Kode Pengaturan Template
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konsep Dasar Ilmu Ekonomi Sebagai Ilmu_Sosial

Belajar Ekonomi_Makro Tentang Konsep Dasar Ilmu Ekonomi Sebagai Ilmu_Sosial

Dalam pembahasan awal ini kita difokuskan tentang Konsep Dasar Ilmu Ekonomi. Yaitu tentang apa itu ilmu ekonomi? Apa konsep dasar ekonomi itu? Mengapa kita mempelajari ilmu ekonomi? Seperti apa ilmu ekonomi itu, dan ilmu ekonomi untuk siapa? Istilah apa yang digunakan dalam ilmu ekonomi? Mengapa ilmu ekonomi itu dibedakan antara ekonomi makro dan ekonomi mikro? Berbagai aliran dalam ilmu ekonomi dan isu utama dalam ekonomi makro. Untuk memudahkan kita menjawab pertanyaan di atas, maka pembahasan dibagi dalam dua kegiatan belajar yaitu: (1) Dasar-dasar Ilmu Ekonomi, (2) Ilmu Ekonomi sebagai Ilmu Sosial. Setiap kegiatan belajar dilengkapi dengan uraian materi, konsep, rumus, contoh, tabel, latihan, rangkumannya selanjutnya Kita diharapkan setelah memahami pembahasan ini, secara khusus kita dapat menjelaskan tentang:

  • 1. Definisi ekonomi
  • 2. Alasan penting mempelajari ilmu ekonomi
  • 3. Konsep dasar ilmu ekonomi
  • 4. Perbedaan antara ekonomi makro dan ekonomi mikro
  • 5. Berbagai aliran pemikiran dalam ilmu ekonomi dan
  • 6. Pemikiran ekonomi dari pemenang Nobel ekonomi

A. DASAR-DASAR ILMU EKONOMI

1. Apa itu Ilmu Ekonomi Dalam Materi Ekonomi Makro?

Ilmu ekonomi sesungguhnya ada di dalam praktik kehidupan kita sehari- hari. Mulai dari keputusan untuk memilih barang apa yang akan dibeli, memilih jenis pekerjaan, mengalokasikan pendapatan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, menabung di bank yang memberikan suku bunga tertinggi, respons terhadap kenaikan harga barang, dan sebagainya. Kenaikan harga barang apa pun umumnya direspons dengan mengurangi konsumsinya. 

Meskipun kita yakin bahwa semua orang tidak berdiskusi dulu dalam menghadapi kenaikan harga BBM misalnya, namun orang cenderung mengurangi konsumsi BBM, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini menarik, mengingat ternyata sebagian besar orang akan melakukan atau cenderung berperilaku relatif sama terhadap suatu kejadian ekonomi, meskipun sebenarnya tidak ada kewajiban bagi seluruh orang untuk melakukan hal yang sama. Mengapa demikian? Karena keputusan diambil secara rasional, termasuk keputusan ekonomi.

Ilmu ekonomi secara sederhana didasarkan pada tiga (3) konsep penting, yaitu kelangkaan (scarcity), pilihan (choice), dan pengambilan keputusan (decision making). Ilmu ekonomi muncul karena manusia selalu ingin mendapatkan sesuatu melebihi sumber daya yang dimilikinya. Misalnya, manusia ingin hidup di dunia yang nyaman dan aman, air yang bersih, pendidikan yang baik, rumah mewah, kendaraan bagus. 

Sementara untuk mendapatkan itu semua, seseorang dibatasi oleh waktu, pendapatan, dan harga yang harus dibayar, sehingga pada kenyataannya semua keinginan tersebut tidak mampu kita penuhi. Oleh karenanya, ilmu ekonomi diperlukan untuk memahami bagaimana cara memenuhi keinginan yang tidak terbatas tersebut dengan sumber daya yang terbatas. 

Lalu, mengapa kita perlu untuk mempelajari ilmu ekonomi? Mengapa kita harus mengetahui definisi ilmu ekonomi? Kemudian, apa hubungannya ilmu ekonomi dengan sains-sains yang lain? Bagaimana ilmu ekonomi bila dilihat dari pendekatan sains? Mungkin beberapa pertanyaan di atas merupakan pertanyaan yang mulai muncul di dalam pikiran kita saat ini.

2. Mengapa Mempelajari Ilmu Ekonomi |Menurut Ekonomi Makro?

Saat ini berbagai persoalan ekonomi begitu mudah ditemui dalam kehidupan kita sehari-hari. Terkadang tanpa disadari, perasaan hati kita yang bersuka cita sepanjang hari ternyata dipengaruhi oleh sekelumit berita ekonomi: angka kemiskinan turun! Di sisi lain mungkin kita menjadi sedikit gusar lantaran melihat masyarakat harus mengantri lama untuk memperoleh garam yang sedang langka, padahal kita punya laut yang luas. 

Berbagai informasi tersebut mungkin hanya kita lihat di layar kaca. Kita juga mungkin pernah menonton berita yang menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan penduduk miskin di Indonesia seiring dengan munculnya krisis ekonomi dan naiknya harga kebutuhan pokok. Padahal, di sisi lain, saat kita berangkat bekerja, kita dapat melihat bahwa banyak bermunculan perumahan griya tawang (apartemen) di kota besar, belum lagi pusat-pusat perbelanjaan baru juga mulai marak dibangun di banyak kota. 

Apakah para investor tidak mengetahui bahwa jumlah penduduk miskin Indonesia telah meningkat? Mengapa para investor tetap tertarik untuk menanamkan modalnya untuk membangun griya tawang ataupun pusat perbelanjaan? Tanpa kita sadari, ternyata kita sudah dikelilingi oleh beragam persoalan dan kegiatan yang berhubungan dengan ekonomi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempelajari ilmu ekonomi.

Dengan mempelajari ilmu ekonomi, kita dapat mengetahui penyebab munculnya berbagai permasalahan ekonomi, perilaku para agen ekonomi (rumah tangga dan perusahaan), dampak yang dihasilkan dari permasalahan ekonomi, dan pengambilan keputusan ekonomi yang rasional. Sebenarnya, tanpa mempelajari ilmu ekonomi terlebih dahulu, manusia secara sadar maupun tidak, setiap hari melakukan keputusan ekonomi. 

Namun demikian, dengan mempelajari ilmu ekonomi, kita akan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai permasalahan ekonomi dan bagaimana suatu perekonomian bekerja. Pembaca modul ini akan diajak untuk berpikir secara terstruktur bagaimana suatu peristiwa ekonomi terjadi dan dampaknya terhadap perilaku para agen ekonomi.

3. Apa Maksud Ilmu Ekonomi dan Keputusan Ekonomi "Dalam Ekonomi Makro"?

Di dalam perekonomian selalu ada 2 agen ekonomi yang hidup berdampingan yaitu rumah tangga sebagai konsumen dan perusahaan sebagai produsen. Pada dasarnya ilmu ekonomi selalu berhubungan dengan pengambilan keputusan ekonomi oleh para agen ekonomi tersebut. Ilmu ekonomi merupakan suatu perangkat alat analisis yang dapat membantu kita membuat keputusan terbaik di dalam hidup, khususnya keputusan ekonomi. Sebelum mengambil keputusan ekonomi, setiap agen ekonomi (rumah tangga dan perusahaan) harus dapat mengidentifikasikan terlebih dahulu tujuan ekonomi yang ingin dicapai. Rumah tangga sebagai konsumen memiliki tujuan memaksimumkan kepuasan (utilitas), sedangkan perusahaan memiliki tujuan memaksimumkan profit. Setelah mengetahui tujuannya, setiap agen ekonomi juga harus mengetahui keterbatasan sumber daya apa yang dihadapinya untuk mencapai tujuannya tersebut. Setiap agen ekonomi akan menghadapi berbagai pilihan (choice) yang tersedia untuk mencapai tujuannya dengan keterbatasan sumber daya tertentu. Tentunya agen ekonomi akan mengambil pilihan yang memenuhi kriteria tujuannya tersebut. Di sini terjadi pengambilan keputusan ekonomi. Keputusan ekonomi tersebut merupakan cerminan perilaku setiap agen ekonomi. Perilaku masing-masing rumah tangga akan membentuk perilaku agregat (keseluruhan rumah tangga) dalam perekonomian. Begitu juga halnya dengan pengambilan keputusan masing-masing perusahaan akan membentuk perilaku perusahaan secara agregat.

Dalam kehidupan nyata misalnya kita memiliki uang 100 ribu rupiah. Di saat bersamaan, kita dihadapkan pada pilihan untuk membeli makan, minum, pulsa, bensin, baju, dan sebagainya. Diasumsikan bahwa kita adalah seorang konsumen yang rasional. Jika kita punya uang tak terbatas, tentu semua barang bisa dibeli. Maknanya, dengan keterbatasan uang 100 ribu rupiah, dihadapkan pada banyak pilihan konsumsi, kita akan mengambil keputusan yang memaksimumkan utilitas. Keputusan akan barang yang memberikan kita nilai kepuasan tertinggi. Asumsi rasionalitas sulit untuk dibantah. Intinya setiap agen ekonomi konsumen akan memilih kombinasi konsumsi yang memaksimumkan kepuasan. Tetapi bisa jadi setiap orang/konsumen akan memilih kombinasi barang yang berbeda. Apa yang membedakannya? Jawabannya preferensi! Sebagai contoh, seorang anak laki-laki mungkin akan lebih senang jika diberi bola, sedangkan seorang anak perempuan lebih menyukai boneka. Itulah makna preferensi di sini.

Hal yang menarik ialah bahwa rumah tangga dapat dianalisis dari dua (2) sudut pandang, yaitu rumah tangga sebagai konsumen dan rumah tangga sebagai tenaga kerja. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa baik rumah tangga sebagai konsumen maupun tenaga kerja, tujuan yang ingin dicapai rumah tangga tetap satu, yaitu memaksimumkan utilitas. Hanya saja, kendala keterbatasan sumber daya yang dihadapi rumah tangga sebagai konsumen ialah pendapatan yang dimilikinya, sedangkan kendala yang dihadapi rumah tangga sebagai tenaga kerja yaitu waktu yang dimilikinya.

Membuat keputusan ekonomi, misalnya, sudah dimulai ketika seorang individu (rumah tangga) memulai harinya ketika bangun tidur. Individu tersebut perlu memutuskan apakah hari itu akan bekerja atau mengasuh anak di rumah. Setelah itu, ketika sarapan, maka individu tersebut akan dihadapkan pada pilihan apakah sarapan di salah satu warung kaki lima atau sarapan di rumah bersama keluarga. Ketika akan berangkat beraktivitas, ia mungkin perlu memutuskan akan menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Jika ia akan menggunakan angkutan umum, maka rute mana yang sebaiknya ditempuh. Jika orang tersebut bekerja sebagai pegawai di suatu kantor, maka ketika makan siang ia dapat memilih untuk makan siang di luar kantor atau makan rantangan yang sudah disediakan, dan seterusnya.

Beberapa pertanyaan berikut akan dapat membantu memberi gambaran lebih lengkap tentang topik bahasan dalam ekonomi: mengapa makin sulit untuk mencari pekerjaan? Mengapa banyak orang khawatir akan inflasi? Mengapa beberapa orang lebih kaya daripada orang lain? Bagaimana Tiongkok dapat menghasilkan banyak barang yang lebih murah daripada Indonesia? Apa yang akan terjadi jika impor produk tekstil dari luar negeri dilarang masuk Indonesia untuk “melindungi” pekerja dan perusahaan di dalam negeri?

