

Mari kita ingat kembali bahwa pada pasar dana pinjaman dan pasar valuta asing terdapat empat variabel ekonomi makro penting yang terlibat, yaitu tabungan (S), investasi (I), aliran modal ke luar neto (NCO), dan ekspor neto (NX), dan keempat variabel ini telah dirumuskan dalam bentuk formula berikut:

S = I + NCO dan NCO = NX

Pada pasar dana pinjaman, sisi penawaran berasal dari variabel tabungan nasional, dan sisi permintaan berasal dari variabel investasi domestik dan aliran modal keluar neto, dengan tingkat suku bunga yang berperan dalam menyeimbangkan permintaan dan penawaran ini. Sementara pada pasar valuta asing, sisi permintaan berasal dari variabel ekspor neto dan sisi penawaran berasal dari variabel aliran modal ke luar neto, dengan nilai tukar riil berperan dalam menyeimbangkan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing.

Jika diamati rangkuman kedua pasar di atas, terlihat bahwa variabel aliran modal ke luar neto (NCO) merupakan variabel yang menjadi penghubung antara kedua pasar. Seseorang yang ingin membeli aset di luar negeri harus membiayainya dengan menggunakan sumber pendanaan yang diperoleh dari pasar dana pinjaman. Dana yang diperoleh dari pasar dana pinjaman ini harus ditukarkan ke dalam mata uang asing di pasar valuta asing sehingga akhirnya akan memengaruhi penawaran rupiah di pasar valuta asing. Kondisi ini digambarkan pada Gambar 9.3.

Gambar 9.3 (a) menunjukkan kondisi pasar dana pinjaman dengan tabungan nasional yang berperan di sisi penawaran dengan investasi dan aliran modal ke luar neto yang berperan di sisi permintaan. Tingkat suku bunga keseimbangan (r1) akan membawa permintaan dan penawaran dana pinjaman menuju titik keseimbangannya. Pada gambar 3 (b) ditunjukkan aliran modal ke luar neto. Gambar ini menunjukkan bagaimana tingkat suku bunga pada gambar 3 (a) memengaruhi aliran modal keluar neto. Makin tinggi tingkat suku bunga di dalam negeri akan membuat aset dalam negeri menjadi relatif lebih menarik sehingga aliran modal ke luar neto akan mengalami penurunan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa kurva aliran modal ke luar neto memiliki kemiringan negatif.

Nilai keseimbangan aliran modal ke luar yang terbentuk di Gambar 9.3 (b) tentu harus masuk ke pasar valuta asing karena modal yang ada harus ditukarkan terlebih dahulu ke dalam mata uang asing. Jumlah dana yang ditukarkan ini akan tidak terpengaruh oleh perubahan tingkat nilai tukar riil sehingga berapa pun nilai tukar riil, jumlah modal yang ditukarkan untuk keperluan NCO akan tetap sejumlah nilai yang terbentuk dari pasar dana pinjaman, seperti yang tergambar pada Gambar 3 (c). Namun, nilai tukar riil ei akan berperan sebagai pendorong terbentuknya keseimbangan di pasar valuta asing, yaitu keseimbangan antara permintaan valuta asing dari ekspor neto dan penawaran valuta asing oleh NCO.

Gambar 9.3Keseimbangan dalam Perekonomian Terbuka

Dua pasar yang ditunjukkan pada Gambar 9.3 menunjukkan terbentuknya dua variabel, yaitu tingkat suku bunga riil dan nilai tukar riil. Dua variabel ini melakukan penyesuaian secara bersamaan untuk menyeimbangkan permintaan dan penawaran di kedua pasar ini sehingga akhirnya terbentuk tingkat tabungan nasional, investasi domestik, aliran modal ke luar neto, dan ekspor neto dalam kondisi keseimbangan.

Kesimpulan Keseimbangan_Ekonomi_Makro_dalam_Konsep_Perekonomian_Terbuka

Konsep keseimbangan perdagangan (trade balance) dan nilai tukar bisa dibahas secara mendalam dengan melibatkan dua jenis pasar dalam analisis, yaitu 1) pasar dana pinjaman (market for loanable fund) dan 2) pasar valuta asing. Dalam analisis pasar dana pinjaman diketahui bahwa sisi permintaan ataupun penawaran di pasar ini akan selalu berkaitan dengan tinggi rendahnya tingkat suku bunga riil.

Pasar valuta asing hadir untuk mengakomodasi aktivitas sistem perekonomian terbuka yang selalu melibatkan aliran uang dan aliran modal lintas negara. Uang dan aliran modal di masing-masing negara pasti berdenominasi mata uang yang berbeda-beda, sehingga dibutuhkan penyelarasan seperti yang dihadirkan oleh pasar valuta asing. Secara sederhana pasar valuta asing merupakan pasar yang mengoordinasikan pihak-pihak yang ingin menukarkan mata uang domestik yang dimilikinya dengan mata uang negara lain.

