Sejarah dan Fakta Keberadaan Suku Nias di Padang - celotehpraja.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sejarah dan Fakta Keberadaan Suku Nias di Padang

Sejarah Suku Nias di Padang – Padang merupakan salah satu kota bersejarah di daerah Pantai Barat Sumatera. Batas wilayah Padang dapat kita narasikan sebagai berikut: Utara : Berbatasan Kabupaten Padang Pariaman, Selatan : Berbatasan  Kabupaten Pesisir Selatan, Barat : Berbatasan  Samudera Indonesia, Timur : Berbatasan Kabupaten Solok.

Suku Nias merupakan bagian dari sejarah kota padang dan menjadi salah satu suku yang pertama menghuni Kota Padang. Sejarah keberadaan kota Padang tidak dapat terlepas dari Suku Nias yang bermigrasi di kota padang pada zaman dahulu kala. 

Sejarah dan Fakta Keberadaan Suku Nias di Padang

Sebagaimana pada judul artikel Sejarah Suku Nias di Kota Padang, tentunya disini akan dijelaskan pula bagaimana sejarahnya suku nias memiliki sejarah sendiri di daerah padang, dan apa saja fakta historisnya etnis nias di padang.

Sejarah dan Fakta Keberadaan Suku Nias di Padang

Nah inilah fakta tentang keberadaan suku atau etnis Nias di Kota Padang sebagaimana yang disampaikan oleh salah satu Dosen Sejarahwan, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas Anatona Gulo, dipaparkan pada Seminar Sehari Padang Lama Dalam Perspektif Sejarah dan Masa Depan di Padang, 6 Februari 2020 sebagai berikut:

1. Keberadaan Suku Nias Sejak Abad 17

Sejarah adanya etnis atau suku Nias di kota Padang telah dimulai sejak VOC Belanda dan EIC Inggris saat mendominasi jalur operasi perdagangan di pantai barat Sumatera (Sumatra's Westkust) pada abad ke-17 hingga ke-18. Ini kemudian berlanjut di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Belanda dan Jepang memasuki era kemerdekaan.

Pada tahun 1693  VOC dan Masyarakat Nias daerah Teluk Dalam (Nias Selatan) memiliki sebuah perjanjian kontrak tentang Seluruh Barang Dagangan harus di serahkan dari Pulau Nias ke Kota Padang. Sejarah Gereja dan Kekristenan di Pulau Nias

di Kota Padang ada banyak naman desa yang menggunakan nama suku atau etnis yang menyiratkan suku ini sudah lama keberadaanya di wilayah ini, salah satunya adalah orang Nias dengan sebutan nama Kampung Nias.

2. Bermukim di Daerah Pesisir Pantai

Sejarahnya, etnis atau suku nias ketika mengunjungi Padang memilih bertempat tinggal di daerah pesisir pantai dan daerah perbukitan gunung Padang. Faktor yang mempengaruhinya adalah dari segi mata pencaharian dan pekerjaan di pelabuhan pelabuhan laut Muara Batang Arau dan Pulau Pisang.

Disisi lain sebagai pekerja di pelabuhan, para ibu-ibu juga memiliki usaha sendiri seperti anyaman atap rumah dari daun rumbia dan laki-lakinya memanjat pohon kelapa untuk keperluan rumah tangga dan untuk dijual, kemudian mereka juga berkebun dan beternak hewan.

Lokasi wilayah pemukiman suku nias berada tepat di bibir pantai Padang sejak orang nias datang di kota padang. Sejarah dan Tradisi Lompat Batu Nias

3. Nama Daerah Berbahasa Nias

Sejak awal, kawasan yang sebagian berupa rawa-rawa dangkal dan ditumbuhi pohon sagu ini belum memiliki nama. Lokasi tersebut disebut oleh masyarakat Nias sebagai Furui (Purui) yang berasal dari leksikon bahasa daerah Nias yang berarti melipat atau menggulung.

Nama Furui ini sejalan dengan situasi kawasan yang terus menerus diterpa ombak, lipatan, dan gulungan ombak di pantai Padang.
Selain Purus, masyarakat Nias juga bermukim di berbagai penjuru kota Padang diantaranya di Desa Nias sebagai pemukiman etnis yang dibentuk oleh Belanda pada abad ke-19, sekitar Hiligoo (dalam bahasa Nias artinya bukit ilalang), Banuaran (bahasa Nias). berarti kampung mereka), Parak Karambia, Parak Sigoro, Parak Eno, dan lain-lain.

