Sejarah Gereja dan Kekristenan di Pulau Nias - celotehpraja.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sejarah Gereja dan Kekristenan di Pulau Nias

Sejarah Gereja dan Kekristenan di Pulau Nias - Pada zaman dahulu Leluhur suku Nias berpegang pada konsep Animisme (Kepercayaan pada makhluk halus dan makhluk halus atau benda-benda tertentu yang harus dihormati). Nias mendewakan roh-roh gaib, dan memanggil mereka dengan nama yang berbeda seperti: Lowalangi, Laturadan, Zihi, Nadoya, Luluӧ dan seterusnya. 

Salah satu bukti bahwa suku Nias kuno menganut agama Animisme adalah ditemukannya sisa-sisa artefak Megalitik di Pulau Nias seperti berbagai jenis pahatan yang terbuat dari batu atau kayu yang masih dapat kita lihat di wilayah Nias.

Sejarah Masuknya Agama Kristen di Pulau Nias

Awal Pemberitaan Injil di Pulau Nias (1865)

Pemberitaan Injil di Pulau Nias awalnya dimulai oleh dua misionaris Katolik, yaitu Pere Wallon dan Pere Barart dari lembaga zending Mission Etrangers de Paris, pada tahun 1822/1823. Keduanya belum berhasil membaptis orang Nias karena sama-sama meninggal karena malaria.

Sejarah Gereja di Pulau Nias Sejarah Gereja dan Kekristenan di Pulau Nias

Pada tahun 1865, lebih tepatnya pada tanggal 27 September 1865, pemberitaan Injil di Pulau Nias dimulai oleh seorang penginjil Jerman (Protestan Missionary), E. Ludwig Denninger dari Rheinische Missions-Gesselschaft (RMG) yang merupakan salah satu zending Jerman. organisasi.

Denninger memperoleh bahasa Nias, dan mengetahui sedikit tentang budaya Nias dari orang Nias yang pindah ke Padang, Sumatera Barat. Kemudian pada tahun 1873 RMG kembali mengutus misionaris kedua bernama J.W Thomas dan mendirikan stasiun penginjilan di Ombölata. 

Tempat dan Objek Wisata di Nias Barat

Misionaris ketiga bernama Kramer (1874) pindah di Hilina'a, Nias. Di sanalah mereka melakukan Pembaptisan pertama orang Nias. Sehingga dari tahun 1873-1876 terdapat 63 orang yang dibaptis dalam 3 periode waktu, yaitu pada tahun 1874 pada Hari Paskah 25 orang oleh Kramer di desa Hilina'a, 6 orang di Ombӧlata pada tahun 1875 dan terakhir 32 orang di Faechu oleh Thomas.

Pada tahun 1876, struktur gereja di Ombӧlata juga dibangun. Ini merupakan bangunan gereja pertama yang dibangun di Pulau Nias, disusul kemudian dengan pembangunan gereja di Faechu pada tahun 1880. 

Sekitar tahun 1890, jumlah umat Kristen yang telah dibaptis baru mencapai 706 orang. Jumlah ini meningkat menjadi 20.000 pada tahun 1915. Pada tahun 1876 misionaris keempat bernama Dr. W.H. Sundermann tiba di Nias. 

Setelah dua tahun bersama Kramer di Gunungsitoli, Doktor Teologi ini merasa dewasa dalam berbicara Nias, dan kemudian mendirikan Pos Pemberitaan Injil di Dahana, tetapi di sana ia dihadapkan dengan penyembahan berhala yang intens.

Oleh karena itu ia beralih ke pendidikan dan mengumpulkan dan mendidik anak-anak muda setempat. Inisiatif ini merupakan cikal bakal pendirian Sekolah Guru di Nias. Pada tahun 1881 seorang misionaris kelima bernama J.A. Fehr. 

Dialah yang menggantikan J.W. Thomas di Ombõlata pada tahun 1883, karena J.W. Thomas melakukan perjalanan untuk mencoba mendirikan pos penginjilan di Sa'ua, tetapi usahanya gagal. Dalam 25 tahun awal ini, 5 pendeta evangelis dari RMG Jerman telah melayani di Nias.

Tempat Wisata di Nias Utara

Namun, upaya misionaris menghadapi banyak masalah, seperti dampak agama suku yang sangat kuat, masalah keamanan, pengayauan, wabah penyakit, keadaan geografis dan lain-lain. 

Wilayah yang dicakup terbatas di sekitar Gunungsitoli, dengan 3 Pos Injili : Gunungsitoli, Ombõlata, dan Dahana. Upaya Denninger (didukung oleh Kodding dan Mohri) di Onolimbu (Muara Idanõ Mola) pada tahun 1867, Sunderman di Tugala Lahõmi-Sirombu pada tahun 1875/1876, J.W. Thomas di Sa'ua pada tahun 1885, tetapi semua itu hanyalah penjajakan.