Pasar dana pinjaman dan pasar valuta asing sangat berhubungan erat satu sama lain karena seperti kita ketahui seseorang yang ingin membeli aset di luar negeri harus membiayainya dengan menggunakan sumber pendanaan yang diperoleh dari pasar dana pinjaman. Dana yang diperoleh dari pasar dana pinjaman ini harus ditukarkan ke dalam mata uang asing di pasar valuta asing sehingga akhirnya akan memengaruhi penawaran rupiah di pasar valuta asing.

Pembahasan Ke Tiga 3

Neraca Pembayaran dan Kebijakan Pemerintah dalam Konsep Perekonomian Terbuka

Setelah kita membahas aliran barang/jasa dan nilai tukar sertakeseimbangan ekonomi, dilanjutkan pada Pembahasan Ke 3, ini kitaakan membahas tentang neraca pembayaran, dan Kebijakan Pemerintahdalam Ekonomi Terbuka secara verbal dan grafis. Apa yang dimaksuddengan neraca pembayaran, bentuk neraca pembayaran dan kebijakan apayang diberlakukan pemerintah dalam ekonomi terbuka, untuk lebih jelasnyasilakan Anda simak pemaparan berikut ini.

A. NERACA PEMBAYARAN

Segala transaksi perdagangan dan aliran dana yang dilakukan di antarasuatu negara dengan negara lain dalam suatu tahun tertentu dicatat alirankeuangannya serta nilainya dalam suatu neraca pembayaran. Sebuah neracapembayaran dibedakan menjadi dua bagian utama, yaitu neraca berjalan danneraca modal.Pada neraca berjalan mencatat transaksi-transaksi berikut:

1. Nilai Ekspor dan Impor Barang Tampak

Transaksi ini meliputi hasil-hasil sektor pertanian, barang-barangproduksi industri dan barang-barang yang diproduksi oleh sektorpertambangan dan berbagai jenis ekspor dan impor barang tampaklainnya. Disebut juga dengan neraca perdagangan.

2. Nilai Ekspor dan Impor Barang Tak Tampak

Transaksi ini meliputi pembayaran biaya pengangkutan dan asuransi daribarang-barang tampak yang diekspor atau diimpor, perbelanjaan parawisatawan dan pendapatan investasi (meliputi keuntungan, bunga atasmodal yang diinvestasikan, dan deviden). Disebut juga dengan neracajasa.

3. Pembayaran Pindahan

Pembayaran ini meliputi pembayaran pindahan yang dilakukan oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta. Transaksi ini meliputi pembayaran ketika penerimaannya tidak perlu membayar dalam bentuk uang atau jasa. Contohnya bantuan bahan makanan dari suatu negara ke penderita kelaparan di Afrika.

Sedangkan pada neraca modal terdapat dua golongan transaksi, yaitu:

1. Aliran Modal Jangka Panjang

Meliputi dua jenis aliran modal, yaitu aliran modal resmi yang merupakan pinjaman dan pembayaran antara badan-badan pemerintah suatu negara dengan negara lain dan investasi langsung swasta yang merupakan penanaman modal langsung berupa pendirian perusahaan terutama perindustrian.

2. Aliran Modal Keuangan Swasta

Yang dimaksud dengan aliran modal keuangan swasta adalah aliran- aliran modal dalam bentuk tabungan atau investasi keuangan yang dengan cepat dapat ditukarkan kembali pada valuta asal atau valuta lainnya. Meliputi uang yang diinvestasikan dalam pasaran uang dan modal.

Neraca pembayaran akan selalu seimbang, ketika aliran uang dan modal ke luar negeri adalah sama dengan aliran uang dan modal yang masuk ke negara tersebut. Begitu pula dengan neraca modal. Yang menyebabkan keseimbangan terjadi adalah ketidakseimbangan dalam neraca berjalan dan neraca modal akan diseimbangkan oleh perubahan cadangan valuta asing yang dimiliki oleh Bank Sentral. Perhatikan contoh berikut (nilai-nilai dalam triliun rupiah):

Digambarkan neraca berjalan mempunyai surplus Rp40 triliun dan modal jangka panjang memperoleh surplus Rp20 triliun. Dalam modal keuangan swasta terdapat defisit sebesar Rp30 triliun. Hal ini menyebabkan neraca keseluruhan memperoleh surplus Rp30 triliun. Surplus berarti negara menerima Rp30 triliun dari negara lain, yang menyebabkan cadangan valuta asing bank sentral bertambah dengan jumlah yang sama. Akibatnya, neraca pembayaran menjadi seimbang. Catatan: dalam neraca pembayaran tanda (-) dalam perubahan cadangan valuta asing menggambarkan pertambahan cadangan dan tanda (+) berarti pengurangan cadangan valuta asing bank sentral.

Neraca golongan mutasi keuangan

Pada Tabel 9.1 di tunjukkan neraca pembayaran untuk tahun 1996/97 sebelum krisis moneter melanda Indonesia dan tahun 2015/2016. Susunan neraca dibedakan kepada tiga golongan mutasi keuangan, yaitu transaksi berjalan, transaksi modal, dan selisih perhitungan.

