Ekonomi Makro |Permintaan Agregat dan Angka Pengganda_Bentuk Kurva dan Cara Menghitungnya - celotehpraja.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ekonomi Makro |Permintaan Agregat dan Angka Pengganda_Bentuk Kurva dan Cara Menghitungnya

Permintaan Agregat dan Angka Pengganda, Bentuk Kurva serta Cara Menghitungnya

Ini adalah pembahasan ke empat (4) dari sembilan 9 pembahasan tentang Ekonomi Makro disini akan dibahas tentang Permintaan Agregat dan Angka Pengganda. Pembahasan ini menetapkan dua (2) point pembahasan besar yaitu, pertama (1) Permintaan Agregat. Dan point ke Dua (2) Angka Pengganda. Dalam setiap pembahasan telah dilengkapi dengan uraian materi, konsep, rumus, contoh, tabel,

Adapun manfaat dari mempelajari pembahasan tentang (Ekonomi Makro |Permintaan Agregat dan Angka Pengganda ini) adalah menambah dan memperluas cakrawala pembaca tentang permintaan agregat, determinan apa saja yang digunakan dalam permintaan agregat, bentuk kurva permintaan agregat dan angka pengganda serta cara menghitung angka pengganda.

Konsep permintaan dalam ekonomi makro dikenal dengan nama permintaan agregat, yaitu total barang/jasa jadi yang diminta dalam suatu perekonomian selama kurun waktu tertentu. Permintaan ini sedikit berbeda dengan konsep permintaan dalam Teori Ekonomi Mikro. Permintaan dalam ekonomi mikro merujuk kepada permintaan terhadap barang/jasa yang dilakukan oleh individu pada tingkat harga tertentu (dikenal sebagai permintaan individu), sementara dalam konsep ekonomi makro, permintaan merupakan total barang/jasa yang diminta oleh seluruh individu dalam jangka waktu tertentu. Namun, perlu dipahami bahwa permintaan agregat tidak terlepas dari perilaku permintaan individu, sehingga konsep permintaan dalam mikro ekonomi merupakan landasan pengembangan konsep permintaan dalam makro ekonomi.

Penggunaan kata agregat menunjukkan penjumlahan keseluruhan permintaan. Misalkan saja, si Bobby meminta ban untuk mobilnya, demikian halnya dengan Arief dan Dwity. Di saat yang bersamaan, beberapa pabrik mobil dan kantor pemerintahan juga meminta ban. Permintaan agregat merujuk pada penjumlahan seluruh permintaan ban yang ada. baik oleh individu rumah tangga maupun perusahaan dan pemerintahan.

Permintaan agregat ini pada dasarnya terdiri atas permintaan barang/jasa yang dilakukan oleh individu, swasta, dan pemerintah untuk keperluan konsumsi dan investasi. Pemahaman tentang permintaan agregat ini akan membantu kita dalam memahami dampak ekonomi yang dirasakan, bahkan memungkinkan kita dalam menganalisis kondisi pertumbuhan ekonomi yang akan terjadi jika di suatu negara terjadi peristiwa yang mendorong perubahan perilaku konsumsi dan investasi.

Setelah mempelajari modul ini. secara khusus Anda dapat:

  1. 1. menjelaskan determinan dari permintaan agregat;
  2. 2. menjelaskan bentuk kurva permintaan agregat;
  3. 3. menunjukkan pergerakan dan pergeseran kurva permintaan agregat;
  4. 4. menjelaskan konsep dari angka pengganda:
  5. 5. menghitung angka pengganda.

Pembahasan Pertama (1)

Dasar Analisis Permintaan Agregat

Dalam Kegiatan Belajar I, ini kita akan membahas tentang apa itu permintaan agregat, mengapa kita harus mempelajari permintaan agregat, bagaimana bentuk kurva permintaan agregat, apa yang memengaruhi permintaan agregat, bagaimana bentuk pergeseran dan pergerakan kurva permintaan agregat?

A. APA DASAR-DASAR ANALISIS PERMINTAAN AGREGAT?

Pada dasarnya, kata agregat mengandung makna total atau keseluruhan. Permintaan agregat dapat didefinisikan sebagai keseluruhan permintaan domestik dan luar negeri terhadap suatu perekonomian yang memiliki sumber daya terbatas dikurangi seluruh permintaan dalam negeri terhadap barang dan jasa yang berasal dari luar negeri. 

