Kode Pengaturan Template
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Ekonomi Makro |Uang dan Peranannya dalam Perekonomian Serta Kebijakan Moneter

Celotehpraja.com-Ekonomi Makro. halaman ini adalah pembahasan ke Lima (5) Dari 9 materi tentang Ilmu Ekonomi Makro, disini akan dibahas tentang Uang dan Peranannya dalam Perekonomian dan pembahasan ini terdiri dari tiga (3) point utama yaitu : 1: Definisi dan Fungsi Uang. 2: Permintaan dan Penawaran Uang 3: Peranan Bank Sentral dan Kebijakan Moneter. Dalam tiap pembahasan sudah dilengkapi dengan uraian materi, konsep, rumus, contoh, tabel, rangkuman/kesimpulannya.

Adapun manfaat dari mempelajari tentang (Ekonomi Makro dalam konteks "Uang dan Peranannya dalam Perekonomian") ini adalah menambah dan memperluas cakrawala pembaca tentang Uang. Fungsi Uang. Permintaan dan Penawaran Uang serta Peranan Bank sentral dan Kebijakan Moneter.

Setelah mempelajari sajian berikut ini secara khusus kita diharapkan untuk dapat menjelaskan tentang:

  • 1. definisi uang;
  • 2. fungsi-fungsi uang;
  • 3. jenis-jenis uang;
  • 4. konsep permintaan uang;
  • 5. konsep penawaran uang;
  • 6. bank sentral;
  • 7. kebijakan moneter.

Definisi dan Fungsi Uang

Dalam Pembahasan Pertama (1) ini kita akan membahas tentang apa itu uang, definisi uang, dan fungsi uang, mengapa kita harus mempelajari definisi uang, fungsi uang, jenis uang, peranan uang dalam kehidupan sehari- hari dan peredaran uang?

A. APA DEFINISI DAN FUNGSI UANG (DALAM EKONOMI MAKRO)?

1. Apa Arti / Pengertian / Definisi Uang?

Uang diciptakan untuk melancarkan kegiatan tukar menukar dan perdagangan dalam perekonomian. Dalam ilmu ekonomi tradisional, uang didefinisikan sebagai alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar tersebut dapat berupa benda apa pun, yang penting ia diterima sebagai alat tukar oleh masyarakat. Berbeda dengan masyarakat zaman dulu yang menggunakan metode barter untuk melakukan pertukaran. Kelemahan dari barter ialah ketidakcocokan keinginan barang yang dipertukarkan dan adanya perbedaan persepsi tentang nilai barang yang dipertukarkan.

Sedangkan dalam ilmu ekonomi modern, secara lebih spesifik uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang dan jasa serta kekayaan berharga lainnya juga untuk pembayaran hutang. Jadi, yang membedakan definisi uang pada ekonomi tradisional dengan ekonomi modern adalah bahwa dalam ekonomi modern kekayaan berharga bisa dibilang sebagai uang. Suatu benda dapat disebut uang jika memenuhi syarat: 

  • a. diterima sebagai alat tukar oleh banyak pihak: 
  • b. nilainya tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu;
  • c. mudah dibawa;
  • d. mudah disimpan tanpa mengurangi nilainya; e. tahan lama;
  • f. jumlahnya terbatas (tidak berlebihan); 
  • g. bendanya mempunyai mutu yang sama.

2. Apa Fungsi Uang?

Uang memiliki empat fungsi dalam perekonomian, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, sebagai penyimpan nilai, dan alat pembayaran yang tertunda.

a. Uang sebagai alat tukar

Fungsi uang sebagai alat tukar (medium of exchange) menunjukkan bahwa uang dapat digunakan untuk mempermudah pertukaran barang dan jasa. Seseorang yang ingin memperoleh berbagai jenis barang untuk memenuhi kebutuhannya dapat dengan mudah melakukannya dengan menggunakan uang, asalkan jumlahnya cukup untuk membeli kebutuhan tersebut. Orang itu tidak perlu lagi menukarkannya dengan barang, seperti pada sistem barter.

b. Uang sebagai satuan hitung

Uang dikatakan berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukkan:

  • 1) nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan;
  • 2) besarnya kekayaan; dan
  • 3) besar kecilnya pinjaman.

Dengan adanya uang, nilai suatu barang dapat dengan mudah dinyatakan, yaitu dengan menunjukkan jumlah uang yang diperlukan untuk memperoleh barang tersebut. Di samping itu dengan membandingkan nilai berbagai jenis barang, akan dapat ditentukan besarnya nilai suatu barang jika dibandingkan dengan barang lain. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga).

c. Uang sebagai penyimpan nilai

Uang dapat berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (store of value) karena uang dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.

d. Uang sebagai alat pembayaran yang tertunda

Transaksi yang dilakukan dalam perekonomian banyak dilakukan dengan pembayaran yang ditunda, atau secara kredit. Para pembeli terlebih dahulu mendapatkan barangnya dan membayarnya di masa yang akan datang.

Salah satu syarat penting agar fungsi yang keempat ini dapat dijalankan dengan baik adalah nilai uang yang digunakan harus tetap stabil. Nilai uang dikatakan stabil jika sejumlah uang yang dibelanjakan akan tetap memperoleh barang yang sama banyak dan sama mutunya dari waktu ke waktu.

B. APA SAJA JENIS UANG DAN UANG BEREDAR?

1. Jenis Uang

Uang dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu uang komoditas dan uang flat. Yang dimaksud dengan uang komoditas adalah uang yang memiliki nilai intrinsik, yaitu nilai yang tetap dimiliki oleh uang walaupun sudah tidak digunakan sebagai uang. Contoh uang komoditas ini adalah uang emas dan perak. Nilai uang umumnya seharga bahan baku yang terkandung dalam uang tersebut. Sebelum perang dunia I, emas pernah digunakan sebagai uang oleh negara-negara di dunia.

Namun seiring dengan kemajuan ekonomi yang dicapai setelah revolusi industri, perdagangan yang terjadi bertambah pesat. Permintaan akan emas dan perak sebagai uang juga bertambah dengan pesat sekali. Sehingga mulai timbul kesulitan dalam menggunakan kedua logam tersebut sebagai uang.

Secara garis besar penyebab utama dari kesulitan tersebut adalah: 

a. Memerlukan tempat untuk menyimpannya 

Kemajuan ekonomi yang diikuti pula oleh perkembangan perdagangan menyebabkan nilai transaksi berkali lipat besarnya, sehingga lebih banyak uang yang dibutuhkan dalam transaksi tersebut. Saat itulah mulai muncul kesulitan dalam menyediakan tempat untuk menyimpan uang, 

b. Merupakan benda yang berat

Dengan makin besarnya nilai transaksi karena makin majunya ekonomi, mata uang emas dan perak yang dipertukarkan akan makin besar pula jumlahnya. Inilah yang kemudian menimbulkan masalah untuk membawanya dari satu tempat ke tempat lainnya.

c. Sulit untuk ditambah jumlahnya

Pertambahan emas dan perak tidak berjalan secepat perkembangan nilai perdagangan. Ketidakseimbangan ini menghalangi perkembangan perdagangan karena menimbulkan kekurangan uang untuk memperlancar transaksi dagang.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan uang logam emas dan perak tersebut maka diciptakanlah jenis uang yang baru yaitu uang kertas sebagai alat perantara dalam tukar menukar. Uang jenis ini dikenal juga sebagai uang fiat, yaitu uang yang tidak memiliki nilai intrinsik. Hingga sekarang, penggunaan uang fiat sebagai uang banyak digunakan oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Pada awalnya uang kartal (uang logam dan uang kertas) diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia, kemudian sejak 1968, hak pencetakan uang oleh pemerintah dicabut dan kemudian diserahkan kepada Bank Sentral melalui pengesahan UU No. 13 Tahun 1968 Pasal 26 ayat 1. Hak untuk mcnciptakan uang tersebut disebut hak oktroi.