1. Transaksi Berjalan

Data dibedakan kepada dua golongan, ekspor-impor barang serta ekspor* impor neto jasa-jasa. Pada tahun 1996/97 ekspor Indonesia berjumlah US$52,04 miliar dan meningkat menjadi US$ 144,4 miliar pada tahun 2015/16. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh perkembangan ekspor non migas dari US$39,3 miliar pada tahun 1996/97 menjadi US$ 130,1 miliar pada 2015/16.

Dalam periode yang sama impor juga meningkat dari US$45,8 miliar menjadi US$129 miliar yang terutama disebabkan oleh peningkatan impor non-migas dari US$41,1 miliar menjadi US$110,5 miliar.

Perkembangan ekspor dan impor menyebabkan dalam periode di atas neraca perdagangan mengalami perbaikan yang cukup signifikan, yaitu surplusnya meningkat dari US$6,2 miliar menjadi US$15,4 miliar. Perbaikan dalam neraca ini menimbulkan efek positif dalam neraca transaksi berjalan yang mengalami defisit dalam tahun 1996/97 sebanyak US$8,07 miliar tetapi mengalami surplus pada tahun 2015/16 sebanyak US$8,9 miliar.

2. Transaksi Modal dan Selisih Perhitungan

Transaksi modal menggambarkan aliran ke luar masuk modal antara Indonesia dengan negara lain. Data transaksi dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu nilai aliran modal kepada pemerintah dan nilai neto aliran swasta. Data yang ditunjukkan pada Tabel 9.1 memberikan gambaran sebagai berikut.

  • a. Pinjaman pemerintah menurun dari angka US$ 5,3 Milyar menjadi US$O yang artinya pemerintah tidak menerima pinjaman pada periode ini.
  • b. Aliran masuk neto modal swasta tahun 1996/97 mencapai US$13,5 miliar dan terdiri dari lebih US$6,5 miliar aliran penanaman modal langsung dan hampir US$6,6 miliar aliran modal lainnya. Sementara pada tahun 2015/16, aliran modal neto mengalami penurunan menjadi senilai US$10,3 miliar.
  • c. Perkembangan aliran modal yang diterangkan dalam (i) dan (ii) menggambarkan pembalikan total terhadap trend aliran modal ke Indonesia. Pada tahun 1996/97 aliran masuk neto berjumlah US$12,7 miliar. Pada tahun 2015/16 mengalami penurunan ke angka US$10,3 miliar.

Nilai selisih perhitungan menurun dari US$701 juta menjadi -US$762 juta. Penurunan ini menggambarkan aliran modal yang tidak dicatat menurun. Nilai negatif artinya pada tahun 2015/16 aliran modal masuk ke Indonesia yang tidak dicatat menurun dan jumlahnya lebih sedikit.

Neraca keseluruhan menggambarkan jumlah aliran neto yang dicatat di ketiga kelompok transaksi, yaitu transaksi berjalan, transaksi modal, dan selisih perhitungan. Faktor utama yang menyebabkan arah aliran yang membaik adalah perbaikan dalam neraca perdagangan yang telah mengalami peningkatan yang sangat besar. Surplus neraca perdagangan mampu menutupi defisit dalam neraca perdagangan jasa dan defisit dalam aliran modal. Surplus yang besar dalam neraca perdagangan menyebabkan pula perubahan neraca transaksi berjalan dari defisit menjadi surplus.

Dari neraca pembayaran yang terlihat surplus belum menunjukkan kedudukan yang kokoh. Jika perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat, impor meningkat, ekspor-impor jasa neto defisitnya makin meningkat, belum tentu kecondongan pemerintah untuk meminjam dari negara lain dapat dikurangi. Untuk menciptakan kedudukan yang kokoh perlu diciptakan sektor moneter yang kokoh, kestabilan ekonomi, politik dan sosial serta usaha dan dorongan kepada para pengusaha untuk mengembangkan ekspor yang pesat.

Tabel 9.1Neraca Pembayaran Indonesia 1997 dan 2016 (Juta dollar US)

B. KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM EKONOMI TERBUKA

Dalam perekonomian terbuka, permasalahan yang dihadapi suatu negara jauh lebih rumit. Dalam perekonomian tertutup, pada dasarnya pemerintah hanya menghadapi dua permasalahan, yaitu pengangguran dan inflasi. Sedangkan dalam perekonomian terbuka, selain kedua permasalahan tersebut, pemerintah juga harus memperhatikan efek dari kebijakan pemerintah yang dirumuskan terhadap neraca pembayaran dan kestabilan nilai tukar. Terjadinya defisit neraca pembayaran akan menimbulkan dampak buruk pada kestabilan nilai tukar sehingga pada akhirnya akan menimbulkan efek buruk pula terhadap masalah pengangguran dan kestabilan harga-harga.