Gerakan Pertobatan Massal (1915-1930)

Pada tahun 1916 terjadi gerakan konversi besar-besaran di Pulau Nias, yang dalam bahasa Nias disebut “fangesa dödö sebua”. Gerakan ini dimulai di daerah Helefanikha, wilayah Humene pada saat kebaktian Perjamuan Kudus pada bulan April 1916. 

Tempat Wisata di Nias Selatan

Dalam kurun waktu 2 - 3 bulan gerakan tersebut menjangkau seluruh daratan Nias dan karena itu agama Kristen berkembang pesat. Pada tahun 1929 umat Kristen di Nias berjumlah 85.000. Kenaikan terjadi tidak hanya secara numerik, tetapi juga secara spiritual.

Hal ini dapat disaksikan dengan banyaknya patung, sihir dan racun yang dihancurkan. Perselisihan dan pertempuran di antara orang-orang mulai berkurang, perdamaian mulai muncul, kesetiaan kepada penguasa mulai ditunjukkan. Pada tahun 1914 Ombölata mendirikan sekolah imam. Banyak sekolah juga telah dibuat.

Sejarah Gereja di Pulau Nias

Sejarah Berdirinya Gereja BNKP (Banua Niha Keriso Protestan) 

Setelah gerakan kebangkitan meredup, zendeling mulai merenungkan tentang kemandirian gereja. Pada tahun 1936 mereka selesai memproklamirkan Ordo Gereja. Sinode BNKP pertama diadakan pada bulan November 1936. 

Sinode BNKP yang baru dibentuk dipimpin oleh Pdt. A. Luck dari RMG sebagai Ketua Sinode atau Ephorus sampai tahun 1940. Pada awal pembentukannya masih belum disahkan oleh Pemerintah Belanda tetapi pada tanggal 18 Maret 1938 Anggaran Dasar BNKP dianggap sah, yang diumumkan dalam Lembaran Negara No. 138 YO 14 Desember 1948 No. 1857/18/AK/48. 

menjamin bahwa pengurus RMG di Barmen sehingga semua penginjil Eropa otomatis menjadi anggota sinode, tetapi zending menolak permintaan orang-orang Kristen setempat untuk ketua untuk berpartisipasi dalam majelis sinode. 

Fakta dan Mitos Sejarah Asal Usul Suku Nias

Pada tahun 1940 seluruh zendeling Jerman ditawan oleh gubernur sejak Jerman menyerbu Belanda, sehingga peran Ketua Sinode diambil alih oleh seorang imam dari suku Nias bernama Atoföna Harefa.

Gereja BNKP Pada Masa Kolonial Jepang (1942-1945)

Pada tahun 1942, para pendeta Belanda yang menggantikan orang Jerman yang ditawan juga dipenjarakan oleh penguasa Jepang. Jadi disinilah gereja BNKP harus berdiri sendiri tanpa didampingi zending. 

Bertepatan dengan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, seluruh tentara Jepang meninggalkan Pulau Nias karena kekalahan mereka dalam perang dunia kedua dengan dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki.

Sejarah dan Tradisi Lompat Batu Pulau Nias

Hubungan antara BNKP dan zending RMG Jerman terjalin kembali pada tahun 1951 dengan kedatangan dua delegasi RMG bernama Pdt. A. Schneider dan Pdt. Dormann. Namun saat itu di BNKP mereka hanya berfungsi sebagai penasehat pemimpin gereja. 

Sementara itu, di Kepulauan Batu, juga telah dibentuk gereja dengan nama Banua Keriso Protestan (BKP) sebagai konsekuensi dari penginjilan yang dimulai pada tahun 1889 oleh zending Belanda. Gereja BKP didirikan pada tahun 1945 dan kemudian pada tahun 1960 BKP bersatu dengan BNKP pada sidang sinode BNKP ke-25 yang berlangsung di Ombölata.

Perpecahan di Lingkungan Gereja BNKP 

Penyebab konflik ini tidak hanya muncul di lingkungan rumah, lingkungan kerja baik di pemerintahan maupun di swasta tetapi juga di masyarakat dan juga di lingkungan gereja dimana dan kapanpun kita terhubung dengan orang lain. yang lain. 

Pada tahun 1933, sebuah sekte terbentuk yang menamakan dirinya kelompok persekutuan atau Fa'awösa yang selanjutnya menjadi Fa'awösa chö Yesu (Persekutuan dengan Yesus) dan Fa'awösa chö Geheha (Persekutuan dengan Roh Kudus) (Persekutuan dengan Roh Kudus).