Permintaan agregat merupakan total permintaan barang/jasa dalam sebuah perekonomian pada tingkat harga tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Disebut pada tingkat harga tertentu mengacu pada tingkat harga keseimbangan, karena bagaimanapun juga di pasar harga mengalami fluktuasi dalam jangka pendek. 

Permintaan agregat ini pada dasarnya merupakan penjumlahan dari permintaan seluruh individu, yaitu konsumen, pengusaha, pemerintah, dan masyarakat luar negeri untuk berbagai tujuan pengeluaran, baik untuk konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, maupun untuk memperoleh barang ekspor/impor. Secara matematis, permintaan agregat dituliskan dalam bentuk persamaan linier:

Y = C + I + G + NX ............................ (1)

dimana C merupakan konsumsi rumah tangga. I investasi swasta, G pengeluaran pemerintah, dan NX ekspor bersih.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, konsumsi (C) ditentukan oleh besarnya pendapatan disposabel. Hasil studi mengindikasikan bahwa, saat tingkat harga mengalami kenaikan, konsumen cenderung untuk membeli barang dan jasa dalam jumlah sedikit karena kenaikan harga barang tidak sebanding dengan tingkat pendapatan mereka. 

Pada fungsi konsumsi dapat terjadi pergeseran-pergeseran yang disebabkan oleh beberapa hal. yaitu perubahan selera, perubahan harapan dan suku bunga, perubahan pajak dan perubahan pembayaran transfer.

Pengeluaran investasi (I) ialah pembelian barang-barang modal seperti gedung dan perlengkapan serta penambahan inventori yang dilakukan oleh pihak swasta. Dalam permintaan agregat dijelaskan bahwa penentu utama tingkat investasi ialah tingkat output, biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang modal, dan harapan di masa yang akan datang. 

Kebijakan yang dapat dilakukan untuk memengaruhi investasi adalah kebijakan moneter, yaitu menaikkan suku bunga/menurunkan suku bunga untuk mengurangi/ menggalakkan investasi. Jika suku bunga rendah maka biaya barang modal (cost of capital) menjadi murah. Coba Anda bayangkan jika bunga pinjaman di bank turun, apa yang akan terjadi? Biaya meminjam jadi murah dan mendorong sektor swasta berinvestasi.

Komponen ketiga dalam permintaan agregat adalah pengeluaran pemerintah (G) akan barang dan jasa. Contoh pengeluaran pemerintah di antaranya belanja aparatur sipil negara, belanja infrastruktur, subsidi, bantuan sosial, dan sebagainya. 

Bagaimanapun peran pemerintah di dalam perekonomian sangat penting. Ketika perekonomian sedang lesu, maka pengeluaran pemerintah menjadi mesin penggerak perekonomian nasional dan daerah. Belanja pemerintah juga sering kali dialokasikan untuk belanja barang publik dimana mekanisme pasar gagal menyediakannya karena tidak ada sektor swasta yang bersedia. 

Komponen terakhir dari permintaan agregat adalah ekspor neto (NX) yang didapat dari selisih nilai ekspor dikurangi nilai impor. Ekspor kita ke luar negeri mencerminkan permintaan luar negeri terhadap barang dan jasa kita. Sebaliknya, impor mencerminkan permintaan dalam negeri terhadap barang dan jasa dari luar negeri.

1. Kurva Permintaan Agregat

Kurva permintaan agregat ditunjukkan oleh Gambar 4.1. Gambar 4.1 (a) merupakan ilustrasi grafis dari komponen permintaan, yaitu konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor bersih. Pada tingkat harga P*, dapat diketahui tingkat konsumsi, investasi, belanja pemerintahan dan ekspor neto; dan penjumlahan dari 4 komponen ini pada tingkat harga P* merupakan tingkat permintaan agregat. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda perhatikan Gambar di bawah ini!

Gambar 4.1 (a) Kurva Permintaan Agregat sebagai Penjumlahan C, I, G, dan NX

Sedangkan bentuk umum dari kurva permintaan agregat ditunjukkan oleh Gambar 4.1 (b), seperti yang tampak di bawah ini!