Permasalahan yang terdapat dalam perekonomian terbuka akan berbentuk salah satu dari permasalahan berikut, perekonomian akan menghadapi masalah:

  • 1. pengangguran, tetapi terdapat surplus dalam neraca pembayaran;
  • 2. inflasi tetapi terdapat surplus dalam neraca pembayaran;
  • 3. pengangguran dan menghadapi masalah defisit dalam neraca pembayaran;
  • 4. inflasi dan menghadapi masalah defisit dalam neraca pembayaran.

Masalah pengangguran dan inflasi yang diikuti pula oleh masalah defisit dalam neraca pembayaran memerlukan langkah-langkah yang secara serentak akan:

  • a. mengatasi masalah pengangguran dan defisit dalam neraca pembayaran, jika perekonomian tersebut menghadapi masalah seperti yang dinyatakan dalam (3). Kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah seperti ini biasanya berbentuk kebijakan memindahkan perbelanjaan;
  • b. mengatasi inflasi dan defisit dalam neraca pembayaran, jika perekonomian tersebut menghadapi permasalahan seperti yang dinyatakan dalam (4). Kebijakan pemerintah yang dijalankan akan meliputi langkah-langkah yang digolongkan kepada kebijakan mengurangkan pembelanjaan.

1. Kebijakan Memindahkan Perbelanjaan

Kebijakan memindahkan perbelanjaan adalah langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi masalah defisit dalam neraca pembayaran dengan mendorong pertambahan ekspor dan pengurangan impor. Kebijakan memindahkan perbelanjaan dilakukan apabila defisit neraca pembayaran terjadi bersamaan dengan munculnya persoalan pengangguran. Langkah- langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi impor dan mendorong konsumsi barang dalam negeri sebagai berikut: a. Melakukan pembatasan impor

Pembatasan impor dapat dilakukan dengan menaikkan pajak impor (tarif). Selain itu dapat pula diberlakukan kuota dan melakukan kampanye untuk membeli barang produksi dalam negeri.

b. Menekankan (mengurangi) penggunaan valuta asing

Pemerintah melalui bank sentral mengatur penggunaan mata uang asing. Masyarakat dan pengusaha haruslah menjelaskan tujuan mereka membeli valuta asing. Pemerintah lebih mengutamakan pengguna valuta asing untuk mengimpor barang keperluan pokok dan barang sektor industri dan tidak mendorong usaha mengimpor barang-barang mewah.

c. Menurunkan nilai mata uang (devaluasi)

Langkah ini akan menyebabkan barang impor harganya menjadi lebih mahal dan akan mengurangi impor. Sebaliknya, barang ekspor menjadi murah di pasaran luar negeri dan akan menambah ekspor.

Sementara itu, dalam rangka meningkatkan ekspor, langkah-langkah yang dapat dilakukan pemerintah sehingga akhirnya menyebabkan penerimaan valuta asing juga akan ikut meningkat adalah:

  • a. memberikan insentif fiskal dan moneter untuk menambah kegiatan dalam produksi barang ekspor. Insentif-insentif ini antara lain: membina kawasan perusahaan dan kawasan bebas pajak (free trade zone), memberikan kemudahan pinjaman atau memberi subsidi ekspor;
  • b. mewujudkan kestabilan upah dan harga. Pertambahan ekspor sangat tergantung kepada kemampuan ekspor negara untuk bersaing di luar negeri. Salah satu faktor yang menentukan kapasitas bersaing adalah biaya produksi yang rendah. Untuk memastikan agar biaya produksi tetap rendah, upah dan harga-harga barang dalam negeri perlu distabilkan;
  • c. menurunkan nilai valuta. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, menurunkan nilai valuta bukan saja akan dapat menguangi impor, tetapi juga akan menambah ekspor.

2. Kebijakan Pengurangan Perbelanjaan

Kebijakan pengurangan perbelanjaan adalah langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi masalah kekurangan dalam neraca pembayaran dengan mengurangi perbelanjaan agregat dan tingkat kegiatan ekonomi negara. Kebijakan pengurangan perbelanjaan akan dilakukan jika:

  • a. Perekonomian telah mencapai kesempatan kerja penuh dan inflasi telah terjadi.
  • b. Dalam perekonomian terdapat defisit yang berkepanjangan dalam neraca pembayaran.

Kebijakan pengurangan perbelanjaan akan menurunkan impor, tetapi tidak akan memengaruhi ekspor. Keadaan yang seperti itu akan mewujudkan neraca pembayaran yang menguntungkan atau seimbang. Kebijakan pengurangan perbelanjaan dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah berikut:

a. Menaikkan pajak pendapatan.

Pajak pendapatan mengurangi pendapatan disposabel dan pengurangan ini akan mengurangi konsumsi rumah tangga.

b. Menaikkan suku bunga dan menurunkan penawaran uang

Tujuan ini dapat dicapai dengan menjalankan kebijakan moneter, misalnya dengan menaikkan tingkat cadangan minimum dan menaikkan suku bank (suku diskonto). Pengurangan penawaran uang dan suku bunga yang tinggi akan memengaruhi investasi. Keadaan ini selanjutnya akan mengurangi pengeluaran agregat.

c. Mengurangi pengeluaran pemerintah

Oleh karena pengeluaran pemerintah adalah sebagian dari pengeluaran agregat, maka pengurangan pengeluaran pemerintah akan mengurangi pengeluaran agregat. Langkah ini dan langkah yang dinyatakan dalam (a) digolongkan sebagai kebijakan fiskal.