Sedikit gambaran di atas menunjukkan bahwa manusia selalu dihadapkan pada pilihan dan pengambilan keputusan ekonomi. Dari uraian tersebut kiranya dapat dilihat pula bahwa beraneka ragam topik tercakup dalam ilmu ekonomi. Namun, pada intinya ilmu ekonomi dicurahkan untuk memahami perilaku ekonomi rumah tangga (households), bisnis, dan pemerintah, baik secara individual maupun agregat (keseluruhan).

4. Seperti Apa Definisi Ilmu Ekonomi Yang Sebenarnya?

Sebelum membahas tentang definisi, perlu dijelaskan terlebih dahulu mengenai asal usul istilah ilmu ekonomi (economics). Istilah economics berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu oikoc (oikos, "rumah tangga") + vouoc (nomos, "kebiasaan" atau "hukum"), ketika gabungan kedua kata tersebut dapat diterjemahkan sebagai "aturan/kebiasaan dalam rumah tangga”. Dalam bahasa Indonesia, kata physics dari bahasa Inggris dan di-Indonesia-kan menjadi fisika. Demikian pula kata mathematics diterjemahkan menjadi matematika, dynamics menjadi dinamika, dan statistics menjadi statistika. Karena itu, kata economics dalam modul ini seharusnya diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi ekonomika. Namun, penggunaan istilah ilmu ekonomi lebih banyak digunakan di berbagai literatur. Agar tidak terjadi kerancuan istilah maka modul ini menggunakan istilah ilmu ekonomi.

Apa yang dimaksud dengan ilmu ekonomi? Beberapa batasan yang sering digunakan antara lain:

  • Ilmu ekonomi adalah studi aktivitas produksi konsumsi dan pertukaran barang;
  • Ilmu ekonomi adalah ilmu tentang memilih, yakni bagaimana orang memilih memanfaatkan sumber daya yang terbatas (pendapatan dan waktu) untuk menghasilkan tingkat kepuasan maksimal, dan bagaimana perusahaan memilih kombinasi input serta besaran dan jenis komoditas yang diproduksi (televisi, radio, kompor, dan sebagainya), serta mendistribusikan bermacam komoditas tersebut ke rumah tangga untuk dikonsumsi.

Meskipun sesungguhnya definisi ilmu ekonomi sudah jelas, namun cukup banyak orang yang mendefinisikan bahwa ilmu ekonomi melaksanakan prinsip dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh manfaat sebesar- besarnya. Definisi ini tentu salah kaprah tercampur dengan konsep optimisasi. Dalam optimasi sendiri, definisi pengorbanan sekecil-kecilnya untuk hasil sebesar-besarnya juga salah. 

Optimasi maknanya dengan tingkat sumber daya tertentu, diperoleh hasil yang terbaik. Konsep optimisasi sendiri akan dibahas lebih jauh dalam pembahasan lanjutan tentang ilmu ekonomi, baik dalam ilmu ekonomi mikro maupun ilmu ekonomi makro. Salah satu definisi yang cukup lengkap dijelaskan oleh Paul A. Samuelson, seorang peraih Nobel di bidang Ekonomi, menyatakan bahwa: ilmu ekonomi adalah studi tentang bagaimana masyarakat memanfaatkan berbagai sumber daya yang langka untuk menghasilkan berbagai komoditas yang bernilai dan mendistribusikan komoditas-komoditas tersebut di antara berbagai kelompok.

5. Ada Dua Pertanyaan Besar dalam "Ilmu Ekonomi" Apa Itu?

Dua pertanyaan besar yang kerap kali muncul dalam ilmu ekonomi (economics) ialah:

  • Bagaimana dengan sumber daya yang terbatas dan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang ada, diambil keputusan tentang apa, bagaimana, dan untuk siapa barang-barang dan jasa diproduksi.
  • Kapan pilihan-pilihan yang dibuat dalam rangka memaksimalkan kepentingan pribadi juga mampu secara sekaligus memaksimalkan kepentingan sosial.

a. Apa, Bagaimana, dan untuk Siapa Perekonomian?

Apa yang diproduksi oleh suatu perekonomian? Setiap perekonomian memiliki banyak pilihan untuk jenis barang atau jasa yang akan diproduksi. Namun demikian, dengan pemahaman bahwa setiap perekonomian memiliki keterbatasan sumber daya yang tersedia, maka tidak semua jenis barang dan jasa harus diproduksi sendiri oleh perekonomian tersebut. Apakah perusahaan di Indonesia sebaiknya memproduksi traktor untuk pertanian? Atau lebih baik memproduksi pesawat terbang?

Kemudian, bagaimana barang dan jasa diproduksi akan menjadi pertanyaan selanjutnya. Misalkan suatu perekonomian memproduksi pakaian. Pertanyaan penting berikutnya ialah bagaimana memproduksi pakaian tersebut? Apakah dengan lebih banyak menggunakan tenaga keija (padat karya) atau lebih intensif modal (padat modal)? Kemampuan teknologi yang dimiliki tentunya juga sangat berpengaruh terhadap cara suatu produk dihasilkan.

Setelah mengetahui bagaimana cara berproduksi maka yang dilakukan selanjutnya ialah menentukan untuk siapa barang dan jasa tersebut diproduksi? Apakah untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat lokal? Apakah untuk kebutuhan masyarakat di perekonomian lainnya (misalnya luar negeri)? Meskipun tampaknya mudah, tetapi menjawab pertanyaan apa, bagaimana, dan untuk siapa bukanlah perkara yang mudah. Perekonomian harus mampu mengidentifikasikan sumber daya apa yang dimilikinya, berbagai pilihan atau kemungkinan yang ada, dan pengambilan keputusan yang tepat.

b. Kapan Self Interest (Kepentingan Sendiri) Sejalan dengan Social Interest (Kepentingan Bersama)?

Salah satu pernyataan Adam Smith (tokoh ekonomi klasik) yang cukup kontroversial ialah bahwa pada saat seseorang mengejar kepentingan pribadinya, maka social interest akan tercapai. Temyata tidak semua ekonom setuju dengan pernyataan Adam Smith tersebut, karena mereka berpikir kedua hal ini kontradiktif. Jadi pertanyaan besarnya adalah kapan dan mungkin kah self interest itu akan menciptakan social interest (kepentingan bersama/sosial)?

Ilmu ekonomi mempercayai bahwa ketika seseorang mengambil keputusan terhadap sebuah pilihan maka pilihan tersebut merupakan yang terbaik baginya. Paling tidak, pilihan terbaik pada waktu seseorang mengambil keputusan. Namun, sering kali ketika mengambil keputusan tersebut seseorang tidak berpikir panjang tentang pengaruh keputusan tersebut terhadap orang lain. Sebagai contoh, suatu ketika Anda memutuskan untuk membeli makanan. Pertimbangan utama mengapa Anda membeli makanan ialah rasa lapar. Memenuhi kebutuhan makan adalah bentuk kepuasan pribadi (self-interest) yang Anda ingin capai. Sering kali kepentingan penjual makanan untuk mendapatkan penghasilan tidak terpikirkan oleh Anda. Padahal sesungguhnya, pada saat itu mungkin secara tidak sengaja Anda telah memengaruhi kepentingan penjual makanan untuk mendapatkan penghasilan. Maka dapat dikatakan bahwa keputusan untuk memenuhi self-interest Anda berpengaruh terhadap social interest.

6. Apa Saja Konsep Dasar dalam Ilmu Ekonomi Itu?

a. Kelangkaan (Scarcity)

Pertanyaan pertama yang muncul ialah apa yang dimaksud dengan kelangkaan? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, setiap agen ekonomi (baik rumah tangga maupun perusahaan) menghadapi masalah keterbatasan sumber daya yang dimilikinya. Rumah tangga memiliki keterbatasan pendapatan, waktu, dan sebagainya, sehingga jumlah barang dan jasa yang dapat dikonsumsi juga terbatas. Perusahaan menghadapi keterbatasan anggaran pula sehingga harus menentukan berapa jumlah input yang akan digunakan dalam proses produksinya, serta berapa jumlah barang yang akan diproduksi.

b. Pilihan-pilihan (Choices)

Seseorang selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan hidup. Apakah kita ingin berlibur ke pantai atau ke pegunungan? Apakah kita ingin berbelanja di pasar swalayan atau di pasar tradisional? Apakah kita ingin melanjutkan kuliah atau bekeija dan menabung terlebih dahulu, atau menikah? Itu semua merupakan pilihan yang sering hadir di dalam kehidupan kita.

c. Biaya kesempatan (opportunity cost)

Perlu dipahami bahwa ketika seseorang memutuskan untuk memilih salah satu pilihan tersebut maka ada biaya kesempatan yang hilang. Misalnya: orang pada gambar, memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya saja. Maka pada saat yang bersamaan, dia akan kehilangan upah yang dapat diperoleh jika dirinya bekerja. Contoh lainnya adalah ketika Anda memutuskan untuk membaca buku ini, sebenarnya ada pilihan kegiatan lain yang dapat Anda lakukan seperti menonton TV, berolahraga, atau bermain. Artinya, menonton TV, berolahraga, dan bermain adalah opportunity cost Anda. Jadi, opportunity cost adalah biaya kesempatan yang muncul karena mengambil sebuah pilihan.

d. Alokasi (allocation)

Alokasi hampir mirip maknanya dengan distribusi. Di dalam ilmu ekonomi, alokasi berarti bagaimana mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan yang hampir tidak terbatas. Misalnya, seseorang memiliki uang sebanyak 1 juta rupiah serta dialokasikan untuk membeli pakaian seharga 400 ribu rupiah dan makanan sebesar 600 ribu rupiah. Keputusan untuk membelanjakan uang (sumber daya) yang dimiliki orang tersebut merupakan perwujudan alokasi sumber daya.

B. PENDEKATAN ILMIAH DALAM MEMAHAMI ILMU DAN KEBIJAKAN EKONOMI

1. Bagaimana Pendekatan Ilmiah dalam Memahami Ilmu Ekonomi?

Apa yang dimaksud dengan pendekatan ilmiah dalam memahami ilmu ekonomi? Mengapa kebijakan ekonomi menjadi penting? Untuk lebih jelasnya silakan Anda baca pemaparan berikut ini. Sebagaimana kita ketahui, ilmu ekonomi merupakan salah satu cabang ilmu yang menggunakan pendekatan ilmiah dalam pembahasannya.

Pendekatan ilmiah menjadi kekuatan utama ilmu ekonomi dalam menganalisis perilaku agen ekonomi untuk menghasilkan suatu pengetahuan yang disusun dengan logika berpikir ilmiah. Salah satu sumber dari pengetahuan ekonomi adalah pengamatan terhadap berbagai peristiwa ekonomi, khususnya berdasarkan kejadian di masa lampau. Misalnya, dalam menganalisis inflasi atau kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum. 

Mengapa masyarakat atau para agen ekonomi menjadi resah jika angka inflasi meningkat tajam? Bagaimana kita mengerti dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh inflasi? Salah satu caranya ialah dengan mempelajari dampak inflasi di masa lampau. 