Gereja AMIN (1936 – 1940)

Salah satu alasan pemisahan gereja AMIN dari BNKP adalah karena mutasi. Pdt. Singamböwö Zebua tidak terima dengan keputusan pimpinan BNKP untuk memindahkannya dari tempat tugasnya ke Lahusa. 

Kepuasan pendeta BNKP dengan pilihan pemimpin BNKP dalam hal pergeseran ini adalah inovasi yang berbeda. Selain itu, jemaah di atas kementerian BNKP tidak memperhatikan yang ada di Humene. Keputusan untuk berpisah dari BNKP juga didukung oleh Tuhenöri Adolf Gea dan jaksa tinggi dari Manado bernama Adris.

Budaya dan Adat Istiadat Suku

Tuhenöri Adolf Gea dan Idris memiliki kepentingan pribadi dalam hal ini. Angowuloa AD Idanoi Nias (AMIN) kemudian berganti nama menjadi Agama Kristen Indonesia Nias (AMIN). karena penggunaan "Idanoi" memunculkan ide bahwa AMIN hanya mencakup wilayah Idanoi. 

Meskipun AMIN memiliki jemaat di seluruh Indonesia. Nama itu kemudian diubah lagi menjadi Angowuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN). Gereja AMIN telah terdaftar sebagai anggota PGI dengan nomor urut 52 PGI dan LWF, dan juga telah tergabung dalam PGID (Persatuan Gereja-gereja Indonesia Daerah) Nias. Struktur kepemimpinan organisasi terdiri dari Sinode dan Jemaat.

Gereja ONKP

Alasan perpecahan antara ONKP dan BNKP adalah kecemburuan jemaah Nias Barat terhadap pelayanan BNKP. Pertimbangan regional penting dalam hal ini. Pdt. K.D. Marundruri, khususnya, tersinggung karena tidak diizinkan berbicara di persidangan selama sidang sinode BNKP 1950. 

Ini tentang harga diri. Pada tahun 1980-an, ONKP menjalin kerjasama dengan gereja-gereja lain seperti GPM (Gereja Protestan Maluku) dan GMIM (Gereja Masehi Injili Minahasa). Sambungan kerja termasuk pengiriman anggota ONKP ke STT GPM Ambon dan GMIM Manado atas beasiswa yang diberikan oleh gereja-gereja GPM dan GMIM. 

Kemudian pada tahun 1986, GPM memberangkatkan Pdt. Th.J. Nanulaitta untuk melayani sebagai Tenaga Misionaris Gerejawi (TUG) di Gereja ONKP, yang berlangsung hingga tahun 1990. Gereja ONKP menjadi anggota PGI pada tahun 1988, dengan pusat di Tugala Lahömi-Sirombu.

Gereja BKPN dan GNKPI

Keduanya pertama kali bergabung dengan nama BNKPI dan berpisah dari BNKP karena berbagai alasan. Pertama, beberapa pendeta atau menteri tidak setuju dengan keputusan sinode BNKP di Ombölata pada tahun 1992 dan menganggap pemimpin BNKP diktator. 

Kedua, keanggotaan BPMS tidak sesuai dengan zonasi BNKP. Pertimbangan regional penting dalam hal ini. Ketiga, mereka memiliki masalah uang yang mereka yakini telah dieksploitasi.

Bahkan sebelum BNKP terbentuk, ketika jemaah masih dipimpin oleh zending, terdapat perbedaan di dalam jemaah, terutama fraksi tarekat yang dikenal dengan Fa'awösa. 

Perpecahan Fa'awösa disebabkan oleh banyak hal, antara lain adanya kepentingan pribadi, seperti ditunjukkan oleh Thomas Lömbu yang tidak mengikuti aturan zending dalam mengelola organisasi. 

Dalam hal ini, mereka mendirikan Fa'awösa sebagai organisasi yang terpisah dengan keuangannya sendiri, terpisah dari zending yang dipimpin oleh jemaah lainnya.

Hal ini menunjukkan adanya kelompok-kelompok jemaah yang dapat menimbulkan perpecahan. Selain itu, kesulitan keuangan menjadi salah satu alasannya, karena Fa'awösa tidak mau uangnya diambil alih oleh pihak zending. 

Satu-satunya kelompok yang memisahkan diri dari BNKP karena perbedaan doktrin adalah sekte Ama Haogö, yang muncul pada 1960-an.

Akhir Kata

Itulah artikel tentang Sejarah Gereja dan Kekristenan di Pulau Nias, semoga dengan pembahasan kali ini dapat menambah wawasan kita tentang Sejarah Suku Nias khususnya perihal Sejarah Gereja dan Masuknya Kristen di Nias