C. ANALISIS GRAFIS BERBAGAI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PEMBENTUKAN KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA

Pada bagian ini akan kita amati bagaimana pengaruh berbagai kebijakan pemerintah dan kejadian-kejadian dalam perekonomian dalam memengaruhi keseimbangan pada perekonomian terbuka. Agar dapat melakukan analisis ini, terdapat empat langkah yang perlu diikuti, yaitu: 1) tentukan kurva permintaan dan penawaran mana yang terpengaruh oleh suatu kebijakan/kejadian, 2) tentukan ke arah mana kurva tersebut bergerak, 3) gunakan gambar permintaan dan penawaran untuk menentukan bagaimana pergerakan ini mengubah keseimbangan dalam perekonomian.

1. Anggaran Defisit Pemerintah

Kebijakan anggaran defisit, seperti yang telah dikemukakan pada disini, merupakan kebijakan yang akan memengaruhi tabungan nasional karena tabungan nasional merupakan sumber pendanaan dari dana pinjaman. termasuk untuk membiayai anggaran defisit pemerintah. Untuk mengetahui dampak kebijakan anggaran defisit ini, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan kurva permintaan dan penawaran mana yang terpengaruh oleh suatu kebijakan anggaran defisit. 

Karena anggaran defisit pemerintah menggunakan tabungan nasional sebagai sumber pendanaannya, maka pasar yang pertama kali akan terpengaruh oleh kebijakan anggaran defisit pemerintah tentunya adalah pasar dana pinjaman, yaitu kurva penawaran dana pinjaman. Karena anggaran defisit ini mengurangi jumlah tabungan pemerintah, maka arah pergeseran kurva penawaran ini akan bergeser ke kiri, seperti yang digambarkan pada Gambar 9.4 (a). Penentuan arah pergeseran kurva ini merupakan langkah kedua yang harus dilakukan. Bagaimanakah kondisi keseimbangan yang terjadi? Silakan Anda perhatikan Gambar 9.4 berikut ini.

Gambar 9.4 Dampak Kebijakan Anggaran Defisit terhadap Keseimbangan dalam Perekonomian Terbuka

Dengan adanya pergeseran kurva penawaran dana pinjaman ke kiri dari S1 ke S2, tingkat suku bunga akan terdorong naik dari r1 ke r2. Lebih tingginya tingkat suku bunga tentu akan meningkatkan biaya peminjaman uang sehingga mendorong peminjam dana untuk mengurangi jumlah dana pinjamannya. 

Akhirnya, kondisi keseimbangan yang terbentuk di pasar dana pinjaman akan bergeser dari O ke A. Seperti yang terjadi dalam perekonomian tertutup, kebijakan anggaran defisit ini akan meng-crowding out ‘mengusir ke luar’ investasi domestik seperti yang teramati dari berkurangnya permintaan terhadap dana pinjaman di titik keseimbangan yang baru. Karena perekonomian yang dianalisis di sini adalah konsep perekonomian terbuka, maka dampak kebijakan anggaran defisit tidak berhenti hingga di sini.

Dalam perekonomian terbuka, penurunan penawaran dana pinjaman akan memiliki dampak tambahan. Gambar 9.4 (b) menunjukkan bahwa peningkatan tingkat suku bunga dari n ke rz menyebabkan penurunan jumlah aliran modal ke luar. Peningkatan tingkat suku bunga dalam negeri tentu akan membuat daya tarik investasi di dalam negeri meningkat sehingga penurunan jumlah aliran modal ke luar merupakan konsekuensi yang akan terjadi.

Gambar 9.4 (c) menunjukkan bagaimana dampak kebijakan anggaran defisit akan memengaruhi pasar valuta asing. Karena aliran dana ke luar neto berkurang (seperti yang tergambar pada Gambar 4(b)), maka penawaran dana di pasar valuta asing juga akan berkurang karena sumber penawaran dana di pasar ini adalah dari aliran dana keluar neto. Hal ini ditandai dengan bergesernya kurva penawaran dari S1 ke S2. Pergeseran ini menyebabkan nilai tukar riil terapresiasi dari e1 menjadi e2. 

Apresiasi ini membuat barang dalam negeri menjadi relatif lebih mahal dibandingkan dengan barang luar negeri sehingga masyarakat, baik dari dalam negeri mau pun dari luar negeri, menurunkan pembeliannya terhadap barang dalam negeri, dan menggantinya dengan barang luar negeri yang lebih murah. Akhirnya, impor meningkat dan ekspor menurun. Karena kondisi ini, jumlah ekspor neto akan mengalami penurunan, sehingga akan menggeser keseimbangan pasar valuta asing dari C ke D.