Sebagai contoh, inflasi di Jerman yang teijadi pada tahun 1920an, mencapai angka 1000 persen selama dua tahun, telah menghancurkan kesejahteraan penduduk Jerman. Hal ini menimbulkan pendapat bahwa kehancuran ekonomi Jerman akibat inflasi yang tinggi menyebabkan terjadinya ketidakpercayaan sosial dan selanjutnya memunculkan penguasa diktator. 

Dengan mengetahui dampak buruk dari inflasi, masyarakat cenderung khawatir jika terjadi inflasi yang tinggi, dan pemerintah memikirkan kebijakan yang efektif untuk mencegah teijadinya inflasi. Akibat buruk dari inflasi di masa lalu menyebabkan kita tidak ingin mengalaminya lagi di kemudian hari.

Namun demikian, dalam mempelajari ilmu ekonomi perlu dihindari terjadinya post hoc fallacy yang teijadi akibat kesalahan penarikan kesimpulan dari kejadian dua peristiwa secara beruntun. Sering kali kita mengasumsikan bahwa peristiwa pertama adalah penyebab dari peristiwa berikutnya. Padahal, penarikan kesimpulan semacam ini tidak selalu benar. 

Misalnya; Jakarta memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi juga risiko banjir tiap tahunnya. Jika kita berpikir bahwa kepadatan penduduk merupakan penyebab tingginya risiko banjir maka inilah yang disebut dengan post hoc, ergo propter hoc fallacy. Kenyataannya, belum tentu kota besar dengan penduduk padat, misalnya Tokyo juga menghadapi risiko banjir yang besar. Tingginya tingkat kepadatan penduduk bukanlah penyebab tingginya risiko banjir. Kedua variabel tersebut memiliki korelasi, namun tidak memiliki hubungan sebab- akibat.

Dua variabel dikatakan berkorelasi jika salah satu variabel berubah ketika variabel lainnya juga berubah. Tetapi, korelasi bukanlah indikasi adanya hubungan sebab-akibat. Kota besar seperti Jakarta memiliki banyak penduduk, semakin banyak penduduk di suatu wilayah maka tingkat kepadatannya semakin tinggi. 

Jika penduduk yang padat ini tidak tertib dalam membuang sampah maka drainase memburuk sehingga ketika musim hujan tiba, air tidak mengalir dengan lancar yang berdampak pada terjadinya banjir. Jakarta memiliki risiko banjir tiap tahun karena beberapa alasan di antaranya; tata ruang kota yang kurang baik, drainase yang buruk, serta kondisi topografi yang lebih rendah dari laut. Tetapi, kepadatan penduduk bukanlah satu-satunya penyebab.

Hal lain yang juga dapat muncul ketika mempelajari ilmu ekonomi ialah adanya kesalahan komposisi. Kesalahan ini muncul ketika kita beranggapan bahwa sesuatu yang baik untuk satu individu maka baik pula untuk seluruh individu. 

Jika dalam tataran kebijakan, kesalahan komposisi terjadi ketika suatu kebijakan yang berhasil diterapkan pada suatu negara dianggap baik pula untuk negara lainnya. Contoh misalnya kebijakan pasar bebas yang telah diterapkan di Tiongkok dan beberapa negara Asia lainnya telah membawa perbaikan terhadap kondisi perekonomian mereka. 

Jika kemudian kita menyimpulkan bahwa kebijakan yang sama juga cocok diterapkan di seluruh negara Asia, maka terjadi kesalahan komposisi.

Uni Soviet mengalami keruntuhan dan kehancuran ekonomi semenjak Presiden Ghorbacev menerapkan kebijakan glasnot dan perestroika-nya. Ada ekonom di Indonesia yang sering kali berceloteh bahwa beberapa kesalahan kebijakan ekonomi Indonesia karena para pembuat kebijakannya belajar ekonomi untuk membangun Amerika dan bukan Indonesia. Kesalahan komposisi akan muncul ketika pembangunan ekonomi di suatu negara tidak disesuaikan dengan konteks yang berlaku di negara tersebut.

Mempelajari ilmu ekonomi sangat menarik karena sering kali terkait dengan ketidakpastian. Meskipun ilmu ekonomi banyak menggunakan matematika sebagai alat bantu analisis, namun tetap saja ilmu ekonomi terkait dengan manusia sebagai makhluk sosial. Adanya ketidakpastian menjadikan ilmu ekonomi sebuah ilmu sosial yang menarik. Misalnya ketika kita belajar tentang teori gravitasi di fisika, kita akan tahu bahwa dengan tingkat gravitasi tertentu, semua benda di bumi akan jatuh jika dilempar ke atas. Hal ini berbeda dengan ekonomi. 

Berbagai contoh ketidakpastian dalam ekonomi misalnya: apakah saya akan digaji sesuai dengan ekspektasi saya apabila telah lulus dari program S1 ini? Apakah saya akan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi bila saya memilih untuk membeli obligasi dibandingkan membeli saham sebuah perusahaan? Apakah kebijakan pemerintah untuk menaikkan belanjanya dapat mengatasi krisis ekonomi?

Ketidakpastian merupakan salah satu subjek yang dipelajari di dalam ilmu ekonomi, selain masalah kelangkaan. Dengan adanya ketidakpastian maka seseorang membutuhkan peralatan yang tepat saat ia ingin memutuskan sesuatu. Ilmu ekonomi mempelajari ketidakpastian, dan juga sekaligus berusaha menemukan cara untuk meminimalisasi risiko dari adanya ketidakpastian itu.

2. Mengapa Kebijakan Ekonomi Sangat Penting?

Setiap tahun, berbagai kebijakan ekonomi dibuat oleh pemerintah baik pemerintah daerah maupun pusat. Setiap kebijakan memiliki dua komponen penting, yaitu tujuan yang ingin dicapai serta alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Peran para ahli ekonomi (ekonom) ialah mencari solusi bagaimana tujuan yang saling bertentangan dapat diselaraskan agar tidak menjadi kontraproduktif. Sering kali para ekonom menjadi penasihat dalam penyusunan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah karena analisis ekonomi yang mereka susun berguna untuk mengetahui berbagai kemungkinan dampak yang dihasilkan kebijakan itu sendiri.

Kebijakan ekonomi berperan penting dalam mengalokasikan serta mendistribusikan sumber daya yang langka secara merata kepada masyarakat. Pasar sering kali gagal mengakomodasi kepentingan semua bagian masyarakat sehingga muncul yang disebut dengan market failure atau kegagalan pasar. Bagaimanapun juga, pemerintah memiliki pengaruh yang besar dalam alokasi barang dan jasa melalui mekanisme yang dimilikinya karena pada kenyataannya agen-agen ekonomi masih melakukan pengambilan keputusan berdasarkan kekuatan pasar.

Anda dapat membayangkan jika sebuah pertandingan sepak bola yang terdiri dari 2 tim saling berhadapan, berlangsung tanpa kehadiran wasit. Apa yang akan terjadi? Berbagai pelanggaran akan bermunculan, tanpa solusi. Begitu juga dalam sebuah perekonomian. Setiap agen ekonomi akan berinteraksi satu dengan lainnya, dan peran pemerintah muncul untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul dari interaksi tersebut. Istilah lainnya menjadi “wasit” di pasar. Caranya tentu dengan menyusun kebijakan yang berdampak pada agen ekonomi dan interaksi antar agen ekonomi.

Fungsi Pemerintah Dalam Kebijakan Ekonomi

Pada dasarnya, fungsi pemerintah dalam kebijakan ekonomi dapat diklasifikasikan menjadi tiga (3) jenis, yaitu 

  • fungsi stabilisasi, 
  • fungsi alokasi, dan fungsi distribusi.

Fungsi stabilisasi diperlukan pada saat perekonomian sedang mengalami kondisi yang buruk, ditandai dengan adanya berbagai ketidakstabilan seperti harga, nilai tukar, dan sebagainya.

Fungsi alokasi diperlukan jika terjadi kegagalan pasar, ketika ada beberapa jenis barang yang tidak dapat diproduksi melalui mekanisme pasar, misalnya jalan raya, sehingga perlu intervensi pemerintah.

Sedangkan fungsi distribusi dalam perekonomian untuk mengatasi ketimpangan pendapatan antar masyarakat.

Meskipun peran pemerintah dianggap penting dalam perekonomian, namun tidak semua ekonom sepenuhnya setuju dengan anggapan tersebut. Sebagian ekonom beranggapan bahwa sebaiknya peran pemerintah sangat minimal dalam perekonomian. Pemerintah tidak perlu banyak campur tangan untuk mengatasi masalah ekonomi, karena mekanisme pasar akan bekerja melakukan penyesuaian (adjustment) dengan sendirinya. Istilahnya "self correcting market mechanism". Tetapi sebagian ekonom lainnya tidak setuju dengan argumen tersebut. Kejadian great depression di dunia pada sekitar tahun 1930-an menunjukkan bahwa peran pemerintah begitu penting karena mekanisme pasar ternyata tidak dapat bekerja dengan sendirinya. Oleh karenanya, perlu intervensi pemerintah melalui kebijakan ekonomi.

Kebijakan ekonomi terdiri dari dua, yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Kebijakan fiskal adalah jenis kebijakan mempengaruhi pasar barang dan jasa, sedangkan kebijakan moneter merupakan kebijakan yang mempengaruhi pasar uang. Instrumen kebijakan fiskal yang biasa digunakan di antaranya pajak, penetapan bea dan cukai, serta anggaran dan belanja nasional. Sedangkan instrumen kebijakan moneter misalnya penetapan jumlah uang beredar, penetapan suku bunga sertifikat bank sentral, dan sebagainya.

Pemilihan kebijakan ekonomi yang tepat sangat dibutuhkan untuk menjaga perekonomian agar dapat stabil, mencapai alokasi sumber daya yang efisien, dan terciptanya distribusi pendapatan yang lebih merata. Berbagai kondisi tersebut akan meminimalisasi terjadinya ketidakpastian dalam perekonomian yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara agregat. 

Salah satu kondisi yang berbeda di era globalisasi ini (dibanding era sebelumnya) ialah bahwa kondisi perekonomian suatu negara tidak terlepas dari kondisi ekonomi yang terjadi di negara lain. Dengan kata lain bahwa tidak hanya pemerintah yang dapat memengaruhi perekonomian, melainkan juga faktor eksternal. Sehingga, pemilihan kebijakan ekonomi yang tepat semakin membutuhkan pertimbangan yang matang, dengan mengantisipasi berbagai dampak faktor eksternal, yaitu luar negeri.

Kondisi ini dimaklumi sebagai konsekuensi dari terbukanya perekonomian dunia. Perdagangan internasional yang diwujudkan melalui kegiatan ekspor dan impor pada saat ini sudah menjadi bagian hidup masyarakat dunia. 

Aliran modal ke luar masuk antar negara menjadi hal yang lumrah. Begitu juga pergerakan tenaga keija internasional. Namun, tentunya pemerintah ingin melindungi masyarakatnya agar dampak yang ditimbulkan dari faktor eksternal tidak merugikan kesejahteraan masyarakat. Oleh karenanya, terkadang kebijakan ekonomi bersifat protektif, dengan tujuan untuk melindungi produsen maupun konsumen dalam negeri. Misalnya, kebijakan kuota impor untuk jenis barang-barang tertentu, agar barang impor tidak membanjiri negara kita dan produk dalam negeri menjadi kalah bersaing. Kebijakan kuota impor salah satu bentuk proteksi pemerintah agar produsen dalam negeri yang memproduksi barang itu tidak mengalami kerugian akibat masuknya barang impor.