2. Seperti Apa Konsep Mata Uang dalam Peredaran, Uang Beredar, dan Kekayaan Berlikuiditas Tinggi?

Tabel 5.1 Uang Beredar M1 dan M2, 2011 - 2016 (dalam miliar rupiah)

Dalam Tabel 5.) ditunjukkan jumlah uang beredar menurut pengertian terbatas (M1) dan menurut pengertian luas (M2). Data yang dituliskan adalah untuk tahun-tahun terpilih dalam periode 2011-2016, yaitu 5 tahun. Angka dalam Tabel 5.1 menunjukkan gambaran antara lain:

  1. Sejak tahun 2011 uang giral merupakan bagian yang lebih penting daripada uang kartal. Pada tahun 2016 uang giral sebanyak Rp729.5 triliun atau sebesar 58.9% dari M1.
  2. Jumlah uang yang beredar dalam arti sempit (M1) meningkat dari Rp722.9 triliun pada tahun 2011 menjadi Rp 1.237.6 triliun rupiah dalam tahun 2016. Ini berarti M1 meningkat sebanyak hampir 2 kali lipat dalam tempo 5 tahun.
  3. Uang kuasi mengalami pertambahan relatif sama dengan uang kartal dan uang giral yaitu hampir 2 kali lipat dengan nilai Rp2.139 triliun pada tahun 2011 dan Rp3.753 pada tahun 2016.

Boks Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2016: Perkembangan Uang Primer

Pertumbuhan uang primer (MO) pada 2016 tercatat sebesar 4,6%, meningkat dari 3,0% pada 2015. Peningkatan pertumbuhan MO dipengaruhi pertumbuhan signifikan dari posisi GWM sekunder, terutama komponen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI). 

Sementara itu, pertumbuhan uang yang diedarkan (Currency Outside Bank/COB dan Cash in Vault/ CIV) masih belum kuat yaitu 4,4%, atau lebih rendah dari perkembangan 2015 yang tumbuh 11,0% (Grafik 11.10). Dari sisi faktor yang mempengaruhi, peningkatan pertumbuhan MO pada 2016 didorong Net Foreign Asset (NFA) dan Net Domestic Asset (NDA) yang meningkat signifikan dibandingkan dengan kondisi tahun 2015. Posisi NFA yang meningkat sejak awal 2016 sejalan dengan peningkatan cadangan devisa. 

Sementara itu, pertumbuhan NDA juga meningkat terutama disebabkan kenaikan posisi penempatan likuiditas perbankan di instrumen OM. Likuiditas perekonomian yang tercermin pada indikator uang beredar dalam arti sempit (M1) dan dalam arti luas (M2) terlihat meningkat pada 2016. Pertumbuhan M1 pada 2016 meningkat dari 12,0% pada 2015 menjadi 17,3%. 

Peningkatan pertumbuhan M1 terutama didorong kenaikan giro rupiah, sedangkan pertumbuhan uang kartal masih belum kuat. Uang kartal pada 2016 tumbuh sebesar 8,2%, menurun cukup signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2015 sebesar 12,0% (Grafik 11.11). Sementara itu, giro rupiah pada 2016 tumbuh sebesar 24,5%, meningkat signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2015 sebesar 12,1%. Peningkatan pertumbuhan M1 berkontribusi kepada kenaikan pertumbuhan M2 pada 2016.

Pertumbuhan M2 tercatat naik dari 8,9% pada tahun sebelumnya menjadi 10,0% pada 2016 (Grafik 11.12). Sementara itu, kenaikan pertumbuhan M2 banyak dipengaruhi pertumbuhan M1, mengingat pertumbuhan uang kuasi melambat dari 8,4% pada 2015 menjadi 7,9% pada 2016. 

Perlambatan pertumbuhan uang kuasi tersebut terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan negatif dari simpanan valas di perbankan (baik deposito, tabungan, dan giro) sedangkan simpanan rupiah yang merupakan komponen terbesar uang kuasi tumbuh meningkat (Grafik 11.13). Pertumbuhan deposito rupiah pada 2016 tercatat sebesar 8,8%, meningkat dibandingkan dengan 2015 yang tumbuh sebesar 7,6%. Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perbaikan pertumbuhan M2 disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan NFA. 

Pertumbuhan NFA tahun 2016 tercatat sebesar 14,0%, meningkat tajam dari pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 3,0% didorong dampak kenaikan cadangan devisa. Sementara itu, NDA tumbuh melambat dari 11,1% pada tahun 2015 menjadi 8,7% pada tahun 2016 terutama didorong perlambatan pertumbuhan kredit dari 10,5% pada 2015 menjadi Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2016: Perkembangan M1 dan M2

Pertumbuhan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) meningkat pada Desember 2016. Posisi M2 tercatat sebesar Rp5.003,3 triliun atau tumbuh 10,0% (yoy), lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya 9,3% (yoy). Berdasarkan komponennya, peningkatan pertumbuhan M2 bersumber dari komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan surat berharga selain saham yang masing- masing tumbuh 17,3% (yoy) dan 0,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan November 2016 yang tercatat masing-masing sebesar 12,5% (yoy) dan -2,9% (yoy). • Peningkatan pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh ekspansi operasi keuangan Pemerintah Pusat (Pempus). Pada akhir tahun, operasi keuangan Pempus meningkat seperti tercermin pada penurunan simpanan Pempus di Perbankan. 

Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya tagihan bersih kepada Pempus yang pada akhir Desember 2016 tercatat sebesar Rp519,3 triliun atau tumbuh 5,7% (yoy), berbeda dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mengalami penurunan -2,3% (yoy). • Sementara itu, suku bunga kredit tercatat menurun dan suku bunga simpanan berjangka bergerak bervariasi. Pada Desember 2016, suku bunga kredit tercatat sebesar 12,04%, turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 12,16%. 

Demikian halnya dengan suku bunga simpanan berjangka dengan tenor 6 dan 12 bulan yang mengalami penurunan dari masing-masing sebesar 7,12% dan 7,40% pada bulan sebelumnya, menjadi masing-masing sebesar 7,11% dan 7,31%, Di sisi lain, suku bunga simpanan berjangka dengan tenor 1 dan 24 bulan mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya, yakni dari masing-masing sebesar 6,36% dan 7,36% pada November 2016, menjadi sebesar 6,46% dan 7,38%. Adapun suku bunga simpanan berjangka dengan tenor 3 bulan tidak mengalami perubahan dibanding bulan sebelumnya yakni sebesar 6,69%.

Tabel 5.3 Uang Beredar dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya (dalam triliun rupiah)

C. APA ITU KONSEP KEKAYAAN BERLIKUIDITAS TINGGI?

Kekayaan berlikuiditas tinggi adalah harta-harta yang bersifat uang, yaitu berbagai jenis kekayaan yang dapat ditukarkan dengan barang atau uang dalam waktu yang cepat dan tanpa terjadi kerugian nilai. Uang dipandang sebagai kekayaan mudah tunai yang paling sempurna. Di berbagai tempat uang dapat digunakan untuk membayar pembelian barang dan jasa yang digunakan. 

Terdapat beberapa kekayaan yang bersifat uang tetapi tidak dapat dengan begitu saja digunakan untuk memperoleh barang-barang. Tetapi mereka dapat dengan mudah menukarnya dengan uang, seperti tabungan. deposito berjangka, dan surat pinjaman jangka pendek pemerintah dan Sertifikat Bank Indonesia.

Tabungan dan deposito berjangka adalah kekayaan yang mempunyai tingkat likuiditas yang hampir sama tingginya dengan uang, yaitu mudah dicairkan menjadi uang. Satu-satunya kelemahan adalah ia tidak dapat dengan serta-merta digunakan untuk membeli barang dan jasa. Pemilik rekening harus ke bank terlebih dahulu untuk menukar jumlah tabungan atau deposito dengan uang. 