Gambar 4.1 (b) Kurva Permintaan Agregat

Kurva permintaan agregat memiliki kemiringan negatif yang menurun dari kiri atas ke kanan bawah. Bentuk kurva ini pada dasarnya disebabkan oleh pengaruh tingkat harga terhadap permintaan barang/jasa untuk tujuan konsumsi, investasi, dan ekspor bersih. Pada harga P1, barang/jasa yang diminta sebesar Q1, yang ditunjukkan oleh titik A. kemudian ketika harga turun menjadi P2. maka barang/jasa yang diminta naik menjadi Q2. yang ditunjukkan oleh titik B. Kemudian bila titik A dan titik B dihubungkan menjadi suatu garis, garis ini disebut sebagai kurva permintaan agregat, AD.

Kemudian bagaimana hubungan antara tingkat harga dan konsumsi, tingkat harga dan investasi, serta hubungan tingkat harga dan ekspor neto, apakah mempunyai pengaruh? Untuk lebih jelasnya kita simak sajian berikut ini!

a. Hubungan tingkat harga dan konsumsi: efek kekayaan

Uang mempunyai dua nilai, yaitu nilai nominal dan nilai riil. Uang yang disimpan dalam dompet atau tabungan mempunyai nilai nominal yang tetap namun nilai riilnya dapat berubah-ubah. Karena dari waktu ke waktu uang dapat mengalami penurunan daya beli (time value of money). 

Misalnya daya beli uang 1 juta saat ini dengan 1 juta 10 tahun yang lalu tentu sangat berbeda. Jika tingkat harga menurun, maka nilai riil uang akan meningkat sehingga masyarakat akan membelanjakan uangnya untuk memperoleh lebih banyak barang. Peningkatan nilai riil uang ini akan menyebabkan masyarakat merasa lebih kaya sehingga akan membelanjakan uangnya lebih banyak.

Berdasarkan penjelasan di atas, terdapat kecenderungan bahwa ketika terjadi penurunan tingkat harga, daya beli konsumen naik, dan konsumen akan terdorong untuk mengonsumsi lebih banyak sehingga akhirnya meningkatkan jumlah permintaan agregat. 

Sebaliknya, ketika terjadi peningkatan tingkat harga, nilai uang akan mengalami penurunan, daya beli turun karena penurunan nilai kekayaan yang pada akhirnya menyebabkan penurunan jumlah permintaan barang-jasa.

Jadi, hubungan antara tingkat harga dan konsumsi mempunyai pengaruh terhadap daya beli dan pada akhirnya memengaruhi kekayaan. Semakin tinggi tingkat kekayaan rumah tangga, semakin besar tingkat konsumsinya, dan sebaliknya.

b. Hubungan tingkat harga dan investasi: efek suku bunga

Jika terjadi penurunan harga, tentunya akan makin sedikit uang yang dibutuhkan oleh pihak-pihak yang terdapat dalam suatu perekonomian untuk membeli kebutuhan hidupnya sehingga memungkinkan bagi rumah tangga untuk mengurangi jumlah uang tunai yang ada di tangannya dan mengalihkannya dalam bentuk tabungan/simpanan/piutang berbunga. 

Penggandaan ini tentunya akan membuat rumah tangga menikmati tambahan pendapatan berupa bunga. Namun, seiring dengan makin banyaknya jumlah rumah tangga yang menyimpan uangnya/memberikan piutang, suku bunga akhirnya akan terpacu untuk turun. Kondisi ini akan memberikan konsekuensi positif bagi kegiatan investasi, yaitu makin murahnya biaya investasi. Alhasil, investasi pun terdorong, dan akhirnya akan mampu meningkatkan permintaan agregat.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat harga, perkembangan investasi, dan jumlah permintaan agregat. Penurunan tingkat harga akan mendorong penurunan tingkat suku bunga sehingga permintaan agregat akan terdorong terjadinya peningkatan aktivitas investasi sebagai konsekuensi dari penurunan tingkat suku bunga.

c. Hubungan tingkat harga dan ekspor neto: efek nilai tukar

Seperti yang telah diamati sebelumnya, bila tingkat harga di suatu negara mengalami penurunan, maka suku bunga di negara tersebut juga akan turun. Dampak dari hal ini tidak hanya berdampak terhadap keputusan investor dalam melakukan investasi di dalam negeri, namun juga berdampak terhadap keputusan investasi investor lintas negara. 