Jadi berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa adanya kebijakan anggaran defisit dalam konsep perekonomian terbuka akan mendorong peningkatan tingkat suku bunga, menurunkan (meng-crowding out) investasi domestik, menyebabkan apresiasi nilai tukar, serta mendorong terjadinya penurunan ekspor neto (mendorong terciptanya defisit neraca perdagangan).

2. Kebijakan Perdagangan

Kebijakan perdagangan merupakan kebijakan pemerintah yang secara langsung memengaruhi jumlah barang/jasa yang diimpor/diekspor oleh suatu negara. Kebijakan perdagangan ini dapat berupa kebijakan tarif yaitu sebuah pajak terhadap barang/jasa yang diimpor, atau pun berupa kebijakan kuota impor, yaitu pembatasan jumlah barang yang diimpor. Tujuan pemberlakuan kebijakan adalah untuk mengurangi nilai defisit perdagangan yang terbentuk (dengan kata lain, meningkatkan nilai ekspor neto suatu negara). Bagaimana dampak pemberlakuan kebijakan perdagangan ini terhadap keseimbangan ekonomi makro perekonomian terbuka? Apakah pemberlakuan kebijakan ini akan mampu mendorong negara untuk meningkatkan nilai ekspor netonya?

Langkah pertama dalam menganalisis dampak dari kebijakan perdagangan ini adalah dengan melihat kurva mana yang akan dipengaruhi oleh kebijakan ini. Pemberlakuan kebijakan perdagangan ini tentunya akan berdampak langsung pada impor, yaitu terjadinya penurunan impor barang/jasa. Karena ekspor neto dihitung dengan menggunakan rumus ekspor dikurangi impor, maka penurunan impor ini tentu akan menyebabkan meningkatnya ekspor neto negara yang menerapkan kebijakan perdagangan tersebut. Karena ekspor neto merupakan sumber permintaan di pasar valuta asing, maka kurva yang terlebih dahulu akan terpengaruh oleh kebijakan ini adalah kurva permintaan pasar valuta asing.

Langkah kedua yang perlu dilakukan adalah menentukan arah pergerakan kurva permintaan pasar valuta asing ini. Karena kebijakan ini berdampak pada pengurangan jumlah impor suatu negara, maka ekspor neto akan mengalami peningkatan, berapa pun tingkat nilai tukar riil yang berlaku di pasar. Peningkatan ini tentu menggambarkan peningkatan permintaan di pasar valuta asing sehingga arah pergeseran kurva dapat digambarkan ke arah kanan dari D1 ke D2, seperti yang teramati pada Gambar 9.5.

Gambar 9.5 Dampak Kebijakan Perdagangan terhadap Keseimbangan Perekonomian Terbuka

Langkah ketiga dalam menelusuri dampak kebijakan perdagangan adalah mengamati tingkat keseimbangan baru yang terbentuk. Pada Gambar 9.5(c) terlihat bahwa peningkatan permintaan pasar valuta asing mendorong terjadinya apresiasi nilai tukar dari ei ke ej. Karena tidak ada perubahan yang terjadi pada pasar dana pinjaman, maka tingkat suku bunga riil tidak akan mengalami perubahan. 

Tidak adanya perubahan tingkat suku bunga riil ini juga tergambar dari tidak terjadinya perubahan aliran modal ke luar neto di Gambar 9.5 (b). Karena tidak terjadi perubahan nilai aliran modal ke luar neto, maka jumlah ekspor neto yang terbentuk di titik keseimbangan yang baru akan tetap sama dengan jumlah ekspor neto di titik keseimbangan yang lama, perhatikan lihat Gambar 9.5 (c).

Berdasarkan penjelasan di atas teramati bahwa dengan pemberlakuan kebijakan perdagangan, baik berupa kebijakan tarif mau pun kuota impor, sebenarnya tidak menyebabkan terjadinya peningkatan surplus perdagangan. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Jika diamati pada Gambar 9.5 (c), pergeseran kurva permintaan pasar valuta asing ke arah kanan telah mendorong terjadinya apresiasi nilai tukar riil. Ketika nilai tukar terapresiasi, barang domestik tentu menjadi lebih mahal jika dibandingkan dengan barang luar negeri. Hal ini tentu akan mendorong terjadinya peningkatan impor dan penurunan ekspor. Kondisi ini akan meniadakan dampak langsung pengurangan impor dari pemberlakuan kebijakan perdagangan tarif dan kuota sehingga kondisi akhir yang tercipta adalah tidak terjadinya perubahan nilai ekspor neto.

3. Ketidakstabilan Politik dan Pelarian Modal (Capital Flight)

Pada tahun 1997 terjadi krisis finansial di kawasan Asia Tenggara. Pada masa krisis ini, kepercayaan terhadap pasar keuangan di Asia Tenggara tiba- tiba menurun sehingga investor dari berbagai negara akhirnya memutuskan untuk menarik uangnya dari pasar keuangan di Asia Tenggara. Pelarian modal secara besar-besaran dan secara tiba-tiba pun terjadi di kawasan ini, termasuk di Indonesia, pelarian modal secara besar-besaran dan secara tiba- tiba dari suatu negara disebut juga dengan istilah capital flight.