Selain itu diketahui bahwa kebijakan ekonomi yang dibuat oleh suatu negara juga dapat dipengaruhi oleh situasi politik yang terjadi di negara tersebut. Kebijakan ekonomi yang dipengaruhi situasi politik akan sangat riskan, karena biasanya justru dapat berdampak pada instabilitas perekonomian. Misalnya saja, dengan meningkatnya harga minyak dunia, subsidi BBM membengkak dan berdampak pada kurangnya anggaran pemerintah untuk memenuhi kebutuhan subsidi BBM tersebut. 

Pemerintah yang berkuasa tentunya memiliki kepentingan politik, seperti kepentingan politik ingin tetap populer di mata masyarakat. Demi menjaga popularitasnya, subsidi BBM tetap dipertahankan agar harga BBM tetap murah di masyarakat. Namun, pembiayaan subsidi dilakukan dengan cara mencetak uang baru. 

Pencetakan uang baru merupakan salah satu cara yang relatif lebih mudah untuk mengatasi defisit anggaran pemerintah. Tetapi pencetakan uang baru justru menyebabkan inflasi meningkat, karena jumlah uang yang beredar di masyarakat menjadi lebih banyak daripada kondisi sebelumnya, dan berakibat pada ketidakstabilan perekonomian.

Kesimpulan

Ilmu ekonomi merupakan ilmu sosial yang mempelajari bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan segala keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Keterbatasan atau kelangkaan ini mengharuskan masyarakat untuk melakukan pilihan yang memaksimalkan kepuasannya. Namun, selalu ada opportunity cost yang harus dikeluarkan ketika seseorang melakukan sebuah pilihan. Hendaknya pilihan dijatuhkan pada alternatif yang memiliki biaya kesempatan (opportunity cost) terkecil. Ilmu ekonomi meyakini bahwa pilihan tersebut adalah yang paling memaksimalkan kepuasan pemilih. Setidaknya saat pilihan tersebut dilakukan.

Ada beberapa pendekatan dalam memahami ilmu ekonomi sebagai sebuah sains. Salah satunya adalah melalui proses berpikir. Namun, sering kali terjadi kesalahan dalam proses berpikir seperti terjadinya post hoc fallacy dan kesalahan komposisi. Post hoc fallacy terjadi ketika seseorang salah mengambil kesimpulan terhadap dua peristiwa yang terjadi secara beruntun. Sedangkan kesalahan komposisi terjadi ketika seseorang beranggapan bahwa sesuatu yang baik untuk individu merupakan hal yang baik pula untuk keseluruhan individu lain.


Ilmu Ekonomi Sebagai Ilmu Sosial

Ilmu ekonomi digolongkan dalam kelompok ilmu sosial. Digolongkan sebagai ilmu sosial karena terkait dengan pengamatan terhadap perilaku manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, selalu membutuhkan peran orang lain. Namun demikian, kadar keilmiahan ilmu ekonomi dalam mengamati perilaku agen ekonomi ditentukan oleh kemampuannya untuk membedakan antara pernyataan positif dengan pernyataan normatif.

Kemampuan dalam membedakan apa yang sebenarnya terjadi dengan apa yang diharapkan dari fakta yang ada. Pernyataan positif berhubungan dengan fakta, yaitu sesuatu yang telah, terjadi dan akan terjadi.Sedangkan pernyataan normatif terkait dengan apa yang diyakini seseorang seharusnya terjadi. Pernyataan normatif didasarkan pada nilai yang diyakini mengenai apa yang benar dan apa yang salah.

Sebagai contoh, ada pernyataan bahwa “salah satu cara untuk mengatasi defisit APBN ialah dengan privatisasi, yaitu dengan menjual BUMN ke pihak asing” merupakan suatu pernyataan positif, sedangkan pernyataan “tidak seharusnya aset negara dijual ke pihak asing” adalah pernyataan normatif yang menyangkut nilai harga diri bangsa.Kemampuan membedakan antara ekonomi positif dengan normatif memungkinkan seseorang memandang dunia seperti apa adanya tanpa dipengaruhi pandangan mengenai apa yang diinginkannya terhadap dunia. 

Halini penting dalam sebuah kajian ilmiah, sehingga kebenaran yang hakiki akan ditemukan. Oleh karena itu, pemisahan antara ilmu positif dan normatif sangat diperlukan dalam penelitian ilmiah.Pada bagian ini. Anda akan belajar bagaimana mengatasi pertanyaan-pertanyaan yang muncul seperti di atas. Anda akan belajar berbagai macam istilah ilmu ekonomi, bagaimana membedakan antara ekonomi mikro dan makro, kemudian tentang berbagai aliran ilmu ekonomi dan pembangunan ekonomi.

A. BERBAGAI ISTILAH DALAM ILMU EKONOMI

1. Teori dan Model Ekonomi

a. Teori Ekonomi

Teori ekonomi adalah pernyataan atau sekumpulan pernyataan yang saling terkait dengan sebab dan akibat, serta aksi dan reaksi. Suatu teori berusaha untuk menjelaskan mengapa suatu peristiwa bisa terjadi dan apa dampaknya. Teori ini juga memungkinkan seseorang untuk meramalkan bahwa jika biaya input meningkat, maka jumlah output yang dapat dihasilkan suatu perusahaan akan berkurang. Jadi, teori dapat digunakan untuk menerangkan gejala yang diamati.

b. Model Ekonomi

Sedangkan model adalah pernyataan formal dari sebuah teori. Sejumlah penyederhanaan melalui asumsi-asumsi tentang bagaimana sebuah perekonomian bekerja, berperilaku, serta melihat bagaimana jika dinyatakan dengan skenario yang berbeda. Biasanya dalam bentuk pernyataan matematis dari dugaan hubungan antara dua variabel atau lebih. Menurut Milton Friedman, model ekonomi seharusnya jangan dinilai dari validitas asumsi- asumsi yang digunakan, namun berdasarkan keakuratan prediksi yang dibuat. Suatu teori terdiri atas sejumlah definisi yang digunakan, sejumlah asumsi (anggapan) yang menerangkan syarat-syarat penggunaan sebuah teori, satu atau lebih hipotesa yang menunjukkan hubungan antar variabel, dan kesimpulan yang ditarik dari asumsi teori yang dapat diuji secara empiris.

c. Variabel Ekonomi

Variabel adalah suatu besaran yang dapat mempunyai berbagai nilai dan merupakan unsur dasar dari teori sehingga setiap variabel harus dijelaskan dengan cermat. Variabel terdiri atas variabel endogen, variabel eksogen, variabel stock, dan variabel flow. Variabel endogen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lainnya di dalam suatu sistem. Sedangkan variabel eksogen adalah variabel yang memengaruhi variabel endogen sementara penentuan besaran variabel tersebut dipengaruhi oleh hal-hal di luar teori.

Misalnya, permintaan apel di Malang merupakan fungsi dari beberapa hal, salah satunya adalah selera. Kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa selera seseorang tidak dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. Sehingga dapat dikatakan bahwa permintaan apel adalah variabel endogen sedangkan selera merupakan variabel eksogen. Selera dikategorikan sebagai variabel eksogen karena berpengaruh terhadap permintaan apel sedangkan permintaan apel tidak bisa mempengaruhi selera masyarakat.

d. Asumsi Ekonomi

Asumsi memegang peranan penting untuk pembentukan suatu teori. Misalkan suatu teori ekonomi diawali dengan “anggaplah semua variabel lain tidak berubah (ceteris paribus)". Contoh nyata ialah apa yang terjadi dengan permintaan apel jika harga apel naik, dan diasumsikan harga barang lainnya tidak berubah. Tentu saja asumsi ini dapat dianggap tidak realistis sama sekali. Karena pada saat yang bersamaan bisa saja harga jeruk (dapat menjadi substitusi apel) juga naik. Tetapi, asumsi tersebut digunakan oleh para ekonom untuk menganalisis dampak perubahan harga apel saja terhadap permintaan apel. Dengan cara seperti ini, pernyataan tersebut menjadi suatu pernyataan empiris yang siap diuji kebenarannya. Jika suatu teori terbukti benar secara empiris, maka asumsi yang dibuat juga benar

e. Hipotesis Ekonomi

Langkah selanjutnya dalam konstruksi (pembentukan) teori adalah merumuskan hipotesis. Hipotesis adalah dugaan awal mengenai bagaimana hubungan antara dua atau lebih variabel. Misalnya, jumlah setiap komoditi yang dihasilkan tergantung, salah satunya, pada harganya. Dengan demikian, variabel harga dan jumlah komoditi dihubungkan satu sama lain sesuai dengan hipotesis ekonomi. Hipotesis akan digunakan untuk menguji kebenaran pernyataan awal tentang hubungan antara dua variabel atau lebih.

2. Perbedaan Ekonomi Mikro dan Makro

Pada tahap permulaan ini perlu pula dimengerti perbedaan antara ilmu ekonomi mikro dan ilmu ekonomi makro. Ilmu ekonomi mikro mempelajari perilaku setiap individu atau agen ekonomi seperti konsumen, pekerja, investor, pemilih tanah, dan pemilik perusahaan. Dalam ekonomi mikro, dijelaskan bagaimana dan mengapa setiap pelaku ekonomi membuat pilihan, serta bagaimana pilihannya tersebut memengaruhi perubahan harga dan pendapatan. Sementara dalam ilmu ekonomi makro, hal yang dipelajari adalah tentang perilaku sekumpulan agen ekonomi secara agregat (keseluruhan).

Untuk lebih jelasnya, coba amati peristiwa pengurangan subsidi BBM. Dampak yang langsung dapat teramati adalah terjadinya kenaikan harga BBM sesuai dengan nilai pencabutan subsidi BBM yang dilakukan pemerintah. Namun, dampak ini tidak berhenti hingga di sini. BBM selaku komoditas yang memiliki keterkaitan dengan penentuan tingkat harga komoditas lainnya, tentu akan memicu kenaikan harga komoditas lainnya, misalnya barang kebutuhan konsumsi masyarakat dan barang kebutuhan produksi perusahaan. 

Alhasil, sering kali perusahaan menanggapi kenaikan harga BBM ini dengan mengurangi jumlah pegawainya untuk menjaga agar biaya produksinya tidak melonjak terlalu tinggi. Rumah tangga pun menanggapinya dengan mengurangi jumlah barang/jasa yang dikonsumsinya karena memang adanya kendala anggaran untuk memenuhi kebutuhan yang sama dengan sebelum terjadinya kenaikan harga BBM. 

Jika mempelajari dampak kenaikan harga BBM terhadap tindakan salah satu perusahaan, misalnya adalah perusahaan X dalam merasionalisasi pegawainya, atau jika kita mempelajari dampak kenaikan harga BBM terhadap perilaku konsumsi rumah tangga Y, hal ini berarti bahwa kita sedang mempelajari ilmu ekonomi mikro karena kita mempelajari perilaku ekonomi dari suatu individu ekonomi. 

Sementara ketika yang kita pelajari adalah pengaruh kenaikan harga BBM terhadap perilaku seluruh perusahaan dalam merasionalisasi pegawainya, atau pengaruh kenaikan harga BBM terhadap tindakan seluruh rumah tangga dalam menyesuaikan konsumsinya, maka berarti kita sedang mempelajari ilmu ekonomi makro karena kita mempelajari perilaku ekonomi secara keseluruhan dalam suatu perekonomian.