4. Masih Mempertahankan Kebudayaan Nias

Masyarakat Nias di Padang masih mempertahankan tradisi dan budayanya. Selain masih menganut sistem patrilineal, suku Nias juga mempertahankan seni budaya maena dan baluse. Maena adalah tarian massal yang diiringi musik tradisional Nias.

Maena sering diikutsertakan dalam berbagai acara publik seperti pertemuan adat dan penyambutan pengunjung, hajatan, dan lain-lain.

Sedangkan baluse, sebuah tarian perang, merupakan pengingat sejarah Pulau Nias, terutama tarian pertempuran lengkap dengan kostum dan aksesoris yang sering ditampilkan dalam festival dan penyambutan pengunjung.

Masyarakat Nias-Padang juga telah menciptakan sistem adat yang unik di kota ini, yang cukup berbeda dengan sistem konvensional di Pulau Nias. Budaya dan Adat Istiadat Suku Nias

Pada abad ke-19 sistem adat Nias disesuaikan dengan cara pembagian tanah di kota Padang yang diberi nama wijk dari wijk 1 menjadi wijk 8. Menurut pengaturan ini peristirahatan (wilayah) adat masyarakat Nias di Kota ini terdiri dari 8 wilayah adat mulai dari Emmahaven (Teluk Bayur) sampai Lolong-Ulak Karang.

Setiap tempat peristirahatan adat dipimpin oleh seorang kepala desa adat (kafalo kafo). Yang menarik dari sistem pengelolaan adat ini sama sekali berbeda dengan yang ada di Pulau Nias.

Baik terminologi maupun sistem adat yang berlaku sama sekali berbeda dengan yang ada di pulau Nias. Struktur masing-masing resor terdiri dari kafala kafo, dibantu oleh seorang tetua kafo (tua kampung) dan 4 tetua adat yang disebut niniak mamak.

Niniak mamak adalah dampak unik budaya Minangkabau pada masyarakat Nias-Padang. Penggunaan bahasa suku Nias-Padang agak berbeda dengan masyarakat Nias pada umumnya, khususnya yang tinggal di Pulau Nias.

5. Menggunakan Tiga Bahasa

Berbeda dengan di Pulau Nias, masyarakat etnis Nias di Padang menggunakan tiga variasi bahasa. Selain bahasa Nias dan bahasa Indonesia seperti yang diterapkan di Pulau Nias, suku Nias-Padang menggunakan bahasa Minang dalam berkomunikasi.

Penggunaan bahasa Minang yang terlihat dari suku Nias adalah ketika menggunakan istilah selamat datang bagi anggota keluarga, termasuk keluarga inti dan keluarga besar.

Beberapa nama sapaan dalam bahasa Minang seperti mamak (mak tuo, mak etek, mak uniang, mak uwan, mak uncu/onsu), udo, uwo, dll. Demikian juga kata-kata sapaan mintuo, pak etek, pak tuo, pak tangah, uni, uda, uncu, one, udo, uwo, dan lain-lain.

Saat bercakap-cakap, ada dua jenis dialek Minang yang dituturkan oleh masyarakat Nias di Kota Padang, antara lain dialek Minang biasa dan dialek Minang beraksen Tionghoa atau Minang-Pondok. Fakta dan Mitos Sejarah Asal Usul Suku Nias

Dialek Minang yang umum dituturkan oleh penduduk Nias persis sama dengan dialek yang digunakan oleh orang Minang yang tinggal di dekat inti Kota Padang dan pesisir. Misalnya, katakanlah air (aia), aku (ambo, aden), kamu (waang, kamu), turun untuk mandi (pergi mandi), dan pergi (pai) (pai).

6. Memiliki Hubungan Erat dengan Bangsawan Padang

Sejak abad ke-19, suku Nias memiliki ikatan yang kuat dengan para bangsawan Padang yang menempati wilayah Kampung Alang Lawas hingga Seberang Padang dan sekitarnya, serta dengan suku niniak mamak nan salapan saat ini. 

Tak heran jika ada hajatan yang diselenggarakan oleh para bangsawan Padang, maka masyarakat Nias pun turut memeriahkannya dengan menyumbangkan penampilan musik gamad.

Akhir Kata

Nah itu dia sekilas Sejarah Keberadaan Suku Nias di Kota Padang yang sampai saat ini masih tetap berada dan berkembang di Sumatera Selatan ini. Semoga dengan Sejarah dan Fakta Etnis Nias yang berada disana dapat menambah wawasan kita khususnya orang nias.