Turunnya tingkat suku bunga tentu akan menyebabkan turunnya daya tarik dalam negeri dalam berinvestasi secara relatif terhadap negara lain. Alhasil, investor pun mengalihkan produk investasinya dari berinvestasi di dalam negeri menjadi ke luar negeri. 

Jika investor lebih memilih untuk berinvestasi di Singapura, maka penggandaan ini tentu melibatkan pertukaran mata uang dalam negeri (Rupiah) menjadi mata uang luar negeri (Dolar Singapura) sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan penawaran Rupiah di pasar forex (foreign currency exchange).

Peningkatan penawaran Rupiah ini akan mendorong terjadinya depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Singapura. Dengan depresiasi ini. untuk mendapatkan Dolar Singapura dibutuhkan lebih banyak Rupiah, sehingga harga barang luar negeri (di Singapura) menjadi relatif lebih mahal dibandingkan dengan harga dalam negeri. 

Hal ini akan memengaruhi keputusan pengeluaran konsumen dalam negeri dan konsumen luar negeri. Karena harga di luar negeri menjadi relatif lebih mahal, impor akan mengalami penurunan dan konsumen luar negeri terdorong untuk membeli barang dari dalam negeri. Kondisi ini tentunya akan mendorong terjadinya peningkatan nilai ekspor neto karena terjadinya peningkatan ekspor dan

penurunan impor. Selanjutnya, peningkatan ekspor neto ini akan meningkatkan jumlah permintaan agregat barang/jasa.

Ketiga alasan di atas yang menyebabkan bentuk kurva permintaan agregat memiliki kemiringan negatif dibangun dengan asumsi bahwa jumlah uang beredar tetap.

2. Pergeseran pada Kurva Permintaan Agregat

Ketiga penjelasan di atas menunjukkan ketika terjadi perubahan harga, jumlah barang/jasa yang diminta dalam perekonomian akan mengalami perubahan; jika tingkat harga naik, jumlah barang/jasa yang diminta akan mengalami penurunan, sementara jika tingkat harga turun, jumlah barang/jasa yang diminta akan mengalami peningkatan. 

Analisis ini mengarah kepada terjadinya perubahan jumlah permintaan agregat di sepanjang kurva permintaan agregat, seperti yang ditunjukkan oleh tanda (1) pada Gambar 4.2. Namun, jika faktor yang mengalami perubahan adalah faktor nonharga, yang terjadi adalah pergeseran kurva (ditunjukkan oleh tanda (2) pada Gambar 4.2) karena peningkatan/penurunan jumlah permintaan barang/jasa pada setiap tingkat harga. Faktor yang menyebabkan hal ini terjadi? Untuk lebih jelasnya, silakan Anda perhatikan Gambar 4.2 di bawah ini!

Gambar 4.2 Perpindahan di Sepanjang Kurva Permintaan dan Pergeseran Kurva Permintaan

Keterangan. 

  • (1) perpindahan/pergerakan di sepanjang kurva permintaan agregat 
  • (2) pergeseran kurva permintaan agregat

Faktor pergeseran kurva permintaan agregat

Pada dasarnya terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pergeseran kurva permintaan agregat, yaitu:

a. Perubahan tingkat konsumsi

Contoh kasus terjadinya perubahan konsumsi adalah ketika terjadinya peningkatan kesadaran masyarakat untuk menabung dalam rangka persiapan menghadapi masa tua serta pemberlakuan pajak oleh pemerintah. Ketika muncul kesadaran masyarakat untuk menabung, maka pengeluaran uang untuk konsumsi tentu akan cenderung berkurang, berapa pun tingkat harga yang terbentuk di pasar. Begitu juga yang terjadi dengan pemberlakuan pajak oleh pemerintah. Dengan pajak, tingkat pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga menurunkan kemampuan masyarakat untuk membeli barang/jasa pada tingkat harga berapa pun di pasar.