Tingkat likuiditas tinggi untuk tabungan dan deposito dengan jangka pendek menyebabkan mereka dinamakan sebagai uang kuasi atau hampir seperti uang (near money). Surat pinjaman jangka pendek pemerintah juga dapat digolongkan sebagai hampir seperti uang karena apabila pemiliknya memerlukan uang maka ia dapat menjual surat pinjaman jangka pendek pemerintah itu ke bank. Di Indonesia uang kuasi meliputi pula tabungan valuta asing milik swasta domestik.

Jumlah likuiditas tinggi dalam masyarakat sangat penting untuk diperhatikan, karena nilai kekayaan tersebut menunjukkan besarnya daya beli yang dimiliki masyarakat, yang dalam waktu singkat dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa. Dalam pengertian terbatas, yang dicerminkan hanyalah

jumlah uang yang dapat digunakan untuk melancarkan jalannya transaksi perdagangan, belum sepenuhnya menggambarkan jumlah uang yang dalam waktu singkat dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa yang tersedia dalam masyarakat. Kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa lebih dicerminkan oleh uang beredar dalam pengertian yang lebih luas.

Kesimpulan Tentang Uang_Dan_Peranannya_Dalam_Perekonomian_Serta_Kebijakan_Moneter

Fungsi sentral dari uang yaitu sebagai alat tukar. Ilmu ekonomi tradisional dan modern memiliki persepsi sama atas fungsi ini. Namun, ada perbedaan definisi uang dalam ilmu ekonomi tradisional dengan ilmu ekonomi modern, yaitu bahwa dalam ekonomi modern kekayaan berharga bisa dibilang sebagai uang.

Dengan adanya uang, nilai suatu barang dapat dengan mudah dinyatakan. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Uang dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu uang komoditas dan uang fiat. Uang komoditas adalah uang yang memiliki nilai intrinsik. Contoh uang komoditas ini adalah uang emas dan perak. Sedangkan uang fiat, yaitu uang yang tidak memiliki nilai intrinsik. Contohnya adalah uang logam dan kertas.

Uang beredar adalah semua jenis uang yang berada dalam perekonomian, yaitu jumlah dari seluruh uang kartal ditambah dengan uang giral dalam bank-bank umum. Dalam pengertian terbatas, yang dimaksud uang beredar adalah mata uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral yang dimiliki oleh orang perseorangan, perusahaan- perusahaan, dan badan-badan pemerintah. Uang beredar dalam arti singkat ini dikenal juga dengan nama Ml. Sedangkan dalam pengertian yang luas, uang beredar meliputi mata uang dalam peredaran, uang giral dan uang kuasi. Yang dimaksud dengan uang kuasi adalah uang yang terdiri atas deposito berjangka, tabungan, dan rekening (tabungan) valuta asing milik swasta domestik. Uang yang beredar menurut pengertian yang luas dinamakan juga likuiditas perekonomian atau M2.

PEMBAHASAN KE DUA (2)

Permintaan dan Penawaran Uang

Dalam Pembahasan Ke Dua (2) ini, kita akan membahas tentang angka permintaan dan penawaran uang. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda baca paparan berikut ini.

A. APA MAKSUD PERMINTAAN TERHADAP UANG?

Ada tiga hal utama dalam teori keuangan Keynes, yaitu tujuan-tujuan masyarakat untuk meminta (menggunakan) uang, faktor-faktor yang menentukan tingkat bunga dan efek perubahan penawaran uang terhadap kegiatan ekonomi negara. Berikut akan diterangkan bagaimana analisis Keynes terhadap permintaan akan uang.

Menurut analisis Keynes, permintaan akan uang mempunyai tiga tujuan yaitu untuk (a) transaksi, (b) berjaga-jaga, dan (c) spekulasi.

1. Transaksi

Dalam perekonomian modern, uang sangat penting dalam kegiatan transaksi karena sistem barter sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan. Orang menggunakan uang sebagai alat transaksinya karena mudah untuk menggunakannya dalam membeli barang-barang yang mereka inginkan. Faktor yang memengaruhi permintaan uang untuk tujuan transaksi adalah faktor pendapatan. Makin tinggi pendapatan, makin tinggi pula permintaan uang untuk transaksi.

2. Berjaga-jaga

Di samping untuk membiayai transaksi, permintaan akan uang juga bertujuan untuk berjaga-jaga. Karena masa depan tidak dapat diprediksi, maka masyarakat memerlukan uang untuk ditabung yang nantinya akan digunakan untuk menghadapi masalah-masalah yang mungkin timbul di masa depan, misalnya ada anggota keluarga yang sakit atau kehilangan pekerjaan. Selain itu, uang dapat ditabung untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga, misalnya untuk biaya pendidikan atau untuk membeli rumah di masa depan. Faktor yang memengaruhi permintaan uang untuk berjaga-jaga adalah tingkat pendapatan, sama seperti faktor yang mempengaruhi permintaan uang untuk tujuan transaksi.

3. Spekulasi

Faktor yang memengaruhi tindakan penggunaan untuk tujuan spekulasi adalah tinggi rendahnya tingkat suku bunga. Bila suku bunga tinggi, maka masyarakat akan menggunakan uangnya untuk membeli surat-surat berharga tersebut karena returnnya akan tinggi. Sebaliknya, bila suku bunga rendah, maka masyarakat lebih suka menyimpan uangnya daripada membeli surat-surat berharga karena dianggap tidak menguntungkan.

4. Grafik Permintaan Uang

Permintaan uang ialah jumlah uang yang diminta oleh masyarakat untuk memenuhi ketiga tujuan permintaan uang, yaitu transaksi, berjaga-jaga, dan spekulasi. Faktor yang memengaruhi masing-masing tujuan permintaan uang ini berbeda-beda; yaitu permintaan uang untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga lebih dipengaruhi oleh faktor pendapatan nasional ketika makin tinggi pendapatan, makin besar permintaan uang untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga.

Secara matematis, kondisi ini dapat diungkapkan dalam bentuk fungsi seperti tampak pada bentuk persamaan (5.1). dimana Mtp adalah permintaan uang untuk tujuan transaksi, dan Y adalah pendapatan.

Sementara itu, permintaan uang untuk tujuan spekulasi dipengaruhi oleh faktor suku bunga. Jika suku bunga tinggi, permintaan uang untuk spekulasi menjadi rendah. Hal ini dikarenakan uang telah digunakan untuk membeli surat-surat berharga. Sebaliknya jika suku bunga rendah, maka permintaan uang untuk spekulasi akan tinggi karena masyarakat tidak bersedia melakukan pembelian surat berharga dan cenderung akan memegang uang.

Dalam bentuk persamaan matematis, faktor yang memengaruhi permintaan uang untuk spekulasi adalah seperti tampak pada persamaan (5.2) dimana Msp adalah permintaan uang untuk tujuan spekulasi, dan r adalah tingkat suku bunga.

Hubungan antara masing-masing jenis permintaan uang dengan faktor- faktor yang memengaruhinya dijelaskan dalam Gambar 5.1. Kurva Mtp dalam gambar (a) adalah kurva permintaan akan uang dengan tujuan untuk transaksi dan berjaga-jaga, dan kurva Msp pada gambar (b) menunjukkan permintaan uang untuk tujuan spekulasi.

Gambar 5.1 Hubungan antara Jenis Permintaan dengan Faktor-faktor yang Memengaruhinya

Pada Gambar 5.1 panel (a), sumbu datar menunjukkan jumlah uang yang diminta disimbolkan dengan Mtp, dan sumbu tegak menunjukkan pendapatan nasional yang disimbolkan dengan Y. Pada gambar ini terlihat bahwa kurva Mtp (kurva permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga) bergerak dari kiri-bawah ke kanan-atas dan bermula dari titik asal. Artinya, makin tinggi pendapatan nasional, makin tinggi permintaan uang untuk transaksi/berjaga- jaga. Ketika pendapatan nasional Ya. permintaan uang adalah M„. Ketika pendapatan nasional Yb maka permintaan uang adalah Mb,. Hubungan ini digambarkan oleh kurva Mtp.