Berdasarkan contoh sederhana di atas, terlihat dengan jelas bahwa ketika kita berbicara tentang ekonomi mikro, yang kita bicarakan adalah perilaku dari setiap pelaku ekonomi dalam perekonomian, sementara ketika kita berbicara tentang ekonomi makro, yang kita bicarakan adalah perilaku dari pelaku ekonomi secara keseluruhan dalam perekonomian. 

Oleh karena itu, dalam ekonomi mikro, topik utama yang dibahas adalah bagaimana perilaku individu rumah tangga dan perusahaan dalam menghadapi suatu kondisi ekonomi sehingga membentuk permintaan dan penawaran, bagaimana terciptanya pasar, termasuk berbagai penyebab munculnya kegagalan pasar (tidak bekerjanya pasar secara sempurna); sementara dalam ekonomi makro, topik utama yang dibahas (basic macroeconomics) adalah terkait dengan pengangguran, inflasi (kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum), penentuan output dan pendapatan nasional (termasuk pertumbuhan ekonomi). Untuk lebih jelasnya, amati Tabel 1.1. yang memperlihatkan perbedaan antara ekonomi mikro dan makro dari sisi produksi, harga, pendapatan, dan tenaga kerja, beserta contoh-contohnya.

Tabel 1.1 Perbedaan antara Ekonomi Mikro dan Makro

Namun sebenarnya antara ekonomi mikro dan ekonomi makro bukanlah hal yang dapat dipisahkan satu sama lain. Jika diamati dari ilustrasi kasus kenaikan harga BBM di atas, terlihat bahwa perilaku masing-masing pelaku ekonomi yang dianalisis dalam ekonomi mikro akan membentuk perilaku agregat dari keseluruhan perilaku ekonomi yang menjadi materi analisis dalam ekonomi makro. Jadi, landasan teori ekonomi mikro dan makro sangat erat kaitannya, dan tidak dapat dipisahkan, ataupun dipertentangkan satu sama lainnya.

3. Berbagai Aliran Pemikiran dalam Ilmu Ekonomi

Pemikiran tentang ekonomi sebenarnya sama tuanya dengan keberadaan manusia, namun bukti konkret yang paling awal yang bisa ditelusuri ke belakang adalah hanya hingga masa Yunani (Deliamov, 2005). Pada masa Yunani kuno ini, telah mulai ada teori dan pemikiran tentang uang, bunga, tenaga kerja, dan perdagangan, seperti yang dibahas oleh Plato (427-347 SM) dalam buku Republika. Pemikiran-pemikiran ekonomi pada masa ini merupakan bagian dari filsafat dan sering dikaitkan dengan rasa keadilan.

Meskipun pemikiran ekonomi telah mulai ditemukan sejak zaman Plato, pengakuan terhadap ekonomi sebagai cabang ilmu baru terjadi pada abad ke- XVIII, yaitu setelah kemunculan Adam Smith. Smith merupakan dosen filsafat moral di universitas Glasgow pada tahun 1751-1763, dan pada masa ini ia mengeluarkan buku yang beijudul The Theory of Moral Sentiments (1959). Buku ini membahas persoalan ekonomi dengan menghubungkannya dengan masalah moral. Selanjutnya, pada tahun 1776, Adam Smith memublikasikan bukunya yang berjudul The Wealth of Nations.

Pembahasan ekonomi Smith pada buku ini lebih banyak bersifat mikro. Ia menguraikan tentang persoalan pembentukan harga, serta membahas persoalan pembangunan dan kebijakan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan pendekatan mikro. Buku ini kemudian dianggap sebagai pancangan pertama tonggak sejarah perkembangan ilmu ekonomi, dan Adam Smith pun diberi gelar “Bapak Ilmu Ekonomi.”

Dalam tulisan buku The Wealth of Nations, Smith banyak meramu dan mensintesiskan tulisan-tulisan dari tokoh merkantilis dan fisiokrat yang berkembang pada abad ke-XVII, karena itulah pemikiran Adam Smith ini dikenal juga sebagai pemikiran ekonomi klasik. Disebut sebagai pemikiran ekonomi klasik karena Pemikiran Adam Smith sebenarnya telah dibahas dan dibicarakan oleh pakar-pakar ekonomi jauh sebelumnya. Tokoh yang menjadi bagian dari pemikiran ekonomi klasik ini sebenarnya tidak hanya Adam Smith, tapi juga terdapat beberapa pemikir lain seperti Robert Maltus, David Ricardo, J.B. Say, dan J.S. Mill.

a. Pandangan Kaum Ekonomi Klasik

Konsep ekonomi utama yang diajukan oleh Adam Smith yaitu tentang teori Division of Labor. Adam Smith berpendapat bahwa apabila perusahaan melakukan division of labor atau dengan kata lain melakukan spesialisasi kerja, maka perusahaan tersebut akan lebih efisien. Selain Adam Smith, David Ricardo juga dapat dikategorikan sebagai pemikir kaum ekonomi klasik. 

David Ricardo yang tidak lain adalah murid dari Adam Smith, selanjutnya meneruskan berbagai konsep pemikiran Smith dan memiliki kontribusi penting dalam perkembangan ilmu ekonomi modem. Bukunya yang beijudul Principles of Political Economy and Taxation, menjelaskan secara detail tentang teori nilai, perpajakan dan perdagangan internasional dalam tradisi atau pemikiran klasik. 

Salah satu teori dari David Ricardo yang menjadi sumbangsih penting bagi ilmu ekonomi ialah Teori Keunggulan Komparatif. Teori ini menjelaskan bahwa dua negara tetap dapat melakukan perdagangan selama masing-masing negara berspesialisasi pada produksi barang-barang yang memiliki keunggulan komparatif atau dengan kata lain pada barang- barang atau jasa yang memiliki opportunity cost terkecil.

Selanjutnya, kita mengenal Thomas Robert Malthus yang memberikan sumbangan pemikiran mengenai kaitan antara penduduk dan ekonomi. Thomas Malthus mengembangkan pemikiran yang sebelumnya sudah dikembangkan oleh ayahnya, Daniel Malthus, mengenai hubungan antara penduduk dan pangan. Pemikirannya diterbitkan pertama kali dalam bentuk Essay on the Principle of Population (1798). 

Terdapat tiga proposisi penting yang diajukan oleh Malthus. Pertama, penduduk dibatasi oleh sumber-sumber subsistensi/pangan. Kedua, penduduk dengan sendirinya akan meningkat jika sumber-sumber subsistensi meningkat, kecuali kalau ada penghambat. Ketiga, penghambat tersebut, dan penghambat yang menekan kekuatan perkembangan penduduk, serta penahan dampaknya pada tingkat subsistensi, semuanya dapat dipecahkan melalui ketahanan moral, kejahatan, dan kesengsaraan. 

Salah satu pendapat Malthus yang terkenal ialah bahwa penduduk akan tumbuh menurut deret ukur, sedangkan sumber-sumber pangan hanya akan berkembang menurut deret hitung, sehingga akan terjadi kelaparan. Namun, ternyata pandangan Malthus tersebut tidak sepenuhnya benar, karena ditemukan berbagai teknologi produksi pangan. 

Selanjutnya, ekonom klasik yang juga terkenal ialah John Stuart Mill. Dia merupakan ahli waris David Ricardo di bidang ekonomi klasik ketika pandangannya tertuang dalam Principles of Political Economy yang mendominasi seluruh paruh kedua abad kesembilan belas.

Poin penting dari pandangan ekonomi menurut mahzab klasik adalah pendapat mereka mengenai perlunya campur tangan pemerintah yang minimal dalam perekonomian. Dengan kata lain, peran pemerintah tidak banyak dibutuhkan dalam suatu perekonomian. Mahzab klasik percaya dengan kekuatan pasar, bahwa pasar dapat memperbaiki distorsi yang terjadi di dalam perekonomian, pasar dapat menciptakan suatu perekonomian yang efisien. 

Oleh karena itulah pemikiran ekonomi klasik ini disebut juga sebagai sistem ekonomi pasar/liberal/kapitalis. Pendapat kaum klasik mengenai perlunya pemerintah suatu negara berperan minimal dalam perekonomian ini kontradiktif dengan pendapat Keynes kelak. Keynes justru berpendapat bahwa pemerintah memainkan peranan sangat penting untuk menjaga kestabilan perekonomian karena Keynes tidak percaya bahwa pasar dapat mengatur dirinya sendiri (self regulated).

b. Ekonomi Sosialis: Marx

Berkembangnya liberalisme dan kapitalisme dalam ekonomi menimbulkan reaksi dari berbagai pihak. Reaksi ini timbul karena kapitalisme telah membuat negara dikuasai oleh golongan borjuis di Eropa, dan negara hanya dijadikan sebagai alat pemaksa dan kekuatan dalam mengatur organisasi ekonomi, politik, dan kemasyarakatan untuk memenuhi kepentingan mereka. Hasilnya, kaum proletar sering menjadi korban. William Blake (1775-1827) menulis buku yang berjudul Egland Green and Pleasant Land yang berisi sindiran tentang akibat yang ditimbulkan oleh liberalisme-kapitalisme di Inggris. Dari titik ini kemudian berkembang ajaran sosialisme.

Dari beberapa penulis yang mengusulkan suatu bentuk sosialisme, satu yang mendominasi yaitu Karl Marx. Marx, meskipun orang Jerman, sebagian hidupnya dihabiskan di Inggris dan banyak dipengaruhi oleh berbagai kondisi revolusi industri terhadap munculnya kelas-kelas pekerja. Karya terbesarnya yaitu Das Kapital adalah karya utama di antara pemikiran sebagian besar sosialis yang pernah ada.

Melalui karyanya, Marx berambisi menguji pandangan kaum kapitalis dengan menggabungkan aspek historis, sosiologis dan ekonomis secara bersama - sama. Pandangan Marx terhadap sistem kapitalis adalah bahwa sistem ini mewarisi ketidakadilan dari dalam, meskipun mekanisme pasar sering disebut sebagai mekanisme yang lebih efisien dalam kegiatan ekonomi, Marx tetap mengecam karena mekanisme pasar dari sistem liberalisme ini tidak mempertimbangkan masalah kesenjangan sosial.

Persoalan upah buruh menjadi sorotan Marx. Menurut Marx, sistem upah yang ditetapkan kaum liberal-kapitalis tidak akan pernah mampu mengangkat derajat ekonominya ke tingkat yang lebih tinggi. Kaum buruh merupakan kelas yang ditakdirkan untuk selalu menduduki posisi kelas bawah, sementara pemilik modal sebagai golongan penguasa. Mengamati kondisi ini, Marx pun meramalkan bahwa suatu ketika buruh-buruh ini akan bangkit melawan golongan penguasa karena kesewenangan yang dilakukan oleh golongan ini.

Dalam sistem liberal-kapitalis, ada banyak pendahulu sosialis, namun Marx telah menjadi tokoh penulis sosialis yang dominan, memengaruhi tidak hanya terhadap para sosialis moderat, tetapi juga mendukung terjadinya revolusi. Karya-karya dari Nikolai Lenin, Leon Trotsky, dan lainnya mengakibatkan lahirnya revolusi Bolshevik di Rusia dan doktrin komunis di kemudian hari di abad kedua puluh, yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Marx. Sebenarnya sebagian besar doktrin itu mempunyai berbagai cabang, ketika komunisme di Cina dari Eropa juga banyak dipengaruhi oleh perkembangan awal komunisme Uni Soviet.

c. Ekonomi Neoklasik

Berkembangnya pemikiran ekonomi yang dikembangkan oleh Marx memperoleh tanggapan dari berbagai ahli ekonomi, tidak hanya dari pendukung liberalisme, namun juga dari kaum sosialisme sendiri. Pemikiran dari ahli ekonomi, khususnya dari pendukung liberalisme, dikelompokkan ke dalam kelompok pemikiran ekonomi mazhab neoklasik.