Gambaran di atas memperlihatkan bahwa kejadian apa pun yang terjadi yang menyebabkan masyarakat mengubah jumlah barang/jasa yang ingin dikonsumsi pada tingkat harga berapa pun merupakan penyebab terjadinya pergeseran kurva permintaan agregat melalui perubahan tingkat konsumsi.

Kondisi peningkatan kesadaran masyarakat untuk menabung dan adanya kebijakan pemberlakuan pajak akan mendorong pergeseran kurva permintaan agregat ke kiri yaitu dari ADI ke AD2, yang menandakan bahwa terjadi penurunan tingkat konsumsi pada tingkat harga berapa pun pasar. Untuk lebih jelasnya silakan Anda perhatikan Gambar 4.3 di bawah ini!

Gambar 4.3 Pergeseran Kurva Permintaan Akibat Penurunan Tingkat Konsumsi

b. Perubahan tingkat investasi

Kejadian yang menyebabkan perubahan tingkat investasi pada tingkat harga berapa pun di pasar juga merupakan faktor pendorong terjadinya pergeseran pada kurva permintaan agregat. Kebijakan perpajakan pemerintah, misalnya, merupakan faktor yang dapat memengaruhi tingkat investasi yang terjadi di suatu perekonomian. 

Dikeluarkannya kebijakan insentif pajak tentu akan membuat alokasi dana investor untuk investasi menjadi meningkat, berapa pun tingkat suku bunga yang berlaku. Kondisi ini akan ditandai dengan terjadinya pergeseran kurva permintaan agregat ke kanan, yang menunjukkan bahwa pada tingkat harga berapa pun. jumlah permintaan agregat mengalami peningkatan.

Selain pajak, faktor lain yang memengaruhi perubahan tingkat investasi adalah perubahan penawaran uang. Meningkatnya jumlah uang beredar akan menyebabkan penurunan tingkat suku bunga dalam jangka pendek. Kondisi ini akan menstimulus investor untuk melakukan peminjaman uang untuk meningkatkan aktivitas investasinya karena rendahnya biaya peminjaman modal yang terjadi akibat penurunan tingkat suku bunga yang terjadi. 

Meningkatnya investasi akibat kebijakan pemerintah meningkatkan jumlah uang beredar akan berdampak pada peningkatan investasi, dan tentunya juga akan meningkatkan permintaan agregat yang ditandai dengan pergeseran kurva permintaan ke kanan yaitu dari ADI ke AD2.

Gambar 4.4 Pergeseran Kurva Permintaan akibat Peningkatan Tingkat Investasi

c. Perubahan pengeluaran pemerintah

Berbagai perubahan kebijakan pemerintah terkait dengan perubahan belanja pemerintah merupakan faktor langsung yang dapat mendorong/ menurunkan permintaan agregat. Misalnya adalah ketika pemerintah menetapkan kebijakan pembangunan infrastruktur jalan yang memadai di setiap kabupaten/kota di Indonesia. 

Kebijakan ini tentunya langsung berkaitan dengan terjadinya peningkatan jumlah barang/jasa yang diminta pada tingkat harga berapa pun yang berlaku di pasar, sehingga akhirnya akan mendorong pergeseran kurva permintaan agregat ke kanan. Sebaliknya, bila pemerintah mengurangi belanja, maka kurva permintaan agregat akan bergeser ke kiri.

d. Perubahan ekspor neto

Kejadian yang menyebabkan perubahan tingkat ekspor neto suatu negara pada tingkat harga berapa pun di pasar merupakan faktor lain pendorong terjadinya pergeseran pada kurva permintaan agregat. Krisis ekonomi Amerika Serikat yang dimulai sejak tahun 2007 kejadian yang sangat memengaruhi tingkat ekspor neto suatu negara. 

Akibat krisis ekonomi ini. permintaan Amerika Serikat terhadap produk-produk dari negara lain menurun, termasuk yang berasal dari Indonesia. Implikasi dari hal ini bagi Indonesia adalah terjadinya penurunan volume ekspor Indonesia ke negara Amerika Serikat. Penurunan ini tentu berkontribusi terhadap terjadinya penurunan nilai ekspor neto negara Indonesia sehingga akhirnya menyebabkan terjadinya penurunan permintaan agregat Indonesia. Dalam kurva permintaan agregat, penurunan ini ditandai dengan pergeseran kurva ke kiri.