Pada Gambar 5.1 panel (b), sumbu datar menunjukkan jumlah uang yang digunakan untuk spekulasi (Msp) dan sumbu tegaknya menunjukkan suku bunga (r). Pada suku bunga ro uang yang diminta untuk tujuan spekulasi adalah Mo, dan pada suku bunga n uang yang diminta untuk tujuan spekulasi adalah Mi. Terlihat bahwa kurva permintaan akan uang untuk tujuan spekulasi, MSp, mempunyai ciri-ciri berbanding terbalik dengan suku bunga; makin rendah suku bunga, makin banyak permintaan uang untuk tujuan spekulasi.

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, permintaan terhadap uang ini digunakan untuk tiga tujuan yaitu, permintaan uang untuk transaksi, berjaga-jaga dan spekulasi. Dengan demikian permintaan uang dalam ekonomi untuk transaksi dan berjaga-jaga ditunjukkan seperti dalam Gambar 5.2 panel 

  1. Karena permintaan akan uang ini tidak ditentukan oleh suku bunga, maka kurva Mtp bersifat tidak elastis sempurna atau berbentuk tegak lurus. Dalam panel 
  2. Kurva Msp adalah kurva permintaan akan uang untuk tujuan spekulasi. Bagaimana cara menggambarkan kurva permintaan uang total dalam perekonomian? Karena permintaan uang dalam suatu perekonomian terdiri dari permintaan akan uang untuk berjaga-jaga dan transaksi serta spekulasi, maka jumlah total permintaan uang merupakan penjumlahan dari ketiga jenis permintaan uang di atas. Gambaran secara grafis dapat dilihat pada grafik 
  3. Oleh kurva MD yang merupakan jumlahan dari kurva Mtp dengan kurva MSp. Kurva MD menunjukkan bahwa pada suku bunga sebesar r0 permintaan uang dalam perekonomian adalah Do. dan pada suku bunga r1 permintaan uang dalam perekonomian sebesar D1. Untuk lebih jelasnya silakan Anda perhatikan Gambar 5.2 berikut ini.

Gambar 5.2 Permintaan Uang dalam Ekonomi

5. Efek Perubahan Permintaan Uang terhadap Suku Bunga

Bergesernya permintaan akan uang dapat menyebabkan terjadinya perubahan tingkat suku bunga riil. Seperti yang terlihat pada Gambar 5.3, ketika jumlah uang beredar ditunjukkan oleh kurva vertikal Ms0 dan permintaan akan uang ditunjukkan oleh kurva MDo yang berbentuk negatif. Titik keseimbangan mula-mula berada pada E0 dengan tingkat suku bunga sebesar ro.

Gambar 5.3 Efek Perubahan Permintaan Uang terhadap Suku Bunga

Kenaikan permintaan akan uang menyebabkan pergeseran pada kurva permintaan, MD ke kanan dari MDo menjadi MD1. Titik keseimbangan yang baru terbentuk pada titik E1 Dapat kita lihat bahwa suku bunga yang baru, r1, lebih besar dibandingkan dengan r0. Dimulai dari titik E1, kita dapat melihat bahwa turunnya permintaan akan uang dari MD1 menjadi MDo mengakibatkan turunnya suku bunga dari r1 menjadi ro.

B. PENAWARAN UANG DAN HARGA

1. Penawaran Uang: Pandangan Klasik

Berbeda dengan Keynes, ahli-ahli ekonomi terdahulu mendasarkan analisisnya kepada efek dari perubahan-perubahan penawaran uang terhadap tingkat harga. Teori keuangan ini dibedakan menjadi dua, yaitu teori kuantitas (quantity theory of money) dan teori keseimbangan tunai (cash balance theory’). Walaupun mempunyai bentuk yang berbeda, kedua teori Pada persamaan tersebut, M diartikan sebagai kuantitas uang dalam pengertian yang sempit (M1), yaitu jumlah mata uang dalam peredaran ditambah uang bank. Besaran V ditentukan oleh seberapa sering uang yang tersedia berpindah tangan dalam masyarakat dalam satu tahun tertentu. 

Jika dalam satu tahun penawaran uang yang digunakan dalam transaksi sebanyak lima kali maka nilai V adalah lima. Untuk variabel P, karena dalam perekonomian terdapat beribu macam barang dengan tingkat perubahan harga yang berbeda, maka hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa tingkat harga yang digunakan dalam persamaan identitas ini adalah harga dalam bentuk indeks harga. Variabel Y merupakan variabel jumlah output dalam perekonomian dalam bentuk nilai riil (dalam bentuk kuantitas) dan bukan nilai nominal (dalam satuan mata uang), serta meliputi barang-barang jadi maupun barang setengah jadi. Variabel Y ini pada dasarnya merupakan PDB riil, dan hasil kali PY berarti merupakan PDB nominal.

Ada kalanya teori kuantitas uang dinyatakan dengan menggunakan persamaan seperti tampak pada persamaan (5.4). tersebut mempunyai pandangan yang sama, yaitu "perubahan dalam penawaran uang akan menimbulkan perubahan yang sama persentasinya dengan tingkat harga. Kenaikan penawaran uang akan menaikkan harga pada tingkat yang sama dan penurunan penawaran uang akan menurunkan harga juga pada tingkat yang sama”.

a. Teori kuantitas uang

Teori kuantitas uang umumnya dijelaskan dengan menggunakan persamaan pertukaran, seperti tampak pada persamaan (5.3) yang dinyatakan sebagai berikut:

Dimana, M adalah penawaran uang, V, menunjukkan laju peredaran uang yang dibelanjakan untuk membeli barang-barang jadi dan Y adalah pendapatan nasional. Nilai Y adalah sama dengan tingkat harga dikalikan dengan jumlah barang-barang jadi yang diperjualbelikan, sehingga Y lebih kecil dari PT. Sebagai akibatnya V, lebih kecil dari V.

Teori kuantitas uang dikemukakan oleh Irving Fisher, yang secara ringkas dituliskan sebagai berikut: "perubahan dalam penawaran uang akan menimbulkan perubahan yang sama tingkatannya terhadap harga-harga, dan perubahan kedua variabel tersebut adalah ke arah yang sama’’. Jadi jika penawaran uang bertambah sebanyak 5% maka harga-harga akan bertambah sebanyak 5% juga, demikian pula jika penawaran uang berkurang. Pandangan dari teori kuantitas didasarkan pada dua asumsi, yaitu:

1) Laju peredaran uang (V) adalah tetap

Laju peredaran uang bergantung pada beberapa faktor seperti sistem pembayaran gaji, ciri kegiatan perdagangan, efisiensi sistem pengangkutan dan kepadatan penduduk. Karena dalam jangka pendek faktor-faktor tersebut tidak mengalami perubahan, maka cara-cara masyarakat untuk menggunakan uang dan berbelanja juga tidak akan berubah.

2) Kesempatan kerja penuh selalu tercapai dalam ekonomi

Jumlah barang-barang adalah tetap dan tidak dapat ditambah karena kesempatan kerja penuh selalu tercapai. Selain itu penawaran tidak akan pernah berkurang dari produksi barang pada kesempatan kerja penuh, karena setiap barang yang diproduksi akan dibeli masyarakat (supply creates its own demand). Sehingga untuk memaksimumkan keuntungan, mereka akan selalu memproduksi barang di tingkat kesempatan kerja penuh. Artinya T adalah tetap jumlahnya.