Ramalan Marx tentang akan terjadinya keruntuhan sistem kapitalisme menjadi salah satu bahan bahasan oleh pakar ekonomi; di antaranya adalah W. Stanley Jevons, Leon Walras, Carl Menger, dan Alfred Marshall. Mereka membahas teori yang menjadi titik tolak Marx dalam ramalannya tersebut secara terpisah, namun mengemukakan hal yang sama. Konsep yang mereka gunakan untuk membahas ramalan Marx adalah konsep analisis marjinal, dan mereka terbagi ke dalam empat mazhab, yaitu I) mazhab marjinal, 2) mazhab Austria, 3) mazhab Lausanne, dan 4) mazhab Cambridge.

Peletak dasar konsep analisis marjinal Heinrich Gossen (1810-1858). Ia menjelaskan konsep marjinal dalam penjelasannya tentang kepuasan konsumen dalam mengonsumsi suatu barang. Hukum Gossen I mengungkapkan bahwa tambahan kepuasan (marginal utility) dalam mengonsumsi suatu barang akan makin menurun jika barang tersebut dikonsumsi dalam jumlah yang makin banyak. Hukum Gossen II mengungkapkan bahwa ketersediaan sumber daya dan sumber dana selalu terbatas secara relatif untuk memenuhi kebutuhan manusia yang relatif tidak terbatas. Hukum Gossen ini baru mendapat pengakuan setelah empat puluh tahun hukum ini dikeluarkan, yaitu oleh Jevons, Menger, Bohm-Bawerk, dan von Weiser, dan mereka lah yang digolongkan sebagai penganut mazhab marjinal.

Di Universitas Wina, konsep marjinal banyak memperoleh dukungan, salah satunya dari Kari Menger yang mengembangkan teori kepuasan marjinal. Teori ini kemudian dikembangkan oleh Friedrixh von Wieser dengan menambahkan biaya oportunitas (opportunity cost) ke dalam teori kepuasan marjinal. Pakar ekonomi lain dari universitas Wina ini adalah Bohm-Bawerk, Mises, dan F.A von Hayek. Pemikiran ekonomi dari pakar ekonomi universitas Wina ini dikenal juga sebagai mazhab Austria dari aliran neoklasik.

Pakar ekonomi selanjutnya yang melakukan analisis dengan lebih komprehensif adalah Leon Walras (pendiri mazhab Lausanne) yang mengemukakan teori keseimbangan umum, yaitu perubahan pada suatu faktor akan membawa perubahan pada variabel lain dalam perekonomian secara keseluruhan. Pemikiran Walras ini kemudian dilanjutkan oleh Vilfredo Pareto yang mengungkapkan bahwa suatu alokasi sumber daya disebut efisien jika dalam suatu realisasi, tidak ada individu yang memperoleh keuntungan tanpa merugikan individu lainnya.

Mazhab ekonomi Neoklasik selanjutnya adalah mazhab Cambridge dengan pelopor Alfred Marshal. Di antara ke semua tokoh ekonomi Neoklasik, Marshall merupakan tokoh ekonomi utamanya, yang berjasa dalam memperbaharui asas dan postulat ekonomi yang dikemukakan oleh pakar Klasik dan Neoklasik sebelumnya.

Menurut pandangan ekonomi Klasik, penentuan harga dilakukan berdasarkan besarnya pengorbanan untuk menghasilkan barang tersebut; sementara menurut pandangan Neoklasik (yang dipelopori oleh Jevons, Menger, dan Walras), penentuan harga dilakukan berdasarkan kondisi permintaan. Pakar ekonomi Neoklasik ini mengungkapkan bahwa biaya bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan harga, dan menurut mereka, faktor yang paling berpengaruh dalam menentukan harga adalah kepuasan yang diperoleh dari konsumsi satu unit terakhir dari barang tersebut.

Kalangan Neoklasik menjelaskan hal ini dengan menjelaskan paradoks ‘intan dan air’. Menurut kalangan ekonomi Klasik, rendahnya harga air walaupun air merupakan barang yang sangat bermanfaat untuk kehidupan terjadi karena rendahnya biaya untuk memperoleh air; sementara intan, walaupun merupakan barang yang tidak berfaedah, harganya mahal karena biaya untuk memperoleh intan tersebut tinggi. Namun, menurut kalangan Neoklasik, faktor pembentuk rendahnya harga air dan tingginya harga intan bukan karena faktor biaya untuk mendapatkannya, namun faktor kepuasan marjinal yang besar dari mengonsumsi intan dibandingkan dengan air. Oleh karena itulah intan dihargai lebih tinggi dibandingkan dengan air. Menghadapi perbedaan pandangan antara kalangan Klasik dan Neoklasik ini, Marshall tidak menyalahkan kedua konsep, namun justru menggabung-kannya. Menurut Marshall, faktor yang membentuk harga tidak hanya biaya, namun juga oleh unsur subjektif dari sisi produsen, misalnya berupa kondisi keuangan perusahaan, ketika kondisi keuangan perusahaan memburuk, perusahaan mau menerima tingkat harga yang rendah dan konsumen, misalnya berupa perubahan daya beli/pendapatan; ketika pendapatan tinggi, konsumen bersedia membeli barang dengan harga yang tinggi.

d. Revolusi Keynesian

Dengan keberadaan tokoh Neoklasik yang mematahkan teori sosialis Marx, maka perekonomian pada awal abad ke-20 berjalan sesuai paham Klasik dan Neoklasik (laissez faire-laissez passer). Di bawah tangan Klasik dan Neoklasik ini, kemudian teijadi perlombaan produksi barang oleh perusahaan- perusahaan, karena mereka berpegang pada prinsip J.B. Say, bahwa ‘penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri’. Alhasil, produksi pun meningkat tanpa kendali sehingga akhirnya muncul krisis ekonomi pada tahun 1930-an; perekonomian ambruk, pengangguran tinggi, dan inflasi tidak terkendali. Dari peristiwa ini, banyak pihak yang beranggapan bahwa ramalan Marx menjadi kenyataan.

Ekonomi Klasik dan Neoklasi tidak mampu menjelaskan fenomena yang terjadi dan tidak mampu memberikan solusi. Pendapat Klasik yang menyatakan bahwa jumlah tabungan akan selalu sama dengan jumlah investasi dibantah oleh Keynes karena motif orang menabung tidak sama dengan motif pengusaha untuk berinvestasi. Keynes juga merekomendasikan agar perekonomian tidak dilepaskan begitu saja kepada mekanisme pasar. Hal ini didasarkan pada pengamatannya terhadap depresi ekonomi tahun 1930-an, dan ia mengungkapkan bahwa intervensi pemerintah terhadap perekonomian, dalam batas tertentu, justru diperlukan. Misalnya, ketika terjadi pengangguran besar-besaran, pemerintah perlu mengambil kebijakan meningkatkan jumlah pengeluaran karena dengan jumlah pengeluaran yang lebih besar, pemerintah akan meningkatkan pendapatan masyarakat, yang berarti akan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga pada akhirnya perekonomian akan kembali bergerak dan pengangguran dapat terserap di dunia kerja.

John Maynard Keynes (Cambridge, Inggris) menerbitkan pemikiran ekonominya dalam buku yang berjudul General Theory of Employment, Interest and Money. Buku ini mengubah fokus ekonomi menjadi ekonomi makro - pendapatan nasional, pekerjaan, tingkat harga umum dan kebijakan fiskal. Keynes menganalisis ekonomi yang dipengaruhi oleh pengangguran dan kapasitas yang melampaui batas. Pandangan Keynes yang berpengaruh penting dalam perkembangan ilmu ekonomi, yaitu pendapatnya yang menyatakan bahwa pemerintah seharusnya campur tangan dalam perekonomian. Keynes tidak percaya pasar dapat self regulated. Pendapat yang dikemukakan Keynes ini bertolak belakang dengan pandangan kaum Klasik yang percaya bahwa pasar dapat self regulated.

e. Aspek terpenting pandangan post Keynessian

Berbagai pemikiran ekonomi modem saat ini merupakan kelanjutan dari pemikiran ekonomi Neoklasik dan ekonomi aliran Keynes. Sehingga dapat dikatakan bahwa saat ini terdapat dua mazhab penting dalam ilmu ekonomi, yaitu mazhab Klasik dan Keynes. Pengikut Keynes - post Keynesian - mengoreksi teori pendapatan dan tenaga kerja untuk dipadukan dengan pemikiran kelompok Neoklasik.

Pemikiran ekonomi awalnya didominasi oleh para tokoh yang berasal dari Inggris, terutama sebelum dan di awal masa setelah Perang Dunia II. Namun selanjutnya, sebagian besar perkembangan pemikiran ekonomi dihasilkan di Amerika Serikat. Baik kaum pasca Keynes, ahli ekonomi neoklasik yang dianggap terkenal sebagai ekonomi aliran utama (mainstream') umumnya tinggal di Amerika serikat. Para ahli ekonomi tersebut yang terkenal di antaranya Paul A. Samuelson, Kenneth J. Arrow, James Tobin, dan Lawrence Klein. Aspek pemikiran lainnya adalah pasar liberal pasca Keynes, terutama diajukan oleh para ahli moneter yang dipimpin oleh Milton Friedman.

4. Berbagai Isu Utama dalam Ekonomi Makro

Bagian terpenting dalam analisis ekonomi makro ialah pembahasan mengenai tingkat kegiatan yang dapat dicapai suatu perekonomian. Dalam analisis tersebut dibahas tentang bagaimana pengeluaran/permintaan agregat dan penawaran agregat akan mempengaruhi tingkat kegiatan perekonomian selama periode tertentu dan berapa besar pendapatan nasional/produksi nasional yang terbentuk. Setiap variabel yang dibahas dalam ekonomi makro saling terkait. Sebagai contoh, pertumbuhan ekonomi di suatu negara tergantung pada besarnya investasi, konsumsi masyarakat, dan pengeluaran pemerintah. 

Jika terjadi pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran, maka akan tercipta kesempatan kerja baru yang pada akhirnya dapat mendorong peningkatan pendapatan masyarakat. Jika pendapatan masyarakat meningkat, maka tingkat konsumsi masyarakat pun meningkat. Akibatnya, permintaan terhadap barang dan jasa meningkat. 

Perusahaan memproduksi barang lebih banyak, lalu kembali terjadi kenaikan output nasional dan seterusnya. Jika kenaikan permintaan masyarakat tidak dapat direspons oleh perusahaan dengan menaikkan produksi, maka akan terjadi kenaikan harga, karena permintaan yang lebih besar dibanding penawaran agregat. 

Terjadilah inflasi yang berakibat pada menurunnya daya beli masyarakat. Contoh tersebut memberi gambaran yang nyata kepada kita mengenai keterkaitan antar variabel dalam ekonomi makro yang berujung pada terciptanya pertumbuhan ekonomi atau tidak. Jika pertumbuhan ekonomi tinggi, sama artinya dengan meningkatnya tambahan aktivitas/kegiatan dalam perekonomian yang tinggi pula.