Kesimpulan Dasar-Analisis-Permintaan-Agregat

Permintaan agregat merupakan total permintaan barang/jasa dalam sebuah perekonomian pada tingkat harga tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Permintaan agregat ini pada dasarnya merupakan penjumlahan dari permintaan oleh berbagai individu, yaitu konsumen, pengusaha, pemerintah, dan masyarakat luar negeri untuk berbagai tujuan pengeluaran, baik untuk konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, maupun untuk memperoleh barang ekspor/impor.

Kurva permintaan agregat memiliki kemiringan negatif yang menurun dari kiri atas ke kanan bawah. Bentuk kurva ini pada dasarnya disebabkan oleh pengaruh tingkat harga terhadap permintaan barang/jasa untuk tujuan konsumsi, investasi, dan ekspor bersih. Ketika terjadi peningkatan tingkat harga, total permintaan barang/jasa dalam perekonomian akan mengalami penurunan.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pergeseran kurva permintaan agregat, yaitu: perubahan tingkat konsumsi, perubahan tingkat investasi, perubahan pengeluaran pemerintah, perubahan ekspor neto.

Pembahasan Ke Dua (2)

Dasar Model Angka Pengganda

Dalam Pembahasan ke 2 ini. kita akan membahas tentang angka pengganda, dari konsep sampai cara menghitung angka pengganda. Untuk lebih jelasnya silakan Anda baca paparan berikut ini.

Angka pengganda merupakan angka yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana terjadinya perubahan output dalam jangka pendek. Misalnya, ketika terjadi perubahan investasi suatu perekonomian sebesar Rp l.000.000, maka perubahan total output yang terjadi pada PDB dapat lebih besar dari Rp l.000.000. Meningkatnya PDB lebih besar dari peningkatan investasi inilah yang akan dijelaskan oleh angka pengganda. Namun, sebelum masuk ke dalam penjelasan angka pengganda, faktor penting yang harus diingat dalam analisis ini adalah bahwa tingkat harga dan upah tidak berubah dalam jangka pendek sehingga ketika terjadi penyesuaian kebijakan makro ekonomi, maka dampaknya akan langsung dirasakan dalam bentuk perubahan output perekonomian (PDB) dan perubahan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan.

A. ANALISIS ANGKA PENGGANDA MELALUI PENINGKATAN INVESTASI

Analisis angka pengganda melalui peningkatan investasi seperti tampak pada Gambar 4.5(a) di bawah ini. yang memperlihatkan hubungan antara konsumsi nasional (C) dan fungsi tabungan (S). Kurva CC merupakan fungsi konsumsi negara dan kurva SS merupakan fungsi tabungan negara. Kedua kurva ini saling berhubungan. Titik B merupakan saat ketika jumlah konsumsi yang diinginkan (yaitu tingkat pendapatan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi) sama dengan jumlah konsumsi yang terealisasi. 

Daerah di sebelah kiri titik B menandakan kondisi terjadinya defisit dalam perekonomian karena jumlah realisasi konsumsi lebih besar dari tingkat pendapatan/anggaran dalam perekonomian, sementara daerah di sebelah kanan titik B menandakan kondisi surplus karena jumlah realisasi konsumsi lebih kecil dari tingkat pendapatan/anggaran yang tersedia. Surplus dan defisit ini digambarkan dalam kurva fungsi tabungan pada Gambar 4.5(b). Kondisi keseimbangan akan terjadi ketika realisasi konsumsi sama dengan jumlah pendapatan yang tersedia, yaitu seperti yang ditunjukkan oleh titik B. Untuk lebih jelasnya silakan Anda perhatikan

Produk Domestik Bruto

Gambar 4.5 Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan

Ketika terjadi kenaikan tingkat investasi, dampak langsung yang akan teramati pada PDB adalah terjadinya peningkatan PDB sejumlah yang sama dengan peningkatan investasi yang terjadi, seperti yang digambarkan pada Gambar 4.5(b) di atas yang ditandai dengan meningkatnya kurva PDB menjadi PDB'. Namun, peningkatan PDB sebesar nilai investasi I tidak berhenti sampai di sini. Peningkatan I akan terus berlanjut dengan total nilai peningkatan yang lebih besar dari nilai 1 yang terealisasi. Bagaimana hal ini terjadi?