Implikasinya, jika terjadi perubahan pada M maka ia hanya akan mengubah nilai P pada tingkat yang sama dengan perubahan M. Sebagai contoh, misalkan dalam suatu perekonomian diketahui pendapatan, Y = 600. Penawaran uang. M, 300 dan laju peredaran uang, V, adalah 4. Berdasarkan teori kuantitas, berapakah besar tingkat harga? Untuk mencari besarnya tingkat harga (P), digunakan persamaan (5.3), maka Jadi tingkat harga (P) adalah sebesar 2

Jika terjadi kenaikan penawaran uang sebesar 30% dari 300 menjadi 390, maka tingkat harga juga akan mengalami kenaikan sebesar 30% menjadi 2,6, yang dibuktikan dengan:

Dengan terjadinya kenaikan penawaran uang, maka tingkat harga juga meningkat sebesar kenaikan penawaran uang.

b Teori keseimbangan tunai

Teori keseimbangan uang tunai dikembangkan oleh Alfred Marshall seorang ahli ekonomi, beberapa tahun sebelum Irving Fisher mengembangkan teori kuantitas. Seperti halnya teori kuantitas uang, teori keseimbangan tunai juga berpendapat bahwa perubahan dalam penawaran uang akan menimbulkan perubahan harga-harga yang sama tingkatnya. Teori ini menggunakan persamaan:

Di mana. M, P, T mempunyai arti yang sama dengan teori kuantitas uang, dan k adalah bagian dari pendapatan masyarakat yang tetap dipegang oleh mereka Saat ini, sebagian dari ahli ekonomi yang lebih dikenal sebagai golongan Monetaris masih menggunakan pandangan pokok dari teori tersebut. Mereka berpendapat bahwa pemerintah perlu mengatur penawaran uang agar dapat menghindari inflasi dan mencapai perekonomian yang kuat. Oleh karenanya kebijakan moneter adalah alat yang paling tepat untuk mengendalikan kegiatan ekonomi.

Teori-teori klasik ini mendapatkan beberapa kritikan dari ahli ekonomi yang beraliran modern, atau golongan Keynesian. Mereka berpendapat bahwa teori kuantitas mengandung beberapa kelemahan dan tidak dapat memberikan penjelasan yang baik mengenai sifat hubungan antara penawaran uang dan tingkat harga serta kegiatan ekonomi negara. Kritikan-kritikan tersebut adalah:

1) Pemisalan bahwa Y tetap kurang tepat

Hal ini dikarenakan kesempatan kerja penuh tidak selalu tercapai dalam perekonomian, yang banyak berlaku adalah kegiatan ekonomi yang tidak menggunakan faktor-faktor produksi secara penuh dan menyebabkan pengangguran. Sehingga jumlah barang-barang (T) masih bisa ditambah.

2) Laju peredaran uang tidak selalu tetap dalam jangka pendek dan jangka panjang

Terdapatnya faktor lain yang memengaruhi laju peredaran uang, di antaranya inflasi dan pengangguran yang tinggi. Tingkat pengangguran yang tinggi mengurangi pengeluaran masyarakat sehingga mengurangi laju peredaran uang. Demikian pula inflasi akan membuat orang lebih senang membelanjakan uangnya saat ini dibanding masa mendatang, yang akibatnya akan menambah laju peredaran uang. Dengan kata lain dalam bentuk tunai. Semisal 25% dari pendapatan dipegang oleh masyarakat dalam bentuk tunai, maka nilai k =1/4.

terdapat faktor-faktor lain dalam jangka pendek maupun jangka panjang yang dapat memengaruhi dan mengubah laju peredaran uang.

3) Hubungan antara penawaran uang dan harga lebih rumit dari yang diterangkan oleh teori kuantitas.

Persamaan MV = PT tidak dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana perubahan penawaran uang akan memengaruhi harga dan jumlah produksi barang dan jasa, saat menghadapi masalah pengangguran. Apakah P dan T akan bertambah, atau T yang tetap dan P yang bertambah? Pertanyaan inilah yang tidak dapat dijelaskan oleh teori kuantitas.

4) Teori kuantitas hanya memperhatikan fungsi uang 

sebagai alat untuk mempermudah kegiatan tukar menukar dan transaksi dengan menggunakan uang. Dalam persamaan kuantitas uang, masyarakat dianggap meminta uang dengan tujuan untuk membiayai transaksi saja. Sedangkan menurut Keynes uang juga digunakan untuk berjaga-jaga dan spekulasi.

5) Teori kuantitas mengabaikan efek perubahan penawaran uang terhadap suku bunga

Hal ini disebabkan dalam teori klasik suku bunga ditentukan oleh penawaran tabungan dan permintaan tabungan untuk investasi. Sedangkan menurut Keynes, penawaran uang dapat memengaruhi suku bunga.

2. Penawaran Uang: Pandangan Modern

Dalam teorinya, Keynes menerangkan tiga hal penting, yaitu tujuan- tujuan masyarakat untuk meminta uang, faktor-faktor yang menentukan tingkat bunga, dan efek perubahan penawaran uang terhadap kegiatan ekonomi negara. Pada Gambar 5.4 ditunjukkan kurva permintaan dan penawaran uang dalam perekonomian dan bagaimana kedua faktor tersebut menentukan suku bunga.

Permintaan dan penawaran uang Gambar 5.4 Permintaan Uang, Penawaran Uang, dan Suku Bunga

Kurva MSo dan MS1 adalah kurva penawaran uang. Jumlah penawaran uang dalam suatu masa tertentu ditentukan oleh pemerintah melalui bank sentral dan jumlahnya adalah tetap dalam jangka pendek. Maka kurva penawaran uang tidak elastis sempurna atau tegak lurus. Perubahan dalam penawaran uang ditunjukkan oleh pergerakan-pergerakan kurva tersebut. Jika pergerakan ke kiri artinya penawaran turun dan jika ke kanan berarti penawaran uang bertambah.

Suku bunga dalam ekonomi ditentukan oleh keseimbangan dalam permintaan dan penawaran uang. Diasumsikan pada mulanya jumlah penawaran uang adalah MSo. Kurva ini berpotongan dengan kurva MD pada titik Eo yang berarti suku bunga saat itu adalah r0. kemudian penawaran uang bertambah menjadi MS1 yang berpotongan di titik E1 dengan kurva MD. Perpotongan ini menunjukkan bahwa suku bunga saat itu adalah r1. Dapat disimpulkan bahwa perubahan-perubahan dalam penawaran uang akan memengaruhi suku bunga.

a. Angka pengganda uang (money multiplier)

Tabungan giral atau rekening koran yang diciptakan oleh bank umum dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu tabungan giral utama dan tabungan giral derivatif. Bank umum akan menciptakan tabungan giral utama jika bank tersebut mendapatkan uang dari langganannya dalam bentuk tunai atau cek yang ditarik dari bank lain. Setelah menerima uang tunai atau cek tersebut bank umum akan menambah nilai tabungan giral dari pihak yang memasukkan uang tunai atau cek tersebut.

Tabungan giral derivatif diciptakan apabila bank tersebut memberikan pinjaman kepada nasabahnya. Sebagai contoh, misalkan seorang pemilik toko kelontong datang ke bank umum untuk meminjam dana. Bank akan membuat penyelidikan mengenai kemajuan usaha toko kelontongnya dan utamanya kesanggupan pemilik toko untuk membayar hutang. Jika pinjaman diloloskan, bank menciptakan simpanan giral atas nama pemilik toko tersebut yang nilainya sama dengan pinjaman yang diberikan. Pemilik toko kelontong dapat mengambil pinjaman dengan cara tunai ataupun melalui cek. Tabungan derivatif adalah tabungan giral yang diciptakan dengan cara tanpa memasukkan uang tunai ke dalam bank tersebut. Oleh karenanya, tindakan bank umum tersebut akan menambah uang giral dalam perekonomian.

b. Proses penciptaan uang yang berlaku

Untuk menjelaskan proses penciptaan uang oleh bank-bank umum, perlu dibuat beberapa pemisalan, yaitu:

  1. Rasio cadangan yang ditetapkan adalah 20 persen.
  2. Semua kelebihan cadangan akan dipinjamkan oleh setiap bank umum kepada langganannya.
  3. Transaksi-transaksi selalu dibayar dengan menggunakan cek.
  4. Seluruh tabungan yang dimasukkan ke dalam setiap bank umum adalah tabungan giral.