Secara umum, isu utama yang dibahas dalam ekonomi makro sebagai berikut:

a. Pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan ekonomi adalah persentase perubahan kegiatan dalam perekonomian yang diukur (salah satunya) dari persentase perubahan produksi barang dan jasa. Jika terjadi pertumbuhan ekonomi, maka terjadi pula peningkatan kegiatan dalam perekonomian. Isu yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi ialah apa saja yang memberikan kontribusi bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi? Apa kebijakan yang perlu dilakukan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi? Siapa yang menikmati manfaat dari adanya pertumbuhan ekonomi? Meskipun pertumbuhan ekonomi dihitung tahunan, tetapi sebenarnya pertumbuhan ekonomi tidak dapat serta merta terjadi dalam jangka pendek. 

Contoh sebelumnya menekankan bahwa jika terjadi kenaikan konsumsi masyarakat, maka seharusnya perusahaan merespons dengan memproduksi barang lebih banyak lagi. Masalahnya, produksi barang tergantung pada kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan- perusahaan, dan perubahan kapasitas produksi tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. 

Jika perusahaan memiliki keterbatasan kapasitas produksi, maka dibutuhkan investasi baru, dan proses investasi membutuhkan waktu. Perusahaan tersebut perlu melakukan pembelian barang modal baru, pinjaman modal, pengurusan izin, rekrutmen tambahan tenaga kerja dan seterusnya. Oleh karenanya, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang langgeng dalam jangka panjang bukanlah perkara mudah.

b. Ketidakstabilan kegiatan ekonomi

Ahli ekonomi berkeyakinan bahwa dalam suatu perekonomian yang sepenuhnya diatur oleh mekanisme pasar, siklus kegiatan ekonominya sangat labil. Pasar akan terus bergerak untuk melakukan penyesuaian. Dalam jangka panjang ketidakstabilan ekonomi dapat menimbulkan ketidakpastian dan hal ini dapat menciptakan pengaruh buruk terhadap perkembangan ekonomi. Analogi tekanan darah dapat digunakan untuk memahami mengapa ketidakstabilan kegiatan ekonomi dapat berdampak buruk. Sebagai contoh, jika tekanan darah seseorang tidak stabil, naik dan turun dalam waktu singkat, maka pembuluh-pembuluh darah di tubuh orang tersebut bisa pecah, karena ketidakmampuan pembuluh darah untuk melakukan penyesuaian secara cepat.

c. Masalah pengangguran

Pengangguran adalah suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum memperolehnya. Beberapa faktor yang menimbulkan pengangguran adalah kurangnya permintaan agregat, penggunaan teknologi modem yang menyebabkan pengurangan penggunaan tenaga kerja, ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki dengan yang dibutuhkan, serta pengangguran yang timbul karena ingin mencari pekerjaan yang lebih baik. Pengangguran tentunya berdampak terhadap kesejahteraan penganggur itu sendiri. Pengangguran tidak memiliki pendapatan dari bekerja sehingga berpengaruh terhadap kondisi kesejahteraannya. Meskipun tidak selalu terjadi, namun orang yang menganggur cenderung menjadi miskin.

d. Masalah kenaikan harga (inflasi)

Inflasi didefinisikan sebagai kenaikan harga-harga yang berlaku secara umum dalam suatu perekonomian. Digunakannya istilah umum, karena kenaikan harga setiap barang tidak sama. Inflasi menurut penyebabnya dapat dikategorikan menjadi 2 jenis, yaitu inflasi akibat tarikan permintaan (demand puli inflation) dan inflasi akibat dorongan biaya (cost push inflation). Jika permintaan agregat melampaui penawaran agregat, maka harga-harga barang akan meningkat, dan kondisi ini disebut sebagai demand pull inflation. 

Contoh lainnya ialah kenaikan harga BBM menyebabkan biaya produksi barang menjadi mahal dan akibatnya perusahaan menaikkan harga, dan contoh ini disebut cost push inflation. Inflasi menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan tentunya berdampak kepada penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat.

e. Neraca perdagangan dan neraca pembayaran

Kegiatan ekspor dan impor merupakan bagian yang penting dari kegiatan perekonomian suatu negara. Dalam perekonomian terbuka, perdagangan antar negara memiliki peran penting terhadap pembentukan aktivitas ekonomi di suatu negara. Selain itu, pada perekonomian terbuka juga terjadi aliran uang dan modal antar negara. Seluruh transaksi tersebut dicatat dalam neraca pembayaran, baik transaksi barang dan jasa, maupun aliran modal antar negara. Ketidakseimbangan antara ekspor dan impor serta aliran ke luar masuknya modal dapat menimbulkan masalah serius terhadap kestabilan suatu perekonomian.

5. Pembangunan Ekonomi (Dalam Ekonomi Makro)

Bagaimanapun juga, ilmu ekonomi tidak dapat dilepaskan dari pembahasan pembangunan di suatu negara. Pembangunan ekonomi memiliki definisi yang beragam bagi banyak orang. Bagi beberapa orang, pembangunan ekonomi identik dengan penciptaan berbagai kesempatan kerja yang baru. Bagi pihak lainnya, pembangunan ekonomi dimaknai dengan meningkatnya pendapatan per kapita. Sedangkan beberapa kelompok menganggap pembangunan ekonomi sebagai suatu proses konsumsi sumber daya yang terbatas, sehingga menyebabkan degradasi lingkungan global. Sebenarnya, pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang dapat menyebabkan peningkatan kapasitas dan kesejahteraan penduduk secara berkesinambungan. Dengan definisi ini, pembangunan tidak hanya meningkatkan akses terhadap lapangan pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan akses terhadap lapangan pekerjaan yang baik. Sehingga hal ini akan mendukung peningkatan standar kehidupan bagi seluruh penduduk secara langgeng. Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa definisi berkesinambungan (sustainable) ialah bahwa pemanfaatan sumber daya saat ini tidak mengorbankan kualitas hidup jangka panjang. The Circle of Prosperity mendeskripsikan hal tersebut.

Gambar 1.1The Circle of Prosperity

Beberapa indikator keberhasilan pembangunan ekonomi seperti berikut: 

  1. Peningkatan kesempatan kerja yang memiliki etika kerja yang baik, b. Stabilitas harga barang dan jasa sebagai akibat adanya mekanisme pasar yang baik.
  2. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tanpa merugikan kesempatan pertumbuhan di masa mendatang.
  3. Pencapaian kualitas hidup yang lebih baik (pendidikan, kesehatan).
  4. Adanya akses yang baik bagi masyarakat terhadap pusat aktivitas ekonomi (major market areas).
  5. Peningkatan pemanfaatan teknologi dalam proses produksi.

Pada dasarnya, pembangunan ekonomi memiliki tiga kriteria dasar yang akan dicapai, yaitu mengurangi kemiskinan, mengatasi pengangguran, dan pemerataan pendapatan. Berikut adalah perbedaan antara pertumbuhan ekonomi, pembangunan ekonomi, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan:

Terdapat satu pertanyaan penting yang sangat sederhana di dalam mempelajari pembangunan ekonomi, yaitu: mengapa satu negara atau daerah dapat menjadi maju dalam hal pembangunan (well-developed), sedangkan negara atau daerah lain tidak bisa? (Mookherjee dan Ray, 1999). Dengan kata lain, bahwa terdapat kesenjangan/disparitas yang cukup tajam di seluruh dunia. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah negara atau daerah berkembang (developing countries/regions) dapat mengejar kemajuan negara maju? Jika tidak, apa alasannya? Sebaliknya, jika bisa, berapa lama waktu yang dibutuhkan? Apakah kebijakan pemerintah akan memiliki peranan penting dalam proses ini? Apakah pembangunan akan tergantung pada pasar?

Dimulai dari hasil kerja Robert Solow (1956), paradigma yang dominan untuk beberapa dekade terakhir yang dianut oleh tradisi Neoklasik ialah bahwa akan terjadi konvergensi antar negara atau wilayah ekonomi. Ide dasarnya ialah bahwa dengan adanya the law of diminishing returns to inputs, negara- negara yang belum banyak memanfaatkan sumber daya modal (miskin), seharusnya akan mencapai higher rates of return to capital. Konsekuensinya, dengan asumsi bahwa tingkat tabungan dan pertumbuhan penduduk sama, pendapatan per kapita di negara miskin akan tumbuh lebih cepat, dan standar hidup antar negara menjadi konvergen. Argumen selanjutnya ialah bahwa disparitas antara negara miskin dan kaya selama jangka waktu tertentu, pasti disebabkan oleh faktor lain, misalkan tingkat tabungan dan pertumbuhan penduduk yang tidak sama.

Kenyataannya, hipotesis neoklasik tersebut secara empiris tidak terbukti. Penyebab tidak tercapainya konvergensi pembangunan antar negara ialah adanya variabel fundamental lainnya yang berbeda. Variabel tersebut dari yang mulai bersifat endogeneous seperti saving rates dan population growth hingga variabel eksogen seperti korupsi, pemerintah yang tidak kompeten, kondisi geografi dan iklim, attitudes, kultur, preferensi, dan sebagainya.

Untuk dapat mencapai suatu pembangunan ekonomi yang berhasil, setiap negara atau daerah sebagai suatu entitas ekonomi, harus mampu mengidentifikasi variabel endogen dan eksogen yang akan mempengaruhi kecepatan pembangunan. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu perencanaan, pengetahuan terhadap karakteristik masing-masing variabel, dan kemampuan analisis kebijakan publik untuk pembangunan ekonomi, baik dalam konteks nasional maupun daerah.

6. Hadiah Nobel di Bidang Ekonomi

Sebagai puncak pengakuan ekonomi sebagai suatu ilmu besar. Yayasan Nobel di bawah dukungan Bank Swedia memberikan sebuah Hadiah Nobel di bidang "Ilmu Ekonomi”. Sejak pemberian hadiah pertama tahun 1969, ahli- ahli ekonomi yang digelari dengan Hadiah Nobel di bidang Ekonomi sebagai berikut.

Esai Nobel Ekonomi

Mendukung pengelompokan mazhab seperti yang telah dijelaskan di atas, bagian ini akan menceritakan beberapa pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi beserta karyanya.

Ragnar Anton Kittil Frisch dan Jan Tinbergen (pemenang nobel ekonomi tahun 1969)

Tinbergen lahir di Den Haag pada 12 April tahun 1903. Sejak tahun 1927 tangan Tenbergen sudah menghasilkan 900 publikasi ekonomi. Bersama Ragnar Frisch, karya Tinbergen memenangkan hadiah nobel dalam terobosan dalam bidang ekonometri. Yaitu ilmu pengetahuan dibantu dengan model- model ilmu pasti yang digunakan untuk analisis dan meramalkan proses ekonomi.

Paul A. Samuelson (1970)

Samuelson ialah salah seorang arsitek ekonomi terkemuka dalam memajukan perekonomian Amerika pada tahun 1960-an. Pada tahun itu Samuelson pemah menjadi penasihat presiden John F. Kennedy dalam masa kampanye serta menjadi penasihat ekonomi Gedung Putih. Buku teks Samuelson yang berjudul Economics terpilih sebagai pemenang Hadiah Nobel. Buku tersebut dipergunakan dalam pengajaran ilmu ekonomi di seluruh belahan dunia. Karya ilmiahnya hampir segenap bidang teori ekonomi. Kemampuannya luar biasa dalam menarik teorema-teorema penting yang baru dan dapat diterapkan bagi teorema-teorema yang sudah ada.