Tidak hanya di Asia Tenggara, pada tahun 1994 Mexico juga mengalami instabilitas politik dan menimbulkan kegoncangan di pasar keuangan. Meksiko pun dianggap sebagai negara yang tidak stabil sehingga peristiwa capital flight pun terjadi di negara ini. Bagaimana sebenarnya dampak pelarian modal ini terhadap perekonomian?

Dalam menganalisis dampak pelarian modal ini, hal pertama yang harus ditelusuri adalah kurva mana yang akan mengalami perubahan akibat kondisi ini. Ketika investor di seluruh dunia mengamati adanya persoalan di suatu negara, misal berupa adanya ketidakstabilan politik di Meksiko, maka investor ini akan memutuskan untuk menjual aset negara bermasalah tersebut dan mengalihkannya ke aset negara lain yang lebih aman. Dalam kasus ini, adanya penarikan dana dari negara yang bermasalah (dalam hal ini Meksiko) akan meningkatkan aliran modal ke luar neto Meksiko. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda perhatikan Gambar 9.6 di bawah ini.

Gambar 9.6 Dampak Capital Flight terhadap Keseimbangan Perekonomian Terbuka

Variabel yang dipengaruhinya adalah variabel aliran modal ke luar neto, maka kedua pasar dalam konsep perekonomian terbuka, yaitu pasar dana pinjaman dan pasar valuta asing, akan terpengaruh. Di pasar dana pinjaman, aliran modal ke luar neto akan memengaruhi sisi permintaan, sementara di pasar valuta asing, aliran modal ke luar neto ini akan memengaruhi sisi penawaran.

Langkah kedua, adalah menentukan bagaimana pergeseran kurva yang terjadi. Di pasar dana pinjaman, peningkatan aliran modal ke luar neto akan tergambar dalam bentuk peningkatan permintaan terhadap aset luar negeri, yaitu berupa pergeseran kurva permintaan dari D1 ke D2. Karena peningkatan aliran modal ke luar neto mendorong terjadinya peningkatan tingkat suku bunga, maka kurva aliran modal ke luar neto juga akan bergeser ke kanan dari NCO1 ke NCO2, seperti yang tergambar pada Gambar 9.6 (b).

Langkah selanjutnya adalah membandingkan keseimbangan baru yang tercipta dengan keseimbangan lama. Pada Gambar 9.6 (a) terlihat bahwa peningkatan permintaan terhadap dana pinjaman akan menyebabkan tingkat suku bunga dalam negeri akan mengalami peningkatan dari r1 ke r2. Pada Gambar 9.6 (b) terlihat bahwa aliran modal ke luar neto mengalami peningkatan. Gambar 9.6 (c) menunjukkan bahwa kenaikan aliran modal ke luar neto akan meningkatkan penawaran mata uang domestik di pasar valuta asing yang ditandai dengan pergeseran kurva dari S1 ke S2. Peningkatan penawaran ini akan mendorong terjadinya depresiasi nilai tukar riil dari e1 ke e2. Depresiasi ini, selanjutnya, akan menyebabkan harga relatif barang domestik menjadi lebih murah dibandingkan dengan barang luar negeri sehingga terjadi peningkatan ekspor neto, membentuk tingkat keseimbangan baru di titik B.

Jadi, dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa terjadinya capital flight dari suatu negara akan mendorong peningkatan tingkat suku bunga di negara tersebut dan penurunan nilai uang negara tersebut di pasar valuta asing.

4. Devaluasi (Penurunan Nilai Valuta)

Devaluasi biasanya dilakukan oleh negara-negara yang menjalankan sistem kurs pertukaran tetap. Devaluasi adalah tindakan pemerintah yang menurunkan nilai mata uangnya terhadap valuta asing. Efek yang mungkin ditimbulkan oleh devaluasi adalah:

  • a. ekspor akan bertambah karena harga barang yang diekspor ke luar negeri menjadi lebih murah;
  • b. impor berkurang karena harga barang produksi luar negeri menjadi lebih mahal;
  • c. peningkatan ekspor dan penurunan impor akan memperbaiki neraca pembayaran;
  • d. pendapatan nasional akan bertambah karena: (1) ekspor naik, (2) pengurangan impor meningkatkan permintaan produksi domestik, (3) kenaikan yang ditimbulkan oleh (1) dan (2) akan mendorong investasi;
  • e. mungkin inflasi berlaku, yaitu apabila kenaikan harga barang-barang impor akan mendorong terjadinya kenaikan harga-harga barang produksi dalam negeri. Inflasi juga dapat berlaku apabila devaluasi dilakukan ketika perekonomian mengalami kemakmuran yang tinggi. Hal ini disebabkan karena kenaikan ekspor dan perkembangan kegiatan ekonomi yang lain yang diakibatkan oleh devaluasi akan menaikkan upah buruh dan harga-harga (yang dikarenakan permintaan yang berlebihan);
  • f. di luar negeri mungkin akan melakukan langkah balasan dengan menggunakan halangan perdagangan impor (yang dikenakan terhadap ekspor negara yang mendevaluasi valutanya) atau dengan melakukan devaluasi.