Berdasarkan kepada pemisalan-pemisalan tersebut, sekarang akan ditunjukkan bagaimana proses penciptaan uang dilakukan oleh bank umum yang ada dalam perekonomian, jika pada mulanya sejumlah tabungan giral dilakukan dalam suatu bank tertentu.

Tabungan giral mula-mula dimisalkan sebesar Rp 150 juta dan dimasukkan dalam Bank Umum I (Tabel 5.4). Karena besar cadangan yang diwajibkan adalah 20% dan semua kelebihan cadangannya dipinjamkan, maka setelah semua kelebihan cadangan diserahkan kepada nasabahnya, perubahan neraca Bank Umum I sebagai berikut (angka dalam juta rupiah).

Tabel 5.4 Neraca Bank Umum I (dalam juta rupiah)

Orang-orang yang menerima pinjaman dari Bank Umum I akan membelanjakan uang mereka. Dengan demikian, segolongan penjual akan menerima tambahan pembayaran sebanyak Rp 120 juta, yang kemudian mereka simpan di Bank Umum II pada Tabel 5.5. Seperti halnya Bank Umum I, Bank Umum II akan menahan 20% dari tabungan giral yang diperolehnya sebagai cadangan wajib dan selebihnya dipinjamkan kepada para nasabah yang memerlukan. Setelah semua kelebihan cadangan yang ada pada Bank Umum II dipinjamkan, maka perubahan neraca bank tersebut adalah seperti tampak pada Tabel 5.5 di bawah ini.

Tabel 5.5 Neraca Bank Umum II (dalam juta rupiah)

Seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang yang meminjam dari Bank Umum I, nasabah yang meminjam pada Bank Umum II akan membelanjakan uang mereka peroleh, yaitu sebanyak Rp 96 juta. Segolongan penjual akan memperoleh uang tersebut dan menyimpannya di Bank Umum III, perhatikan Tabel 5.6. Untuk memenuhi peraturan yang ditetapkan. Bank Umum III pun akan menyimpan cadangan wajib sebesar 20% dan meminjamkan selebihnya kepada para nasabahnya. Jika seluruh uang dipinjamkan kepada nasabah, maka perubahan neraca Bank Umum III adalah seperti tampak pada Tabel 5.6 di bawah ini.

Tabel 5.6 Neraca Bank Umum III (dalam juta rupiah)

c. Pertambahan uang giral yang dapat diciptakan

Proses penciptaan uang seperti yang dijelaskan di atas akan berlangsung terus menerus sehingga kelebihan cadangan tidak ada lagi. Pada keadaan ini bank umum yang berikutnya tidak dapat lagi menciptakan uang giral. Jika proses penciptaan uang ini berakhir, seluruh uang giral yang diciptakan telah berjumlah beberapa kali lipat dari tabungan giral mula-mula, yaitu sebesar Rp 150 juta. Seluruh jumlah tabungan giral. cadangan, dan pinjaman yang akan diciptakan jika proses berlangsung seperti yang telah digambarkan, ditunjukkan pada Tabel 5.7. Dapat dilihat bahwa pada akhirnya, jumlah keseluruhan dari tabungan giral adalah Rp750 juta, cadangan sebesar Rp 150 juta, dan kelebihan cadangan sebesar Rp600 juta. Nilai-nilai tersebut dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

Pertambahan cadangan adalah:

Tabel 5.7 Proses Penciptaan Uang Bank Umum (dalam Juta Rupiah)

d. Proses penciptaan uang giral dalam kenyataan

Pada kenyataan yang sebenarnya, proses penciptaan uang tidaklah sebesar seperti yang baru saja dijelaskan. Proses di atas hanya akan terjadi apabila pemisalan-pemisalan yang dikeinukakan sebelumnya berlaku seperti yang dinyatakan. Jikalau tidak demikian, maka gambaran mengenai proses penciptaan uang akan mempunyai bentuk yang berbeda.

Terdapat tiga faktor penting yang membatasi penciptaan uang, yaitu:

1) Kebocoran uang tunai

Faktor pertama yang membatasi luasnya proses penciptaan uang adalah berlakunya kebocoran uang tunai. Yang dimaksud dengan kebocoran uang tunai adalah sebagian dari uang yang seharusnya disimpan ke bank umum tetap dipegang oleh pemiliknya. Keadaan ini lazim terjadi dimasyarakat. Seseorang yang menerima uang tidak selalu memasukkan uangnya ke dalam bank, mereka menyimpannya di rumah atau dimasukkan sebagai modal di perusahaan. Faktor inilah yang akan membatasi luasnya proses penciptaan uang yang berlaku.

Efek dari kebocoran uang tunai terhadap proses penciptaan uang dapat dilihat dengan mengubah pemisalan dalam gambaran proses penciptaan uang yang telah dikemukakan. Dimisalkan dalam gambaran tersebut, nasabah yang menerima uang hanya menyimpan sebesar 90% dari uang yang diterimanya ke bank. Ini berarti jika Bank Umum I meminjamkan sebesar Rp 120 juta, maka hanya Rp 108 saja yang akan ditabungkan ke Bank Umum II. Setelah dikurangi cadangan sebesar 20% maka jumlah dana yang dapat dipinjamkan Bank Umum II sebesar Rp86,4 juta. Dari jumlah tersebut, kelak hanya sebesar Rp77,76 yang akan ditabungkan ke Bank Umum III. Sehingga dengan adanya kebocoran uang tunai, tabungan giral yang diciptakan oleh ketiga bank umum tersebut sebesar Rp (150 + 108 + 77,76) juta = Rp335,76 juta. Sedangkan jika tidak terdapat kebocoran uang tunai maka seperti yang terlihat pada Tabel 5.7, tabungan giral yang dapat tersimpan sebesar Rp366 juta.

2) Bank ingin mempunyai cadangan yang lebih banyak

Faktor penting lainnya adalah keinginan bank untuk mempunyai cadangan tabungan giral yang lebih besar dari aturan yang telah diterapkan oleh perbankan. Jika bank-bank umum seperti contoh di atas berkeinginan memperbesar cadangannya tidak 20%, tetapi sebanyak 25%, maka tabungan giral yang tercipta bukan Rp750 juta, tetapi hanya sebesar Rp600 juta, yang diperoleh dari:

3) Kekurangan peminjam 

Penyebab penting lainnya yang mendorong bank umum untuk mempertahankan cadangan yang lebih tinggi dari yang ditetapkan oleh bank sentral adalah kurangnya nasabah/peminjam yang mampu membayar bunga dan membayar kembali pinjaman mereka. Hal ini mengakibatkan para pimpinan bank merasa lebih aman untuk menahan dananya dibanding meminjamkannya.

Kesimpulan Tentang Permintaan_Dan_Penawaran_Uang

Menurut analisis Keynes, permintaan akan uang mempunyai tiga tujuan, yaitu untuk 1) Transaksi karena dalam perekonomian modem, sistem barter sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan. Orang menggunakan uang sebagai alat transaksinya karena mudah untuk menggunakannya dalam membeli barang-barang yang mereka inginkan. Tingkat permintaan uang untuk tujuan transaksi dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Makin tinggi pendapatan, makin tinggi pula permintaan uang untuk transaksi; 2) motif berjaga-jaga, yang muncul karena masa depan tidak dapat diprediksi, sehingga masyarakat memerlukan uang untuk ditabung yang nantinya akan digunakan untuk menghadapi masalah-masalah yang mungkin timbul di masa depan, misalnya ada anggota keluarga yang sakit atau kehilangan pekerjaan. 3) Spekulasi yaitu uang disimpan atau digunakan untuk membeli surat-surat berharga, misalnya obligasi pemerintah atau saham perusahaan dengan harapan akan memperoleh balas jasa yang tinggi.