1. Sistem Pengganda

Di sini akan digambarkan model pengganda Keynesian. Dengan asumsi tingkat harga dan upah tidak mengalami perubahan, maka pertambahan nilai investasi tentu akan menyebabkan pertambahan nilai output dan pertambahan jumlah tenaga kerja yang terserap di lapangan kerja. Jika dimisalkan dilakukannya kegiatan investasi berupa pembangunan pabrik senilai Rp 100 juta dan mempekerjakan pengangguran untuk menjadi tukang bangunan, dan tukang bangunan ini akan mendapatkan pendapatan tambahan sebesar Rp 100 juta. 

Dampak langsung dari investasi berupa pembangunan pabrik ini adalah meningkatnya PDB sebesar Rp 100 juta, sesuai dengan nilai investasi pabrik. Namun, dengan adanya pendapatan yang diperoleh pekerja/tukang. efek pengganda mulai terjadi. Jika semua tukang mempunyai MPC sebesar 2/3. maka sekarang tukang-tukang ini akan membelanjakan sekitar Rp66.67 juta untuk konsumsi barang/jasa kebutuhannya. Dengan kondisi ini, produsen dari barang/jasa akan mengalami peningkatan pendapatan sebesar Rp66,67 juta. Jika produsen ini juga mempunyai MPC sebesar 2/3. maka produsen akan membelanjakan sekitar Rp44.4 juta dari Rp66,67 juta pendapatannya.

Dengan investasi sebesar Rp 100 juta dan MPC sebesar 2/3. maka total peningkatan PNB yang tercipta akibat kegiatan investasi ini adalah sebesar Rp300 juta, meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan nilai penambahan investasi. Proses ini akan terus berlanjut mengikuti perhitungan aritmatika seperti yang diilustrasikan di bawah ini:

Gambaran aritmatik ini dapat pula diilustrasikan dalam bentuk grafis untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya efek pengganda yang terjadi. Untuk lebih jelasnya silakan Anda perhatikan Gambar 4.7 di bawah ini!

Gambar 4.6 Peningkatan Investasi dan Angka Pengganda

Dengan mengaplikasikan contoh kasus investasi pembangunan pabrik di atas ke dalam rumus angka pengganda di atas, memang didapatkan bahwa nilai perubahan output yang terjadi adalah tiga kali lebih besar dari perubahan investasi yang dilakukan.

Teknis perhitungannya adalah sebagai berikut:

Pada gambar di atas terlihat bahwa efek langsung dari peningkatan investasi sebesar Al akan langsung meningkatkan PDB sebesar yang sama, yaitu sebesar Al. Peningkatan PDB karena efek langsung ini ditandai oleh pergeseran kurva permintaan agregat dari AD ke AD’. Namun, keberadaan efek pengganda dalam perekonomian telah menyebabkan PDB meningkat tiga kali lipat dari peningkatan investasi yang terjadi, seperti yang ditandai oleh kurva AD* pada gambar di atas.

Perhitungan perubahan PDB yang terjadi sebenarnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus angka pengganda berikut, yaitu:

Karena peningkatan investasi yang dilakukan adalah senilai Rpl(X) juta, maka perubahan output perekonomian yang dihasilkan akan mencapai tiga kali lipat dari Rp I (X) juta, atau sebesar Rp300 juta.

2. Analisis Angka Pengganda melalui Peningkatan Pengeluaran Pemerintah

Ketika pemerintah meningkatkan pengeluarannya, dampak perubahan PDB yang terjadi juga lebih besar jika dibandingkan dengan nilai peningkatan pengeluaran yang dilakukan pemerintah. Bagaimana hal ini terjadi?

Jika pemerintah meningkatkan pengeluaran pemerintah sebesar AG (misalnya sebesar Rp 100 juta), maka dampak langsungnya adalah terjadinya peningkatan PDB sebesar AG.