Wassily Leontief (1973)

Leontief sekarang tinggal di Amerika, dulu pernah menjadi warga negara Uni Soviet. Karya Leontief yang mendapat Hadiah Nobel ialah penemuannya dalam model ekonomi, yaitu Tabel Input-Output. Model tersebut sampai sekarang masih bermanfaat dan digunakan oleh banyak negara untuk analisis ekonomi. Seperti Jepang tiap tahun menghasilkan tabel analisis input-output. Keunggulan model ini dapat memperkirakan pertumbuhan ekonomi dengan memperhitungkan ketersediaan bahan baku dari berbagai sektor ekonomi. Secara empiris dapat menunjukkan peran sektor ekonomi mana yang paling tinggi. Perkiraan tersebut mempunyai tingkat akurasi yang cukup tinggi.

Salah satu contoh aplikasi model penerapan Leontief dapat digunakan untuk analisis dampak kegiatan ekonomi terhadap polusi, dampak kegiatan ekonomi terhadap kerusakan lingkungan atau sebaliknya. Bahkan sekarang dapat juga untuk melihat dampak sosialnya.

George J. Stigler (1982)

Stigler mendapatkan Hadiah Nobel, salah satunya atas karya-karya ilmiahnya dalam analisis fungsi pasar dan pengaruh regulasi dalam perekonomian. Sebagai perintis bagaimana bekerjanya pasar, Stigler menggunakan penentuan harga yang terjadi di pasar ialah merupakan harga keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

John Richard Nicholas Stone (1984)

Stone dari Universitas Chambide Inggris terpilih mendapatkan Hadiah Nobel karena sumbangan untuk penyusunan model-model ekonomi, terutama dalam penciptaan sistem neraca pendapatan nasional. Sistem neraca ini didukung dengan pengukuran secara lebih tepat yang dapat menunjukkan hubungan fungsional di antara variabel ekonomi makro. Seperti pengeluaran masyarakat untuk konsumsi, investasi, tabungan masyarakat dan beberapa variabel makro yang lain.

Maurice Allais (1988)

Allais ialah anak seorang penjaga kedai keju di Perancis. Pria yang lahir 31 Mei 1911 ini menunjukkan karya yang luar biasa panjangnya serta sangat kompleks. Melalui tulisannya yang berjudul In Seacrh of An Economis Discipline yang berjumlah 900 halaman (1943) dan Economy and Interest (1947) sebanyak 800 halaman, Allais berhasil memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi.

Profesor pada Ecole Nationale Superieure Des Mines De Paris ini mampu memformulasikan dengan persamaan matematika dari “keseimbangan pasar dan efisiensi kekayaan pasar”. Sehingga menurut komite nobel, Allais pantas atas kepeloporannya dalam memperkaya teori pasar dan efisiensi penggunaan sumber-sumber.

Ronald H Coase (1991)

Coase sebagai guru besar emeritus di Universitas Chicago berhasil memenangkan Hadiah Nobel atas karyanya dalam mengemukakan teori hak kepemilikan kekayaan (property right), teori perusahaan (theory of the firm), biaya transaksional (transactional cost), dan teori eksternalitas khususnya tentang polusi.

Sebagai contoh tentang teori perusahaan yang dikemukakannya itu, teori ini dapat merobohkan sendi-sendi teori mikro ilmu ekonomi kaum Neoklasik. Teori mikro ilmu ekonomi kaum Neoklasik tersebut sampai saat ini masih banyak digunakan dalam pengajaran di Indonesia. Gagasan teori ini kemudian dapat digeneralisasi untuk memprediksi kebangkrutan ekonomi sosialisme.

Gary Becker (1992)

Becker dianggap perintis yang berjuang keras melawan arus utama (mainstream) ekonomi, yaitu ekonomi Neoklasik. Arus yang ditentangnya ialah arus pemikiran yang dianggap sempit karena menganggap faktor-faktor non-ekonomi di masyarakat dianggap tidak penting, sehingga dapat dianggap “konstan”. Meski Becker tetap kental menggunakan model-model matematika sebagai alat bantu analisisnya, Becker dianggap berhasil dalam penerapannya untuk menjelaskan gejala-gejala sosial non-ekonomi yang berkaitan dengan proses perekonomian. Ide yang dikemukakan Becker tentang yang akhirnya berkembang menjadi perbedaan tajam antara ekonomi Neoklasik dan ekonomi kelembagaan (institutional economics).

Beberapa ekonom Indonesia menganggap Becker sebagai pahlawan karena kegigihannya melawan arus utama ekonomi tersebut. Seperti ekonomi Pancasila yang sampai sekarang masih berusaha dirumuskan para sarjana kita, idenya hampir menyerupai ide Becker yaitu tentang ekonomi kelembagaan. Ekonomi Pancasila ialah ajaran ekonomi kelembagaan atau sama dengan ajaran ekonomi “moralistik”. Menurut ekonom Neoklasik bahwa ekonomi kelembagaan diasumsikan sebagai konstanta, atau dianggap tetap. Sedangkan menurut kaum institusionalis, ekonom tidak akan mampu menjelaskan fenomena ekonomi jika hanya berdasarkan faktor yang hanya dikukur secara kuantitatif. Pendekatan ini dianggap dapat sebagai ilmu abstrak tanpa berpijak pada dunia nyata. Becker dalam hal ini mempertanyakan manfaatnya.

Robert W. Fogel dan Douglass C. North (1993)

Pemberian nobel tahun 1993 ini dianggap sebagai sebuah pelanggaran, karena baru kali ini Hadiah Nobel Ekonomi diberikan untuk karya di bidang sejarah ekonomi. Selama ini penghargaan hanya ditujukan pada yang berkecimpung dalam ekonomi mumi. Fogel dari Universitas Chicago (Illinois) dan North dari Universitas St. Louis (Missouri) berhasil memenangkan Hadiah Nobel yang berjasa atas karyanya tentang kaitan antara proses pertumbuhan dan ekonomi dengan perubahan pranata sosial.

Reinhard Selten, John Forbes Nash, dan John Harsanyi (1994)

Selten dari Universitas Bonn (Jerman), Nash dari Universitas Princeton (AS) dan Harsanyi dari Universitas Berkeley (AS) dinilai memberikan sumbangan besar dalam mengembangkan teori permainan (game theory). Teori ini digunakan untuk menjelaskan perilaku ekonomi. Nash mengembangkan dasar-dasar teori ini untuk analisis keadaan bila para pelaku ekonomi tidak selalu kontra. Situasi ini ialah non-zero-sum-games, yang kemudian dikenal dengan terminologi keseimbangan Nash (Nash Equilibrium).

Robert Lucas (1995)

Lucas memenangkan Hadiah Nobel atas teori harapan rasional (rational expectation) yang berasal dari John Muth yaitu tentang teori harapan adaptif (adaptive expectation). Sejak tahun 1950-an banyak ekonom yang menganggap harapan itu muncul berdasarkan pengalaman masa lalu. Ini seperti pada teori harapan adaptif. Misalkan orang meramalkan tingkat inflasi bulan depan di bawah dua digit, karena berdasarkan tingkat bulan lalu yang juga di bawah dua digit. Pada kenyataannya harapan tersebut tidak mesti demikian. Orang bisa mempunyai harapan berbeda katakanlah tingkat inflasi akan naik bulan depan dikarenakan informasi yang baru didapat, misalkan bulan depan akan ada kenaikan bahan bakar minyak. Informasi terkini akan mudah merubah harapan seseorang. Hal ini yang digunakan untuk harapan rasional, yaitu melihat kemungkinan terjadinya sesuatu di masa depan dengan cara memanfaatkan semua informasi yang tersedia.

Kesimpulan

Ilmu ekonomi termasuk ke dalam ilmu sosial. Istilah-istilah yang ada di dalam ilmu ekonomi yaitu teori dan model ekonomi, variabel, asumsi, dan hipotesis. Lingkup ilmu ekonomi dapat dibedakan menjadi ilmu ekonomi mikro dan makro. Ilmu ekonomi mikro mempelajari perilaku setiap individu atau agen ekonomi seperti konsumen, peketja, investor, pemilih tanah, dan pemilik perusahaan. Dalam ekonomi mikro, dijelaskan bagaimana dan mengapa setiap pelaku ekonomi membuat pilihan, serta bagaimana pilihannya tersebut memengaruhi perubahan harga dan pendapatan. Sementara dalam ilmu ekonomi makro, hal yang dipelajari adalah tentang perilaku sekumpulan agen ekonomi secara agregat (keseluruhan).

Ada beberapa aliran utama dalam perkembangan ilmu ekonomi. Diawali dengan aliran klasik yang dipelopori oleh Adam Smith. Aliran ini berbicara tentang perlunya minimisasi campur tangan pemerintah karena pasar dianggap bisa mengatur dirinya sendiri (self regulated). Aliran klasik pada kelanjutannya menyuburkan ekonomi kapitalisme. Karl Marx merasa bahwa kapitalisme mengakibatkan jurang sosial dalam masyarakat menjadi semakin lebar. Oleh karena itu, beliau memperkenalkan mazhab Sosialis-Marx, dengan maksud untuk memperhatikan kepentingan kaum Proletar yang selama ini dipinggirkan. Kemudian, muncul aliran Neoklasik. Neoklasik ada untuk memperbaiki teori Klasik. Konsep utama Neoklasik yaitu tentang kepuasan matjinal, bahwa yang menyebabkan suatu barang bernilai bukan saja dari biaya yang dikeluarkan untuk memeroleh barang tersebut, tapi juga dengan tinggi rendahnya kepuasan marjinal yang dirasakan oleh manusia setiap kali mengonsumsi barang tersebut.

Daftar Pembahasan Ekonomi Makro V.1 

Berikut ini adalah Daftar Link terkait pembahasan seputar materi ilmu Ekonomi Makro yang anda baca saat ini, silahkan anda buka link-link dibawah ini.
  1. Konsep Dasar Ilmu Ekonomi Sebagai Ilmu_Sosial (Belajar Ekonomi Makro V.1)
  2. Pendapatan Nasional, PDB Nominal & Riil Serta Indikator Pengukur Kinerja Ekonomi Suatu Negara
  3. Konsumsi, Tabungan, Investasi, Sistem Keuangan Serta Pasar Untuk Dana Pinjaman (Ekonomi Makro V.1)
  4. Permintaan Agregat dan Angka Pengganda_Bentuk Kurva dan Cara Menghitungnya (Pembahasan Ekonomi Makro V.1)
  5. Uang dan Peranannya dalam Perekonomian Serta Kebijakan Moneter (Materi Ekonomi Makro V.1)
  6. Peran Pemerintah Dalam Perekonomian dan Kebijakan Fiskal (Kegiatan Belajar Ekonomi Makro V.1)
  7. Penawaran Agregat dan Konsep Pertumbuhan_Ekonomi (Ekonomi Makro V.1)
  8. Stabilitas Harga, Pengangguran, Siklus Bisnis dan Inflasi (Materi Ilmu Ekonomi Makro V.1)
  9. Perekonomian Terbuka, Aliran Barang/Jasa, Neraca Pembayaran dan Kebijakan Serta Keseimbangan (Belajar Ekonomi_Makro V.1)

Posting Komentar untuk "Konsep Dasar Ilmu Ekonomi Sebagai Ilmu_Sosial"