Teori keuangan yang menjelaskan tentang penawaran uang dibedakan menjadi dua, yaitu teori kuantitas (quantity theory of money) dan teori keseimbangan tunai (cash balance theory). Walaupun mempunyai bentuk yang berbeda, kedua teori tersebut mempunyai pandangan yang sama, yaitu "perubahan dalam penawaran uang akan menimbulkan perubahan yang sama presentasinya dengan tingkat harga. Kenaikan penawaran uang akan menaikkan harga pada tingkat yang sama dan penurunan penawaran uang akan menurunkan harga juga pada tingkat yang sama”.

Menurut pandangan klasik, perubahan dalam penawaran uang akan menimbulkan perubahan yang sama presentasinya dengan tingkat harga. Kenaikan penawaran uang akan menaikkan harga pada tingkat yang sama dan penurunan penawaran uang akan menurunkan harga juga pada tingkat yang sama.

Mekanisme transmisi, yang didefinisikan sebagai rangkaian peristiwa yang menggambarkan efek perubahan penawaran uang terhadap kegiatan ekonomi negara, dibedakan menjadi 3 tahap, yaitu: (1) Perubahan penawaran uang akan menimbulkan perubahan terhadap suku bunga: (2) Perubahan yang terjadi pada suku bunga akan mengubah jumlah investasi, dan (3) Perubahan investasi akan mengubah pengeluaran yang pada akhirnya akan mengubah pendapatan nasional.

Peran Bank Sentral dan Kebijakan Moneter

Pada Pembahasan Ketiga (3) ini, kita akan membahas tentang bank sentral dan fungsi-fungsinya.

A. APA ITU BANK SENTRAL?

Menurut fungsinya, bank sentral dapat didefinisikan sebagai suatu lembaga keuangan yang diberi tanggung jawab untuk menjaga kestabilan harga, mengatur dan mengawasi kegiatan lembaga-lembaga keuangan, serta menjaga kestabilan neraca pembayaran. Bank sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia. Hal ini sesuai dengan UU No. 13 Tahun 1968 yang kemudian ditegaskan lagi dengan UU No. 23 Tahun 1999.

Oleh karena itu. bank sentral memiliki otoritas dalam membuat kebijakan moneter. Bersama-sama pemerintah, bank sentral berupaya mencapai target pertumbuhan ekonomi yang sudah ditetapkan melalui instrumen-instrumen moneternya. Misalnya: untuk menjaga tingkat inflasi rendah memengaruhi penawaran uang dan suku bunga dalam perekonomian. Menurut Keynes, permintaan dan penawaran akan uang dapat menentukan suku bunga, sedangkan Bank Sentral dapat menambah penawaran uang. Penambahan uang dapat menurunkan suku bunga.

1. Apa Perbedaan Kegiatan Bank Sentral dan Bank Umum?

Jika dibandingkan terdapat perbedaan antara kegiatan yang dijalankan oleh bank sentral dengan bank umum. Perbedaan itu antara lain: 

a. Dalam perekonomian hanya terdapat satu bank sentral

Berbeda dengan bank umum yang mempunyai jumlah lebih banyak, hanya ada satu bank sentral dalam perekonomian. Meskipun demikian bank sentral mempunyai kemampuan yang lebih besar dalam memengaruhi kegiatan ekonomi jika dibandingkan dengan kemampuan bank umum.

b. Kepemilikan Bank

Bank sentral adalah bank yang dimiliki oleh pemerintah, berbeda dengan bank umum yang kebanyakan dimiliki oleh pihak swasta. Meski tak jarang ada pula bank umum yang dimiliki oleh pemerintah, ketika manajemen dan kegiatannya tidak berbeda dengan bank umum swasta lainnya. Kegiatan utama mereka adalah memberikan pinjaman dan melakukan investasi, dan dalam menjalankan kegiatannya mereka mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh bank sentral.

c. Tujuan Kegiatan

Tujuan bank umum terutama adalah berusaha agar kegiatannya dapat menghasilkan dan memberikan keuntungan yang maksimum kepada para pemiliknya. Sedangkan bank sentral didirikan untuk mengatur dan mengawasi kegiatan bank-bank umum dan lembaga keuangan lainnya. Selain itu, bank sentral didirikan untuk membantu menciptakan kegiatan ekonomi yang tinggi dan stabil. Dalam jangka panjang, bank sentral bertujuan melancarkan proses pertumbuhan ekonomi dan mengusahakan tercapainya tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

d. Kekuasaan untuk Mencetak Uang Kertas dan Logam

Pemerintah memberikan hak kepada bank sentral untuk mencetak uang logam dan uang kertas. Tidak berarti dengan tidak adanya kekuasaan bank umum untuk mencetak uang kertas dan logam, maka bank umum tidak mempunyai kekuasaan untuk memengaruhi jumlah uang yang beredar. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa bank umum sangat berpengaruh terhadap jumlah uang yang beredar dengan kemampuannya untuk menciptakan uang bank atau uang giral.

2. Fungsi Utama Bank Sentral

Bank sentral mempunyai lima fungsi utama sebagai berikut:

a. Bank sentral sebagai bank kepada pemerintah

Salah satu fungsi bank sentral kepada pemerintah adalah untuk mengurus pengeluaran dan pendapatan pemerintah. Bank sentral bertindak sebagai lembaga keuangan yang menyimpan uang yang dimiliki oleh pemerintah, selanjutnya pemerintah menggunakan jasa bank sentral untuk membayar dan mengirimkan uang kepada pemerintah daerah dan departemen-departemen pemerintah lainnya.

Adakalanya pengeluaran pemerintah lebih besar daripada pendapatannya, untuk membiayai defisit dalam pengeluarannya pemerintah dapat mengeluarkan surat pinjaman (obligasi) jangka panjang atau dengan meminjam langsung kepada bank sentral. Bila peminjaman kepada bank sentral sangat berlebihan, maka bank sentral harus mencetak lebih banyak uang. Hal ini dapat menimbulkan inflasi. Untuk menghindarinya, di beberapa negara membuat undang-undang mengenai besarnya pinjaman yang dapat diambil pemerintah dari bank sentral.

b. Bank sentral sebagai bank kepada bank umum

Bank sentral disebut juga “bank kepada bank (hankers’ bank)" atau “sumber pinjaman terakhir (lender of lastresort)”. Maksudnya, bank sentral adalah bank dari bank-bank lainnya dan merupakan sumber terakhir untuk meminjam bila bank-bank umum tidak dapat memperoleh pinjaman dari sumber lainnya.

Bank sentral disebut sebagai bank dari bank-bank lainnya karena jasa yang diberikan bank sentral kepada bank umum sama sifatnya dengan jasa yang diberikan bank umum kepada masyarakat.

c. Mengawasi bank umum dan lembaga keuangan lainnya

Lembaga keuangan termasuk bank umum merupakan perusahaan yang mencari keuntungan dari kegiatan meminjamkan uang yang dimiliki atau yang ditabungkan kepadanya.

Jika bank umum memberi pinjaman terlalu banyak, sehingga mengakibatkan cadangan uang tunai tidak mencukupi lagi bila ada masyarakat yang ingin menarik uangnya kembali maka bank umum tersebut akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Selain itu. jika tidak diawasi maka lembaga keuangan akan memberikan pinjaman kepada usaha yang berisiko tinggi. Apabila usaha mereka gagal, maka bank umum tidak dapat memperoleh kembali uang yang telah mereka pinjamkan. Di samping itu, bila tidak diawasi maka lembaga keuangan akan memberikan pinjaman yang berlebih pada masa perekonomian mencapai kemakmuran yang tinggi dan perekonomian sedang mengalami masa inflasi, hal ini akan memperburuk masalah inflasi yang sedang dihadapi.

d. Mengawasi kestabilan kurs valuta asing

Salah satu usaha untuk menciptakan kestabilan ekonomi adalah dengan mempertahankan kestabilan kurs mata uang asing. Untuk mencapainya maka bank sentral bertugas untuk menjaga kestabilan kegiatan ekspor dan impor serta aliran modal luar negeri.

e. Mencetak uang logam dan uang kertas

Bank sentral diberi hak oleh pemerintah untuk mencetak uang logam dan uang kertas yang diperlukan untuk memperlancar kegiatan perdagangan dan produksi. Selain itu. bank sentral juga bertugas menentukan besarnya jumlah uang yang harus disediakan pada kurun waktu tertentu.