Gambar 4.7 Peningkatan Pengeluaran Pemerintah dan Angka Pengganda

Karena peningkatan PDB ini menandakan terjadinya peningkatan pendapatan penduduk dalam perekonomian, kenaikan PDB akibat kenaikan pengeluaran pemerintah tidak berhenti sampai di sini. Jika diasumsikan nilai kecenderungan untuk mengonsumsi (Marginal Prosperity to Consume) adalah sebesar 2/3, maka peningkatan pendapatan yang terjadi akibat kenaikan pengeluaran pemerintah akan dialokasikan sebesar 2/3 dari Rp 100 juta, atau sebesar Rp66.6 juta, untuk mengonsumsi barang/jasa.

Dengan kondisi ini, produsen barang/jasa juga akan mengalami peningkatan pendapatan yang sama besarnya dengan alokasi konsumsi penduduk, yaitu sebesar Rp66.67 juta. Jika 2/3 dari pendapatan produsen ini (2/3 dari Rp66.67 juta, yaitu sekitar Rp44.4 juta) juga dialokasikan untuk konsumsi, dampak selanjutnya tentu akan terus mendorong peningkatan pendapatan produsen sebesar Rp44.4 juta. Proses ini terus berlanjut, mirip seperti yang terjadi pada kasus peningkatan investasi pada bagian A di atas sehingga menciptakan nilai PDB akhir senilai AD*.

Berdasarkan perhitungan di atas, terlihat bahwa peningkatan PDB yang terjadi adalah sebesar tiga kali peningkatan pengeluaran pemerintah. Perhitungan perubahan PDB yang terjadi sebenarnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus angka pengganda berikut, yaitu:

Karena peningkatan pengeluaran pemerintah adalah senilai RplOO juta, maka perubahan output perekonomian yang dihasilkan adalah sebesar Rp3OO juta.

Kesimpulan Tentang Dasar-Model-Angka-Pengganda

Angka pengganda merupakan angka yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana terjadinya perubahan output dalam jangka pendek. Ketika terjadi kenaikan tingkat investasi, dampak langsung yang akan teramati pada PDB adalah terjadinya peningkatan PDB sejumlah yang sama dengan peningkatan investasi yang terjadi. Ketika pemerintah meningkatkan pengeluarannya, dampak perubahan PDB yang terjadi juga lebih besar jika dibandingkan dengan nilai peningkatan pengeluaran yang dilakukan pemerintah karena pengeluaran yang dilakukan pemerintah akan meningkatkan pendapatan masyarakat. 

Dengan pendapatan yang meningkat maka akan menyebabkan konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat akan meningkat. Adanya angka pengganda akan menyebabkan pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah akan meningkatkan PDB.

Daftar Pembahasan Ekonomi Makro V.1 

Berikut ini adalah Daftar Link terkait pembahasan seputar materi ilmu Ekonomi Makro yang anda baca saat ini, silahkan anda buka link-link dibawah ini.
  1. Konsep Dasar Ilmu Ekonomi Sebagai Ilmu_Sosial (Belajar Ekonomi Makro V.1)
  2. Pendapatan Nasional, PDB Nominal & Riil Serta Indikator Pengukur Kinerja Ekonomi Suatu Negara
  3. Konsumsi, Tabungan, Investasi, Sistem Keuangan Serta Pasar Untuk Dana Pinjaman (Ekonomi Makro V.1)
  4. Permintaan Agregat dan Angka Pengganda_Bentuk Kurva dan Cara Menghitungnya (Pembahasan Ekonomi Makro V.1)
  5. Uang dan Peranannya dalam Perekonomian Serta Kebijakan Moneter (Materi Ekonomi Makro V.1)
  6. Peran Pemerintah Dalam Perekonomian dan Kebijakan Fiskal (Kegiatan Belajar Ekonomi Makro V.1)
  7. Penawaran Agregat dan Konsep Pertumbuhan_Ekonomi (Ekonomi Makro V.1)
  8. Stabilitas Harga, Pengangguran, Siklus Bisnis dan Inflasi (Materi Ilmu Ekonomi Makro V.1)
  9. Perekonomian Terbuka, Aliran Barang/Jasa, Neraca Pembayaran dan Kebijakan Serta Keseimbangan (Belajar Ekonomi_Makro V.1)