Syarat-syarat agar devaluasi berhasil adalah:

a. Ekspor negara itu elastis

Hanya dalam keadaan ini hasil penjualan ekspor meningkat. Bila permintaan luar negeri terhadap barang ekspor negara yang mendevaluasi valutanya tidak elastis, maka devaluasi akan mengurangi hasil penjualan ekspor.

b. Permintaan impor negara itu adalah elastis

Jika permintaan impor elastis, devaluasi mengurangi jumlah impor dengan tingkat yang lebih tinggi dari penurunan nilai mata uang. Maka pengeluaran terhadap barang impor akan menjadi lebih kecil daripada sebelum devaluasi.

c. Di dalam negeri tidak berlaku inflasi

Jika devaluasi mengakibatkan inflasi di dalam negeri, barang ekspor dan barang buatan dalam negeri akan mengalami kenaikan harga. Bila kenaikan harga lebih besar daripada tingkat devaluasi, maka harga ekspor akan menjadi lebih mahal dan barang impor akan menjadi lebih murah daripada sebelum devaluasi. Sehingga pada akhirnya negara tersebut tidak memperoleh keuntungan dari devaluasi.

d. Negara lain tidak melakukan reaksi balasan dan melakukan devaluasi pula

Bila negara-negara lain melakukan tindakan yang sama, devaluasi tidak akan memberikan efek kepada neraca pembayaran dan perekonomian negara. Langkah seperti itu akan dilakukan bila negara lain tersebut merupakan partner dagang yang sangat penting.

Kesimpulan Perekonomian_Terbuka_Aliran_Barang/Jasa_Neraca_Pembayaran_Dan_Kebijakan_Serta_Keseimbangan_Ekonomi_Makro

Neraca pembayaran dibedakan menjadi dua bagian utama, yaitu neraca berjalan dan neraca modal. Neraca pembayaran akan selalu seimbang, ketika aliran uang dan modal ke luar negeri adalah sama dengan aliran uang dan modal yang masuk ke negara tersebut. Begitu pula dengan neraca modal. Yang menyebabkan keseimbangan terjadi adalah ketidakseimbangan dalam neraca berjalan dan neraca modal akan diseimbangkan oleh perubahan cadangan valuta asing yang dimiliki oleh Bank Sentral. Transaksi modal menggambarkan aliran ke luar masuk modal antara Indonesia dengan negara lain.

Dalam perekonomian terbuka, permasalahan yang dihadapi suatu negara jauh lebih rumit. Permasalahan yang terdapat dalam perekonomian terbuka akan berbentuk apabila terjadi salah satu dari permasalahan berikut: Perekonomian yang menghadapi masalah pengangguran, tetapi terdapat surplus dalam neraca pembayaran, Perekonomian yang menghadapi masalah inflasi, tetapi terdapat surplus dalam neraca pembayaran, Perekonomian yang menghadapi masalah pengangguran dan menghadapi masalah defisit dalam neraca pembayaran, dan perekonomian yang menghadapi masalah inflasi dan menghadapi masalah defisit dalam neraca pembayaran. Kebijakan pengurangan perbelanjaan akan menurunkan impor, tetapi tidak akan memengaruhi ekspor.

Daftar Pembahasan Ekonomi Makro V.1 

Berikut ini adalah Daftar Link terkait pembahasan seputar materi ilmu Ekonomi Makro yang anda baca saat ini, silahkan anda buka link-link dibawah ini.
  1. Konsep Dasar Ilmu Ekonomi Sebagai Ilmu_Sosial (Belajar Ekonomi Makro V.1)
  2. Pendapatan Nasional, PDB Nominal & Riil Serta Indikator Pengukur Kinerja Ekonomi Suatu Negara
  3. Konsumsi, Tabungan, Investasi, Sistem Keuangan Serta Pasar Untuk Dana Pinjaman (Ekonomi Makro V.1)
  4. Permintaan Agregat dan Angka Pengganda_Bentuk Kurva dan Cara Menghitungnya (Pembahasan Ekonomi Makro V.1)
  5. Uang dan Peranannya dalam Perekonomian Serta Kebijakan Moneter (Materi Ekonomi Makro V.1)
  6. Peran Pemerintah Dalam Perekonomian dan Kebijakan Fiskal (Kegiatan Belajar Ekonomi Makro V.1)
  7. Penawaran Agregat dan Konsep Pertumbuhan_Ekonomi (Ekonomi Makro V.1)
  8. Stabilitas Harga, Pengangguran, Siklus Bisnis dan Inflasi (Materi Ilmu Ekonomi Makro V.1)
  9. Perekonomian Terbuka, Aliran Barang/Jasa, Neraca Pembayaran dan Kebijakan Serta Keseimbangan (Belajar Ekonomi_Makro V.1)