B. APA ITU KEBIJAKAN MONETER?

Tujuan dari kebijakan moneter adalah memengaruhi jumlah penawaran uang dan suku bunga dalam perekonomian. Untuk mewujudkan tujuan ini, terdapat tiga instrumen kebijakan yang digunakan oleh Bank Sentral, yaitu operasi pasar terbuka, giro wajib minimum, dan suku bunga diskonto.

1. Operasi Pasar Terbuka

Bank Sentral dapat memengaruhi penawaran atas jumlah uang dengan melakukan jual beli surat-surat berharga. Tindakan bank sentral ini tergantung pada kondisi perekonomian negara saat itu. Pada saat mengalami resesi, maka penawaran uang perlu ditambah, hal tersebut dapat dilakukan dengan pembelian surat-surat berharga. Bila surat-surat berharga tersebut dibeli oleh bank sentral, maka cadangan dana bank perdagangan akan meningkat sehingga dapat memberikan peminjaman kepada masyarakat, yang dapat menginvestasikan dananya sehingga dapat meningkatkan kegiatan perekonomian negara tersebut.

Lain lagi bila negara tersebut mengalami inflasi, untuk mengurangi penawaran uang, bank sentral menjual surat-surat berharga kepada masyarakat sehingga cadangan dana yang terdapat dalam bank perdagangan berkurang, sehingga dapat mencegah kegiatan ekonomi yang berlebihan.

Agar operasi pasar terbuka dapat terlaksana dengan baik, maka diperlukan dua jenis keadaan, yaitu:

a. Bank-bank perdagangan tidak memiliki kelebihan cadangan

Bila bank-bank perdagangan memiliki kelebihan cadangan dana, maka ketika bank sentral menjual surat-surat berharga bank perdagangan akan membelinya dengan cadangan dana yang berlebih tersebut. Sehingga jumlah tabungan giral masyarakat dalam bank perdagangan tidak mengalami perubahan, yang menyebabkan penawaran uang juga tidak mengalami perubahan.

b. Dalam ekonomi telah tersedia cukup banyak surat-surat berharga yang dapat diperjualbelikan

Operasi pasar terbuka dapat dilaksanakan apabila terdapat cukup surat- surat berharga untuk diperjualbelikan. Bila jumlah surat-surat berharga belum mencukupi maka operasi pasar terbuka belum dapat dilaksanakan.

2. Suku Bunga Diskonto

Salah satu tugas dari bank sentral adalah mengawasi kegiatan bank-bank perdagangan agar tidak kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Misalnya, dengan memastikan bahwa bank-bank perdagangan tersebut mempunyai cukup dana bila nasabahnya ingin mencairkan cek. 

Untuk menjalankan tugas ini. terdapat dua langkah yang dapat diambil oleh bank sentral, yaitu membuat pengarahan-pengarahan atau peraturan-peraturan tentang corak dan jenis investasi yang dapat dilakukan oleh bank-bank perdagangan, serta memberikan pinjaman kepada bank-bank perdagangan yang mempunyai masalah dengan cadangan dana atau kepada bank-bank perdagangan yang cadangan dananya kurang dari jumlah minimum yang sudah ditentukan.

Namun, selain dengan meminjamkan dana, bank sentral juga dapat membeli surat-surat berharga milik bank perdagangan yang bersifat mudah tunai, misalnya sertifikat Bank Indonesia. Kegiatan menjual surat berharga kepada bank sentral disebut mendiskontokan surat-surat berharga. 

Suku bank (suku bunga diskonto) merupakan salah satu instrumen dalam menjalankan kebijakan moneter kuantitatif, yaitu dengan cara mengubah suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral apabila bank umum meminjam atau mendiskontokan surat berharga ke bank sentral. 

Suku bunga diskonto akan diturunkan oleh bank sentral untuk meningkatkan kegiatan ekonomi. Bila suku bunga diskonto turun, maka bank-bank perdagangan akan membayar lebih murah atas pinjamannya kepada bank sentral, sehingga dapat memicu bank-bank perdagangan untuk memperbanyak pinjaman.

3. Giro Wajib Minimum

Dua instrumen di atas baru dapat dilaksanakan bila sebagian besar bank- bank perdagangan tidak memiliki cadangan dana yang berlebihan. Bila bank- bank perdagangan tersebut memiliki cadangan dana yang berlebihan maka operasi pasar terbuka dan perubahan suku bunga dan suku diskonto tidak akan memengaruhi jumlah penawaran uang. 

Jika sebagian besar bank-bank perdagangan mempunyai kelebihan cadangan dana, maka hal efektif yang dapat dilakukan bank sentral adalah dengan menaikkan tingkat cadangan minimum. Sehingga bila cadangan minimum jumlahnya dinaikkan maka kelebihan cadangan dana bank-bank perdagangan akan dihapuskan.

Kesimpulan Tentang Peran_Bank_Sentral_dan_Kebijakan_Moneter

Kebijakan moneter merupakan langkah-langkah yang diambil pemerintah, yang dilaksanakan oleh bank sentral, untuk memengaruhi penawaran uang dan suku bunga dalam perekonomian. Bank sentral adalah suatu bank yang diberi tugas oleh pemerintah untuk mengatur dan mengawasi kegiatan lembaga-lembaga keuangan yang terdapat dalam perekonomian. Bank sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia, sesuai dengan UU No. 13 Tahun 1968 yang kemudian ditegaskan lagi dengan UU No. 23 Tahun 1999.

Terdapat tiga perbedaan antara bank sentral dan bank umum, yaitu dalam perekonomian suatu negara hanya terdapat satu bank sentral; kepemilikan bank; tujuan kegiatan; dan kekuasaan untuk mencetak uang. Bank sentral mempunyai lima fungsi utama, yaitu: bank sentral sebagai bank kepada pemerintah; bank sentral sebagai bank kepada bank umum; mengawasi bank umum dan lembaga keuangan lainnya; mengawasi kestabilan kurs valuta asing dan mencetak uang logam serta uang kertas.

Daftar Pembahasan Ekonomi Makro V.1 

Berikut ini adalah Daftar Link terkait pembahasan seputar materi ilmu Ekonomi Makro yang anda baca saat ini, silahkan anda buka link-link dibawah ini.
  1. Konsep Dasar Ilmu Ekonomi Sebagai Ilmu_Sosial (Belajar Ekonomi Makro V.1)
  2. Pendapatan Nasional, PDB Nominal & Riil Serta Indikator Pengukur Kinerja Ekonomi Suatu Negara
  3. Konsumsi, Tabungan, Investasi, Sistem Keuangan Serta Pasar Untuk Dana Pinjaman (Ekonomi Makro V.1)
  4. Permintaan Agregat dan Angka Pengganda_Bentuk Kurva dan Cara Menghitungnya (Pembahasan Ekonomi Makro V.1)
  5. Uang dan Peranannya dalam Perekonomian Serta Kebijakan Moneter (Materi Ekonomi Makro V.1)
  6. Peran Pemerintah Dalam Perekonomian dan Kebijakan Fiskal (Kegiatan Belajar Ekonomi Makro V.1)
  7. Penawaran Agregat dan Konsep Pertumbuhan_Ekonomi (Ekonomi Makro V.1)
  8. Stabilitas Harga, Pengangguran, Siklus Bisnis dan Inflasi (Materi Ilmu Ekonomi Makro V.1)
  9. Perekonomian Terbuka, Aliran Barang/Jasa, Neraca Pembayaran dan Kebijakan Serta Keseimbangan (Belajar Ekonomi_Makro V.1)

Posting Komentar untuk "Ekonomi Makro |Uang dan Peranannya dalam Perekonomian Serta Kebijakan Moneter"